
Caroline mengolesi salep ke memar di perut Kenzo dan beberapa bekas cubitan di tangan Kenzi. Twins sudah Caroline mandikan dan memasangkan keduanya pakaian santai. Sedangkan Aksa sedang membersihkan diri di kamarnya.
“Nah anak Mom sudah wangi” ucap Caroline. Dia sudah memutuskan untuk merawat Twins agar keduanya tidak merasakan sakitnya tidak mendapat kasih sayang sepertinya.
“Kalian belum makankan? Mom lihat bekal Kenzi masih utuh” ucap Caroline.
“Mom lapar” ucap Kenzi dengan suara serak karena menangis lama. Kenzo masih tidak berbicara setelah kejadian tadi, dia takut caroline marah padanya.
“Kenzo ayo makan juga” ucap Caroline. Kenzo menggeleng.
“Kenapa hm? Tadi itu bukan salah Kenzo, Kenzo mencoba menolong Kenzi kan?” ucap Caroline lembut. Kenzo menatap Caroline lama, ia kira ia akan di marahi. Tangannya terulur meminta di gendong, Carolinepun mengangkat tubuh kecil kedalam gendongannya.
“Kenzi Mom gandeng saja ya” ucap Caroline.
“Dia bersamaku” ucap Aksa langsung mengangkat Kenzi kegendongannya.
“Tuan sudah selesai mandi?” tanya Caroline.
“Hn sudah” ucap Aksa berjalan ke arah dapur.
Saat sampai di dapur, Caroline mendudukkan Kenzo di kursi lalu mengisi piring dengan nasi dan lauk pauk yang sudah di masak oleh maid. Aksa duduk tenang sambil memantau keadaan perusahaan melalui i pad miliknya.
“Tuan, anda ingin teh?” tawar Caroline. Aksa mengangguk, Caroline membuatkan Aksa teh Jasmine.
Menaruh teh yang sudah jadi di hadapan Aksa lalu beralih menyuapi Twins dengan perlahan dan telaten. Aksa hanya memperhatikan ketelatenan Caroline dalam mengurus kedua putranya.
“Twins setelah ini jangan bermain dulu ya, lebih baik istirahat” ucap Caroline.
“Twins?” gumam Aksa yang bisa di dengar oleh Caroline.
“Maaf lancang tapi panggilan itu mempermudah memanggil mereka” ucap Caroline.
Setelah makan, Caroline mengajak Twins ke ruang tamu dan membentang kasur santai yang ada agar keduanya bisa beristirahat sambil menonton. Aksa memang tidak menaruh televisi di kamar Twins agar keduanya tidak candu terhadapa tayangan televisi.
.
.
.
Seorang wanita paruh baya berteriak heboh saat membaca pesan yang di kirim oleh sang putri namun baru saja ia baca. Teriakannya membuat penghuni Mansion utama kaget, ada apa gerangan sang Nyonya besar berteriak heboh.
“Honey kenapa kau berteriak?” tanya sang suami dengan nafas memburu karena berlari dari lantai dua ke lantai satu.
“Dear jangan berlari, ingat nanti sakit pinggangmu kambuh” peringat sang Istri.
Sepasang suami istri itu adalah Arin Airon dan Max Airon, nyonya dan taun besar Airon.
“Memangnya siapa yang membuatku berlari?” ucap Max menatap Arin kesal.
“Ugh Dear jangan marah, aku hanya terkejut karena pesan yang di kirim Mia” ucap Arin.
“Memang apa isi pesannya? Ada baju keluaran terbaru?” Max memutar matanya bosan, kalau sudah berhubungan dengan sang putri pasti tidak jauh dari Fashion.
“Oh tentu bukan, isi pesan ini berhubungan dengan anak sulungmu itu” ucap Arin.
“Apa yang di lakukan anak itu? Membuat ulah lagi” dengus Max.
“Aa salah, dia sudah mendapat Mommy untuk si kembar” ucap Arin senang, ia menoleh ke arah tempat suaminya tadi yang tiba tiba menghilang.
“Honey, kita grebek rumahnya sekarang” ucap Max muncul dengan stelan formalnya. Hei kapan dia mengganti pakaian?.
“Tunggu sebentar Dear, aku berdandan sebentar” ucap Arin hendak berjalan menuju kamar tapi di tahan oleh sang suami.
“Tidak, kita langsung pergi kau sudah cantik” ucap Max. Dia harus menghentikan niat sang istri yang hendak berdandan, bisa bisa nanti dia akan menunggu hingga tiga jam.
“Tidak, aku mau berdandannnn” para Maid hanya bisa tersenyum geli melihat kelakuan keduanya seperti abg, padahal usia keduanya sudah setengah abad.
.
.
.
Caroline membolak balik kompresan yang ada di dahi Twins, tadi saat sedang menonton tiba tiba suhu tubuh keduanya meningkat. Aksa yang panik segera menghubungi David untuk ke Mansionnya.
“Mereka hanya demam, aku sudah menulis resep obat dan kuberikan kepada Jeremy agar membelinya ke apotik” ucap David duduk di sofa ruang tamu. Matanya melihat Caroline yang telaten merawat Twins.
“Apakah ini tidak akan berbahaya Dokter?” tanya Caroline, dia cukup khawatir. Walaupun keduanya bukan anaknya tapi Caroline sudah terlanjur nyaman.
“Kau tenang saja, mereka akan sembuh. Tapi jika panasnya belum turun juga hingga tiga hari segera bawa kerumah sakit” ucap David. Caroline menghela napas lega, dia memperbaiki selimut Twins agar keduanya tetap hangat.
“Mom sakit...” lirih Kenzo mengarahkan tangan mungilnya ke bagian perut.
“Sini sayang, Mom lihat” ucap Caroline menyibak baju Kenzo lalu mengusap perut yang terdapat memar itu dengan lembut. Kenzi sudah memejamkan mata karena pusing yang melanda.
Kenzo merasa nyaman, usapan Caroline begitu lembut membuatnya ingin tidur. Matanya perlahan terpejam, mata berair itu tertutup.
“Mereka tertidur?” tanya Aksa. Caroline mengangguk, ia masih mengusap perut Kenzo.
“Kau perhatian sekali, padahal kau bukan Ibu mereka” ucap David menatap Caroline.
“Aku hanya ingin memberikan kasih sayang kepada keduanya” ucap caroline dengan senyum. Pikirannya kembali memutar memori dimana dia tidak pernah mendapat kasih sayang.
“Kau sudah mengabari keluargamu?” tanya David kepada Aksa.
“Ku rasa mereka akan tiba dengan kehebohan” ucap Aksa datar mengingat pesan Mia yang menanyakan tentang Caroline. Dan Aksa yakin pasti sang adik sudah mengabari kedua orang tuanya.
Brak
Caroline tersentak kaget saat mendengar suara pintu yang buka kasar.
“Aa ucapanmu benar” ucap David.
“Cucu Grandma sayang” Arin berteriak mencari cucu kembarnya.
“Hei anak nakal dimana kau?” kali ini suara Max yang terdengar.
“Mom, Dad jangan berteriak, ini bukan Hutan” ucap Aksa datar saat melihat kedua orang tuanya memasuki ruang tamu. Caroline menatap kedua pasangan paruh baya itu dengan mata berkedip beberapa kali.
“Mana cucuku?” tanya Arin menarik kerah baju Aksa, Aksa menatap malas sikap Mommynya yang absurd itu.
“Tenangkan dirimu Mom, mereka sedang sakit” ucap Aksa.
“Sakit?! Mana mereka?” tanya Arin panik, matanya menatap sekitar dan mendapati seorang gadis yang sedang mengusap perut cucu sulungya Kenzo.
“Siapa dia? Dia calon yang Mia katakan?” tanya Arin heboh.
“Mom tenanglah, anakku baru saja tidur” ucap Aksa kesal.
“Honey, tenangkan dirimu” tegur Max yang sudah duduk tenang di sofa.
Caroline menaruh gelas gelas berisi teh hangat di meja, setelah kehebohan yang di buat pasanan senior Airon itu keadaan kembali tenang.
“Kenapa kau masih disini? Pergi sana” usir Aksa pada David.
“Dasar sialan, iya aku pergi aku juga masih ada tugas operasi” ucap David meminum teh dalam sekali teguk dan pergi meninggalkan Mansion milik Aksa.
“Nah gadis manis, siapa namamu?” tanya Arin setelah David pergi.
“Em saya Caroline Nyonya” ucap Caroline.
“Ugh jangan formal begitu, ayo duduk kemari” Arin menepuk sofa sebelahnya.
“Katakan, dimana kalian bertemu” ucap Arin.
“Em itu, Tuan Aksa menolong saya di Bar” ucap Caroline.
“Menolong?” tanya Max menyahuti.
“Em, saya waktu itu di jual oleh Kakak saya” ucap Caroline lirih.
“Astaga...” Arin menutup mulutnya tak bercaya. Tega sekali seorang kakak menjual adiknya.
“Ah tapi Tuan Aksa menolong saya malam itu, kalau bukan Tuan Aksa saya tidak tau apa yang akan terjadi dengan saya” ucap Caroline dengan senyuman di bibirnya.
“Mom~” Kenzi merengek karena terbangun dari tidurnya.
“Ah saya permisi” ucap Caroline mendekati Kenzi yang terbangun dari tidurnya.
“Ssst minum obat dulu ya, agar pusingnya hilang” ucap caroline.
“No Mom, pahit” ucap Kenzi.
“Mom buatkan coklat panas, jadi nanti pahitnya hilang” ucap Caroline. Kenzi mengangguk, kepalanya sudah terlalu pusing.
“Tunggu sebentar ya” ucap Caroline meleakkan Kenzi di kasur dan menuju dapur untuk mengambil air minum dan membuat coklat panas.
“Cucu Grandma sakit ternyata” Arin mendekati cucu bungsunya itu.
“Grandma kapan datang?” tanya Kenzi dengan suara serak dan mata berair.
“Baru saja” ucap Arin memangku cucunya itu. Tidak lama kemudian Caroline muncul membawa air minum dan coklat panas.
“Ayo buka mulutnya” ucap Caroline menyodorkan sesendok sirup kearah Kenzi. Kenzi menerima suapan sirup itu dan berjengit saat rasa pahit menjalar di lidahnya. Caroline membantu Kenzi meminum air putih lalu memberikan bocah kecil itu segelas coklat.
“Minum perlahan” ucap Caroline lalu beralih membangunkan Kenzo. Setelah Kenzo bangun, ia melakukan yang sama seperti Kenzi,bedanya Kenzo biasa saja saat menelan sirup.
Arin memperhatikan ketelatenan Caroline mengurus Twins, dia tersenyum tipis sambil sesekali tangannya membantu Kenzi meminum coklat panas.
.
.
.
Arin dan Max memutuskan menginap, mereka juga menyuruh Mia untuk datang karena Twins sedang sakit. Saat ini, Arin sedang memasak makan malam di bantu oleh Caroline dan beberapa maid. Sedangkan Twins sedang bersama Aksa dan Max di ruang tamu. Untungnya panas Twins sudah turun perlahan.
“Aku senang, cucuku mendapatkan kasih sayang seorang Ibu” ucap Arin mengaduk masakannya.
“Saya juga senang bisa merawat mereka” ucap Caroline.
“Jangan terlalu formal nak, kau bisa memanggilku Mommy seperti Aksa” ucap Arin.
“Eh, rasanya tidak sopan, anda orang tua Tuan saya” ucap caroline.
“Dasar anak itu menyuruhmu memanggilnya tuan, nanti akan ku ceramahi dia” ucap Arin kesal.
“Hello all, Mia yang cantik datang” Teriakan Mia mengeglegar di Mansion itu.
“Keponakanku sayang, Auntie bawakan kalian mainan baru” teriak Mia.
Aksa menghela nafas, kenapa keluarganya bertingkah seperti di hutan. Berteriak tidak jelas.
Makan malam berlangsung dengan khidmat, Caroline menyuapi Twins dengan sabar. Dia sendiri belum makan dan akan makan setelah menyuapi Twins.
“Aw Kakak ipar kau perhatian sekali” ucap Mia mellihat Caroline.
“Oh tentu, Kakaknu tidak salah pilih” ucap Arin bangga.
“Bagaimana kalau kalian menikah?” ucap Max.
“Mom menikah itu apa?” tanya Kenzi.
“Menikah itu, Nanti Mommymu akan bersama dengan Daddymu” ucap Mia menyahuti.
“No, Mom tidak boleh menikah dengan daddy. Mom milik kami” ucap Kenzo tegas tapi terlihat menggemaskan.
“Aw posesif sekali” goda Mia.
.
.
.
Setelah memastikan Twins tertidur, Caroline menuju kamar Aksa karena Aksa menyuruhnya tadi. Ia mengetuk terlebih dahulu dan setelah mendapat izin masuk barulah dia masuk.
“Ada apa Tuan?” tanya Caroline.
“Pijat bahuku” ucap Aksa. Caroline mengangguk dan mendekati Aksa yang duduk di tengah ranjang. Tangannya perlahan memijat bahu kekar Aksa, membuat Aksa rileks.
“Malam ini tidur disini” ucap Aksa.
“Tapi tuan nanti Twins-“
“Sudah cukup dua bocah itu memonopolimu seharian, sekarang giliranku” ucap Aksa langsung memeluk Caroline dan membaringkan diri.
“Aku lelah sekali” ucap Aksa menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Caroline.
“Jangan memaksakan diri tuan” ucap Caroline.
“Kau wangi” ucap Aksa mencium aroma mawar dari tubuh Caroline.
“Tuan ini terlalu intim” lirih Caroline saat tuannya itu mengendus lehernya.
“Kenapa? Kau milikku” ucap Aksa menghisap leher Caroline.
“Ngh~ tuan” lirih Caroline.
“Berhenti memanggilku tuan, panggil aku dengan namaku” bisik Aksa.
“A-Aksa...” lirih caroline saat Aksa semakin gencar menggigit, menghisap dan menjilati lehernya.
“Jangan berisik...” bisik Aksa.
.
.
.
Caroline masih mengingat jelas apa yang Aksa lakukan tadi malam, wajahnya merona hebat. Meskipun keduanya belum sampai di bagian intim tetap saja yang tadi malam itu memalukan bagi Caroline.
“Ow ada apa ini? Kenapa wajahmu memerah?” ucap Mia yang baru saja tiba di dapur untuk sarapan.
“Mia jangan menggodanya” tegur Max duduk di salah satu kursi.
“Aw Dear kau tidak lihat tadi malam bagaimana Aksa menghisap-“
“Mom jangan berisik” ucap Aksa datar.
“Cih, dasar duda mesum” decak Arin.
“Mom selamat pagi” teriak Twins memeluk kaki Caroline yang sedang membuat Kopi dan susu.
“Pagi... Twins sudah sehat?” tanya Caroline merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Twins.
“Sudah Mom” ucap keduanya semangat. Caroline mengecek suhu tubuh keduanya dan benar, panasnya sudah hilang. Caroline,bersyukur, setidaknya keduanya tidak perlu di bawa ke Rumah Sakit.
“Mom kenapa leher Mom banyak merah merah?” tanya Kenzo polos.
“I-ini di gigit nyamuk” ucap Caroline dengan wajah memerah.
“Nyamuk besar yang nakal” sahut Mia.
“Benarkah Mom? Kalau begitu nyamuknya harus di bunuh dengan racun nyamuk” ucap Kenzi kesal karena nyamuk yang ia kira adalah serangga, padahal yah you know lah.
Mia melirik Aksa yang menatap kedua putranya datar, oh nak kalian yakin akan membunuh Daddy kalian dengan racun nyamuk?.
“Auntie akan bantu, kita taruh racun tikus juga sebelum tikusnya muncul dan mengigit Mom kalian” ucap Mia semangat.
“Mana kopiku?” tanya Aksa. Caroline segera menaruh secangkir kopi yang biasa Aksa minum di hadapan Aksa. Dia juga menaruh di hadapan Max lalu menaruh gelas susu di hadapan yang lainnya.
“Nah Twins sarapan dulu” ucap Caroline mengoleskan selai ke roti tawar milik Twins, dan ada segelas susu di hadapan keduanya yang sudah duduk manis di kursi.
“Punyaku sekalian” ucap Aksa datar. Caroline mengangguk dan membuatkan sarapan untuk Aksa.
Suasana sarapan lumayan ramai karena berisi obrolan antara Mia dan Twins yang merencanakan cara membunuh nyamuk yang mengigit Caroline. Aksa hanya diam, Caroline meringis saat membayangkan Twins benar benar
membunuh Aksa dengan racun nyamuk sedangkan kedua pasangan senior Airon hanya bisa menggeleng karena sikap tiga orang yang sangat berisik itu.
TBC