MAFIA

MAFIA
2


Caroline menemani Kenzi dan Kenzo makan di Cafe yang ada di Mal. Jeremy sedang pamit menaruh belanjaan ke mobil. Caroline tak habis pikir, ia di jual di bar lalu di beli oleh seorang Duda kaya dan sekarang di panggil Mommy oleh dua anak kembar. Air mata menetes dari mata Caroline saat mengingat betapa kejamnya sang Kakak menyeretnya masuk ke dalam Bar dan menjualnya begitu saja.


“Mom kenapa menangis?” tanya Kenzi menghentikan acara makannya.


“Mom jangan nangis, Kenzo nakal ya?” Kenzo menatap Caroline.


“Tidak sayang, mata Mom kelilipan kalian lanjutkan makannya lalu kita pulang” ucap Caroline mengusap air matanya dan tersenyum ke arah Kenzo dan Kenzi.


Jeremy memperhatikan ketiganya dari jauh, ia tersenyum tipis setidaknya kedua tuan mudanya menyukai Caroline dan merasa nyaman.


.


.


.


Aksa fokus mengerjakan dokumen dokumen yang menumpuk di meja kerjanya. Ia mendengar ada seseorang yang masuk, dan tentunya dia tahu siapa itu.


“Sudah mengantar mereka pulang dengan selamat?” tanya Aksa tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang ia baca.


“Sudah, dan ini” Jeremy menyodorkan kartu kredit milik Aksa berupa Black Card yang tadi di gunakan untuk berbelanja.


“Nona memintaku mengembalikannya padamu, dia juga berkata akan mengembalikan uang yang dia gunakan untuk membeli pakaian” ucap Jeremy. Tatapan Aksa menajam, apa apaan perempuan itu mau mengembalikan uang yang di pakai?.


“Sial, dia kira aku tidak mampu membelikannya pakaian aku bahkan bisa membelikan butik untuknya dan apa apaan itu mengembalikan? Dia kira aku ini depkolektor?” Aksa merasa kesal seketika.


“Sepertinya dia bukan seperti kebanyakan para gadis” ucap Jeremy.


“Cih...”


"Aa dan juga sepertinya Tuan nampak memperhatikannya"


.


.


.


Caroline membantu Kenzo dan Kenzi Mandi lalu menemani mereka menonton televisi di ruang tamu. Caroline selalu menegur si kembar jika salah satunya melakukan kesalahan. Kenzo dan Kenzi begitu mirip dengan Aksa. Ah Caroline lupa berkenalan dengan tuannya itu.


“Mom...” panggil Kenzi.


“Ya?...” sahut Caroline


“Malam ini tidur di kamar kami ya” ucap Kenzo dengan tatapan penuh harap.


“Ah baiklah, Mom akan menyiapkan makan malam dulu kalian mainlah” ucap Caroline berjalan ke arah dapur. Ia sudah melihat beberapa maid mulai memasak makan malam.


“Biar ku bantu” ucap Caroline membuat semua maid menghentikan kegiatan mereka.


“Kenapa berhenti? Aku membuat kesalahan?” tanya Caroline panik. ia sudah terbiasa jika ia melakukan kesalahan makan kedua orang tuanya akan berhenti beraktifitas dan menatapnya.


“Ah ti-tidak nona” ucap seorang maid bernama Rira, yang Caroline kira usianya di atasnya.


“Jangan panggil aku nona, aku sama seperti kalian” ucap Caroline ramah.


“Tapi...”


“Aa, tidak ada bantahan aku akan membantu kalian” ucap Caroline membantu Rira membersihkan apel untuk di jadikan pie.


“Oh iya, siapa nama kakak?” tanya Caroline.


“Eh? Saya Rira, panggil saja Rira tidak usah Kakak” ucap Rira tak enak.


“Rasanya tidak sopan, aku panggil kakak saja” ucap Caroline.


“Cih sok ramah, kau hanya mainan tuan Aksa di rumah ini” ucap seorang maid bernama Hana menatap Caroline remeh.


“Hana, jangan mencari masalah” tegur Rira. Hana mendengus dan berlalu pergi membantu Koki membuat makanan.


“Namanya Hana, dia sudah lama mengincar Tuan tapi tidak sedikitpun tuan meliriknya. Jangan terlalu diambil hati dengan ucapannya” ucap Rira.


“Dia cantik” puji Caroline.


“iya, tapi sayang sikapnya jelek” ucap Rira.


“Mom...” panggil Kenzo mendekati Caroline bersama dengan Kenzi.


“Ada apa?” tanya Caroline.


“Kenzo lapar” ucap Kenzo memegang perutnya.


“Sebentar ya, kita tunggu makanan siap” ucap Caroline.


“Tuan muda, ayo saya siapkan makanan dan menyuapi kalian” Hana mendekat dengan membawa piring berisi makan. Senyum manis dia pasang sebaik mungkin agar kedua tuan mudanya mau menerimanya sebagai Ibu


mereka.


“Mom nanti suapi Kenzi ya” Si kembar mengabaikan Hana, mereka berdua sudah jengah melihat tingkah Hana yang berusaha dekat dengan sang Daddy.


“Tuan muda, saya sudah menyiapkan kalian makanan” ucap Hana berusaha tersenyum ramah.


“Jangan paksa kedua putraku” Sebuah suara datar membuat hening seketika. Aksa memasuki dapur dan mendapati keduanya yang di paksa makan oleh wanita yang membuatnya jijik.


“Tuan selamat datang” ucap Caroline mengambil alih tas kerja Aksa dan Jas pria itu yang tersampir di lengan kokohnya.


“Hn, letakkan semuanya di kamar” ucap Aksa, Caroline mengangguk dan berjalan ke arah kamar. Setelah meyakini Caroline telah pergi, Aksa menatap tajam Hana yang tersenyum manis kepadanya.


“Kalian semua dengar, tidak ada yang boleh melukai gadis tadi seujung kukupun. Perlakukan dia seperti kalian memperlakukanku dan kedua putraku kalian paham?” ucap Aksa datar.


“Baik Tuan” sahut semuanya kecuali Hana.


“Tapi Tuan Aksa, dia hanya orang asing di rumah ini” ucap Hana tidak terima.


“Dia bukan orang asing, dia Mommy kami” ucap Kenzo datar sedangkan Kenzi menyusul Caroline ke kamar Daddynya.


“Sial...” gerama Hana lirih.


Caroline kembali dengan Kenzi di gendongannya, kepala mungil itu terbaring di ceruk leher Caroline. Aksa menatap semuanya mengisyaratkan untuk kembali menyelesaikan pekerjaan mereka.


“Mom...” rengek Kenzi saat Caroline hendak mendudukkannya di kursi. Dia mau di pangku oleh Caroline. Carolinepun tetap membiarkan Kenzi duduk di pangkuannya, Kenzo dan Aksa sudah duduk di kursim masing masing.


“Namamu” ucap Aksa menatap Caroline.


“Eh? Aku? Namaku Caroline” jawab Caroline.


“Hn... buatkan aku kopi” ucap Aksa.


“Em maaf lancang tapi lebih baik meminum teh atau coklat hangat kalau baru saja selesai bekerja” ucap Caroline.


“Terserah...” ucap Aksa. Carolinepun memilih membuatkan Aksa teh setelah mendudukkan Kenzi yang mencebik kesal karena aksi manjanya terganggu.


.


.


.


Aksa mendekati kedua putranya yag sedang menyusun lego bersama Caroline di ruang tamu. Rambutnya masih basah, ada handuk tersampir di bahunya. Mendudukkan diri di sofa dan menghela nafas lelah.


“Keringkan rambutku” ucap Aksa kepada Caroline yang menatapnya. Caroline dengan patuh mengeringkan rambut Aksa sesekali memberikannya pijitan agar Aksa merasa rileks.


Aksa memejamkan matanya menikmati pijatan jari jari Caroline di kepalanya, lelah di tubuhnya sedikit menghilang saat Caroline juga memijit bahunya perlahan. Istri idaman eh Aksa?.


“Tuan terlihat lelah” ucap Caroline.


“Hn lanjutkan pijitanmu” ucap Aksa.


“Em Tuan, boleh aku bekerja?” Caroline mencoba meminta izin untuk bekerja, dia tidak mungkin teru merepotkan Aksa dan juga ia harus mengembalikan uang Aksa.


“Tugasmu merawat kedua putraku” ucap Aksa.


“Em tapi...”


“Tidak ada bantahan” ucap Aksa.


“Ayo kita tidur” ucap caroline menggandeng keduanya ke arah kamar keduanya.


“Mom peluk Kenzi” lirih Kenzi saat ia berbering di ranjang miliknya dan Kenzo.


Carolinepun berbaring di tengah tengah Kenzi danKenzo, sebelum benar benar tertidur. Mereka membahas tentang panggilan Caroline kepada keduanya dan Caroline memutuskan untuk memanggil mereka Twins agar lebih muda.


Aksa mengintip melalui celah pintu, dia tersenyum tipis. Setidaknya kedua putranya merasakan kasih sayang seorang Ibu walaupun itu bukan Ibu kandung mereka. Aksa rasanya begitu membenci wanita yang dulu menjebaknya dan meninggalkan kedua anaknya begitu saja.


.


.


.


Aksa menikmati sarapannya dengan tenang, begitu pula Kenzi dan Kenzo yang sudah siap dengan seragam sekolahnya. Sedangkan Caroline menyiapkan bekal untuk keduanya.


“Mom apa itu?” tanya Kenzi melihat Caroline memasukkann kotak bekal ke dalam tasnya.


“Ini bekal untuk makan siang, habiskan ya jangan jajan sembarangan lebih baik uangnya di tabung” ucap Caroline.


“Pergilah bersama Jeremy nanti ke rumah sakit untuk memeriksa lukamu” ucap Aksa.


“Aku tidak apa apa tuan” ucap Caroline.


“Mom sakit?” tanya Kenzo.


“Tidak kok” ucap Caroline.


“Dia sakit” ucap Aksa.


“Mom pokoknya harus ke rumah sakit dan periksa” ucap Kenzi tegas tapi malah terlihat menggemaskan di mata Caroline.


Caroline mengantarkan Aksa beserta Twins ke pintu keluar, menanti hingga mobil itu keluar pagar. Caroline menghela nafas, dia harus bersiap sebelum Jeremy datang dan mengajaknya ke rumah sakit.


.


.


.


Kenzi dan Kenzo duduk berdua, tidak memiliki teman karena teman sekelas mereka menatap mereka jijik.


“Lihat, Mama ku membuatkanku bekal” ucap seorang anak.


“Wah, Mamaku juga membuatkanku bekal, tidak seperti Kenzi dan Kenzo yang tidak punya Mama” ucap yang lainnya.


“Kami punya Mommy” ucap Kenzi dengan mata berkaca.


“Sudahlah, kita makan saja Mom sudah membuatan kita bekal” ucap Kenzo mengeluarkan bekal keduanya.


“Dasar pembohong, isinya pasti kosong”


Kenzo mengabaikan ejekan yang di lontarkan oleh teman temannya, baginya itu sudah menjadi makanan sehari harinya. Ia membuka bekalnya dan bekal Kenzi, isinya membuat keduanya senang karena Caroline membuatkan bekal yang lucu dengan membuat sketsa kartun menggunakan sayur dan nasi.


Prak


Seorang anak laki laki melempar kotak bekal milik Kenzo ke lantai dan membuat isinya berhamburan. Sedangkan Kenzi langsung menutup bekalnya dan menyimpannya agar nanti bisa di makan berdua dengan sang kakak.


“Hahaha cepat makan bekalmu yang tidak enak itu”


Kenzo menunduk, ia jengah dengan sikap orang orang di kelasnya bahkan para guru mengabaikan kelakuan yang tidak benar itu. Sedangkan Kenzi sudah menangis karena ada seorang anak perempuan menarik rambutnya dan mencubiti tangannya hingga biru.


“Apa masalamu ha?” Kenzo memukul bocah laki laki tadi hingga terjerambab, lalu dia menjambak kembali rambut anak perempuan yang sudah menjambak rambut Kenzi. Dia tidak terima ini, mereka pikir mereka siapa.


Caroline masuk ke dalam ruang kepala sekolah setelah Jeremy mengabarinya kalau wali kelas Kenzo meminta wali dari Kenzo dan Kenzi ke sekolah. Saat masuk, Caroline mendapati Kenzo yang menunduk di atas sofa bersama Kenzi yang masih sesegukkan.


“Wali dari Kenzo dan Kenzi?” tanya seorang wanita yang terlihat masih muda. Di ruangan itu juga ada wali murid dari anak laki laki dan perempuan yang mengganggu Twins.


“Mom...” Kenzi berlari memeluk Caroline dan menangis sesegukkan di ceruk leher Caroline.


“Ssst anak Mommy tidak boleh menangis” ucap Caroline mengelus punggung Kenzi agar tenang.


“Oh ini Ibu dari dua anak nakal ini? Berani sekali anakmu menjambak rambut indah putriku” ucap seorang ibu ibu dengan dandanan menornya.


“Kami sebagai orang tua dari murid meminta pertanggung jawaban” ucap ibu ibu lain yang mengeakan pakaian seksi.


“Tidakkah sebaiknya kita bicarakan baik baik?” tanya Caroline mendudukkan diri di samping Kenzo yang terus menunduk.


“Begini nyonya, saya mendengar laporan dari anak anak lain kalau Kenzo mendorong dan menjambak rambut temannya hingga rontok” ucap sang kepala sekolah angkuh.


“Apakah anda sudah mendengar penjelasan dari Kenzo kenapa dia melakukan itu?” tanya Caroline.


“Tidak perlu, anak anak tidak mungkin berbohong dan juga anak anda memang nakal selama di sekolah” ucap sang kepala sekolah.


“Kenzi tidak nakal Mom hiks” Kenzi belum bisa menghentikan tangisnya.


“Kenzo coba ceritakan kenapa kau memukul dan menjambak temamu hm?” tanya Caroline lembut.


“Mereka menumpahkan bekal yang Mommy buat dan menjambak rambut Kenzi, juga mencubiti Kenzi hingga biru Mom” ucap Kenzo jujur.


“Kalian dengarkan? Ini bukan salah anak saya” ucap Caroline.


“Tidak bisa, sebagai kepala sekolah saya memutuskan mengeluarkan anak anda dari sekolah ini” ucap kepala sekolah itu angkuh.


“Oh mau mengeluarkan? Silahkan” Aksa muncul dengan tampang datarnya.


“Tu-tuan Aksa” sang kepala sekolah gelagapan saat sang donatur terbesar mendatangi kantornya. Aksa mengambil alih Kenzi dalam dekapan Caroline dan menatap seisi ruangan tajam.


“Jeremy, gusur sekolah ini besok dan pastikan hidup mereka semua hancur karena membuat anakku menangis” ucap Aksa.


“Ayo sayang” Caroline mengangkat tubuh Kenzo dan meraih tas Twins lalu mengikuti Aksa yang keluar ruangan. Dia kesal, kenapa pihak sekolah bisa berlaku seenaknya begitu.


“Mom maaf” Kenzo memeluk leher Caroline dan bergumam.


“Ssst tidak apa apa, Kenzo tidak salah Mom tau Kenzo hanya membela diri dan melindungi Kenzi” ucap Caroline.


Caroline mengikuti Aksa memasuki mobil, Kenzi masih dalam dekapan Aksa dan masih sesegukkan. Sedangkan Kenzo masih memeluk Caroline.


“Hiks Dad Kenzi tidak mau sekolah lagi hiks” isak tangis Kenzi memenuhi mobil membuat Caroline iba. Jeremy yang mengemudi sesekali melirik ke jok belakang.


“It’s okay, kalian Home schooling saja” ucap Aksa.


“Mom sakit” lirih Kenzo memegang perutnya.


“Oh ya ampun sayang kau kenapa?” tanya Caroline panik saat melihat wajah Kenzo memucat dalam pelukannya.


“Jeremy bawa kami ke rumah sakit” ucap Aksa.


“Mom sakit hiks” Kenzo menangis memegangi perutnya. Caroline menyibak seragam Kenzo dan mendapati memar di perut Kenzo.


“Tenang oke, kita kerumah sakit” ucap Caroline mengelus lembut perut Kenzo.


“Hiks Kak Kenzo kesakitan hiks pasti karena anak tadi menendang perutnys hiks” Kenzi semakin keras menangis. Mata Aksa menggelap, berani sekali bocah tengil itu melukai Putranya.


Saat sampai di rumah sakit, Kenzo langsung di periksa oleh dokter yang merupakan teman Aksa.


“Kalian tenang saja, itu hanya memar tidak terlalu serius aku akan memberikan salep agar memarnya hilang” ucap David menatap Caroline yang sedang menenangkan Kenzi dengan lamat.


“Cepat” ucap Aksa datar saat melihat tatapan David.


“Psst, dia gadismu? Cantik juga boleh untukku?” bisik David.


“Kerjakan tugasmu atau kepalamu hilang” ucap Aksa datar.


“Ish tidak seru” ucap David, oh ayolah. Dia cukup terkejut saat Jeremy mengajak Caroline periksa dan Jeremy mengatakan bahwa itu perintah dari Aksa. Di tambah lagi melihat keakraban dua anak Aksa dengan Caroline.


“Sekalian hasil pemeriksaan gadis itu” ucap Aksa datar.


Oke David merasakan ke anehan kepada temannya ini.


TBC


Maaf ceritanya berubah