
“Twins...” panggil Caroline kepada Twins yang sedang bermain di taman belakang.
“Ya Mom?” sahut keduanya kompak menoleh ke arah Caroline yang membawa cemilan dan minuman jus jeruk.
“Mom bawakan kalian cemilan” ucap Caroline menaruh nampan yang dia bawa di hadapan Twins. Twins segera mengambil posisi nyaman di samping Caroline.
“Twins, Mom mau bertanya kalian yakian akan Homeschooling?” tanya Caroline.
“Iya Mom, kenzi tidak suka di sekolah mereka semua jahat” ucap Kenzi.
“Kenzo ikut saja dengan Kenzi” ucap Kezo meminum minumannya.
“Begini, kaliankan masih kecil dan perlu banyak teman. Mom sarankan untuk sekolah umum saja ya?” ucap Caroline berusaha membujuk keduanya, bagimanapun keduanya masih dalam masa pertumbuhan yang pasti masih dalam masa mencari teman.
“Tapi Mom, Kenzi takut” lirih Kenzi.
“Mom akan menunggu kalian sekolah? Mau?” tawar Caroline.
“Mom janji?” ucap Kenzi menunjukkan jari kelingkingnya.
“Janji, asalkan Twins mau sekolah” ucap Caroline.
.
.
.
Suasana sekitar tanpak pengap dan lembab. Bau amis darah tercium di sekitar tempat itu. Aksa berjalan dengan tatapan datarnya menuju sebuah ruangan. Sampailah ia di sebuah ruangan yang di terangi oleh sebuah lampu.
“Mereka ada di dalam Tuan”
Aksa memasuki ruangan tersebut dan menatap tiga wanita yang merupakan kepala sekolah dan dua wali dari murid yang menyakiti putra kembarnya.
“Lepaskan kami tuan” ucap sang kepala sekolah memohon. Di tubuhnya sudah banyak luka gores dan lebam.
“Melepaskan kalian? Setelah kalian berlaku tak adil kepada kedua putraku kalian ingin di lepaskan?” ucap Aksa datar.
Tiga tubuh itu bergetar ketakutan saat mendengar suara dingin Aksa, mereka seharusnya tahu posisi. Lagipula sang kepala sekolah sudah tahu bahwa Kenzo dan Kenzi adalah anak pendonasi dana terbesar di sekolah yang ia pimpin.
“Cih, orang seperti kalian lebih bagus membusuk di penjara bawah tanah milikku” ucap Aksa datar.
“Kalian, jangan sampai mereka lepas dan kabur. Ingat untuk menyiksa keluarga mereka juga” ucap Aksa kepada bawahannya.
“Baik Tuan” jawab semuanya kompak.
Aksa melenggang pergi mengabaikan teriakan memohon dari tiga wanita yang berani berlaku tak baik pada putranya. Aksa memang tidak main main jika sudah berurusan dengan kedua putranya setelah wanita ular yang melahirkan kedua putranya pergi lebih memilih karir dari pada keluarga.
Tujunnya sekarang adalah pulang dan makan malam dengan masakan Caroline. Ah mengingat gadis itu entah kenapa semua emosi dan lelah Aksa hilang seketika. Dia yakin saat ia sampai di rumah akan langsung di sambut dengan segelas teh atau coklat hangat. Dan jangan lupakan pijatan lembut Caroline pada kepala dan bahunya setelah ia mandi.
Tring
From: Kenzi
Dad, cepatlah pulang Mom sudah selesai memasak. Kita makan malam bersama.
Aksa tersenyum saat membaca pesan dari Kenzi, ya kedua putranya walaupun masih kecil sudah memiliki ponsel dan nomor pribadi masing masing. dia tidak sabar untuk sampai di rumah. Saat mobil sudah terpakir di halaman rumahnya Aksa segera masuk kedalam.
“Dad, kata Mom saat pulang harus mengucapkan salam tidak sopan langsung masuk” cibir Kenzi menyambut sang Daddy di depan pintu.
“Mana Mom mu?” tanya Aksa mengangkat tubuh Kenzi ke gendongannya.
“Di dapur, ayo Dad makan Kenzi sudah lapar” ucap Kenzi semangat.
“Bagaiamana kesehatanmu?” tanya Aksa berjalan menuju dapur.
“Kenzi sehat, tapi ini masih sakit” tunjuk Kenzi pada lebam di lengannya.
“Ah Tuan sudah pulang” ucap Caroline membantu Aksa melepas jas kerjanya.
“Sudahku bilang panggil namaku” ucap Aksa menatap tajam Caroline.
“Ma-maaf...” ucap Caroline, dia lupa.
“Tuangkan nasiku” ucap Aksa duduk di kursi. Setelah menurunkan Kenzi dari gendongannya.
Caroline segera menyiapkan makanan untuk Aksa, js pria itu ia letakkan di sandaran kursi makan. Ia juga menyiapkan makanan untuk Twins. Suasana makan malam menghangat, yang di selingi oleh cerita Twins tentang kesehariannya kepada Aksa. Caroline terkekeh geli saat melihat Kenzi cemberut tanpa menyadari ada tatapan tak suka dari arah pintu dapur.
“Aku akan memberimu pelajaran”
.
.
.
“Bagaimana kau membujuk Putraku agar sekolah di tempat umum lagi?” tanya Aksa saat Caroline mengeringkan rambutnya di kamar pria itu. Sedangkan tangan Aksa sibuk dengan laptop tentang bahan miting esok.
“Aku mengatakan kalau anak seusia mereka seharusnya memiliki banyak teman, aku juga berjanji akan menunggui mereka saat di sekolah” ucap Caroline memijit pelan bahu Aksa.
“Mom~” terdengar suara rengekan dari arah pintu. Disana Twins berdiri dengan piyama bergambar robot mereka. Caroline memberi kode dengan tangannya agar Twins masuk. Keduanya segera masuk dan menaiki ranjang milik Aksa yang berbalut sprei putih gading.
“Ada apa hm?” tanya Caroline lembut sambil mengusap kepala Kenzi yang berbaring di pahanya sedangkan Kenzo duduk di pangkuan Aksa dan fokus ke arah laptop Daddynya.
“Mau tidur bersama Mom dan Dad” ucap Kenzi.
“Ugh manja sekali sih, ya sudah kita tidur bersama” ucap Caroline memeluk gemas Kenzi.
“Apa kau paham? Melihat dengan serius begitu” ucap Aksa mengusak rambut Kenzo.
“Tidak, tapi Kenzo akan belajar dan jadi seperti Daddy” ucap Kenzo semangat.
“Sepertinya Kenzo menuruni bakat Daddynya” ucap Caroline mengusap punggung Kenzi yang sudah mengantuk.
“Hn dia anakku” ucap Aksa mematikan laptopnya lalu menaruhnya di meja samping ranjang.
“Saatnya tidur” ucap Aksa mengangkat tubuh Kenzo dan membaringkannya di ranjang samping Kenzi yang mulai terlelap karena usapan Caroline pada punggungnya.
Aksa menepuk pelan pantat Kenzo hingga bocah itu tidur. Lalu ia melirik Caroline yang sudah terlelap sambil memeluk Kenzi. Aksa me,perbaiki selimut yang menutupi mereka semua. Lalu ia mematikan lampu tidur, membaringkan diri di samping Kenzo dan kembali menatap Caroline lama.
.
.
.
Caroline menpepati janjinya menunggu Twins di sekolah. Twins sudah bersekolah di sekolah baru dan tentunya Aksa menyiapkan satu ruangan untuk tempat Caroline menunggu karena sekolah tempat kedua putranya menimba ilmu adalah sekolah yang ia bangun sendiri.
Tok Tok Tok
Caroline membuka pintu dan mendapati seorang Pria berseragam guru sekolah itu.
“Siapa?” tanya Caroline.
“Boleh aku masuk?” tanya pria tersebut yang bernama Zex.
“Ada perlu apa?” tanya Caroline mempersilahkan Zex masuk ke dalam ruang santainya.
Zex menatap Caroline dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Kau adik Leo?” tanya Zex.
“Teman kak Leo?” tanya Caroline kembali.
Zex menyeringai, dia tidak menyangka akan menemukan adik dari temannya secepat ini berkat bantuan selembar foto.
“Aa kebetulan sekali” ucap Zex dengan seringai kejamnya.
“Ma-mau apa-“ Zex segera membengkap mulut Caroline dengan telapak tangannya yang besar. Caroline meberontak, ini salah ia yakin pria ini memiliki niat jahat.
“Hmmp...” Caroline terus meronta kuat berusaha lepas. Zex menutup pintu ruangan dan menguncinya lalu membuang kunci itu ke luar jendela.
“Kau harus membayar hutang Kakakmu manis” Zex melempar tubuh Caroline ke sofa.
“A-apa yang akan kau lakukan?” Caroline panik.
“Siapapun tolong aku”
“Sssst, jangan berisik” bisik Zex. Caroline menggeleng, dia benar benar takut sekarang.
“Hmmmpp hmppp” Caroline masih berusaha memberntak, Zex dengan kesal merobek gaun selutut yang di kenakan oleh Caroline hingga gadis itu hanya menggunakan pakaian dalam. Caroline menangis, tidak dia tidak mau seperti ini.
BRAK
Pintu di dobrak dengan keras menampilkan Aksa dengan beberapa Bodyguard di belakangnya. Aksa menatap dingin Zex yang masih mengukung Caroline. Ada Twins juga disana, mereka marah.
Caroline melihat Zex yag sedang lengah langsung mendorong tubuh itu dan berlari menuju Aksa meminta perlindungan. Aksa dengan sigap menangkap tubuh Caroline ke pelukannya dan membalut tubuh itu dengan jas
kerja miliknya.
“Tolong aku hiks” isak Caroline.
“Mom...” Twins segera memeluk kaki Caroline.
“Urus ******** itu, buat dia enggan hidup di dunia ini” ucap Aksa.
“Tuan tidak bisa membawa dia begitu saja” teriak Zex saat melihat Aksa hendak membawa Caroline pergi.
“Apa masalahmu?” tanya Aksa dingin.
“Kakaknya memiliki hutang dengan saya” ucap Zex. Aksa melempar seamplop tebal uang ke arah Zex.
“Ururs dia” ucap Aksa pada Bodyguardnya.
Twins mengikuti Aksa menuju mobil, Kenzi sudah menangis melihat kondisi Caroline. Keduanya mendapat izin pulang duluan. Aksa memerintahkan supirnya menjalankan mobil setelah semuanya masuk.
“Hiks Mom, Hiks jangan ke sekolah lagi hiks” Kenzi memeluk Caroline seraya menangis kencang.
“Jangan menangis sayang” ucap Carolin mengelus punggung Kenzi.
“Apa yang sudah ******** itu akukan padamu?” tanya Aksa datar.
“A-aku tidak apa apa” ucap Caroline.
Kenzo memeluk caroline dari samping, dia sedih. Mommynya di jahati oleh guru di sekolah barunya. Saat sampai di Mansion, Caroline langsung ke kamar dan beristirahat bersama dengan Twins. Aksa kembali ke kantor setelah mengantar ketiganya pulang.
Rahang Aksa mengeras saat mengingat perbuatan bejat Zex kepada Caroline. Sial, aset milikknya di lihat oleh orang lain. Ia menghubungi Jeremy.
“Pastikan orang tadi lenyap dari dunia ini” ucap aksa datar dan langsung mematikan sambungan telponnya.
“Tuan, kita ke kantor?” tanya sang supir.
“Bawa aku ke markas, ada hal yang harus ku selesaikan” ucap Aksa. Sang supir mengangguk dan mengarahkan mobil ke arah tempat yang di tuju.
Saat sampai, Aksa di sambut oleh beberapa orang. Aksa tetap berjalan dengan wajah datarnya. Ia mengambil sebuah pistol yang selalu ia bawa di balik jasnya.
“Dimana ******** itu?” tanya Aksa datar saat Jeremy mendekatinya. Jeremy menuntun Aksa menuju sebuah ruangan dimana Zex di tahan.
“Lepaskan aku sialan” ucap Zex karena tubuhnya diikat di sebuah Kursi dengan rantai dan borgol.
“Melepaskanmu?” ucap aksa datar menodongkan pistol di depan dahi Zex.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Zex panik.
“Menghilangkan hama yang ada” ucap Aksa datar.
Dor
Aksa menatap datar darah yang mengalir dari kepala Zex yang ia tembak. Ia menyimpan kembali pistolnya dan meninggalkan ruangan itu membiarkan anak buahnya mengurus sisanya.
“Kembali ke perusahaan” ucap Aksa kepada sang supir.
.
.
.
Aksa tiba di rumah jam sepuluh malam. Ia menyelesaikan beberapa Dokumen dengan cepat agar bisa bersantai besok. Dia masuk dengan pelan dan mengira bahwa kedua putranya dan Caroline sudah tidur.
“Aksa sudah pulang?” Caroline mengucek matanya yang mengantuk. Ia menunggu Aksa pulang bersama dengan Twins sehingga mereka memutuskan untuk tidur di ruang tamu beralaskan sofa yang bisa di jadikan kasur.
“Kau belum tidur?” tanya Aksa.
“Aku menunggumu” ucap Caroline mengambil jas kerja Aksa dan membantu melepas jas Aksa.
“Mana Twins?” tanya Aksa mengikuti panggilan Caroline kepada kedua putranya.
“Mereka tidur” jawab Caroline mengikuti Aksa memasuki ruang tamu.
“Dad” panggil Kenzi yang terganggun karena Caroline pergi dari sisinya.
“Tidurlah kembali” ucap Aksa mengusap kepala Kenzi yang mulai terlelap lagi.
“Tuan anda sudah pulang?” Hana muncul dengan segelas kopi hitam, menaruhnya di hadapan Aksa yang sedang mengistirahatkan diri di sofa.
“Tuan, aku menunggu tuan sampai pulang” ucap Hana dengan malu malu. Ia berharap Aksa terkesan karena Hana menunggunya hingga pulang. Caroline hanya menatap keduanya dalam diam.
“Caroline buatkan aku teh hijau” ucap Aksa tanpa menghiraukan Hana. Dia lelah dan enggan menanggapi wanita seperti Hana. Caroline menganguk dan segera menuju dapur membuatkan teh hijau untuk Aksa.
“Tuan kopinya silahkan” ucap Hana menahan kekesalan karena Aksa mengabaikannya.
“Ini tehnya” ucap Caroline menaruh segelas teh di hadapan Aksa. Aksa mengambil gelas tersebut lalu menghirup aroma teh dengan lembut dan meminumnya.
“Pijat bahuku” ucap Aksa. Caroline segera berdiri di belakang Aksa dan hendak memijit bahu Aksa tapi di tepis oleh Hana.
“Biar aku” ucap Hana menatap tajam Caroline. Hana mulai memijit bahu Aksa dengan lembut dan sensual, bermaksud menggoda Aksa.
“Bagaimana tuan? Apakah nyaman?” bisik Hana di telinga belakang Aksa.
“Caroline pijat bahuku, tangannya tidak berasa” ucap Aksa datar.
“Tapi tuan”
“Pergilah dasar B*tch” ucap Aksa datar, matanya memincing tajam ke arah Hana.
“Ta-tapi tu-tuan-“
“Pergi atau kau ku pecat” ucap Aksa dingin sambil menikmati pijatan lembut Caroline pada bahunya.
“Tidurlah, aku akan mandi dulu” ucap Aksa.
“Biarku bantu menyiapkan piyama tidur” ucap Ccaroline.
.
.
.
Aksa terbangun saat merasakan ada yang menindih tubuhnya. Matanya terbuka dan melihat Twins mendudukki perutnya. Mereka memberi tanda pada Aksa agar diam. Aksa menyerngitkan alisnya, Twins menujuk ke arah Caroline yang masih tertidur. Aksa mengerti, Twins tidak ingin mengganggu Caroline. Mereka tidur di ruang tamu di tempat yang sama.
“Saatnya mandi” bisik Aksa. Twins mengangguk danturun dari perut Aksa. Mereka mengikuti Aksa ke arah kamar mandi.
Caroline mengerjabkan matanya saat merasakan matahari menerpa wajahnya. Matanya mencari jam dinding dan bingo jam sembilan pagi. Caroline tersentak bangun, ia segera berlari menuju dapur dan mendapati Aksa yang sedang memasak. Tubuh Pria itu berbalut Apron rumahan.
“Hn sudah bangun” ucap Aksa.
“Ma-maafkan aku kesiangan” ucap Caroline menundukkan kepalanya.
“Mandi dan bersiap, kau akan ikut denganku” ucap Aksa.
“Ng itu Twins mana?” tanya Caroline.
“Mereka sudah ke sekolah” ucap Aksa.
Caroline merasa bersalah, dia teledor dalam menjalankan tugas menjaga Twins.
“tidak apa apa, keduanya mengerti kalau kau lelah setelah kejadian kemarin” ucap Aksa mengusak kepala Caroline.
DEG
TBC