Bara Syair Cinta Syaira

Bara Syair Cinta Syaira
BScS 3


Dengan gaun hitam tanpa lengan dan ekornya yang menjuntai panjang, aku kembali merendamkan diri dalam sebuah kolam renang. Sebelumnya, aku sudah dua kali berganti gaun dengan potongan dan warna yang berbeda. Di bawah arahan photographer kenamaan, Damar Adhi, aku dituntut untuk berpose sesuai dengan tema pemotretan kami hari ini. Selain harus menahan nafas, aku juga harus menahan dinginnya air kolam yang merasuk sampai ke tulang. Bagaimana tidak, hingga dini hari, pemotretan masih berlangsung. Aku harus berada di kedalaman 6 meter untuk pengambilan gambar demi gambar. Ada beberapa orang bertugas membawa tabung oksigen dan selalu bersiap jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Aku harus berulangkali mengulang pengambilan gambar demi hasil yang memuaskan. Pengambilan gambar baru selesai dua jam kemudian.


"Kerja yang sangat bagus, Melo," seru Damar tersenyum puas setelah berenang ketepian dan memeriksa hasil jepretan kameranya.


Aku yang sudah lelah dan kedinginan cuma bisa mengangguk lemah disertai senyum yang sedikit dipaksakan. Bibirku rasanya beku untuk digerakkan. Pengalamanku saat tinggal di Desa yang hobi sekali berenang di sungai, sangat membantu untuk pemotretan kali ini. Dan aku patut bersyukur hingga detik ini belum ada yang mencurigai siapa aku sebenarnya.


"Kamu bisa istirahat dan segera ganti baju." Itulah yang kubutuhkan dari tadi. Tubuhku semua terasa membeku akibat terlalu lama berendam dalam air sedingin es.


"Rendi, Micel, bantu Melodi!" Damar lanjut memberi titah pada dua stafnya untuk membantuku kembali ke pinggir kolam renang. Dengan gaun yang lumayan berat dan basah tentu menyusahkan untuk bergerak.


"Ok, pemotretan kita selesai untuk hari ini. Kalian semua juga bisa istirahat. Ingat, tidak ada diantara kalian yang boleh pulang sebelum membereskan semua properti serta alat-alat pemotretan."


"Yahhhh," desahan bernada kecewa yang keluar hampir dari semua staf pemotretan terdengar cukup jelas. Wajar saja, mereka semua pastinya juga sama lelahnya denganku.


Di pinggir kolam, Diyan, salah satu orang kepercayaan Asti yang ditugaskan menjadi assiten pribadiku, buru-buru menyelimuti tubuhku dengan handuk. Sementara itu, seseorang menyodorkan segelas kopi panas untukku.


"Kopi ini bisa sedikit menghangatkan tubuhmu," katanya. Aku menerimanya dengan enggan.


"Terimakasih," ucapku berat hati, kemudian meminumnya sedikit. Orang itu hanya mengangguk sekilas sebelum memusatkan perhatiannya pada Diyan.


"Bawa Melodi ke ruang ganti! Pastikan dia memakai baju hangat. Keringkan juga rambutnya. Vitaminnya juga jangan lupa. Dia harus tetap fit karena dua hari lagi dia ada jadwal syuting sebuah video klip."


Setelah memberi perintah layaknya seorang ratu, Asti kemudian berlalu menghampiri Damar. Perempuan itu tampak serius memperhatikan layar kamera Damar yang ditunjukan padanya.


"Ayo," Diyan menggiringku menuju ruang ganti.


Rendi dan Micel masih memegangi ekor gaunku yang benar-benar merepotkan sekali.


Make up artis dan hairstayles yang bertugas terlihat berkumpul di ruang ganti. Diyan menyuruh mereka untuk pulang duluan. Tujuannya sudah pastik membatasi interaksiku dengan orang-orang yang mengenal Melodi dengan baik. Perempuan kepala tiga itu kemudian melaksanakan tugasnya dengan baik. Rambutku sudah selesai dikeringkan. Tubuhku sudah jauh lebih hangat dalam balutan pakaian berbahan wol.


"Melodi," Damar muncul dengan wajah sumeringah dengan kamera yang digunakan untuk pemotretan tadi.


"Kamu pasti penasaran dengan hasil pemotretan kita, bukan?"


Aku mengangguk cepat. "Apa mengecewakan?"


"Saya mau keluar mengambil makanan sama vitamin buat Melodi." Diyan hendak beranjak meninggalkan kami berdua. Aku bermaksud mencegah. "Asti sebentar lagi pasti ke sini," ujar Diyan. Syukurlah kalau aku tidak cuma berduan dengan Damar.


"Coba kau lihat." Damar menyodorkan kameranya.


"Woww," aku langsung terkesima. Jari-jariku terus menggulir satu persatu potret diriku dalam berbagai macam gaun dan pose menantang-ayu-anggun-elegan. Yang terpenting menurutku masih dalam batas normal, tidak mempertontonkan auratku secara berlebihan.


Sesuai dengan tema pemotretan yang diusung Damar, aku benar-benar menjelma menjadi dewi air. Dari sudut pengambilan gambar, pose, pencahayaan dan ketepatan waktu pembidikan, semua benar-benar sempurna. Aku tidak pernah merasa secantik ini melihat hasil sebuah jepretan kamera. Damar memang yang terbaik.


"Foto ini masih original. Saya akan memberi efek dan mengedit beberapa bagian agar foto ini terlihat makin sempurna. Setelahnya, saya akan kirim ke email-mu."


"Terus terang saya lebih suka foto tanpa efek atau editan apapun," ungkapku apa adanya.


"Tidak masalah. Saya akan mengirimkannya untukmu," Damar menyanggupi tanpa banyak tanya. Pria bertatto itu kemudian bertopang dagu, bola matanya pergantian menyusuri wajahku dan wajah yang ada di foto.


"Ada apa?" aku mulai was-was, cemas jika Damar sampai mencurigai siapa aku. Damar seorang photographer, punya tatapan tajam dan teliti dalam membidik objek potretannya. Bisa jadi Damar menemukan perbedaan antara aku dan Melodi.


Damar terus memandangiku. Aku merasa terancam sekarang. Diyan belum juga muncul, begitu juga Asti.


"Terakhir kalinya kita bertemu ketika pemotretan peringatan hari Kartini, sekitar lima bulan yang lalu."


Apa Damar sedang berusaha menginterogasi aku demi memperkuatkan dugaannya?


Aku harus tenang. "Memangnya ada apa? Jangan bilang merindukanku," godaku, cuma sebagai pengalihan semata.


Damar tertawa, cukup renyah. "Dugaan saya memang benar. Kau memang berbeda dari terakhir kita bertemu."


"Sama saja," kilahku.


"Tidak. Kau terlihat lebih bercahaya dalam jepretan kameraku."


Oh, jadi karena itu.


"Aku pikir apa?" senyumku lega.


"Apa itu yang dinamakan orang-orang dengan aura pengantin baru?"


Senyumku luntur seketika. Detik itu juga, aku menyerahkan kamera milik Damar ke tangannya. Jujur, aku tidak suka ada orang yang mengusik kehidupan pribadiku. Terlepas itu mau benar atau tidak. Apalagi, oleh rekan kerja. Itu bisa mempengaruhi moodku dan takutnya berdampak pada tugasku menjalankan peran Melodi tanpa ada yang curiga. Aku payah dalam menjaga emosi. Jadi, cukup para awak media saja meributkan hal itu.


"Maaf," Damar cepat menangkap perubahan sikapku. "Saya cuma bercanda. Tenang saja, saya tidak akan mencampuri urusan pribadimu."


Aku memaksakan senyum.


"Hari ini kau ada acara? Bagaimana kalau ikut saya pergi ke club biasa kita berkumpul dengan teman-teman modelmu yang lain? Aurelia sudah menunggu di sana."


Ini bukan ajakan pertama. Semenjak aktif mengisi berbagai pemotretan atau fashion show, ajakan tersebut paling sering didengungkan rekan-rekan Melodi yang mengira aku adalah salah satu bagian dari mereka. Tentu saja ajakan tersebut selalu aku tampik. Aku masih teringat pesan Kakek untuk menjauhi tempat maksiat tersebut. Kali ini sepertinya pendirianku mulai goyah. Aku butuh pelampiasan atas permasalahan yang tengah aku hadapi. Dalam dua minggu ini, aku selalu menjadi incaran para wartawan di setiap kesempatan. Begitu juga para fans Melodi yang tidak membiarkanku menikmati waktu senggangku sebentar saja. Tidak seperti awal-awal tampil sebagai Melodi.


"Bagaimana?" desak Damar.


"Sepertinya tidak bisa," bukan aku yang menjawab. Asti layaknya setan yang datang tiba-tiba. Asti muncul bersama Diyan.


Dengan gaya anggunnya dan pembawaan yang berkharisma, membuat siapapun segan, Asti berdiri di antara aku dan Damar.


"Seminggu ke depan, Melodi disibukkan dengan syuting video klip di luar kota. Lusa dia sudah harus berangkat. Kita sama-sama tahu, pemotretan hari ini cukup berat dan melelahkan. Saya tidak mau Melodi sampai drop karena kurang istirahat. Tanpa saya jelaskan, kau pasti memgerti besarnya tanggung jawab yang diemban para pelaku seni seperti kalian."


"Saya mengerti," Damar mencoba maklum, tapi aku bisa melihat kekecewaan pada raut wajah yang dipenuhi oleh bulu-bulu halus itu.


"Mungkin lain kali Melodi bisa memenuhi permintaan saya," Damar tersenyum penuh harap kearahku.


"Akan aku usahakan," balasku tak segan. Masa bodoh dengan reaksi Asti yang seakan mau menelanku hidup-hidup.


"Baiklah," entah cuma perasaanku saja, Damar tampak salah tingkah. "Hubungi saya kalau kau ada waktu senggang."


Aku mengangguk disertai senyum manis yang dibuat-buat. Sengaja menyulut kemarahan Asti.


"Kalau begitu, saya permisi dulu."


Akhirnya tinggal kami bertiga saja. Asti jadi bebas menghunusku dengan tatapannya.


"Kenapa?" aku melemparkan senyuman sinis, sudah membaca apa yang terpikir dalam otaknya tentang tawaran Damar. "Minum-minum, hura-hura sampai pagi, aku juga bisa melakukannya. Harusnya kau senang, aku sangat total memerankan karakter anak asuh kesayanganmu itu! Bukankah identitasku akan lebih gampang dicurigai jika terus menjadi anak sopan dan penurut?"


"Kau yakin sudah menjadi saudara kembarmu?" balas Asti dengan tenangnya. "Sedikitpun, saya tidak merasakan perananmu membantu adik kandungmu sendiri."


Berkorban identitas? Berkorban status? Perempuan setengah baya itu, anggap apa?


"Benar-benar tidak tahu terima kasih," sarkasku.


"Saatnya nanti, kau akan tahu siapa yang harus berterima kasih di antara kita."


Aku menarik nafas dalam-dalam, berusaha keras untuk tidak menuruti emosiku membalas ucapan perempuan setengah baya itu.


"Diyan, kemasi semua barang-barang Melodi. Kita pulang sekarang!"


"Diyan?" panggilnya lagi karena tidak ada tanggapan dari siapapun seolah cuma ada kami berdua di ruangan itu.


Asti berbalik. Dari balik punggungnya, aku bisa melihat Diyan ada di sudut ruangan sedang berbicara dengan seseorang lewat sambungan telpon seluler. Saat bola mata kami bertemu, Diyan buru-buru berjalan ke arah kami dan menyerahkan handphone miliknya pada Asti dan berbisik.


Asti sempat melirik ragu ke arahku Sepertinya penelpon itu ada hubungannya denganku. Mencurigakan sekali.


"Kau bisa kemasi barang-barang Melodi sekarang."


Asti melenggang membawa handphone milik Diyan. Aku tergerak mengikuti instingku.


"Syaira?!" teriaknya tanpa sadar menyebut nama asliku.


"Mario?" nama yang tertera pada layar handphone yang baru kurampas dari Asti. Mario atau Rio, manajernya Bara. Sudah tiga hari ini aku tidak mendengar kabarnya. Apa ini ada kaitannya dengan artis asuhannya?


"Kembalikan handphonenya?"


Aku lebih cepat menahan tangan Asti dan mendekatkan benda pipih itu ke telingaku. Dalam waktu beberapa detik, aku mendapatkan informasi yang cukup menohok.


"Kita harus ke rumah sakit!" Ucapku setelah mematikan sambungan komunikasi secara sepihak.


"Kau tidak akan kemanapun selain kembali ke villa!" tandas Asti tak mau dibantah.


"Ibu Aluna kritis dan Koma. Kau pasti sengaja menyembunyikan ini, kan?"


"Jangan berlebihan! Dia bukan siapa-siapamu." Asti sama sekali tidak prihatin atau setidaknya merasa bersalah sudah menyembunyikan informasi segenting ini. Hubunganku dengan Mamanya Bara memang tidak selayaknya mertua dan menantu di luar sana. Pernikahan kami pun dilangsungkan saat kesadarannya tidak stabil. Dengan kata lain, kami menipunya. Tapi, aku tidak sejahat itu tidak mempertanggung jawabkan keputusan serta statusku sebagai seorang menantu.


"Dia ibu mertuaku. Jangan lupakan peranmu dalam pernikahanku denga putranya!"


"Saya tetap tidak akan mengizinkanmu!"


"Oh," aku mundur beberapa langkah.


"Kau mau ke mana?" Asti berusaha menghalangiku.


"Menemui Damar."


"Apa?" Selain kaget, Asti pasti bingung mengapa aku menyebut nama yang tidak ada kaitannya sama permasalahan yang kami ributkan.


"Dia pasti masih berkemas-kemas. Aku akan bilang padanya kalau aku berubah pikiran!"


"Kau mau perginya dengannya? Ke club?" Asti mulai paham ke mana maksud gertakanku.


"Semua tergantung pada keputusanmu. Mengantarkanku ke rumah sakit atau aku akan pergi bersenang-senang dengan Damar? Kau pasti lebih bisa menebak bagaimana tanggapan Damar jika aku menyetujui tawarannya tadi? Apa kau bisa menghalanginya membawaku pergi? Jangan salahkan siapa-siapa, jika di sana aku tidak bisa merahasiakan identitasku!"


Tanpa melepaskan tatapan menghunusnya dariku, Asti berteriak memanggil Diyan.


Diyan yang sedari tadi cuma jadi penonton, buru-buru mendekat.


"Ya, Buk," sahutnya hormat sekali.


"Hubungi Rio! Suruh dia memastikan rumah sakit steril dari wartawan."


Aku baru akan menarik nafas lega, tapi Asti berhasil merampas oksigen di sekitarku dengan perkataannya yang menohok.


"Jangan berlagak seolah saya dan Melodi adalah orang paling berdosa atas pernikahanmu dengan Bara. Ingat, kau juga ikut menyumbang dosa yang tidak kalah besarnya dari kami!"


****


Bodoh!


Aku terus mengumpati diriku sendiri. Sekitar tengah hari saat masih tertidur, aku dihubungi oleh pihak hotel. Katanya, ada saudaraku dari Indonesia melakukan panggilan interkom. Harusnya aku tidak bertindak kekanak-kanak mematikan semua alat komunikasi hanya karena balada patah hati. Ternyata Rio yang menghubungiku. Mario memberitahukan kondisi mama kembali menurun.


Detik itu juga, aku bergegas mencari penerbangan paling cepat. Sayangnya, penerbangan sempat delay hampir dua jam lamanya karena faktor perbaikan roda pesawat. Selama itu, aku terus berkomunikasi dengan Rio. Aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama. Aku tidak bisa menahan kemarahanku saat Rio menyampaikan Syaira jarang sekali mengenjungi mama. Bisa jadi karena faktor tersebut yang membuat kondisi mama memburuk. Selama berpacaran dengan Melodi, di sela kesibukannya, dia selalu menyempatkan diri menemani mama melakukan serangkaian pengobatan. Tak heran bila mama menginginkan Melodi menjadi menantunya. Perhatian serta kehadirannya membuat mama semangat untuk sembuh. Mama selalu terbawa pikiran bila Melodi jarang mengunjunginya dan bisa berpengaruh pada kondisi kesehatannya. Harusnya Syaira juga bisa seperti Melodi. Sebelum menikahinya, aku sudah menegaskan apa yang menjadi tugasnya. Sepertinya perempuan itu mulai terlena dengan popularitas yang ia dapatkan berkat statusnya sebagai kembaran Melodi yang tidak diketahui khalayak ramai. Aku tidak akan memaafkan perempuan itu kalau hal buruk sampai menimpa perempuan yang paling kusayang.