
Proses syuting film yang aku bintangi sudah selesai dari dua minggu yang lalu. Semua crew dan lawan mainku sudah kembali ke tanah air sejak beberapa hari yang lalu. Harusnya aku juga segara kembali karena sinetron stripping yang aku bintangi akan memulai syuting untuk seasaon kedua. Ada syuting iklan serta mengisi berbagai acara tv dan radio juga sudah siap menanti.
Aku sudah menghubungi Rio untuk kembali mengatur ulang semua jadwal syuting atau lainnya. Tentu saja sikap tidak profesioanalku itu membuatnya meradang. Tapi, pria itu bisa apa jika aku kemudian mematikan semua alat komunikasi hingga hari ini. Untuk akun media sosial, aku tidak terlalu ambil pusing. Karena seluruh akun media sosialku dikendalikan lansung oleh Rio. Aku hanya sesekali aktif menyapa fans-fansku yang menamakan diri 'MemBara' lovers. Aku memang tipe aktor yang sangat menjaga privaciku dari rasa ingin tahu publik. Aku ingin dikenal publik karena karya juga prestasinya. Bukan karena sensasi atau karena kehidupan pribadinya.
Perlu waktu sepuluh tahun lamanya hingga aku berhasil mencapai titik tertinggi dalam karier berakting. Membintangi puluhan film yang hampir semua selalu menjadi box office. Aku juga membintangi beberapa judul sinetron yang menduduki rating tertinggi pada jamnya. Iklan yang aku bintangi juga selalu menguasai penjualan pasar. Dari jajaran artis top, aku termasuk dalam daftar bayaran tertinggi. Beberapa penghargaan juga berhasil aku raih. Sayangnya tidak ada yang bisa aku banggakan dari semua pencapaian itu. Sebuah kenyataan memukul telak. Karya, prestasi serta semua pencapaian yang membuat banyak aktor iri, ternyata tak lebih dari seonggok kotoran berbalur berlian.
Ada peran seseorang dalam kesuksesan karierku. Seseorang yang merelakan tubuh dan juga kehidupannya demi masa depan keartisanku. Ialah, Melodi. Gadis yang kucinta sepenuh hati. Andai dari awal aku tidak mengabaikan kecurigaanku terhadap tawaran kontrak dari sebuah rumah produksi ternama yang datang mendadak, Melodi tak perlu mempertaruhkan kehormatannya. Tidak masalah jika aku harus berjuang lebih lama lagi untuk bisa menggapai impianku menjadi seorang bintang ternama.
Melodi sudah melempar kotoran di mukaku, yang ia perbuat juga merobek-robek harga diriku. Mengatainya murahan, ****** dan sebagainya sudah terlontar keras dari mulutku, tapi tak membuat hatiku terpuaskan. Aku bahkan sempat lepas kendali melakukan tindakan kekerasan pada Melodi. Kemudian aku sangat menyesali begitu melihat Melodi terkapar tak berdaya di rumah sakit. Dan aku sadar, sebesar apapun kesalahan yang diperbuat Melodi, aku tidak cukup bisa menghapus rasa cintaku padanya.
Aku bisa saja bersikap sok tidak peduli dan meninggalkan Melodi begitu saja karena yang diperbuat Melodi jelas atas kesadarannya sendiri. Jangankan untuk meminta Melodi melakukan tindakan murahan, terpikirkan pun tidak. Bahkan dalam bertahun kami pacaran, aku berusaha melindunginya dari nafsu binatangku. Lalu, di mana salahnya kalau aku berpikir untuk meninggalkannya, kemudian kembali melanjutkan karier keartisan dengan tenang. Lagi-lagi, cintaku yang besar pada Melodi mengalahkan logika. Aku tidak sebrengsek itu meninggalkan orang yang sudah berkorban segalanya begitu saja. Satu-satunya cara, aku harus berbesar hati menerima Melodi kembali. Aku juga belum sanggup jika kehilangannya. Aku pun sudah terlanjur menikmati ketenaran sebagai aktor papan atas serta hasil yang kudapat dari ketenaran tersebut. Aku tidak bisa lagi memuntahkannya, apalagi sampai berpikir untuk membatalkan kontrak kerja yang sudah terlanjur aku tanda tangani. Aku bisa dituntut hukuman penjara hingga belasan tahun atau aku harus bersedia membayar denda hingga berkali lipat dari nilai kontrak yang teramat fantastis itu. Tua bangka yang sudah menjebak Melodi juga tidak akan membebaskan perempuan yang aku cinta dari cengkeraman nafsunya kalau aku tidak menjalankan kewajibanku sesuai dengan kesepakatan yang tertulit jelas hitam di atas putih hingga waktu yang sudah ditentukan.
Setahun sudah kontrak sialan itu selesai, aku pikir semua akan baik-baik saja. Aku juga sudah mulai menata karier keartisanku tanpa bayang-bayang rasa terinjak lagi. Di bawah naungan agenci milik Rio, ketenaran juga popularitasku tetap terjaga. Aku pun sudah bersiap untuk menjemput kebebasan Melodi, menjadikannya pedamping hidup untuk selamanya. Aku bahkan tak lagi mempermasalahkan jika hubungan kami akhir diketahui publik. Ternyata Melodi kembali membuatku meradang. Melodi hamil. Pastinya bukan dari benihku. Aku saja selalu menghindar dan jijik jika Melodi berusaha merayu setelah tahu tubuhnya pernah dijamah pria lain.
Harusnya aku menarik diri sejauh mungkin. Nyatanya, aku memilih untuk menutup mata mengenai kehamilan Melodi. Ada satu alasan yang membuat aku menetapkan pilihan untuk bersama Melodi walau di luar sana banyak teman-teman sesama artis yang tak kalah cantik dari Melodi, terang-terangan menunjukkan rasa sukanya padaku. Diantaranya, diam-diam ada yang aku pacari. Anggap itu sebagai bentuk pelampiasan sakit hati pada Melodi yang tak mampu aku utarakan.
Melodi ternyata belum juga puas membuat kekacauan. Saat aku menyatakan ingin melamarnya, perempuan itu dengan mudahnya meminta aku menikahi kembarannya. Aku sudah menjatuhkan harga diriku terlalu rendah hingga Melodi bisa dengan seenaknya menginjak-injak. Mengingat kembali alasan terbesarku sampai nekat ingin Melodi, aku memilih mendengar alasannya memintaku menikahi saudara kembarnya yang belum sekalipun pernah dikenalkan padaku.
"Aku tidak mungkin menuruti keinginan Mamamu untuk kita menikah secepatnya dalam keadaan tengah mengandung benih pria lain. Pernikahan kita tidak akan sah di mata Tuhan. Cuma itu solusi satu-satunya paling tepat untuk saat ini untuk menenangkan hati Mama."
"Kita tunggu anak itu lahir," bantahku yang masih tak terima dengan sarannya. Bukan cuma karena kondisi kesehatan Ibu, sepotong dari hatiku tak terima kalau bukan Melodi yang akan menjadi pendamping hidupku.
"Penyakit kanker yang diderita ibumu sudah menyebar hampir ke setiap jaringan syarafnya. Dokter bahkan tidak dapat memprediksi apa hidupnya akan lebih lama lagi. Apa kamu yakin tidak akan menyesal nantinya?"
Itulah alasan terbesarku ingin Melodi menikah denganku. Aku bisa mengabaikan harga diriku, tapi tidak dengan kesembuhan perempuan yang sudah mempertaruhkan seluruh hidupnya untukku.
"Apa kamu juga tidak ingin aku terbebas secepatnya dari Richad?"
Kebebasannya Melodi juga merupakan salah satu keinginan terbesarku. Aku ingin secepatnya terlepas dari beban rasa bersalah atas pengorbanan Melodi yang tidak sepatutnya ia lakukan. Aku tidak akan pernah tenang sebelum Melodi kembali mendapatkan kebebasannya. Apa memang cuma ini satu-satunya cara?
"Ada beberapa kontrak kerja yang tidak mungkin aku penuhi dengan keadaan hamil seperti ini. Bentuk tubuhku akan berubah seiring waktu. Orang-orang akan tahu aku tengah hamil dan pastinya berpengaruh buruk pada karierku ke depannya. Rencana kontrak kerjasama dengan Rumah mode dunia itu pasti akan terancam batal. Dan otomatis, aku juga tidak bisa mengikuti ajang top model dunia tahun depan. Aku harus bersembunyi dari media ataupun publik hingga janin ini lahir dan bentuk tubuhku kembali seperti semula. Selama itu, aku membutuhkan Syaira untuk menggantikan posisiku. Aku tidak mau membatalkan pekerjaanku begitu saja karena dianggap tidak profesional. Syaira punya bakat di dunia modeling dan cuma aku yang tahu itu. Kau juga tahu, ibuku terlibat kasus penipuan usaha berlian milyaran rupiah yang mencatumkan namaku secara sepihak. Syaira bisa menyelesaikannya selama aku tidak ada." Melodi tidak juga putus asa merayu pengertianku. Aku lebih kekeuh lagi. Tak mau terintimadasi lagi olehnya. "Aku bisa membantumu membayar semua kerugian yang ibumu sebabkan!"
"Tujuh milyar untuk kerugian yang disebabkan oleh ibuku dan tiga milyar untuk pembatalan kontrak kerja? Apa kamu sanggup?"
Nilai sebesar itu untuk artis dengan honor selangit sepertiku, tetaplah nilai yang sangat fantasis. Aku bisa saja menyanggupi. Tapi, biaya pengobatan Mama tak kalah besarnya dan jauh lebih utama. Belum lama ini aku juga baru saja menginvestasikan sebagian penghasilanku untuk sebuah usaha bersama Rio.
"Richad juga tudak akan diam saja jika sampai tahu kalau kita nekat menikah dengan keadaan aku yang tengah mengandung anaknya. Pria itu bisa menghancurkan karier kita semudah membalikan telapak tangan."
Richad Sam Chopra, pengusaha berdarah India, memang bukan orang sembarangan dalam industri film Indonesia. Selaian memiliki rumah produksi sendiri, juga Richad memiliki banyak koneksi dengan pemilik agenci, produser film hingga sutradara kenamaan.
"Aku ingin benar-benar terbebas dari Richad secepatnya, Wa" Melodi merintih pilu. Itu membuatku gamang.
Aku tahu betapa tersiksanya Melodi di bawah menjalani hubungan terlarang dengan laki-laki yang notabene sudah beristri dan ia sendiri sudah punya kekasih. Sebagaimana kami pintar menyembunyikan hubungan kami dari publik, Melodi juga pintar menyembunyikan skandalnya dengan Richad. Tidak ada satu media atau para fans kami yang curiga kalau idolanya ternyata sudah punya tambatan hati.
"Kalau Richad juga sampai tahu masalah hutang-hutanku, ia takkan segan menggelontorkan uangnya dan jaminannya kebebasanku kembali terampas. Kali ini, mungkin untuk selamanya," matanya mulai berkaca-kaca. Aku benci pada diriku sendiri melihat Melodi bersedih dan tidak bisa berbuat untuk mengembalikan keceriannya meski aku takkan lupa sudah sedalam apa Melodi mengecewakanku.
Aku sudah tidak lagi terikat kontrak apapun dengan Richad Sam Chopra sejak setahun yang lalu, tapi Melodi masih saja terikat karena bayi yang dikandungnya merupakan penerus satu-satunya yang ******** itu punya. Ini benar-benar tidak adil untuknya.
"Aku tidak akan biarkan kamu kembali pada tua bangka itu!"
Melodi membalas genggaman tanganku, menyelipkan harapan di sela-sela jari kami yang saling bertautan. "Richad sangat menginginkan anak ini untuk menutupi kehamilan palsu istri sahnya. Aku akan terbebas setelah melahirkan dan menyerahkan anak ini untuk diasuh oleh mereka. Kalau aku tidak setuju atau nekad menggugurkan janin tak berdosa ini, Richad tidak akan segan menyebarkan skandal kami pada media. Karierku akan hancur tanpa sisa, Wa."
Melodi adalah seorang model profesional. Maaf, aku lupa menceritakannya.
Kariernya lebih dulu bersinar dibanding aku. Saat remaja, ia pernah mengikuti lomba model majalah gadis sampul dan berhasil menjadi runner-up. Seiring waktu, karier Melodi makin melejit. Selain menjadi bintang iklan, wajah cantik Melodi sering menghiasi sampul majalah fashion. Melodi hampir selalu menjadi pilihan utama para desainer tanah air untuk memperagakan busana rancangan mereka dalam ajang bergengsi. Berbeda dengan karierku. Sering mengikuti berbagai casting, tapi selalu berakhir menjadi pameran figuran tak penting dengan bayaran yang tentunya tak seberapa. Tapi, Melodi tak pernah berniat untuk meninggalkanku. Aku bahkan pernah beberapa kali untuk mengakhiri hubungan kami karena aku tertekan dengan kecemerlangan kariernya. Melodi tak pernah mau dan selalu setia di sisiku kala aku benar-benar berada dalam kedaan frustasi meratapi nasib keartisanku yang terus jalan di tempat. Mungkin karena kesetiannya itu pula yang membuatku berat mencampakkannya.
Belum lama ini, sebuah rumah mode ternama tertarik mengajukan kerja sama dengan Melodi dan juga agenci yang menaunginya. Selain dijanjikan menjadi model utama, Melodi digadang akan mengikuti ajang top model dunia. Segala persiapan serta biaya untuk mengikuti ajang internasional tersebut, ditanggung semuanya oleh rumah mode bersama sponsor. Melodi tidak mungkin menolaknya karena sudah jadi impiannya menjadi model top dunia dan berharap kelak bisa menjadi bagian dari angelnya victoria secret.
Beruntung sekali kehamilan Melodi tidak menjergal impiannya yang sudah berada di depan mata. Karena dari pihak rumah mode yang menawarkan kerja sama bersedia menunggu Melodi menyelesaikan kontrak kerjanya dengan pihak lain terlebih dahulu. Dalam jangka waktu setahun, Melodi sudah harus bergabung bersama mereka atau kerja sama akan dibatalkan. Melodi masih diberi kesempatan untuk bernafas mengurus kehamilan juga mengembalikan bentuk tubuhnya. Tidak ada yang mengetahui kehamilan Melodi selain aku, Asti si pemilik agenci model dan si punya benih. Kehamilan Melodi memang harus dirahasiakan demi kelanjutan karier modelnya.
"Aku juga tidak akan sanggup melihatmu hidup dalam penyesalan sepanjang waktu jika tidak menuruti keinginan Mama untuk segera menikah. Itu bisa saja jadi permintaan terakhirnya, Wa" Bukan sok perhatian, aku tahu sedekat apa hubungan Melodi dengan Mamaku seberapa besar mereka saling menyanyangi. Disela kesibukkannya, Melodi bahkan berusaha menyempatkan diri menemani Mama untuk melakukan pengobatannya.
Banyak lagi kebaikan Melodi yang membuat aku harus terima terikata dalam belenggu hubungan tak sehat dengannya sejak pengkhianatannya terkuak.
"Tapi, aku tidak akan berhenti berdoa untuk kesembuhannya dan berharap Mama bisa melihat kita bersatu lagi. Setelah semua masalahku dengan Richad selesai, kamu bisa menceraikan Syaira dan kita bisa urus pernikahan kita segera. Pernikahanmu dengan Syaira hanya untuk menyenangkan hati Mama dan cuma bersifat sementara. Aku tidak mungkin membiarkan pria yang kucinta dimiliki oleh wanita lain,"
"Baiklah," ahirnya aku pasrah. Semua demi Mama.
"Richad saat ini tengah fokus menjalankan proses penyembuhan pasca kecelakaan kerja yang ia alami. Ia dilarang keras berkomunikasi dengan dunia luar sampai keadaanya benar-benar pulih. Aku akan ada di sisinya untuk sementara waktu, memastikan tidak ada yang coba-coba mengagalkan rencana kita," Melodi kembali menemukan senyum bahagianya yang sempat hilang. Dan tekad untuk mempertahankan senyum itu ternyata belum menemui titik jenuh.
Jadilah pernikahanku dengan Syaira berlansung tertutup dan hanya disaksikan oleh perwakilan dari keluarga masing-masing pihak. Pernikahan itu diadakan di ruang rawat Ibu dengan keadaannya yang baru melewati masa kritis. Dengan alasan ingin membawa Mama melanjutkan pengobatan ke luar negri, aku meninggalkan Syaira di bawah pengawasan Asti.
Aku tidak sepenuhnya bohong. Setelah menemani Mama melakukan berbagai pemeriksaan dan keadaanya dinyatakan mulai menunjukkan ada perkembangan, aku kemudian terbang ke Paris untuk melanjutkan proses syuting film terbaru yang sempat tertunda.
Syaira terlihat tenang dan tidak menunjukkan reaksi berlebihan yang sempat bersarang negatif di otakku. Aku pikir ia akan histeris tak terima ditinggalkan pas malam pertama pernikahan kami. Aku salut dengan pembawaan sifatnya yang tenang. Satu hal paling mencolok yang membedakannya dari Melodi. Hanya saja secara fisik, Melodi jelas lebih unggul. Dari bentuk tubuh orang-orang sudah dapat membedakan dengan cepat siapa Melodi dan siapa Syaira, walau keduanya punya kemiripan wajah yang sulit dibedakan.
Tanpa rasa berdosa, aku tak pernah menghubunginya hingga sekarang. Untuk sekedar menanyakan kabarnya pun, aku enggan. Aku cuma takut memberi harapan pada pernikahan kami karena yang akan paling dirugikan adalah Syaira. Gadis itu tidak berdosa dan tidak sepatutnya ikut terseret dalam kubangan ambisi sepasang kekasih tak bermoral ini. Aku ingin Syaira benar-benar fokus pada tugas sebenarnya tanpa terbebani dengan status kami yang serbak mendadak. Tidak ada satupun perempuan yang mau dinikahi dengan niat yang salah.
Syaira masih terlalu asing dengan dunia entertainment yang banyak intrik. Satu kesalahan darinya, akan menghancur impian dan juga karier aku dan Melodi sampai dasar pondasi. Berjauhan cuma satu-satunya cara paling aman menurutku.
"Ya, Tuhan," aku mengusap kasar semua permukaan wajahku. Berharap dengan cara itu ingatanku lumpuh. Kapan bayangan itu enyah dari pikiranku? Aku selalu disesaki rasa bersalah setiap bayangan wajah Syaira muncul dengan tiba-tiba. Aku sudah sangat keterlaluan membiarkannya seorang diri membereskan masalah yang tidak ada kaitannya dengan dirinya. Di sini, aku berusaha mencari ketenanganku sendiri. Berdiam diri di hotel dan sesekali keluar menikmati sajian kota Paris nan romantis.
Kegelisahanku kian menjadi saat mendengar handphoneku berdering. Alat komunikasi yang aku khususkan untuk memantau keadaan Mama dan cuma orang yang kupercaya yang bisa menghubungi. Aku mungkin bisa lepas tanggung jawab dari Syaira dan membiarkannya menyelesaikan masalah yang berakar dari kembarannya. Tapi, tidak dengan Mama. Aku tidak mungkin lupa masih memiliki Mama yang membutuhkan kehadiran putranya dalam melawan penyakit kanker yang sudah memasuki stadium akhir. Aku bahkan tidak keberatan bila dokter bisa memindahkam kanker yang bersarang di kepala Mama, dipindahkan kebagian organ tubuhku yang mana saja. Tapi, akhir-akhir ini aku malah sibuk menyendiri meratapi sesuatu yang tak guna.
"Bang Rio?" Tubuhku terjengkit mengenal sapaan sarkas di ujung sana. Bagaimana Rio bisa menghubungiku memakai handphone orang rahasiaku?
"Saya segera ke sana," cuma itu tanggapan yang bisa aku keluarkan dan sebisa mungkin mengontrol tubuhku untuk tidak oleng. Menyambar tas berisi dompet, visa, paspor dan dokumen penting lainnya, aku bergegas meninggalkan hotel.