
"Melodi, bisa ceritakan mengenai kedekatan anda dengan Bara Sadeewa? Sejak kapan kalian mulai dekat hingga akhirnya kalian memutuskan untuk menikah secara tiba-tiba seperti ini?"
"Melodi, bukannya anda punya hubungan dekat dengan seorang pengusaha tambang batu bara? Lalu, bagaimana hubungan anda sekarang dengannya setelah isu pernikahan anda tersebar di media?"
"Melodi, apa benar pernikahan anda dengan Bara cuma settingan untuk meningkatkan penjualan produk iklan yang kalian bintangi bersama?"
"Melodi, pernikahan kalian kabarnya dilansungkan cuma secara agama karena tidak mendapat restu dari keluarga Bara. Apa itu benar?"
"Melodi...."
"Melodi...."
Dan, para pemburu berita itu terus mengerumuniku dengan ragam pertanyaan. Entah bagaimana bisa berita yang harus tersimpan rapi, bisa tersebar.
Situasi seperti itu membuat aku kesulitan untuk bernafas. Terlalu banyak wartawan dengan berbagai perangkat kerja yang terus di arahkan ke wajahku. Aku mencoba bersikap tenang dan sesekali melempar senyuman pada kamera sesuai yang diarahkan Rio sebelumnya, pria yang kini tengah berusaha meredam serangan-serangan pertanyaan yang jelas diarahkan padaku.
"Melodi baru saja diopname di rumah sakit. Kita akan bahas ini setelah keadaannya sedikit membaik. Jadi, saya mohon pengertiannya dari teman media semuanya."
Melodi sakit?
Dari balik kacamata hitam yang bertengger cantik menutupi separuh wajah, aku melirik tajam pada pria yang baru saja mengeluarkan statmen bohong. Ialah pria bernama Rio. Salah satu dalang di balik sandiwara yang sedang aku perankan dengan apik. Semalam jelas-jelas aku melakukan video call dengan Melodi yang yang asli. Ia terlihat sehat untuk menikmati kecantikan menara Eiffel disaat Paris dan kota-kota lainnya di Eropa tengah dilanda musim dingin.
Aku harap kalian jangan heran. Benar, aku bukkan Melodi. Tokoh sentral yang kini tengah jadi bahan pembicaraan berkat pernikahannya dengan aktor ternama tanah air, Bara Sadeewa.
Aku hanya sosok kurang beruntung yang dianugerahi Tuhan memiliki kemiripan wajah dengan Melodi hampir 100%. Kami terlahir dari rahim yang sama di waktu yang hampir bersamaan pula. Melodi menyusul lahir setelah aku lebih cepat tiga menit hadir mengambil hati Ibu dan Ayah lewat tangisanku.
Sayangnya, menjadi yang pertama tidak membuatmu jadi yang utama. Saat usia kami menginjak tujuh tahun, Ibu dan Ayah dengan teganya menyerahkan aku diasuh oleh kakek dan nenek. Tinggal di pelosok terpencil. Sementara, Melodi ikut bersama mereka. Tinggal di kota dengan fasilitas memadai. Janjinya hanya sebentar saja, mereka akan datang menjemputku.
Waktu ternyata berjalan begitu sangat lambat. Sampai aku beranjak remaja, tak sekalipun Ayah dan Ibu datang mengunjungiku. Dari sebuah majalah sekolah yang dipinjam, aku baru tahu kalau Melodi sukses mewujudkan mimpinya menjadi seorang model. Dan berkatnya, Ibu dan Ayah bisa mewujudkan mimpinya untuk naik haji. Usaha percetakan yang dibangun Ayah mengalami peningkatan pesat dan roda perekonomian tidak lagi tersendat. Mungkin karena itu, aku semakin terlupa. Ada putri yang bisa memberikan segalanya, sementara aku hanya banyak memberi mereka rasa malu memiliki putri yang katanya punya kelainan mental.
Saat aku mulai berdamai dengan takdir dan mulai lupa masih mempunyai orang tua lengkap serta saudara kembar yang keadaanya sehat wal a'fiat tanpa kekurangan satu apapun, mereka tiba-tiba muncul dengan setumpuk dosa yang harus ikut aku pikul.
Layaknya Peri baik hati, aku bersedia diturunkan dari kayangan demi mengembalikan kedamaian dunia ketika sang penguasa turut serta memberi titah serta petuah bijaknya. Aku memang paling tidak bisa jika Kakek dan Nenek sampai harus ikut dilibatkan dalam masalah yang mereka semua munculkan.
"Melodi, bagaimana perasaanmu setelah resmi menjadi istri Bara Sadeewa? Apa kalian punya rencana untuk memiliki anak dalam waktu dekat?"
Melodi istri Bara Sadeewa?
Jujur, aku kasihan sekali melihat para pemburu berita sampai ikut termakan hoax hingga rela berpanas-panasan begini. Aku tidak mungkin memberitahu yang sebenarnya karena menjadi buruan media ternyata sangatlah tidak mengenakan. Baru menggantikan peran Melodi selama tiga bulan saja, aku sudah kehilangan berat badan hampir 10 kg. Bagaimana kalau media sampai tahu identitasku sebenarnya dan fakta di balik penikahanku dengan aktor ternama negeri ini? Berita itu pasti lebih menggemparkan. Semua media cetak maupun elekronik tidak akan berhenti mengorek serta menggali identitasku. Aku tidak akan bisa tidur nyenyak karena akan selalu didatangi paparazi seperti ini. Siap-siap saja tubuhku tinggal daging pembalut tulang jika sampai hal itu terjadi.
Jujur, aku mulai muak dengan semua sandiwara ini dan ingin mengakhirinya. Terlalu banyak orang yang harus aku bohongi, rekan-rekan media hingga fans yang sudah mendukung karier Melodi dari nol. Aku juga mulai muak dengan kemiripan wajahku dengan Melodi. Kalau memang kami harus terlahir kembar, tak bisakah kami lahir tidak kembar identik?
Kakek dan Nenek pasti akan mengomeliku panjang lebar kalau tahu aku merungut menyalahkan takdir Tuhan. Untungnya aku belum tak terpikirkan untuk merombak wajahku. Kedua orang yang paling aku kasihi itu, akan bersedih hatinya.
"Melodi, jangan cuma diam saja. Kita sudah lelah dari kemarin menunggu kamu di sini. Tolong hargai usaha juga profesi kami!"
Menarik nafas dengan kasar, aku berusaha menyabarkan hati agar suaraku tetap bertahan di tenggorokan. Sejak tadi aku sudah sangat ngin berteriak menceritakan bagaimana berat dan tertekannya menjadi seorang Syaira Aksara Putri. Si anak malang yang dibuang keluarganya sendiri kemudian dipaksa menuruti permainan mereka.
Bukan cuma mereka saja yang lelah dan emosi. Aku juga. Hari-hariku yang biasa damai berteman alam dan pegunungan, dalam waktu semalam berubah penuh kebisingan dan banyak drama. Melodi memiliki tubuh indah dan sempurna layaknya seorang dewi. Aku yang upik babu, disulap menyerupainya. Aku dipaksa mengikuti berbagai treatment kesehatan juga kecantikan agar memiliki tubuh sehat juga pinggang kecil seperti Melodi. Kulitnya halus seperti kulit bayi, kulitku pun harus begitu. Rambutnya lurus dan lembut, rambutku pun dibuat demikian. Agar terlihat semakin sempurna dan tak ada celah untuk dibedakan, aku juga harus mengikuti kelas kepribadian. Aku harus benar-benar terlihat seperti Melodi dalam bertutur kata, tersenyum, tertawa dan dalam hal sepele seperti mengunyah makanan. Kalian pikir itu menyenangkan?
Apa ada diantara mereka yang mau berganti posisi denganku? Kehilangan identitas, jati diri juga kebebasan?
"Sebaiknya rekan-rekan wartawan semua bersabar. Melodi tidak bisa membahas masalah ini seorang diri. Kami harus menunggu Bara menyelesaikan syuting film terbarunya, untuk sama-sama mengklarifikasi berita yang beredar. Saat ini, ia masih berada di luar negri."
"Tapi, kapan jadwal pastinya?" Desak salah satu wartawan yang berdiri paling depan.
"Secepatnya!" Rio menjawab dengan cepat sembari terus berusaha menyeruak kerumunan para wartawan. "Sekarang, tolong biarkan kami pergi!" Nada suaranya tidak lagi sabaran karena wartawan-wartawan tersebut tidak ada yang mau mundur memberi kami jalan.
"Dasar artis sombong! Apa salahnya menjawab satu atau dua pertanyaan dari kami. Kalau bukan karena kami, kamu tidak mungkin akan setenar ini!"
Mataku seketika tertuju pada salah satu wartawan yang berdiri paling dekat denganku. Aku bukan Melodi yang akan bermain cantik dan bersikap anggun menanggapi serangan yang sengaja di arahka padanya. Aku adalah Syaira, cewek tomboi yang tak segan mengajak teman-temannya berkelahi jika sudah menyinggung perasaannya. Aku memang juga bukan publik figur yang hidupnya bebas dari namanya paparazi. Tapi, aku tetap saja tak terima dengan omongan salah satu wartawan yang hadir. Walau hubungan kami juga tidak dekat, aku tetap tidak terima ada yang memandang prestasinya sebelah mata. Aku adalah orang yang pertama kali menyadari bakat Melodi saat kami masih kanak-kanak dulu.
Sebelum aku lepas kendali, Rio terus berupaya menyeretku keluar dari kerumunan wartawan setelah para securiti apartement turun tangan membantu kami keluar dari kerumunan yang ada.
Desak-desakan pun tak terhindarkan. Aku dan Rio sedikit kesulitan keluar dari serbuan wartawan yang tidak juga menyerah mendapatkan informasi yang mereka mau. Disituasi seperti itu, ada yang mengambil kesempatan mencolek pantatku. Itu jelas pelecehan. Aku tak terima sama sekali.
Oknum wartawan yang aku yakini sebagai pelaku pelecehan, santai saja lanjut mengambil fotoku lewat kamera miliknya. Sama sekali tidak ada raut bersalah, apalagi merasa sudah melakukan tindakan pelanggaran hukum. Aku jelas meradang.
Rio lebih dulu menyadari pergerakanku. Sebelum niatku merampas serta menghancurkan kamera oknum wartawan tak tahu etika itu, Rio berhasil menjauhkan jangkauanku dari mangsa.
"Apa yang mau kau lakukan? Ingat, jaga sikapmu!" bisiknya penuh tekanan. Aku membalas dengan lirikan tajam, tak terima mangsaku bebas. Aku yakin Rio pasti melihat perbuatan salah satu oknum wartawan tadi. Harusnya ia melindungiku dan turun tangan memperkarakan si pelaku.
Rio terus menyeret dan memaksa aku mengikutinya menaiki mobil mewah yang sudah siap menunggu. Akhirnya kami berhasil keluar dari kejaran para wartawan. Tapi, aku masih belum terima niatku memberi pelajaran pada si pelaku yang sudah melakukan tindakan pelecehan tadi tidak kesampaian. Semua karena pria yang kini duduk tanpa dosa di sampingku. Aku tidak akan tenang sebelum emosiku terlampiaskan. Sebuah ide jahilpun terlintas.
"Arrgggttt....!" Rio terlonjak kesakitan manarik tangannya menjauh dari mulutku.
Aku tertawa puas sudah berhasil membuat Rio kesakitan. Layaknya vampir, aku mengigit tangannya dengan kesal. Tenang saja, cuma sampai meninggalkan jejak juga bekas air liur. Tidak sampai putus. Gigiku tidak setajam gergaji yang bisa tembus hingga ke tulang.
"Syaira, apa yang kau lakukan?" Rio kesal, tak terima atas aksiku barusan.
"Ya, Tuhan!" Rio mengerang frustasi. "Bagaimana bisa Melodi memiliki kembaran sebar-bar dirimu?"
"Bang Rio pasti tahu tindakan pelecehan yang aku alami tadi, kan?" Aku lansung pada intinya.
Rio tampak sedang menggosok bekas gigitanku dengan tisu. Sangat tenang seakan perkataanku tidak ada pengaruhnya. Rio memang terlihat menggemaskan sekaligus menjengkelkan karena pembawaannya yang tenang kadang tidak pada waktunya.
Rio memang cukup mapan dari segi usia. Faktor tersebut mungkin yang membuatnya begitu tenang dan pandai mengendalikan emosi. Dari segi wajah, tak kalah tampan dari Bara. Ia tetap bisa bersaing menjadi aktor kalau mau. Tapi, sayangnya Rio lebih tertarik mendirikan sebuah agenci dan bertindak lansung sebagai manajer dari beberapa anak asuhnya yang sudah punya nama di dunia hiburan yang biasa memanggilnya 'Abang'. Akupun jadi ikutan.
"Itu sudah biasa dialami para artis. Kau tak perlu bertindak berlebihan seperti tadi."
Berlebihan, katanya? Harusnya tadi aku benar-benar mengigit tangan Rio sampai putus. Ia pikir pelecehan itu tidak termasuk dalam tindakan kriminal? Menyesal aku sempat mengagumi ketampanannya.
"Saudara kembarmu bahkan pernah dilecehkan saat mengikuti acara fashion Show di luar kota. Tiba-tiba saja ada penonton yang naik ke atas panggung dan memaksa ingin menciumnya. Dia berhasil mengelak dan melanjutkan catwalk dengan sempurna sampai acara selesai," ceritanya dengan gaya khasnya yang tenang, tapi amat menjengkelkan.
"Dan Bang Rio akan bilang kalau Melodi berlebihan jika dia sampai membela diri!" Sindirku telak.
"Ada panitia serta pihak keamanan yang bertanggung jawab penuh atas kejadian itu." Kilahnya. Toh, tadi tidak ada pihak keamanan, ia tetap tidak bertindak.
"Lagi pula, aku bukan manajer kalian. Harusnya kau ada di bawah pengawasan Asti. Dia yang bertanggung jawab atas kenyaman juga keselamatanmu seperti yang ia lakukan pada Melodi."
Rio benar. Asti, pemilik agenci yang menaungi Melodi. Aku sebelumnya memang tinggal bersama Asti dan berada di bawah pengawasan juga pengajarannya dalam berbagai kelas juga treatment. Aku tidak tahu pasti apa yang membuat Asti tiba-tiba menitipkanku pada Rio setelah aku dinyatakan lolos menghadapi ujian menjadi jelmaan Melodi nan sempurna. Asti hanya bilang aku akan lebih aman tinggal bersama Rio. Tinggal bersamanya sangat beresiko karena orang-orang di sekitarnya sangat mengenal Melodi luar dalam. Selama ujian, Asti memang sengaja mengungsikan aku di sebuah tempat yang cuma boleh dikunjungi oleh orang-orang yang sudah dipercaya untuk membantu aku bermetafosir. Alasan yang sedikit masuk akal. Tapi, masih ada yang terasa janggal karena Asti tidak pernah lagi muncul setelahnya.
Lepas dari Astii, aku pikir bisa menikmati sedikit saja kebebasan yang terampas. Ternyata sama saja. Tetap ada yang mengawasi segala aktivitasku. Aku tetap harus menjalani berbagai treatment yang sudah diajarkan sebelumnya.
Mirisnya, sebelum menghuni apartement yang menjadi tempat penyandaraanku selanjutnya, aku harus menunggu persetujuan dari Bara untuk bisa menghuni salah satu apartement miliknya. Setelah ditinggalkan usai akad nikah dan pergi tanpa kabar, aku bahkan harus mendapat surat izin menghuni apartement milik suamiku sendiri.
Andai Bara ada di dekatku waktu itu, aku mungkin tak ragu meminta cerai darinya. Sebagai istri, aku tak terima dilakukan seperti pengemis. Bukankah sudah tanggung jawab seorang suami menafkahi istrinya lahir maupun batin? Satu pun dari itu, aku tidak mendapatkan. Semua kebutuhanku fisikku, Asti yang penuhi. Kebutuhan batin, jangan tanyakan itu. Aku sangat bersyukur hal itu tidak pernah terjadi dan tidak akan pernah. Sampai kapanpun itu.
Aku baru tersadar saat merasakan pipiku basah. Entah mengapa air mataku gampang sekali keluar bila sudah teringat fakta menyakitkan di balik berlansungnya pernikahanku dengan Bara, yang berlansung tertutup dan dipenuhi drama airmata.
Sesuai dugaanku, berita pernikahan itu tidak akan selamanya bisa disembunyikan. Dimulai dari sebuah akun gosip yang memposting foto akad nikah Bara bersama orang yang diyakini sebagai Melodi, beritapun mulai menyebar. Dalam waktu sepekan ini, berita tersebut menjadi headline utama semua acara gosip hingga majalah. Aku mulai terusik karena paparazi mulai berdatangan ke apartement. Bahkan mereka rela bermalam di lobi demi bisa menemui dan mengorek kebenaran infomasi tersebut lansung dari artisnya. Aku tidak lagi diperbolehkan untuk keluar, walau sekedar menghirup udara segar di tempat terbuka.
Semakin hari, paparazi yang berdatangan semakin banyak dan mulai mendapatkan akses hingga berhasil menungguiku di depan unit apartement yang kutempati. Rio akhirnya berinisiatif membawaku keluar dari tempat tersebut. Layaknya buronan ******* yang berhasil tertangkap, kehadiranku lansung disambut puluhan atau mungkin ratusan wartawan. Untungnya, aku sudah dibekali mental yang kuat menghadapi situasi yang ternyata jauh di luar dugaanku.
"Kau baik-baik saja?" Rio membuyarkan lamunanku.
"Kapan wartawan-wartawan itu berhenti mengusikku?" Aku mendesah lelah, rindu kebebasanku yang dulu.
"Begitulah resiko jadi artis. Kau harus siap dihadapkan pada situasi tadi."
'Tapi, aku bukan artis!'
Aku lebih memilih membuang muka menikmati sore dari balik kaca mobil. Suasana hati yang kuharapkan membaik, justru sebaliknya. Hampir sepanjang jalan dipenuhi oleh wajah pria yang tidak ingin aku lihat. Banyak papan reklame berjejer menampilkan wajah sialan yang sayangnya tampan dalam berbagai macam produk iklan. Dari produk pakaian, shampoo, parfum, makanan ringan hingga kopi instan, semuanya diisi oleh wajah yang sama. Bara Sadeewa memang setenar itu. Ibu-ibu, gadis remaja, bahkan kaum bapak di kampungku tidak pernah ketinggalan menonton sinetronnya.
Aku baru berpaling dari papan reklame setelah menyadari ada pedagang asongan menyodorkan sebuah majalah untuk aku beli. Kaca mobil memang sengaja aku buka. Entahlah, aku hanya tidak puas jika menyaksikan wajah dalam papan iklan itu terhalang kaca mobil. Sampul depannya memperlihatkan foto pernikahanku dengan Bara. Mirisnya, nama mempelai perempuan dalam balutan kebaya berwarna putih gading, tertulis bukan namaku.
'Fakta-fakta di balik pernikahan mengejutkan antara Bara Sadeewa dengan model sexi, Melodi.'
Tahu apa media soal pernikahan artis yang mereka jadikan topik pembahasan? Harusnya mereka lebih pintar menggali informasi, bukan cuma mengandalkan satu lembar foto saja dan membesar-besarkannya.
Aku sudah mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribu. Begitu majalah sudah di tanganku, Rio merampas dengan seenaknya.
"Kembaliannya untuk kamu saja," teriakku pada bocah pedagang asongan karena lampu merah sudah kembali menyala.
"Majalahnya kenapa dirusak?!" protesku tak terima melihat majalah yang aku beli sudah menjadi gumpalan bola.
"Ini cuma sampah!" Majalah itu dibuang Rio keluar jendela begitu saja.
"Kalau kau tak ingin sakit hati, jangan pernah membaca majalah gosip apapun dan jangan pernah berselancar di media sosial!" Peringat Rio tegas dan keras. Aku sampai takut melihat raut mukanya.
Setelahnya terjadi keheningan di antara kami. Sopir yang bertugas terlihat penasaran melirik interaksi kami dari kaca spion.
"Saya sudah menghubungi Asti. Dia sudah menyiapkan sebuah villa yang letaknya cukup terpencil. Kita akan ke sana sekarang."
Mau ke nerakapun, apa aku punya hak untuk menolak? Syaira sudah kehilangan hak atas jiwanya sendiri. Aku membuang muka dan enggan menanggapi. Tak guna sama sekali.
"Kapan dia pulang?" Tanpa sadar aku bersuara saat jariku tanpa sengaja menyentuh aplikasi pada layar handphone miliku. Niatku cuma ingin menghubungi Nenek dan Nenek. Cuma mereka yang bisa membuat aku tenang saat kacau begini.
'Setelah foto pernikahan, foto bulan madu Bara Sadeewa dengan Melodi di Paris, mencuri perhatian.'
Saat aku terkekang dijadikan tumbal, mereka bisa terbang bebas layaknya sepasang merpati dimabuk cinta. Binatang saja meski dikurung, sesekali diberi nafas untuk menikmati kebebasan. Aku?
"Siapa?" Rio mengalihkan kesibukannya dari gawai miliknya. Keningnya mengkerut menyadari perubahan pada mimik mukaku.
"Bara Sadeewa! Suamiku!" tekanku mulai hilang kendali dan tak melepaskan Rio dari tikaman mataku.
"Suruh dia pulang! Katakan pada artis asuhanmu itu untuk menyelesaikan kekacauan yang dia buat bersama kekasihnya atau aku akan membeberkan semua kepada media siapa aku dan siapa perempuan yang ia nikahi sebenarnya. Kalian pikir aku tahan diperlakukan seperti tahanan? Persetan dengan utang kontrak tujuh milyar itu! Tak masalah jika Melodi atau Ibuku harus mendekam di penjara. Mereka matipun, aku tak peduli!"