Bara Syair Cinta Syaira

Bara Syair Cinta Syaira
BSCS 2


Film terbaru yang aku bintangi baru saja menyelesaikan proses syuting. Semua crew memutuskan untuk kembali ke negara asal masing-masing. Sementara itu, sebagian dari pemain sepakat untuk bersenang-senang dengan menghabiskan waktu sepanjang malam di sebuah kelab ternam. Aku turut bergabung. Ditemani berbagai botol minuman, kami mengobrol hingga larut. Ada perempuan-perempuan berpakain sexi ikut meramaikan acara kami malam itu. Dari sekedar obrolan ringan, sampai pada candaan dan berakhir pada sentuhan sana-sini. Beruntung, akal sehatku masih terjaga hingga tidak ikutan gila seperti Bhay dan Hendru yang menerima tawaran dari dua perempuan bule itu mencari hotel untuk mereka melanjutkan kegiatan panas.


Dini hari, aku baru kembali ke hotel seorang dalam keadaan mabuk. Harusnya, aku sudah berada di bandara. Mengejar jadwal penerbangan pagi menuju tanah air. Setumpuk pekerjaan di tanah air sudah menunggu kehadiranku.


Beberapa hari sebelumnya, aku sudah menghubungi Rio untuk mengatur ulang semua jadwal syuting atau lainnya. Rio jelas meradang. Dia sudah bersusah payah mengembalikan eksistensiku di dunia hiburan, tentu mau kalau aku sampai mengacaukannya. Tak mau direcoki olehnya, aku memutuskan untuk mematikan semua alat komunikasiku untuk sementara. Tapi, tidak dengan akun media sosial. Karena aku termasuk aktor yang memiliki banyak pengikut yang berdampak pada banyaknya jasa endorse yang aku terima. Untuk masalah itu, aku tidak terlalu ambil pusing. Karena seluruh akun media sosialku dikendalikan lansung oleh Rio. Aku hanya sesekali aktif menyapa fans-fansku yang menamakan diri 'MemBara' lovers. Aku memang tipe aktor yang sangat menjaga privaciku dari rasa ingin tahu publik. Aku tidak pernah memposting sesuatu jika tidak berkaitan dengan pekerjaan.


Perjalananku untuk menjadi salah satu aktor paling diperhitungkan dengan puluhan juta pengikut di media sosial, bukanlah perkara mudah. Perlu waktu bertahun lamanya hingga aku mampu mensejajarkan diri dengan aktor papan atas lainnya yang sudah lebih dulu bersinar.


Setiap ada wartawan atau fans yang bertanya tentang peran orang-orang terdekat dalam kesuksesan karierku, dengan percaya diri aku akan menjawab, semua tak lepas dari tekad dan kerja keras. Aku sengaja tidak mau membawa nama Melodi karena kami berdua sepakat untuk menutupi hubungan kami dari sorotan media. Kami tidak mau hal itu akan berdampak buruk pada karier keartisan kami. Melodi adalah pujaan hatiku. Ia berprofesi sebagai model. Kariernya cukup cemerlang dan menjadi salah satu model top ternama tanah air. Bermula dari ajang model gadis sampul majalah remaja, Melodi berhasil menjadi runner-up. Kariernya kemudian terus berkembang hingga akhirnya sesukses ini.


Kalau bukan karena jasa Melodi, aku mungkin akan terus luntang lantung mengikuti casting yang berakhir sia-sia, lebih sering ditolak atau berakhir menjadi pemain figuran yang perannya tidak penting dan munculnya pun cuma seperkian detik. Aku kemudian sampai pada tahap putus asa dan berniat mencari pekerjaan lainnya.


Melodi yang tak suka melihatku berputus asa, kemudian berinisiatif mengenalkanku pada tunangan dari salah satu rekan seprofesinya yang bekerja di salah satu rumah produksi ternama. Dari sana, aku dipertemukan langsung dengan pemilik rumah produksi yang sudah banyak menyalurkan film-film berkualitas. Namanya, Richad Sam Chopra. Pria berumur yang memiliki darah keturunan India.


Selama pertemuan, aku sempat menangkap gelagat aneh dari cara Richad memandangi Melodi. Dari selentingan kabar yang beredar dikalangan dunia artis, Richad memang sengaja memanfaatkan posisi juga kekuasaannya untuk menggaet hati para perempuan muda yang terobsesi menjadi artis ternama. Banyak diantaranya akhirnya merelakan apa yang diingikan Richad dari mereka demi terwujudnya impian. Menjadi wanita simpanan, sepertinya bukan masalah bagi yang menginginkan jalan pintas meraih kesuksesan. Hal itu tidak berlaku bagi Melodi. Aku percaya perempuan yang kucintai tidak serendah itu. Melodi adalah tipe perempuan mandiri dan juga pekerja keras. Kalau memang begitu, Melodi tidak mungkin mau ambil resiko dengan mengenalkanku pada Richad. Karier model Melodi juga tengah bagus-bagusnya. Dia tidak butuh sukongan dari Richad atau siapapun.


Semua juga terasa janggal karena pada pertemuan berikutnya, tanpa melalui proses casting seperti seharusnya, Richad menawari sebuah sebuah kontrak kerjasama begitu saja. Di dalam kontrak tertulis dengan jelas kalau aku akan didapuk membintangi sejumlah film sebagai pemain utama dengan segala fasilitas yang menunjang. Dalam kontrak juga dituliskan, kalau aku akan menjadi brand ambassador dari beberapa produk iklan. Serial drama televisi pun sudah siap menanti untuk aku bintangi. Bayaran yang dijanjikan untuk semua itu terbilang fantastis untuk seoranag pendatang baru yang bahkan belum punya nama. Siapapun yang ada diposisiku, pasti tergiur. Kecurigaan itupun menguap tanpa bekas.


Tak sampai lima tahun, aku berhasil mendapatkan apa yang semua aktor impikan. Prestasi dan popularitas. Aku tidak pernah absen membintangi film dan hampir semuanya berhasil menjadi box office.Tidak cuma film, sinetron yang memasang aku sebagai peran utama juga sukses menduduki rating tertinggi pada jamnya. Bukan sesuatu yang mengherankan bila akhirnya aku termasuk dalam jajaran aktor dengan bayaran termahal. Banyak tawaran iklan, mengisi acara talk show terpaksa harus ditolak karena harga untuk sekali penampilanku sering dikeluhkan terlalu mahal oleh pihak bersangkutan. Semua setara dengan timbal balik yang akan mereka dapatkan jika mau menggunakan nama besarku untuk kepentingan bisnis. Itulah berkat dari sebuah kerja keras dan peran dari orang yang kucinta.


Kesombonganku seketika runtuh. Aku tidak lagi berani menegakkan kepala di depan rekan-rekan sesama artis juga para fans yang mendukung karierku dari nol. Apa yang selama ini aku banggakan di depan mereka, ternyata tak lebih dari seonggok kotoran busuk. Perempuan yang kubanggakan kejujuran serta kelembutan hatinya, tega sekali melemparkan kotoran ke mukaku.


Hari itu, aku tidak sengaja melihat Melodi keluar bersama Richad dari sebuah hotel. Entah suatu kebutulan atau memang Tuhan ingin menyentil kesombonganku tentang rahasia sebenarnya di balik kesuksesan yang membuatku gelap mata, tiba-tiba saja acara jumpa fans bersama ratusan fansku yang tergabung dalam MemBara lovers dipindahkan ke hotel yang sama di mana aku memergoki Melodi. Selang beberapa menit, aku mendapat sebuah kiriman foto dari nomor tak dikenal. Foto itu menunjukkan aktivitas menjijikkan yang dilakukan Melodi bersama Richad dalam sebuah ruangan yang dilakukan di belakangku. Bisa saja kalau foto tersebut rekayasa atau editan semata. Banyak hal seperti menimpa kami yang bekerja di dunia hiburan.


'Tidak ada yang cuma-cuma di dunia hiburan, Bara Sadeewa. Aku, tubuhku dan Kebersamaanku dengan Richad adalah jaminan dari semua ketenaran serta kesuksesan yang sudah kau raih. Aku lebih merelakan diriku terhina tak berharga dari pada harus menyaksikan pria yang kucinta terpuruk hilang harapan.'


Kecurigaanku waktu itu ternyata benar dan selentingan kabar mengenai hubungan tak biasa antara Melodi dan Richad yang menjadi tema pembicaraan di kalangan artis, bukan cuma isapan jempol. Bukan lagi rahasia umum jika sesama artis suka juga menggosipkan rekan seprofesi. Akupun sering digosipkan bermain mata dengan putri seorang sutradara yang juga artis ternama, demi memuluskan karierku di dunia hiburan. Jadi, aku acuh saja dan menganggap itu cuma bentuk dari rasa iri dari rekan-rekan artis atas kesuksesan yang kami raih.


Mendengar pengakuan yang terlontar malam itu dari mulut Melodi, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Harga diriku benar-benar tercabik-cabik. Aku masih mengelak, mencari pembenaran kalau kesuksesan yang kuraih murni karena kerja kerasku. Melodi hanya bertindak sebagai pelantara yang mengenalkanku pada Richad. Perannya cuma sampai di situ saja. Selebihnya, berasal dari jerih payah keringatku. Pada akhirnya kata-kata kotor terlontar dari mulutku. Menuduh jika hubungan Melodi dengan Richad memang keinginannya sendiri karena dia tak lebih ****** atau perempuan murahan. Sama saja dengan artis-artis lain yang haus popularitas.


Melodi kemudian melempar banyak bukti yang akhirnya membuat aku terdiam. Ada foto-foto liburannya bersama Richad diberbagai destinasi wisata dunia. Bukti screen shoot percakapannya dengan Richad juga diperlihatkan. Richad selalu menyertakan ancaman mengenai kelansungan karierku jika Melodi menolak keinginannya.


Dengan semua bukti tersebut, aku masih saja kukuh dengan kesombanganku. Pertengkaran diantara kamipun tak terhindarkan Aku sampai lepas kendali membuat fisik Melodi terluka. Akupun tidak ragu mengakhiri hubungan kami yang terjalin lama. Melodi tidak terima dan coba mengancam akan bunuh diri. Aku tak peduli dan tetap memilih pergi.


Keesokanya, aku mendapati kabar dari Asti kalau ia menemukan Melodi terkapar di lantai kamar apartemennya dengan mulut berbusa. Aku segera menyusul ke rumah sakit. Aku begitu ketakutan mendengar penjelasan dokter kalau Melodi berusaha mengakhiri hidupnya dengan meminum obat penenang melebihi dosis. Beruntung Asti datang tepat waktu dan melarikan Melodi secepatnya ke rumah sakit. Kalau tidak, dokter tidak yakin Melodi bisa melanjutkan sisa hidupnya. Dari penjelasan dokter, aku tersadar, sebesar apapun kesalahan yang diperbuat Melodi, ternyata aku belum siap kehilangannya. Aku mau Melodi tetap hidup.


Setelah kondisi Melodi mulai stabil, aku coba mengajaknya bicara baik-baik. Memberinya kesempatan untuk menjelaskan apa sebenarnya mendasari Melodi melakukan pengorbanan tak semestinya. Secuil dari hati kecilku masih menaruh rasa percaya kalau Melodi tidak mungkin melakukan itu demi materi atau sebuah nama.


"Kontrak itu awalnya memang diperuntukkan untukku. Mendengar kamu membutuhkan biaya untuk kemo Mama dan jumlahnya jelas tidak sedikit, sebuah ide telintas begitu saja. Aku terlampau senang dan akhir tidak bisa berpikir jernih ketika Richad tidak mempersalahkan jika kontrak itu berpindah atas namamu, asalkan aku menyetujui syarat yang ia ajukan. Yang terpikirkan olehku saat itu cuma kesembuhan Mama kamu, Wa. Sel kankernya akan terus menyebar dan sulit disembuhkan kalau tidak segera ditangani."


Harga diriku sudah terlanjur terluka dan egoku menolak untuk tersentuh. Tapi, masih ada sedikit dari sisa hati kemanusianku yang jelas merinding mendengar penuturan Melodi. Mama memang didiagnosa mengidap penyakit kanker getah bening. Untuk mendapatkan biaya pengobatannya, aku rela untuk tidak lanjut kuliah dan mengikuti jejak Melodi. Berkat kontrak sialan itu, aku bisa membiayai pengobatan Mama hingga penyakitnya dinyatakan sembuh. Modal tampan yang awalnya aku yakini bisa menghasilkan banyak uang untuk biaya pengobatan Mama dengan terjun menjadi artis, ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pesona seorang Melodi. Katakan, apa aku pantas membenci bahkan menjauhinya?


Aku bisa saja tetap mempertahankan egoku. Sebab, apa yang Melodi lakukan dengan mengorbankan dirinya jelas atas kesadarannya sendiri. Bahkan sempat terpikir untuk menyudahi kontrak kerjasama dengan Richad. Tapi, terlalu berisiko. Aku bisa dituntut dan diharuskan membayar denda berkali lipat dari nilai kontrak yang sudah disepakati. Jujur, aku tidak punya uang sebanyak itu. Dengan kekuasaanya, Richad bisa saja menjebloskan aku penjara. Kemungkinan terburuknya, karierku sebagai aktor akan usai.


Aku pun sudah terlanjur mencintai dunia akting dan menikmati ketenaran serta kemewahan yang kudapat. Berat sekali melepaskan dunia yang membuat orang banyak menaruh hormat padamu.


Aku tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan. Menurut Melodi, selama kontrakku belum berakhir, selama itu pula dia terikat dengan Richad. Walau yang diperbuat Melodi di luar kuasa juga pengetahuanku, aku punya tanggung jawab moral mengembalikan kebebasannya. Dengan cara itu, aku berharap bisa menegakkan kembali harga diriku. Hidupku tidak akan pernah tenang sebelum menebus pengorbanan Melodi.


Dua tahun setelahnya, kontrak sialan itupun berakhir juga. Richad sangat murka ketika aku menolak untuk memperpanjang kontrak kerjasama dengannya. Tua bangka itu mengancam akan menghabisi karierku tanpa sisa. Aku sama sekali tidak gentar. Saat mengetahui skandal busuknya, aku sudah memikirkan dengan matang bagaimana cara mempertahankan karierku. Pastinya tidak dengan cara kotor seperti yang Melodi perbuat.


Akhirnya, aku memilih bergabung dengan salah satu agensi yang baru terbentuk. Pemiliknya merupakan seorang mantan aktor ternama. Menurut kabar yang kudengar, pemilik agensi tersebut terlibat konflik pribadi dengan Richad. Rio Axel, menerimaku dengan tangan terbuka dan katanya sudah lama mengincarku untuk menjadi salah satu aktor asuhannya.


Dampak dari keputusanku memang sedikit terasa. Peranku dalam sebuah serial televisi yang sudah memasuki episode ke-1000, tiba-tiba dimatikan. Banyak pihak yang tiba-tiba membatalkan kontrak kerjasama. Untungnya, aku cukup cerdik memilih temat bernaung. Rio Axel ternyata punya relasi dengan beberapa agensi luar. Aku dipercaya membintangi film action bersama aktor dari Thailand dan Malaysia yang kini memasuki season kedua. Film yang merupakan garapan kerjasama beberapa negara Asean, cukup sukses di pasaran. Walau tidak memerankan tokoh utama, aku tetap puas. Karena akhirnya, aku bisa menunjukkan pada Melodi, aku bisa sukses tanpa campur tangannya. Berkat kesuksesan film tersebut, aku mulai mendapatkan kepercayaan dari beberapa produser film. Aku menerima tawaran menarik untuk membintangi web series yang mulai banyak diganduringi kalangan milenial. Ada beberapa tawaran film yang masih dalam pertimbangan. Aku dan Rio tidak mau sampai salah mengambil keputusan. Karena bisa saja tawaran tersebut merupakan siasat Richad untuk menjegal langkahku lewat rekan bisnisnya.


Tentang Melodi, aku tidak akan melupakan janjiku untuk membebaskannya. Aku sudah memilih berbesar hati menerima penyesalannya dan tetap melanjutkan hubungan kami meski tak lagi sama. Kami sudah jarang sekali berkomunikasi. Biar begitu, aku tahu kalau Richad masih saja mengusiknya. Pada suatu kesempatan, aku mendatangi Melodi di apartemennya. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan. Berkaitan dengan janjiku untuk membebaskannya. Melodi justeru kembali membuatku meradang. Dia hamil benih ******** itu.


"Aku tahu, Wa. Kalau bukan karena kondisi dan juga desakan Mama, kamu tidak mungkin tetap ngotot mau menikahiku dalam keadaan hamil seperti ini."


Benar. Sel kanker Mama kembali tumbuh. Kali ini lebih ganas dan kesempatan Mama untuk bertahan hidup terbilang kecil. Mama menolak melakukan pengobatan kalau aku belum juga menikahi Melodi. Mama bilang jika umurnya tidak panjang, beliau bisa pergi dengan tenang karena ada sosok istri yang akan menemani serta mengurusku.


"Pernikahan kita tidak akan sah secara hukum dan agama jika tetap dipaksakan."


"Kita bisa tunggu anak itu lahir!" Aku sudah terlanjur menjatuhkan harga diriku melamar Melodi meski sudah tahu keadaannya. Aku juga sudah menahan diri untuk tidak memakinya. Lalu, perempuan itu seenaknya menolak. Tidak bisa.


Aku bisa mencari perempuan lain untuk dijadikan istri. Banyak kenalan artis yang tak kalah cantiknya dari Melodi yang menaruh hati padaku. Sayangnya, dari semua perempuan yang ada di dunia, Mama hanya menginginkan Melodi sebagai menantunya. Aku akan mewujudkan itu. Kondisi kesehatan Mama yang kembali menurun tidak memungkinkanku untuk mengatakan tentang perbuatan menantu idamannya.


Mama sudah mengorbankan banyak hal untukku. Penyakit yang ia derita pun tak lepas dari pola hidupnya dalam membesarkanku. Mama seorang diri mengasuhku, bekerja banting tulang tanpa kenal waktu yang berimbas pada kesehatannya. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk melakukan apapun untuk membahagiakan Mama. Termasuk menikah dengan Melodi.


Melodi menggeleng. "Mama butuh penanganan cepat, Wa. Kamu juga sudah berjanji membebaskanku dari Richad.


"Kalau begitu kamu bisa gugurkan kandunganmu!" Aku mulai terbawa emosi, tak tahu apa yang aku bicarakan.


"Hidupku sudah berlumur dosa. Aku tidak lagi mau menambahnya dengan mengugurkan janin tidak berdosa ini." Cara Melodi bicara berbeda dengan caranya meraba perutnya yang mulai menonjol. Sulit untuk menjabarkannya kalau tidak melihatnya secara langsung.


"Aku juga ingin yang terbaik buat Mamamu, Wa. Aku selalu dihantui rasa bersalah setiap Mama memohon agar kita segera menikah sementara aku sudah tidak layak menjadi menantunya."


"Jadi, kamu ingin aku tetap menikahi kembaranmu?" Aku memastikan sekali lagi.


"Sudah tidak ada pilihan lain, Wa,"


"Tidak banyak orang yang tahu kalau aku sebenarnya terlahir kembar. Dengan menikahi Syaira yang dikira aku, aku berharap Mama kembali semangat menjalani pengobatannya. Sama seperti kamu, aku ingin Mama sembuh dan berumur panjang. Kita akan sama-sama menyesal jika terjadi hal buruk pada Mama."


Itu juga yang membebani pikiranku. Bukan tidak percaya pada kekuasaan Tuhan. Aku hanya mempersiapkan diri untuk hal terburuk. Selama dua puluh empat tahun merawat dan membesarkanku tanpa banyak mengeluh, Mama tidak pernah meminta sesuatu hingga memohon selain soal kesedianku menikah dengan Melodi.


Tatapan Melodi kemudian menerawang jauh. "Ibuku juga terlibat kasus penipuan puluhan milyar atas investasi berlian yang mencantumkan namaku secara sepihak. Aku tidak punya uang sebanyak itu untuk membayar semua hutang-hutang Ibu. Di sini, aku juga punya beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja."


"Dengan keadaan seperti ini, aku tidak mungkin bisa menjalankan pekerjaanku. Semua orang akan tahu kalau aku tengah berbadan dua. Sebelum itu terjadi dan aku terancam kehilangan semua kontrak kerja dengan banyak pihak. Sebelum hal yang paling aku takutkan terjadi, aku akan mengasingkan diri sampai anak ini lahir dan bentuk tubuhku kembali normal. Selama itu, aku sangat membutuhkan Syaira menggantikan posisiku."


"Kita bisa pikirkan lagi cara lainnya," karena ide Melodi sama saja dengan menipu. Aku tidak yakin bisa menipu Mama, meski untuk alasan kebaikan.


"Lalu, kamu mau aku melibatkan Richad menyelesaikan masalahku, begitu?" Melodi mulai emosional.


"Aku berusaha menutup serapat mungkin masalah yang tengah aku hadapi darinya. Dia akan menggunakan kesempatan itu untuk membuatku terikat lebih lama lagi dengannya. Mana janjimu mau menebus semua pengorbananku?"


Aku benci bila Melodi mulai mengungkit jasa busuknya. Menyadari perubahan pada fisiknya, membuatku tak tega untuk balas menyudutkannya.


Untuk ukuran perempuan hamil, tubuh Melodi terlihat terlalu kurus. Penampilannya juga tidak seanggun dulu. Melodi pasti tertekan. Kehamilan tersebut tak pernah ia harapkan. Richad mempunyai foto hingga video syur mereka berdua yang digunakan untuk mengancam Melodi setiap waktu. Rasa iba dan berdosaku jadi berkali-kali lipat. Saat aku pikir semua sudah kembali normal dan aku bisa menata lagi karier keartisanku, Melodi tenyata menjalani hidup yang lebih berat lagi. Kariernya juga terancam kandas.


Aku kemudian menghela nafas, berusaha menyakinkan diri meraih tangan Melodi yang bertumpu di atas kedua pahanya. "Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.Secepatnya kamu akan terlepas dari ******** itu. Kamu bisa pegang janjiku kali ini!"


Melodi membalas genggaman tanganku, menyelipkan harapan di sela-sela jari kami yang saling bertautan. "Richad sangat menginginkan anak ini untuk menutupi kehamilan palsu istri sahnya. ******** itu berjanji tidak akan lagi mengusikku setelah melahirkan dan menyerahkan anak ini untuk diasuh oleh dia dan istrinya. Kalau aku tidak setuju atau nekad menggugurkan janin tak berdosa ini, Richad tidak akan segan menyebarkan bukti skandal percintaan kami pada media. Aku benar-benar takut, Wa." Melodi terisak di pelukanku. Rasanya tidak lagi sehangat dulu. Aku juga tidak lagi tahan berlama-lama menghirup aroma tubuhnya seperti dulu.


"Aku tahu kamu pasti keberatan menikahi perempuan yang tidak kamu cinta. Tapi, semua itu cuma bersifat sementara," Melodi mengusap wajahku dengan jari-jarinya yang lentik. Hal sesederhana itu biasanya dapat menyulut gairah dan juga hasratku sebagai pejantan tangguh. Kali ini, entah pengendalianku yang bagus atau aku memang sudah kehilangan hasratku terhadap Melodi. " Setelah aku melahirkan dan masalah kita dengan Richad selesai, kamu bisa ceraikan Syaira. Lalu kemudian, aku siap mewujudkan mimpi kita yang pernah tertunda," bisiknya sensual.


Aku menjauhkan tangan Melodi. Kekecewaan jelas tampak dari raut wajahnya.


"Bagaimana dengan Richad?" ******** itu patut diwaspadai. Berbagi kekasih rasanya sudah begitu terhina. Aku tidak sudi jika harus berbagi istri. Aku akan mencari cara lain agar Mama mau melanjutkan pengobatannya.


"Richad saat ini tengah fokus menjalani proses penyembuhan pasca operasi jantung di luar negeri. Perkembangan kesehatannya terus dalam pantauan dan dilarang keras menjalani aktivitas kesehariannya. Komunikasinya dengan dunia luar juga sangat dibatasi hingga kesehatannya dinyatakan pulih. Dia meminta aku untuk mendampinginya melewati itu semua. Aku bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk memastikan Richad tidak mengacaukan rencana kita. Syaira tidak akan berurusan seujung jaripun dengan Richad. Aku bisa menjaminnya dengan nyawaku."