
Perhatian para tamu undangan seketika teralihkan ke arah panggung. Tidak ada lagi suara-suara berbisik. Semua terdiam, terbawa alunan musik biola klasik nan romantis.
Di atas panggung beratapkan bintang yang kini jadi pusat perhatian, berdiri dengan percaya diri seorang gadis dengan biola di bahunya. Penampilannya tampak sederhana dengan dress sopan berwarna hitam selutut. Teduh dipandang mata. Rambut sebahu dibiarkan tergerai dibuai angin, menambah kesan anggun. Sesekali matanya terpejam, menghayati dengan sepenuh hati nada demi nada yang ia mainkan. Terkadang tubuhnya bergerak mengikuti emosi dari setiap harmoni yang dihasilkan dari gesekan biola yang dimainkan.
Suara tepuk tangan kemudian terdengar bergemuruh memenuhi aula yang dihadiri sekitar seratus undangan. Tanpa mereka sadari, gadis tersebut sudah selesai dengan aksi memukaunya. Mereka yang diundang khusus untuk merayakan perayaan ulang tahun istri dari seorang pengusaha ternama, tampak puas dan terkesan. Bahkan ada yang berdecak mengagumi kemahiran teknik biola dari gadis tersebut. Sebagian ada yang mengira kalau gadis itu merupakan pemain biola profesional yang sudah sering menjuarai ajang festival musik.
Tidak ada yang tahu kalau Seanja, si gadis pemain biola yang berhasil mencuri perhatian mereka, cuma seorang pemain musik cafe biasa. Sesekali, mendapat tawaran untuk mengisi sebuah acara pesta pernikahan hingga ulang tahun. Belum pernah sekalipun mengikuti perlombaan seperti yang terlintas dari beberapa benak para tamu undangan tersebut. Seanja bahkan tidak mengikuti les khusus guna mengasah bakatnya. Almarhum Ayahnya, orang yang mengenalkannya pada alat musik gesek tersebut dan menjadi guru sekaligus idolanya.
Kecintaannya pada dunia musik sempat mati ketika sebuah musibah merenggut semua warna dalam hidupnya. Kepercayaan dirinya hancur sebelum seseorang datang menemani hari-harinya yang gelap. Kehadirannya mampu mengembalikan warna dalam hidupnya yang sempat hilang dan percaya diri serta kecintaanya pada dunia musik.
Dengan keterbatasan yang dimilikinya, Seanja mulai bangkit. Meski harus bersembunyi karena tak mau melukai hati sesorang, Seanja kembali memainkan biolanya yang dibiarkan tersimpan lama di gudang rumah. Pemuda itu satu-satunya pendengar juga pengkritik permainan biolanya yang tak ada lelahnya memberi semangat.
Ketika seseorang yang ia kenal hanya lewat tawa, suara serta aroma parfumnya pamit pergi, Seanja menepati janjinya untuk terus bermusik dan harus berhasil menggapai mimpinya. Ia percaya, kelak Tuhan akan mempertemukannya kembali dengan pria penggemar olahraga futsal itu. Seperti Tuhan mengabulkan salah satu keinginan terbesar dalam hidupnya, meski harus beriringan dengan kedukaan yang mendalam akan kehilangan satu sosok paling berjasa membawanya hadir mengenal dunia.
Dan sekian lamanya, saat duka dan keajaiban datang secara bersama, Seanja tidak lagi bersembunyi dan mulai terang-terangan memperlihatkan bakatnya bermusiknya pada dunia. Ia memiliki mimpi besar yang harus diwujudkan. Memiliki sekolah musik khusus untuk penyandang disabilitas merupakan cita-citanya sejak kejadian malang yang menimpa hidupnya saat usianya masih sebelas tahun. Selain itu, ia juga bermimpi bisa menempuh pendidikan sekolah musik ternama dunia yang terletak di benua Eropa. Biaya yang dibutuhkan tentunya tidak sedikit.
Atas rekomendasi dari sang sahabat, Seanja akhirnya bisa bekerja menjadi musik pengiring disebuah cafe. Gaji yang sekiranya ingin ditabung untuk mewujudkan mimpinya, kemudian terpaksa dialihkan saat lagi-lagi Tuhan mengirim badai menerjang hidupnya yang mulai tenang dan tertata.
Seanja terpaksa harus memundurkan mimpinya entah sampai kapan. Lima bulan berlalu, belum ada perkembangan bararti yang membuat Seanja berani menata kembali masa depannya. Rumah peninggalan orang tuanya sudah tergadai dan tabunganya juga sudah menipis. Beruntung sekali saat itu, teman seprofesinya meminta untuk digantikan mengisi acara pernikahan karena berhalangan hadir. Dari sana, Seanja mulai menerima lumayan banyak permintaan untuk tampil mengisi acara pesta-pesta lainnya. Dan karena itulah, Seanja sampai ada di sini, di sebuah pesta ulang tahun mewah yang berlansung secara privat.
Seanja tampak lega begitu menyelesaikan tugasnya. Ia juga cukup puas melihat sambutan juga respon para tamu undangan yang datang. Dengan segala kerendahan diri, ia kemudian pamit mundur dari panggung.
Acara selanjutnya kembali dipandu oleh seorang MC.
Tanpa gadis itu sadari, seseorang mengikutinya dari belakang.
"Seanja!"
Gadis itupun terpaksa menghentikan langkahnya menuju ruang ganti.
"Pak Awan?" Seanja menunduk hormat karena yang berdiri di hadapannya kini adalah anak dari pemilik acara yang memakai jasanya.
Sebelum tampil, ia sempat bertemu dengan pria berbadan tegap tersebut. Awan sengaja mendatanginya bersama beberapa pengisi acara lainnya. Memperingatkan mereka semua agar memberikan penampilan terbaik. Sebab, pesta itu adalah inisiatifnya. Ia bertanggung jawab penuh pada kelancaran pesta agar dapat meninggalkan kesan mendalam bagi Ibunya yang berulang tahun yang ke-50. Seanja atau mungkin semua pengisi acara bergender perempuan, dibuat terpana melihat sosok Awan yang selain gagah ternyata sangat penyayang keluarga. Anehnya, selama berbicara tatapan Awan selalu tertuju tajam padanya seolah peringatan itu dikhususkan untuknya.
"Kamu mau kemana? Acaranya belum selesai dan kamu harus tampil lagi setelah tamu undangan selesai menyumbang lagu."
Seanja dibuat kaget tiba-tiba saja mendapat teguran tanpa sebab.
"Tugas saya justru sudah selesai, Pak. Saya juga mau pulang sekarang," jawabnya lugas.
"Kamu baru memainkan tiga musik. Masih ada dua musik lagi yang harus kamu mainkan!" Tatapan Awan tampak menuduh seolah Seanja tidak profesional. Jelas itu membuat Seanja jengkel karena ia bukanlah orang seperti itu.
"Bapak mungkin lupa, dari awal pihak anda yang mengatur berapa musik yang harus saya mainkan di panggung. Saya masih punya surat salinan kontrak kerjanya kalau Bapak tidak percaya."
Awan terdiam sebentar, menggali ingatannya.
"Kamu benar," desahnya kecewa setelah mengingat ia sempat bersitegang dengan orang kepercayaannya karena gagal mengundang seorang musisi kenamaan tanah air. Alasannya klise, soal jadwal si artis yang padat. Ibunya begitu mencintai alunan musik biola. Untuk itulah, pria tersebut berupaya keras mendatangkan idola sang Ibu sebagai salah hadiah kejutan darinya.
Awan akhirnya terpaksa menerima saran dari orang yang telah lama mengabdi padanya untuk mencari musisi lain walau bukan dari dunia hiburan karena sudah tidak ada waktu lagi untuk mencari pengganti pemain biola yang setara dengan keinginannya.
Karena sangat meragukan kualitas dari pemusik cafe yang dipilihkan oleh assiten pribadinya dan tak mau sampai mempermalukan acara keluarganya di hadapan para tamu undangan, Awan sampai nekat menemui semua pengisi acara dan memberi teguran keras agar memberikan penampilan yang terbaik dan tak mau sampai terjadi satu kesalahanpun. Beruntung sekali ia masih punya hati untuk tidak menyeret Seanja seorang diri, lalu memaki bakatnya kemudian memperingatinya dengan keras sementara ia cuma menilai dari bungkus luarnya saja. Ya, dari semua pengisi acara yang diundang, cuma nama Seanja seorang yang asing di telinganya. Dan karena profesinya yang cuma seorang pengiring musik di cafe, Awan jadi antipati.
Kini, Awan menyesal sudah menolak tawaran sang assiten untuk melihat penampilan Seanja yang direkam lewat sebuah kamera digital. Kalau saja tak keras kepala, ia tak perlu merasa malu dan bersalah memohon kepada Seanja seperti ini. Bahkan, ia baru sempat menyaksikan penampilan Seanja pada musik terakhir karena terlalu sibuk menyambut tamu yang datang. Walau cuma sebentar, Awan dibuat terpana dan terdiam lama di tempatnya sampai telinganya mendengarkan bisikan sang Ibu.
Setelah belasan tahun lamanya, Awan bisa melihat kembali sinar di mata Ibunya. Begitu juga senyum yang lama dirindukan. Dan, Awan baru sadar kalau sepanjang acara, sang Ibu tidak menunjukkan sikap penolakan lagi. Tanpa pikir lagi, Awan bergegas mengikuti Seanja saat dilihatnya gadis itu sudah turun dari panggung.
"Bagaimana kalau kamu bermain tiga lagu lagi?" Tawarnya kemudian setelah berpikir itulah solusi paling baik mengurai rasa malunya. Bagaimana kalau Seanja sampai tahu kalau ia yang membatasi jumlah penampilan gadis itu karena meragukan bakatnya dan teguran di ruang ganti tadi ternyata dikhususkan hanya untuk Seanja seoarang? Gadis itu bisa-bisa menolak permintaannya dan itu akan sangat mengecewakan perempuan yang sudah melahirkannya.
"Kamu tidak perlu khawatir soal pembayarannya. Kita bisa bicarakan itu nanti. Saya akan bayar mahal untuk penampilanmu kali ini."
Tawaran yang sangat menarik. Sayang sekali kalau sampai ditolak. Bukankah ia memang membutuhkan banyak uang saat ini?
"Sebenarnya saya sudah menyiapkan kejutan khusus sebagai hadiah ulang tahun Ibu. Secara tak sengaja, saya mendengar kalau Ibu ingin sekali berdansa bersama Ayah dengan diiringi lansung permainan biola dari kamu. Saya jadi berubah pikiran dan ingin sekali mewujudkan keinginan Ibu."
Tatapan Awan begitu Intens, membuat Seanja tak nyaman karena ada beberapa orang yang lalu lalang dan diam-diam memperhatikan interaksi keduanya.
Awan bukanlah orang biasa. Seorang pengusaha muda, mapan, tampan dan rupawan. Berdiri dan bicara sedekat ini bisa menimbulkan persepsi yang salah karena Senja sadar betul arti tatapan yang lebih tajam terarah padanya. Orang-orang itu jelas memandang rendah pada dirinya. Senja punya pengalaman buruk soal kesataraan sosial hanya karena ada pengunjung cafe yang terang-terangan menyatakan suka padanya.
"Bantu saya, Seanja. Saya mohon." Awan tiba-tiba saja terlihat frustasi. Seanja sungguh tak percaya itu. Ia bahkan belum mengatakan apapun.
"Sekitar dua belas tahun yang lalu, ibu saya menjadi korban kecelakaan yang menyebabkan kakinya mengalami kelumpuhan." Awan bercerita begitu saja dan tanpa diminta.
" Semenjak itu, Ibu lebih suka berdiam diri di rumah, selalu menolak jika diajak ke manapun. Ibu selalu beralasan tidak pantas berada di sisi kami dan hanya akan membuat kami malu karena kondisinya. Setiap ada perayaan, Ibu pasti tak mau berlama-lama menghadiri. Atau, Ibu akan mengamuk kalau dipaksa untuk menunggu acara hingga usai." Seanja pernah berada di posisi itu dan sangat mengerti dengan apa yang Ibunya Awan rasakan. Bola matanya bahkan sudah memanas dan ingin menumpahkan cairan bening yang keras ia coba bendung mengingat dukanya dulu. Beruntung sekali, beliau punya keluarga yang mencintainya.
"Saya pikir, hari ini juga akan begitu. Ternyata tidak. Untuk pertama kalinya sejak kejadian naas itu, saya bisa kembali melihat senyum Ibu. Ibu bilang dia jatuh cinta pada alunan musik biola yang kamu mainkan." Awan tersenyum getir menatap ke arah perempuan yang kini mataya berkaca-kaca menatap kearahnya. Sesaat Awan sempar kehilangan fokus. Ada yang asing menggelitik sanubarinya.
"Kamu pemain biola yang hebat, Seanja. Tidak cuma teknik, kamu menyertakan cinta dalam setiap gesekan biola yang kamu mainkan hingga semua orang bisa merasakan itu."
Awan sepertinya terlalu berlebihan. Seanja sendiri tak percaya kalau permainan biolanya bisa begitu berpengaruh. Seanja bahkan masih perlu banyak belajar lagi mengasah teknik bermain biolanya. Tapi, ucapan seseorang terngiang kembali.
'Dalam musik itu ada cinta dan berjuta warna. Bukan cuma tentang nada juga irama, begitupun teknik bermusik. Ada hati yang harus kau sentuh, ada jiwa yang harus kau rengkuh, ada rasa yang harus kau bangun dan ada cinta yang harus kau kau persembahkan pada setiap alunan simfoni musik yang kau mainkan. Kalau hanya mengandalkan keahlian atau bakat semata, kau cuma memberi kekosongan juga kehampaan pada setiap orang yang menikmati musikmu. Begitu juga untuk dirimu sendiri. Tidak ada cinta dan tidak ada warna di dalamnya.'
Apa ini yang kamu maksud, Cakka? Karena baru kali ada yang lansung mengungkapkan kekagumannya secara tulus.
"Kamu sudah lihat sendiri bagaimana keadaan ibu saya, bukan?"
Seanja mengangguk pelan. Pikirannya tertuju pada perempuan paruh baya yang duduk di kursi roda yang memilih mengasing sendirian ditemani seorang pria paruh baya yang diyakini Seanja sebagai suami perempuan tersebut. Perempuan malang itu terus memandang kearahnya sejak kakinya menapaki panggung. Sesekali matanya menangkap, perempuan tersebut seperti menyeka air mata saat Seanja mulai memainkan nada demi nada mengiringi para tamu menikmati sajian menu yang tersedia.
Nyonya Cahyani, bahkan sempat melempar senyum tulus ketika ia pamit turun dari panggung. Seanja sendiri tak bisa mengartikan makna di balik senyuman itu. Hanya saja, hatinya terasa menghangat.
"Saya bersedia memenuhi permintaan Nyonya Cahyani." Putus Seanja yakin.
Senyum Awan tersungging lebar, tidak ada lagi sendu di matanya. "Kamu serius?"
Seanja mengangguk mantap.
Ingin rasanya pria yang tampak gagah dengan jas hitam yang melekat pada tubuh atletisnya, berjingkrak kegirangan atau kalau bisa memeluk Seanja dengan erat kalau tidak ingat tempat. Aneh sekali. Bukannya ia tipe orang yang kalem?
"Baiklah. Kita kembali ke panggung. Saya sudah tidak sabar melihat kedua orang tua saya berdansa." Tangannya Seanja ditarik begitu saja tanpa permisi atau mungkin tanpa sengaja. Seanja jelas dibuat kaget dan bingung.
"Saya memberi kamu kebebasan untuk memainkan musik apapun. Yang terpenting harus romantis." Awan terus mencerocos dan tidak menyadari kalau Seanja tidak nyaman ditarik-tarik seperti kuda.
Seanja Ingin protes, rasanya percuma dan hanya akan mengundang perhatian para tamu yang kini sedang tertuju pada mereka dengan tatapan penuh penilain juga prasangka.