
"Melodi, bagaimana pendapat anda tentang foto pernikahan anda dengan Bara Sadeewa yang baru-baru ini tersebar? Kapan persisnya kalian berdua melansungkan pernikahan tersebut?"
"Melodi, bukannya anda digosipkan memiliki hubungan dekat dengan seorang pengusaha tambang batu bara? Lalu, bagaimana hubungan anda dengannya setelah foto-foto tersebut beredar?"
"Melodi, anda dikabarkan menjadi orang ketiga kandasnya hubungan Bara dengan aktris cantik Maudya Nathalie. Bukannya kalian berdua sahabat dekat? Kami dengar kalian sampai terlibat percekcokan. Apa itu benar?"
"Melodi...."
"Melodi...."
Dan masih banyak serbuan pertanyaan dari puluhan awak media saat aku baru keluar dari sebuah kawasan hotel.
Situasi seperti itu membuat aku terdesak, sulit beranjak dari tempat yang kupijak. Aku mencoba untuk tidak panik dan memasang mimik wajah setenang mungkin. Jujur, ini semua di luar perkiraan. Aku tidak menduga akan berhadapan dengan banyak awak media dari berbagai stasiun tv hingga media elektronik lainnya.
"Apa benar foto itu sengaja dibuat untuk kebutuhan settingan karena kabarnya anda dan Bara dipasangkan untuk membintangi model video klip band pendatang baru?"
"Saya tidak tahu foto yang kalian tanyakan," jawabku akhirnya. Berharap para pemburu berita tersebut berhenti menyerangku dengan ragam pertanyaan yang tak mungkin kujawab kebenarannya.
"Melodi benar. Dia belum bisa berkomentar mengenai foto tersebut sebelum melihatnya sendiri. Bisa saja itu rekayasa atau editan."
Rekayasa atau editan katanya?
Aku berdecih dalam hati, menyumpahi jawaban yang terlontar dari mulut pria di sampingku. Bukannya dia salah satu dalang di balik pernikahanku dengan Bara? Dan dia juga merangkap jadi saksi dari pihak keluarga laki-laki.
Dari balik kacamata hitam yang bertengger cantik menutupi separuh wajah, aku memberi peringatan pada Rio untuk memberi jawaban yang lebih rasional. Setidaknya memberi jawaban yang bisa membuat para pemburu berita itu mau pergi atau memberikan jalan agar aku bisa pergi secepatnya dari kerumunan ini. Aku tidak tahan berlama-lama memasang wajah manis layaknya seorang Miss Universe tengah berlenggok membanggakan mahkota yang bertengger di kepalanya.
"Menurut pakar, foto tersebut asli, bukan rekayasa. Ciri-ciri perempuan yang ada di dalam foto juga mirip dengan Melodi."
Tentu saja mirip! Apa aku bilang saja kalau Melodi itu kembar?
Sungguh. Aku sama sekali tidak melucu.
Dunia hiburan pasti gempar jika aku menceritakan fakta di balik foto pernikahan yang mereka ributkan. Tapi, aku belum siap dengan segala resiko yang harus dihadapi nantinya. Jati diriku sebagai Syaira, tidak boleh terusik. Cukup hidupku sebagai Melodi saja dibumbui banyak drama tak berkesudahan yang membuatku lelah dan ingin menyudahi sandiwara memuakkan ini sesegera mungkin..
"Bung, anda bukannya manajer dari Bara? Bagaimana anda bisa bersama Melodi? Bukankah itu mengindikasikan kebenaran soal kebenaran foto pernikahan artis anda?" sambar salah satu wartawan dengan seragam yang khas.
"Ada urusan pekerjaan yang harus kami bicarakan. Bara berhalang hadir karena masih harus menyelesaikan syuting film terbarunya di luar negeri." Aku sengaja membuang muka saat Rio melirik ke arahku.
Memangnya apa yang diharapkan mantan aktor itu? Berharap aku membenarkan jawaban bohong yang terlontar dari mulutnya?
"Ya. Ada tawaran pekerjaan yang melibatkan nama kami berdua," aku berbohong juga. Salah satu keahlianku setelah bermetafosis menjadi Melodi.
Bukan hal yang sulit memerankan sosok Melodi. Bukan karena kami terlahir kembar. Lebih dari itu. Tidak ada yang mengenal Melodi Aksara Putri, melebihi aku, Syaira Aksara Putri. Tidak juga dengan kedua orang tua kami. Entah mereka masih dilayak disebut orang tua. Untuk Melodi, sangat layak sekali. Tidak untuk aku yang dibuang dan dilupakan.
Terlahir sebagai kembar identik bagiku semacam petaka. Mungkin aku tidak pernah menyesal terlahir kedua orang tua macam apapun, tapi memiliki kemiripan rupa dan fisik adalah sesuatu yang paling aku benci dan sesali. Sebab, memiliki kesamaan tidak membuat aku mendapatkan hak serta kasih sayang yang sama besarnya yang didapatkan Melodi dari kedua orang tua kami.
Puncaknya saat aku dan Melodi baru genap berusia delapan tahun. Berawal dari insiden saat liburan di rumah Kakek dan Nenek di Kampung, aku ditinggal. Meski usiaku masih kecil, aku paham kalau aku dibuang. Bukan dihukum. Ayah dan Ibu seolah memanfaatkan ketidaksengajaanku untuk membenarkan keputusan mereka. Belasan tahun berselang, saat aku mulai berdamai dengan takdir dan terima jika memang dilupakan atau tak lagi dianggap, mereka tiba-tiba muncul dengan tidak tahu malu membawa setumpuk dosa yang harus ikut aku pikul.
Bermula dari sebuah artikel koran Kakek yang iseng kubaca, aku mulai mendapatkan informasi mengenai Melodi. Dia ternyata sukses menggapai mimpinya menjadi seorang model ternama. Seiring perkembangan teknologi yang makin canggih, aku bisa dengan mudah mengakses lebih banyak lagi informasi mengenai kehidupan Melodi dan kedua orang tua kami. Berkatnya, Ayah dan Ibu bisa mewujudkan mimpi mereka untuk naik haji. Hidup mereka terjamin dan tidak lagi bekerja sebagai buruh pabrik. Banyak potret kebahagian mereka sebagai keluarga utuh nan sempurna berserakan diberbagai situs berita gosip. Tak ada satupun dari artikel yang kubaca membahas atau menyebutkan namaku sebagai salah satu bagian dari keluarga Aksara. Bagaimana bisa ada, jika tidak ada pengakuan ataupun pernyataan yang terlontar dari mulut narasumber atau pihak yang bersangkutan.
Layaknya Peri yang hatinya tak pernah dipenuhi amarah atau dendam, aku bersedia diturunkan dari kayangan demi mengembalikan kedamaian dunia ketika sang penguasa turut serta memberi titah serta petuah bijaknya. Jika Kakek dan Nenek sudah meminta, bahkan sampai memohon, aku jelas tak bisa berkutik. Aku tidak mau kedua orang yang paling tulus menyanyangiku, diseret dalam masalah mereka timbulkan. Cukup aku saja yang turun berperang.
"Melodi, jika berita pernikahan itu benar adanya, bagaimana dengan karier anda sebagai model? Apa anda akan berhenti dari dunia yang sudah membesarkan nama anda dan fokus menjadi istri Bara Sadeewa?
Melodi istri Bara Sadeewa?
Apa yang harus katakan? Media harusnya lebih cerdas menggali informasi. Lewat selembar foto yang viral, banyak yang bisa mereka ulik. Jangan hanya tertumpu pada kemiripan wajah yang terpampang.
"Melodi, jangan cuma diam saja. Kita sudah lelah dari kemarin menunggu kamu di sini. Tolong hargai usaha juga profesi kami!"
Mereka pikir aku juga tidak lelah? Tiga hari ini, aku disibukkan dengan pemotretan di luar kota. Baru saja kembali dan belum sempat menikmati makan siang, aku sudah dihadapkan pada kerumunan yang tidak menyisakan ruang untuk bergerak.
Bukan cuma mereka saja yang punya emosi. Aku juga ingin bisa berteriak sekuatnya menumpahkan amarahku. Aku ingin semua orang tahu bagaimana tersiksanya hari-hariku sejak memutuskan melepaskan jati diriku sebagai Syaira. Dalam waktu singkat, aku dipaksa menurunkan berat badan agar memiliki pinggang sekecil Melodi dengan berbagai treatment kesehatan juga kecantikan yang menyiksa. Rambut keriting halus yang paling kusakai dari semua anggota tubuhku karena karena jadi pembeda paling kentara antara aku dan Melodi, terpaksa harus kukorbankan. Tidak cuma dalam berpenampilan, dalam bersikap pun aku harus benar-benar sempurna sebagai Melodi. Lembut bertutur kata, penebar senyum dan santun dalam bergaul. Dalam hal paling remeh sekalipun, seperti ayu dalam mengunyah atau tertawa tak boleh terbahak, aku tidak boleh tampak berbeda dengan Melodi. Agar terlihat benar-benar sempurna hingga tidak ada sedikitpun celah untuk menemukan perbedaan kami, aku harus mengikuti kelas kepribadian yang amat membosankan.
Apa ada diantara mereka yang mau berganti posisi denganku? Kehilangan identitas, jati diri juga kebebasan?
"Sebaiknya rekan-rekan wartawan semua bersabar. Melodi tidak bisa membahas masalah ini seorang diri. Kami harus menunggu Bara menyelesaikan syuting film terbarunya."
"Tapi, kapan jadwal pastinya?" Desak salah satu wartawan yang berdiri paling depan.
"Secepatnya!" Rio menjawab dengan cepat sembari terus berusaha menyeruak kerumunan para wartawan. "Sekarang, tolong biarkan kami pergi!" Nada suaranya tidak lagi sabaran karena wartawan-wartawan tersebut tidak juga menyerahkan informasi yang mereka harapkan.
"Dasar artis sombong! Apa salahnya menjawab dengan jelas pertanyaan dari kami. Kalau bukan karena kami, kamu tidak mungkin akan setenar ini!"
Mataku seketika tertuju pada salah satu wartawan yang berdiri paling depan. Dalam keadaan lelah, emosiku sangat mudah sekali terpancing. Aku bukan Melodi yang pandai bermain cantik dan bersikap anggun menanggapi serangan yang sengaja di arahkan padanya. Aku adalah Syaira, cewek tomboi yang tak segan mengajak teman-temannya berkelahi jika sudah menyinggung perasaannya. Seandainya aku memang seorang publik figur yang sudah resikonya diburu oleh namanya paparazi, aku tidak akan diam saja jika sudah disudutkan.
Sebelum mulutku melontarkan kalimat, Rio memaksa menerobos kerumunan wartawan dengan menarik tanganku.
Desak-desakan pun terjadi. Disituasi seperti itu, ada yang mengambil kesempatan mencolek pantatku. Itu jelas pelecehan. Aku tak terima sama sekali.
Oknum wartawan yang aku yakini sebagai pelaku pelecehan, santai saja melanjutkan pekerjaannya mengambil fotoku lewat sebuah kamera. Sama sekali tidak ada raut bersalah seolah yang dilakukannya cuma masalah sepele yang tidak perlu diributkan. Jelas hal itu mengundang reaksiku. Tidak peduli dengan tugasku menjaga imej anggun seorang Melodi. Jika sudah bersangkutan dengan aksi pelecehan, seorang Syaira tidak akan diam saja.
Rio lebih dulu menyadari pergerakanku. Sebelum niatku merampas serta menghancurkan kamera oknum wartawan tak tahu etika itu, Rio berhasil menjauhkan jangkauanku dari mangsa.
"Apa yang mau kau lakukan? Ingat, jaga sikapmu!" bisiknya penuh peringatan. Aku membalas dengan lirikan tajam, tak terima mangsaku bebas. Aku yakin Rio pasti melihat perbuatan salah satu oknum wartawan tadi. Harusnya ia melindungiku dan turun tangan memperkarakan si pelaku.
Rio terus menyeret dan memaksaku mengikutinya menaiki mobil mewah yang sudah siap menunggu. Akhirnya kami berhasil keluar dari kejaran para wartawan. Tapi, aku masih belum terima niatku memberi pelajaran pada si pelaku yang sudah melakukan tindakan pelecehan tadi tidak kesampaian. Semua karena pria yang kini duduk tanpa dosa di sampingku. Aku tidak akan tenang sebelum emosiku terlampiaskan.
"Arrgggttt....!" Rio terlonjak kesakitan manarik tangannya menjauh dari mulutku. Layaknya vampire, aku mengigit tangan Rio dengan sadar. Aku cukup puas melihat raut kesakitan pada wajanya yang ditumbuhi berewok.
"Syaira, apa yang kau lakukan?" Rio berteriak kesal, tak terima atas aksiku barusan.
"Ya, Tuhan!" Rio mengerang frustasi. "Bagaimana bisa Melodi memiliki kembaran sebar-bar dirimu?"
"Bang Rio pasti tahu tindakan pelecehan yang aku alami tadi, kan?" Aku lansung saja pada intinya.
Rio menggosok bekas gigitanku dengan tisu. Ada raut jijik ketika membuang bekas tisu tersebut pada tong kecil yang tersedia dalam mobil.
"Itu biasa dialami oleh artis ataupun model perempuan. Kau tidak perlu sampai bersikap berlebihan seperti tadi," jawabnya enteng saja.
"Berlebihan?" ulangku terperangah. Bagaimana bisa sebuah pelecehan seksual dibilang biasa saja? Harusnya tadi aku mengigit tangan Bang Rio jika tahu reaksinya akan setenang ini.
"Saudara kembarmu bahkan pernah dilecehkan saat mengikuti acara fashion Show di luar kota. Tiba-tiba saja ada penonton yang naik ke atas panggung dan memaksa ingin menciumnya. Dia sama sekali tidak terganggu dan dapat melanjutkan penampilannya di atas catwalk dengan sempurna sampai acara selesai."
"Sekalipun dia membela diri, Bang Rio akan bilang kalau Melodi berlebihan."
"Ada panitia serta pihak keamanan yang bertanggung jawab penuh atas kejadian itu." Kilahnya. Toh, tadi tidak ada pihak keamanan, ia tetap tidak bertindak atau paling tidak memberi peringatan pada oknum wartawan kurang ajar tadi.
"Kau bisa mengadukan masalah pelecehan itu pada Asti. Dia yang bertanggung jawab penuh atas keamananmu. Saya cuma diminta tolong untuk sementara waktu mengawasimu."
Aku terdiam mendengar nama Asti disebut. Dia adalah pemilik agensi yang menaungi Melodi sekaligus mentor di balik semua treatmen yang wajib aku ikuti sebelum melepaskanku ke medan perang. Aku tidak tahu pasti apa yang membuat Asti tiba-tiba menitipkanku pada Bang Rio. Asti tidak menyertakan alasan apapun. Aku menaruh curiga kalau kepergiannya ada hubugannya dengan model kesayangannya.
Aku pikir bisa menikmati hari-hariku tanpa adanya kekangan dari Asti. Dugaanku meleset. Rio dan Asti ternyata sama gilanya. Aku tetap dituntut menjalani berbagai treatment yang sudah diatur oleh Asti sedemikian rupa disela kesibukanku mengikuti pemotretan ataupun acara fashion show.
Mirisnya, aku harus mendengarkan perdebatan Rio dengan Bara. Aku tidak sengaja menguping percakapan mereka saat bertelpon ria. Bara keberatan jika aku menghuni salah satu apartemen. Jujur, aku merasa terhina.
Selama berada di bawah asuhan Kakek dan Nenek, aku tidak pernah diperlakukan layaknya pengemis seperti yang Bara perbuat. Jangankan hunian, nyawa saja sanggup mereka serahkan demi memastikan cucunya tidak hidup dalam kekurangan. hidup di Kampung, bukan berarti kami hidup penuh keprihatinan. Kami hidup dengan sangat layak dan hunian bukanlah hal memusingkan. Di sini, aku sudah layaknya tuna wisma yang tak punya hunian tetap untuk sekedar berteduh. Aku sungguh terhina diperlakukan semena-mena oleh pria yang berstatuskan suamiku.
Aku masih sabar dan terima ditinggalkan saat baru beberapa jam dipersunting olehnya. Sampai detik ini, aku bahkan tidak mempermasalahkan Bara yang tidak pernah menghubungiku. Aku mengerti, Bara sama terpaksanya menerima pernikahan di antara kami. Sama halnya denganku, Bara punya alasan sendiri mau menerima permintaan dari perempuan yang notabene kekasihnya sendiri untuk menikahi gadis asing. Tapi tetap saja, Bara tidak berhak memperlakukanku semaunya.
Pernikahanku dengan Bara dilaksanakan secara tertutup, dihadiri tak lebih dari tujuh orang. Terdiri dari penghulu, kedua orang tuaku, Asti dan assitennya yang bertindak sebagai saksi dari pihakku, kemudian Rio selaku saksi dan perwakilan dari keluarga Bara. Ada Mamanya Bara yang terbaring dengan kesadaran di bawah ambang batas. Semua sepakat untuk menyembunyikan pernikahan kami. Terutama sekali dari media. Aku tidak yakin diantara kami tidak yang ada berkhianat nantinya.
Dua bulan berselang, kecurigaanku terbukti adanya. Siapapun yang sudah menyebarkan foto pernikahanku dengan Bara, pastilah punya maksud dan tujuan tertentu. Bisa jadi memang ingin menjatuhkan karier Melodi atau bisa saja ditujukan menyerangku. Waktu dua bulan sudah cukup bagiku mempelajari bagaimana gelapnya dunia entertaiment. Identitasku serta fakta di balik pernikahan Bara dengan sosok yang dipercaya publik sebagai Melodi, tentu bisa jadi senjata paling mutakhir bagi siapapun memuluskan rencana busuknya. Dalam waktu sepekan, berita pernikahan Bara dan Melodi berhasil menjadi trending topik. Imbasnya jelas aku yang tanggung. Menjadi incaran wartawan hingga diteror oleh nomor tak dikenal. Umumnya mereka mengaku sebagai fans berat Bara yang tidak rela idolanya menikah.
Soal pernikahan, itu tidak ada dalam pembicaraan antara Kakek, Nenek dan kedua orang tuaku. Ayah dan Ibu hanya memohon kesedianku menggantikan peran Melodi untuk sementara waktu. Itu saja. Tak lebih sama sekali.
Aku yang sudah terlanjur menceburkan diri, mengambil keputusan untuk menerima permintaan Melodi tanpa meminta pertimbangan atau persetujuan dari Kakek dan Nenek. Aku punya alasan tersendiri mengapa mau saja menuruti maunya Melodi. Salah satunya mungkin karena faktor dendam. Bisa saja.
Andai Kakek dan Nenek sampai tahu, entah apa yang akan terjadi. Kakek merupakan salah satu pengurus masjid dan sering dipercaya menjadi iman saat sholat berjamaah. Bagaimana bila kakek sampai tahu kalau cucu kesayangannya sampai melibatkan sesuatu yang sakral dan diagungkan agama untuk kepentingan pribadi? Membiarkan aku berperan sebagai Melodi saja, Kakek sangat keberatan kalau bukan karena bujuk rayu Nenek. Kakek pasti akan sangat marah besar, tak ragu menjemput dan memaksa putri mereka mengembalikan cucunya kembali dalam asuhannya. Namun, yang paling aku khawatirkan adalah Nenek. Dari segelintir orang yang mengetahui aku dan Melodi terlahir kembar, Nenek satu-satunya orang yang tidak bisa dikecoh mengenai identitas kami. Sekalipun kami sering menjahilinya, Nenek tidak pernah salah mengenali siapa aku dan siapa Melodi. Berbeda sekali dengan kakek.
Aku kemudian buru-buruh merogoh tas, mengeluarkan alat komunikasi yang akan menghubungkanku dengan Nenek di Kampung. Nenek sangat hobi menonton acara gosip. Bisa jadi berita pernikahan salah satu cucunya sudah beliau ketahui.
Aku menghela nafas menahan kecewa. Tiga panggilanku berakhir dengan sambungan suara operator. Biasanya sore-sore begini, Nenek disibukkan menyiapkan makan malam untuk kakek. Aku jadi merindukan masakan nenek yang tidak cuma lezat, tapi juga bebas dari bumbu penyedap tambahan yang tidak baik untuk kesehatan.
"Kau baik-baik saja?" Rio menatapku curiga.
"Kapan drama ini berakhir?" Aku mendesah lelah, mulai menyesali semua keputusanku. Jiwaku memberontak ingin pulang.
Tidak ada tanggapan dari Rio. Pria paruh baya itu disibukkan dengan gawainya.
Aku kemudian memalingkan muka menikmati sore dari balik kaca mobil. Suasana hati yang kuharapkan membaik, justru sebaliknya. Hampir sepanjang jalan dipenuhi oleh wajah pria yang tidak ingin aku lihat. Banyak papan reklame berjejer menampilkan wajah sialan yang sayangnya tampan dalam berbagai macam produk iklan. Dari produk pakaian, shampoo, parfum, makanan ringan hingga kopi instan, semuanya diisi oleh wajah yang sama. Bara Sadeewa memang setenar itu. Ibu-ibu, gadis remaja, bahkan kaum bapak di kampungku tidak pernah ketinggalan menonton sinetronnya. Hampir setiap pagi, aku mendengarkan kaum Ibu bercerita mengenai peran Bara dalam sinetron yang membuat mereka geregetan.
Perhatianku baru teralihkan saat di perempatan lampu merah ada pedagang asongan menyodorkan sebuah majalah. Kaca mobil memang sedikit aku buka sehingga bisa melihat dengan jelas wajah siapa yang terpampang di sampul majalah yang disodorkan remaja tanggung itu. Foto yang tercatum memperlihatkan Bara tengah menjabat tangan seorang penghulu dan ada aku di sampingnya. Foto yang kini tengah viral dan dicari tahu keaslian juga kebenarannya.
'Tak pernah terendus menjalin hubungan, Bara Sadeewa dan Melodi gemparkan publik dengan pernikahan mereka.'
Senyumku tersungging sinis membaca nama perempuan yang diyakini sebagai mempelai perempuan yang ada dalam foto. Secuil dari hatiku tak terima, apa yang sudah jadi milikku diklaim orang lain.
Aku sudah mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribu membayar majalah tersebut. Begitu majalah sudah di tanganku, Rio merampas dengan seenaknya.
"Kembaliannya untuk kamu saja," teriakku pada pedagang asongan tadi karena lampu hijau sudah kembali menyala.
"Majalahnya kenapa dirusak?!" protesku tak terima melihat majalah yang aku beli sudah menjadi gumpalan tak berbentuk.
"Isinya cuma sampah!" Majalah itu dibuang Rio dari jendela mobil begitu saja. "Kau tidak perlu bacaan yang isinya tak lebih dari pembodohan. Isinya bahkan tidak dapat dipertanggung jawabkan."
Aku diam, lelah untuh mendebat. Sopir yang bertugas terlihat penasaran melirik interaksi kami dari kaca spion.
"Asti baru saja menghubungi saya. Dia sudah menyiapkan sebuah villa yang aman dari jangkauan paparazi. Kemungkinan, kau akan tinggal di sana untuk sementara waktu. Kita akan ke sana sekarang."
Bukannya Ayah dan Ibu punya rumah mewah yang bisa dijadikan tempat untuk aku menumpang? Mengapa aku justeru diperlakukan layaknya anak yatim piatu? Diseret tinggal sana-sini tanpa tahu arah tujuan. Harusnya mereka ada saat aku butuh perlindungan, bukan cuma sadar saat lagi susah saja. Mau ditarik ke neraka sekalipun, sepertinya kedua orang tuaku tidak peduli. Mereka ikut menghilang setelah menyerahkan segunung permasalahan di pundakku. Rasanya aku ingin sekali menangis, mengadu pada nenek.
Aku lantas kembali mengeluarkan hanhphone milikku dari dalam tas branded yang harganya pasti selangit. Salah satu tas koleksi Melodi yang bebas aku pakai selama menjadi dirinya. Aku perlu barang-barang seperti itu untuk menunjang penampilanku selama memerankan sosok Melodi yang termasuk salah satu artis sosialita.
"Kapan dia pulang?" Tanpa sengaja jariku-jariku menyentuh sebuah aplikasi pada layar handphone milikku. Suaraku kemungkinan bergetar. Sebab, ada emosi yang tidak bisa kuredam lagi.
'Foto bulan madu beredar, isu pernikahan Bara Sadeewa dengan Melodi, terbukti adanya.'
Saat aku terkekang dijadikan tumbal, mereka bisa terbang menikmati kehidupan dengan bebas, menjalani hari dengan romantis tanpa mau tahu ada kehidupan orang lain yang dikorbankan.
Bara dan Melodi ternyata tengah berada di Paris. Keduanya menghabisi waktu bersama di sebuah hotel. Foto yang terlampir pada keterangan berita terbaru itu, memperlihatkan pose mesra keduanya di di dalam sebuah ruangan yang berhadapan lansung dengan menara Eifel.
Tidak cuma dimanfaatkan, kau juga dibodohi, Syaira! Mereka bersenang-senang, sementara kamu luntang-lantung bak anak jalanan.
Binatang saja meski dikurung, sesekali diberi nafas untuk menikmati kebebasan. Kau sendiri bagaimana, Syaira?
"Ada apa?" Bang Rio mencemaskanku.
"Bara Sadeewa! Suamiku!" tekanku mulai hilang kendali dan tak melepaskan Rio dari tikaman mataku.
"Suruh dia pulang! Katakan pada artis asuhanmu itu untuk menyelesaikan kekacauan yang dia buat bersama kekasihnya atau aku akan membeberkan semua kepada media siapa aku dan siapa perempuan yang ia nikahi sebenarnya. Kalian pikir aku tahan diperlakukan seperti tahanan? Persetan dengan utang belasan milyar itu! Tak masalah jika Melodi atau Ibuku harus mendekam di penjara. Mereka matipun, aku tak peduli!"