
Ya seperti cerita sebelumnya.Aku dan Andi atau bisa di sebut Aan,akhirnya kami berpisah ketika pulang.Kakak dengan riangnya pulang seusai latihan berenang tanpa rasa letih dan dahaga yang seolah tak lagi bergentayangan.
Rumah
Aku nggak akan bertele - tele tentang ini semua,karna harusnya aku menyiapkan mentalku untuk menghadapi si pria dingin itu.Siapa ya namanya Rangga kalik ya udah lupa aku saking lama nggak update nih novel.Males baca buat ngulang.
Esok hari,dengan raut wajah yang lesu aku berangkat sekolah.Disekolah apa yang aku lakukan menghabiskan waktuku dengan tidur di tengah pelajaran.Biasa warga +62 yang pemalas akulah contohnya.
Aku yang tertidur pulas,tak tersadar bahwa mentari telah berada tepat diatas ubun - ubun insan di bumi.Terbangunnya aku dikejutkan oleh suara teriakan melengking yang menyapa telingaku.
"Bangunnnn!!!!"Putri ibu yang pemalas!!!?."Teriak ibu.
Ya semua itu hanyalah mimpi dari awal episode semua itu hanya hiasan dalam tidur si gadis itu.
Dia hanya seorang insan biasa yang bersyukur telah dilahirkan kebumi.Bersyukur memiliki keluarga yang akur dan melindunginya selalu ya meski terkadang sepercik pertikaian tidak dapat dihindari.Dia adalah seorang gadis desa yang berumur 19 tahun.Namanya adala Ariana pangil saja dia dengan sebuatan Ari.Hari ini adalah hari yang paling Ari tunggu,karna hari ini akhirnya Ari bisa pergi untuk mengarungi seisi Nusantara ini.
"Baiklah sayang.Cepatlah pulang,jangan nakal.Jangan lupa makan dengan benar!."Kata ibunya yang menasehati.
"Pasti kok bu.Ibu tenang aja,Arikan udah dewasa bisa jaga diri."Balas Ari sembari mencium tangan ibu.
Ibunya tersayangpun hanya tersenyum meski bibirnya menarik garis tipis yang penuh kekhawatiran.
"Bapak?!."Tanyanya pada bapak dengan sedikit ketakutan seolah akan dihibur kemarahanya.
"Pergi sana.Gak usah pulang,bapak nggak mau menerima anak yang meninggalkan keluarganya!."Sahut bapak kesal.
"Bapak?."Kata ibu,sambil menjewer telinga bapak.
"Ouh istriku kenapa kau tetap galak sih.Hatiku sakit karena kau jewer!."Kata bapak mengumpat.
"Hahahaha bapak.Cie takut istri."Kata Ari yanh meledek bapak.
"Cepet pergi jangan balik lagi."Kata bapak kesal.
"Iya nih Ari pergi.Bapak jangan rindu Ari ya?,assalamualaikum."Kata Ari sembari meledek.
Entah mengapa? langkah kaki yang dimiliki Ari terasa begitu berat.Angan - angan tak rela melangkah meninggalkan rumah ini selalu terbayang dan meghalangi keinginannya untuk pergi.Mimpinya yang besar demi segudang alat transaksi itu,mengkokohkan keinginannya.Hidup merantau seorang diri pun harus ia lakui dan harus ia lalui meskipun kehangatan keluargalah yang menjadi taruhannya.Berharap besar,dengan kepergiannya bukanlah beban bagi keluarga,tapi setidaknya ikut meringankan mereka yang setiap hari membanting dan mengikis tulang mereka demi sesuap nasi yang bertahan untuk sehari.
"Bersiaplah negeri penahklukmu yang baru terlahir telah lahir.Akan aku buat kau menagis dan berlutut dibawah kakiku.Akan aku lebarkan sayap yang telah tertempel di pundakku."Begitulah ucap Ari dalam hatinya dikala itu.
"Ari!Kalau kamu kesulitan.Jangan lupa untuk hubungi bapak."Teriak bapak dari belakang.
Ari yang mendengarnya diam - diam meneteskan air matanya yang mengalir deras sembari mengacungkan jempolnya keatas.Tanda bahwa dia telah melaksanakan titah bapaknya.
Next episode:)
Mohon maaf apa bila membuat para pembaca kecewa.
Saya akan menerima kritikannya dengan lapang dada:)