Aksara Dilayar Rindu

Aksara Dilayar Rindu
Aksara dilayar rindu


Menyapa rindu pada sepatah kata yang sama.Menyapa mentari dengan orasi yang lembut terpana.


"Ian!,bangun nak ini sudah pagi!."Suara itu,sontak menghentikan episode mimpiku.Perlahan ku buka kedua bola mata mungilku yang masih terasa begitu berat.Aku bergegas bangun,sebelum ibu membangunkanku untuk yang kedua kalinya,yang mungkin dengan volume yang lebih keras.Sebelum itu terjadi,aku sudah mengatisipasinya.Selain itu dengan bangun agak pagi,bisa menjamin agar aku tidak terlambat untuk pergi kesekolah.


Arianti dewi parasati adalah nama lengkapku,panggilan akrabnya adalah Ian.Aku lahir di Nusantara tepatnya di tanah Jawa.Sekarang ini aku menginjak bangku kelas 12.Aku adalah anak nomor 2 dari 2 bersaudara.Dapat dikatakan kalau aku adalah anak bungsu.Sebagai anak bungsung tentunya aku disayang oleh ayah dan ibuku tak terkecuali dengan kakakku.Terkadamg aku merasa bosan,dengan kasih sayang yang mereka curahkan.Menurutku hal itu terlalu berlebihan,namun aku bersyukur.Kasih sayang yang mereka berikan membuatku merasa kalau aku adalah gadis yang paling beruntung didunia ini.Sebelum aku bertemu dengan mahkluk Tuhan yang satu ini.


"Sayang!!.Cepatlah turun dan sarapan bersama!."Panggil ibu,ketika aku tengah merapikan rambutku.


Tak,tak,tak!.Suara langkah kakiku yang turun dari tangga.


Baru saja,aku memikirkan sebuah ide yang sangat cemerlang.Tentunya ide ini,bisa menghemat waktu yang berjalan dengan begitu cepat.


"Kyaaaa!!.Sangat seru!".Teriakku kegirangan.


"Apa yang kamu lakukan Ian.Bagaimana jika kamu jatuh dari atas sana?.Apa kamu pikir pegangan tangga dapat dijadikan prosotan?.Jika kamu ingin bermain,aku akan menyuruh kakakmu menemanimu ketaman bermain!."Ujar ayah menasehatiku dengan tiada henti.Lebih cerewet dari pada ibuku.


Tapi itu memang ciri khas dari ayahku,menurutku karakter ayah yang bawel ini benar - benar sangat lucu.


"Ayolah ayah!.Ian bukan anak kecil lagi!."Ucap kakak membelaku.


"Putra sulungku memang benar!,gadis kecil kita sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik!."Kata ayah,seakan - akan tengah menggodaku.


"Sudahlah ayah,".Kataku bertujuan menepis apa yang ayah katakan barusan.


"Ayolah sayang,cepatlah bersiap - siap sarapan!."Ujar ibu memperingatiku untuk yang kedua kalinya.


"Tunggu dulu sayang.Pakaian apa yang sedang kamu gunakan?."Tanya ayah dengan tatapan matanya yang begitu tajam.


"Ayolah ayah!.Ini hanya kaos dan seragam yang aku gunakan sebagai luaran."Ujarku dengan ekspresi yang begitu polos seakan tak bersosa.


"Jika begini kau akan dihukum Ian?.Apa kamu ini tidak punya sedikitpun rasa takut?."Tanya ayah dengan suara gemetar dan wajah yang terlihat begitu khawatir.


"Makan makananmu dan jangan banyak bicara!.Biarkan Ian berekepresi,aku yakin anak kita tidak akan menjadi anak yang tidak tahu aturan,paham!."Bentak ibu kepada ayah.


Dan lihatlah ekspresi ayah,seketika ayah langsung mematung dan diam tak berani mengucapkan satu patah kata pun dari mulutnya.


"Lihatlah kak!,ini adalah contoh nyata dari suami yang begitu takut istri.Ayah begitu hebat,tapi kalau dibandingkan dengan ibu ayah bagaikan badak yang tak bercula."Ucapku meledek ayah,dengan berbisik lirih ditelinga kakak.


Seusai sarapan,kakak akan mengantarkanku pergi kesekolah.Ayah akan pergi kekantor dan bekerja,menunaikan kewajibannya sebagai kepala keluarga.Ibu tentunya akan berada dirumah,mengerjakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga.


Mungkin sempat bertanya.Apa yang dilakukan kakakku ketika yang lain sibuk melakukan tugasnya masing - masing.Kakakku akan pergi ketempat latihan renang,karna kakakku adalah seorang atlet renang yang legedaris dan telah memenangkan berpuluh - puluh medali emas.


Namun mulai hari ini akan ada sedikit perbedaan dengan hari - hariku yang sebelumnya.Karna mulai sekarang aku akan berangkat sekolah seorang diri dengan mengayuh sepedah kayuh yang baru saja aku beli kemarin.Ya disisi lain,bertujuan untuk sedikit pamer pada teman - teman kalau aku punya sepeda kayuh baru.


Ya seperti itulah kegiatan keluargaku,begitu heboh dan sibuk dengan urusan masing - masing.Meskipun begitu kami selalu mentingkan kebersamaan keluarga.karna bagi kami keluarga dan orang terdekatlah yang paling penting dan berarti.


Namun siapa sangka,siangnya sekitar jam 10.Bocah itu mengganggu ketenangan dihidupku.Benar - benar membuatku kerepotan dalam menghadapinya.