Salsabila Alexandra

Salsabila Alexandra
bab 4


Mobil Arga melaju dengan kencang, membelah jalanan. Suasana yang dari tadi meriah karna ocehan Chacha kini berubah menjadi hening, karna Chacha tertidur dibangku belakang.


Arga mengendarai mobilnya sendiri, karena sopirnya kemarin mengantar Mama dan Papanya terlebih dahulu sehari setelah pertemuan dengan Sasa, dan Arga memilih kembali sehari setelahnya lagi..


"tidurlah jika kau lelah, perjalanan masih panjang" ucap Arga memecah keheningan.


"iya bang, Sasa belum ngantuk, bolehkan menemani abang, apalagi ini masih siang bang, aku tak terbiasa tidur siang." jawab Sasa.


"baiklah." ucap Arga. "tapi kalau lelah atau kamu ingin sesuatu bilang ke abang ya"


"iya abang."ucap Sasa. " Bang Arga, terimakasih untuk bantuan ini. maafkan aku merepotkanmu."


"hei Sa.. aku tak pernah keberatan untuk ini semua, dan aku melakukannya demi kebahagiaan kamu dan Chacha. kalian berhak bahagia Sa. Hubungan tidak jelas ini akan menyakiti Chacha Sa." jawab Arga.


"aku tau bang, Chacha memang selalu menanyakan ayahnya.. tapi aku selalu mencari alasan dan mungkin ini waktu yang tepat. meski menyakitkan, aku harap ia menerimanya. tapi aku takut bang, mereka tak menerima Chacha dan mengambil Chacha dariku."


"nanti sesampai disana aku harap kamu memikirkan kembali, apakah Andre pantas dikenal sebagai ayah dari Chacha."


"maksud abang?" tanya Sasa curiga.


"Sa, maaf jika aku mencampuri urusanmu, tapi bolehkan ayah dari Chacha itu aku?"


"abang katakan dengan jelas jangan seperti ini,"


"maafkan aku sa. aku tak tau jika Andre yang aku pernah jumpai adalah Andre suamimu."


#Flashback on


"Rere, kamu ngapain ngajakin aku kesini? bukannya kita mau belanja makanan ya, kenapa malah ke butik sih?" tanya Arga.


"bentar Ga." ucap Rere. "Ga, kamu inget ga Silvi pernah frustasi gara gara putus sama pacarnya minggu lalu?"


"hump." Arga mencoba mengingat, "ah iya aku ingat, sampai ia mengurung diri kan dikamar"


"nah liat tu cowok, itu Andre mantannya Silvi, Silvi tu diputusin karna Silvi minta dinikain sama Andre."


"gimana ceritanya, minta nikah malah diputusin." ucap Arga heran. "dah ngintainya nanti lagi. kita belanja buat dapur resto dulu."


"ah Arga ga asik ah.. tapi kok beda wanita lagi ya"


"ayo," tarik Arga. sesampai di bahan makanan Rere bercerita kembali masalah Silvi. Manager Restoran baru mereka yang sempat buat Rere bingung tiba tiba murung dan frustasi hanya karna putus cinta..


kenalin dulu ya Rere Anastasya Pradipta.. Rere adalah adik sepupu Arga. tepatnya Anak dari Reska Tiara Pradipta.. saudara kembar dari Riska, maminya Arga.


"aku cerita ya Ga.. 2bulan lalu Silvi tu jadian ma Andre.. aku ga tau persis kenal dan deket mulai kapan, tapi keluarga Silvi dan kenal semua, dan karna mereka dan saling cocok Silvi minta Andre buat nikahin dia.. tapi banyak banget alasannya. dan katanya Andre tu suka banget pinjem uang dia.. alasanya banyak, mana yang buat mamanya berobat, buat tambahan setor mobil ini itu, karna bodohnya Silvi ya dikasih aja, padahal dia juga butuh buat renov rumahnya yg baru dia beli. kata Silvi sih sampe 30jt, gila kan silvi bodohnya gitu. trus sehari sebelum putus tu mereka ribut. Silvi mergokin Andre jalan ma cewek. sampe rumah Silvi dapet pesan foto Andre lagi gendong anak usia 1th.. dan itu anaknya ma Putri, tapi Silvi juga bilang kalau Putri tu bukan istri sahnya. karna cewek yang kemarin dia pergokin juga udah putus dan katanya Andre tu masih punya istri sah. tapi ga tau kemana dan ga mau cerai jadi dia cuma main main gitu."


"oh gitu.. dahlah gausah mikir yang penting Silvi aman.. selagi dia aman, resto kita juga aman kan.. hahaha" ucap Arga.


"cowok mah ga peka ga.. kasihan tau.. 30juta belom balik. malah ngilang tu anak, tau tau malah ma cewek lagi."


Arga menanggapi dengan cuek. Sekilas ia pernah melihat laki laki bernama Andre, namun ia tepiskan saat Rere bilang belanjaan cukup.


#flashback off


Sasa menangis melihat putri cantiknya yang masih tertidur. Pikirannya kacau. Tadinya ia ingin mengenalkan Chacha ke keluarga Andre sekaligus ia meminta cerai. Namun sekarang ia menemukan kenyataan yang berbeda. Bahkan Andre telah mempunyai anak dengan wanita lain..


"Maaf aku telah nyakitin kamu, jangan nangis lagi oke," ucap Arga sembari memegang pucuk kepala Sasa.


Sasa membersihkan airmatanya.


"Abang ngga salah, malahan abang benar, aku ga boleh nangis lagi, aku harus kuat demi Chacha. Apa yang harus aku lajuin bang?"


"Kamu yakin dengan rencana Abang Sa?"


"Insyaallah bang, asal Chacha bahagia,"


"Kita harus segera urus ceraimu, dan aku akan buat akta untuk Chacha sebagai putri kita, bagaimana Sa?"


"tanpa menikah akta itu ga bisa bang," ucap Sasa ragu.


Arga menepikan mobilnya. " Setelah kamu cerai kita menikah, dan urusan akta Chacha itu urusan abang, dengan begitu Chacha selalu milik kita."


"tapi Mamy dan Daddy bang?"


"apa kamu ga liat senangnya mamy dengan. Chacha. aku sudah bicarakan dengan mereka dan mereka setuju."


Sasa tak mampu membendung airmatanya. mereka lolos begitu saja dari mata Sasa. Adzan ashar berkumandang. Arga dan Sasa berhenti di sebuah Masjid untuk menunaikan kewajibannya bergantian , karna Chacha masih tertidur.


Perjalanan kota Sasa ( kota M ) ke kota X memakan waktu 5jam lamanya. Sesuai perhitungan Arga sampai di kota X sesudah Isya.. Karna mereka mampir ke restoran untuk makan setelah Chacha bangun dari tidurnya.


"eugh..." lenguh Chacha, sambil merentangkan kedua tangannya.. bagaimana ia tak nyenyak, Arga membuat jok belakang seperti kamar tidur, dengan kasur dan bantal sekaligus.. "apakah kita sudah sampai ibu?"


"Sebentar lagi sampai sayang. kenapa? kamu lapar nak?" ucap Sasa.


"Kalau Chacha lapar, Ayah akan mampir ke restoran yang Chacha suka.." ucap Arga.


"Ayah?" ucap Sasa bingung. Tapi nampak wajah Chacha yang murung. Arga menyadarinya langsung menepikan mobilnya ke salah satu restoran yang lumayan ramai.


Setelah memesan makanan, Arga mencoba berbicara dengan Chacha yang sedari di mobil diam dan mengacuhkannya..


"Chacha,"panggil Arga dan Chacha mendongakkan kepalanya. "Apa Chacha tidak suka dengan Ayah?" Chacha tetap diam namun ia menggelengkan kepala.


"lalu kenapa? adakah yang salah dengan ayah?"


"Om bukan ayah Chacha, ayah Chacha sudah lama meninggal, meski ibu bilang ayah kerja, tapi ayah tak pernah pulang, orang yang tak pernah pulang bukankah orang meninggal." ucap Chacha membuat Arga dan Sasa membisu sejenak.


"kalau ayah Chacha sudah meninggal, apa boleh Om menjadi ayah Chacha? om janji tidak akan meninggalkan ibu dan Chacha,"


"beneran ya Om. janji mau mainan sama Chacha juga?" tanya Chach antusias.


"janji sayang, mulai sekarang panggil Ayah ya.?"pinta Arga.


"baik Om.. eh Ayah" ucap chacha sambil tersenyum setelah itu makanan datang dan mereka melahap dengan sangat nikmat. Pemandangan ini membuat Sasa ingin menitihkan airmata. Ia kagum dengann sosok didepannya.


Selesai makan Arga dan rombongan melanjutkan kembali perjalanannya ke rumah Riska dan Chandra yang sedari tadi sudah menunggu..


Sekitar pukul 8 malam, mereka sampai. Riska dan Chandra yang tau mereka lelah langsung menyuruh mereka beristirahat. toh percakapannya masih bisa dilakukan pagi hari esok