
"Sasa"
Panggilan itu mengingatkan Sasa pada seseorang namun ia acuhkan, karna ia berfikir nama Sasa bukan hanya dirinya, dan nama itu hanya orang tersebut yang khusus memanggil Sasa
"kamu benar Sasa kan" ucapnya lagi. panggilan kali ini membuat Sabil menoleh ke arah suara
"Mami" ucap Sasa sambil mencium punggung tangan Riska
"kamu disini sedang apa Sa?" tanya Riska
"Ibu.." ucap seorang anak kecil
"Ibu?" ucap Riska terkejut "siapa anak itu Sa"
Sasa melambaikan tangannya ke arah anak kecil dan tersenyum "Mami ini Chaca, putriku"
"sayang ayo salim ke Oma Riska" ucap Sasa
"baik ibu" sembari mengulurkan tangan dan mencium tangan Riska
"dimana suamimu syang, kenapa dia tak mengantarmu, ini minggu seharusnya dia liburkan? dan kamu belum jawab pertanyaan Mami, kamu sedang apa disini?" tanya Riska
Pertanyaan Riska membuat Sasa menekukkan sedikit wajahnya setelah itu ia tersenyum.
"Suamiku ada dikota X Mi, dia bersama wanita lain dan keluarganya sudah mengetahui kelakuan itu mereka hanya diam, jadi aku pulang kesini, menata hidup dengan Chaca" ucap Sasa
"Breng***, berarti yang aku lihat selama ini benar, dia suami Sasa, Sasa yang amat aku cintai, aku lepas untuk ia jaga ternyata selama ini menderita" batin Arga yang sedari tadi dibelakang Sasa dan Riska, niat hati ingin menyusul Mamanya yaitu Riska karna tak ingin dekat dengan Sasa, karna ia belum mampu melupakan perempuan itu, tapi mendengar kenyataan, ia lebih menyalahkan dirinya.
"Sa.." ucap Arga
Sasa yang mendengar panggilan itu merasa familiar, ia pun menoleh.. Deg.. jantungnya terasa berhenti, lelaki itu menatapnya, sembari menangis.
"kenapa kau tak mencariku, aku pernah bilang aku akan selalu ada untukmu, maafkan aku, maafkan aku tak bisa menjagamu" ucap Arga sambil memegang tangan Sasa.
Canggung masih terasa di keduanya, namun Arga masih penasaran hingga Sasa memberanikan diri pulang ke kota kelahirannya
"Sa,, bisakah kamu ceritakan semuanya, kenapa jadi begini?" tanya Arga
Sasa tersenyum, senyuman yang selalu membuat Arga nyaman saat berada disampingnya.. Sasa menceritakan semuanya,, semua hal termasuk kenapa ia memilih menikah dengan Andre, suaminya. Supaya Arga tak salahpaham lagi dan tak menyalahkan dirinya sendiri sepenuhnya.
"Jadi dia masih suamimu? kapan kamu menceraikannya Sa.." tanya Arga
"Dia masih suamiku kak, aku minta maaf kak, dulu aku bingung, dan apa maksud kakak kapan aku bercerai?" ucap Sasa
"Apakah kamu ingin seperti ini seterusnya Sa? menggantung seperti ini" ucapan Arga membuat Sasa merenung, banyak keluarga yang menyarankan untuk berpisah tapi apalah daya Sasa berjuang seorang diri untuk anaknya, karna Andre tak pernah memberi uang sepeserpun.
"Lihatlah Chaca Sa.. dia butuh sosok seorang ayah, jika Andre tak mampu, aku mampu Sa,, aku mau jadi ayah untuk Chaca" ucapan Arga membuat Sasa menangis, sungguh dia menyesal dengan keputusan dulu, tapi nasi sudah menjadi bubur.
"Sa.. kenapa diam saja" tanya Arga kembali.
"Sasa pikirkam lagi ya kak, Sasa hanya ingin Chaca bahagia kak" ucap Sasa,
"Chaca" panggil Sasa kepada anaknya " kita pulang dulu yuk sayang, udah siang, waktunya sasa bobo siang" ucap Sasa mengingat anaknya masih umur 3th, masih sering tidur siang.
"Kakak antar ya Sa.. ga apa kan Mi kita antar Sasa pulang?" tanya Arga pada Riska.
"Gapapa kok, Mami malah senang tau rumahnya Sasa" ucap Riska
"Ayo Ibu, Chaca ngantuk," rengek Chaca
"Itu Chaca dah 5watt lho, ga kasihan dijalan kepanasan Sa.. kamu apa ga susah peganginya?" bujuk Arga.
"Trus motor aku gimana?"
"Nanti biar Kang Ujang aku telp"
"Ngga repot kan kak,Mi?" tanya Sasa.
"Apasih yang repot buat Sasa," ucap Arga. Ucapan Arga membuat Riska sedikit lega, Arga sudah mulai bisa bercanda lagi, tersenyum lagi, setelah insiden pernikahan Sasa, Arga menjadi pendiam dan suka menyendiri termasuk dengan orangtuanya.
Sasa menggendong Chaca, karna ternyata tak kuasa menahan kantuk. Mobil Arga melaju menuju arah rumah orangtua Sasa.
Sesampai dirumah, Sasa mempersilahkan Arga dan Riska masuk, sementara Riska menidurkan anaknya dan membuatkan minuman serta camilan. Ibu begitu kaget melihat ada tamu di ruangtamunya.
"Diminum Mi, Kak, seadanya dan aku masih hafal, kakak tidak suka terlalu manis" ucapku
"Karna memandangmu sudah cukup manis" ucap Arga.
Narti ( Ibu Sasa ) menatap Arga dan Sasa bergantian, terlihat rona berbeda di wajah Arga.
Saat Narti dan Sasa duduk didepan Arga dan Riska, Arga mengutarakan apa yang ia ucapkan tadi.
"Ibu, perkenalkan saya Arga, dan ini Mami saya Riska" ucap Arga sembari anggukan dari Riska
"Ibu apa Bapak ada?" tanyanya lagi.
"Ada dibelakang, baru pulang kerja"
"kakak mau bicara sama bapak?" tanya Sasa sembari diangguki Arga dan ia bergegas ke belakang meminta bapaknya bersih2 dan kedepan.
Setelah ke sampai di ruang tamu..
"Bapak Ibu, mohon maaf sebelumnya jika nantinya saya menyinggung perasaan kalian, tapi bolehkah saya meminta Sasa untuk Istri saya, dan Chaca sebagai anak saya?" ucapan Arga membuat semuanya membisu.
"Apa nak Arga tau jika Sasa masih berstatus isi orang,dan apa nantinya tidak membuat anda malu, anda orang terpandang, namun menikahi seorang janda. "
"Insyaallah saya tidak menyesal Pak, dulu sampai sekarang saya belum mampu melupakan wajah cantiknya. Saya masih mencintainya." jelas Arga
"Saya mau pak menjadi ayah dari Chaca. saya mau membahagiakan mereka berdua.."
"kalau bapak terserah apa kata Sasa, tapi tolong beri waktu agar Sasa bisa memiliki biaya untuk mengajukan perceraiannya"
"kami akan menanggung semuanya, bapak tidak usah kawatir. Sasa bagaimana?" timpal Riska.
"Aku, ...." Sasa terdiam,, kota itu menyimpan banyak luka, apakah ia sanggup kembali kesana, " Aku pikirkan dulu, jika Chaca mau, insyaallah aq mau pak"
"Baik pak bu, kami permisi dulu, hari mulai petang, esok kami kesini lagi" ucap Arga
"Ya nak Arga, hati hati dijalan" ucap Bambang saat Arga mencium punggung tangannya.
Sasa mengantarkan Riska dan Arga hingga ke mobil. Arga mengingatkan Sasa untuk tawarannya besuk karna ia akan kembali ke Kota X lusa.. Sasa hanya tersenyum sebagai mengiyakannya.