Salsabila Alexandra

Salsabila Alexandra
bab 2


"Sabil, sini sebentar nak" panggil Bambang pada putrinya. Setelah Sabil duduk Bambang mengutarakan keinginannya.


"Nak, bukannya bapak mau mencampuri urusan rumahtanggamu, tapi apakah kamu mau terus - terusan berdosa? hubungan kamu dan suamimu seperti ini dosa nak. jika ingin kau lepas maka lepaskan, Arga terlihat serius dengan ucapannya, harusnya kamu lebih paham dia dari bapak yang hanya sekali bertemu." ucap Bambang dan beranjak dari kursinya menuju Masjid disebelah rumahnya untuk sholat magrib.


Sabil masuk kamar dan merenungi semua ucapan bapaknya, dia masih trauma saat mengingat hal yang terjadi disana, dikota X bersama Andre suaminya


Flashback on


5tahun lalu, Salsabila Alexandra, gadis 18th yang baru lulus sekolah memutuskan untuk pergi merantau ke kota X, mencoba peruntungan untuk membantu orangtuanya.


Sabil, itulah panggilan untuknya dari keluarga dan teman teman kerjanya, Sabil bekerja sebagai staf administrasi di Hotel CR, hotel megah di kota X, berbekal kepintaran dan ijasah SMK Akuntansi dengan nilai terbaik ia mampu masuk ke Hotel tersebut.


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, hari ini tepat satu tahun Sabil bekerja disana, dan sekarang ia mampu menjadi seorang Manager pembukuan di hotel tersebut. Banyak yang iri dengan jabatan Sabil, namun banyak pula yang menguji kerjakerasnya hingga membuahkan hasil.


Hari ini ada rapat penting yang diadakan oleh pemilik Hotel tersebut, semua manager berkumpul di Hall untuk memenuhi panggilan si empunya hotel.


Ruangan hening ketika seorang paruh baya dengan kaos kasualnya dan berdiri dibelakangnya perempuan cantik dan laki laki mungkin seusia Sabil. Laki laki tampan yang membuat seisi ruangan berbisik.


"Selamat pagi semua" ucap Chandra.


"Pagi pak" jawab serempak.


"Saya mengumpulkan kalian disini untuk membahas sesuatu" ucap Chandra, "kalian pasti tahu mereka, tapi yang masih baru pasti belum tahu saya perkenalkan dulu, ini Riska Tiara Wardhana, istri saya" menunjuk perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik, "dan ini anak saya Argantara Bima Wardhana," tunjuk Chandra pada laki laki itu.


"Mulai hari ini Arga akan bergabung dengan kita, karna dia libur kuliahnya dan memutuskan akan membantu kita, dia ada didepartemen administrasi, tolong untuk Sabil bisa mengajari dia."


"Baik pak." ucap Sasa. "duh kenapa dibagianku sih, kerjaanku lagi numpuk akhir tahun gini"gerutu Sabil dalam hati.


"Meering hari ini selesai, tolong beritahu rekan kerja kalian, terimakasih" ucap Chandra dengan ketegasan.


Sabil berjalan keluar dan tak disangka Arga mengikutinya dari belakang, Arga yang memakai kaos dan celana jeans menjadi pusat perhatian banyak karyawan dan penginap di hotel. Setelah sampai di ruangannya Sabil tak lupa memperkenalkan Arga kepada semua rekan kerjanya di divisi Administrasi.


Ceklek,, Sabil membuka pintu ruangannya, "silahkan masuk tuan Arga"


Arga menyengritkan dahinya, "jangan sungkan seperti itu. santai sajalah dengan saya, saya bukan ayah saya yang, umur kita sepertinya juga tidak jauh, panggil saya kakak saja." Arga mengerdipkan satu matanya .


"Baiklah kak, mari kita mulai pekerjaannya sekarang," ucap Sabil.


Satu minggu sudah Arga mengikuti Sabil, hingga jam makan siang Arga selalu bersama Sabil, hingga menimbulkan suatu tanda tanya oleh Candra dan Riska.


"Sa.. nanti malam aku jemput ya, aku ingin ke taman kota. Bagaimana?" tanya Arga disela makan siangnya.


"Boleh, malam ini aq juga senggang." ucao Sabil karna memang ia sendiri dirumah kos.


Hari berganti petang, Arga berpamitan untuk menemui Sabil. "Mi, Arga pamit ya, mau jalan ma Sasa"


"Sasa? perempuan mana lagi Ga, setau Mami kamu ga lagi dekat sama cewek ya" tanya Riska


"Ump.. Sasa itu Sabil Mi, hehe" ucap Arga.


"Oh. okey, jangan pulang larut ya"


"Iya Mi, Arga pulang pagi sekalian aja ya" jawabnya sembari berlari, membuat Riska berdecak kesal


Arga memasuki mobil dan melaju ke rumah kost Sabil. Arga membunyikan klakson tanda ia sudah sampai, Sabil beranjak keluar dan memasuki mobil Arga.


"Kamu cantik Sa.."


"Biasa aja kak, kita jadi ketaman kota?"


"Ump.. kayanya ga jadi deh, ke pantai aja yuk, melepas penat Sa.. mau ya"


"Baiklah" jawab Sasa pasrah, dia hanya menggunakan kaos lengan pendek dan jeans tanpa jaket, ia pikir akan panas jika di taman.


Arga fokus membelah jalanan yg sedikit macet karna malam minggu. setelah sampai ia memarkirkan mobilnya dekat dengan lautan.


"Sa.. apa kamu ga suka kita kesini?" tanya Arga


"Suka kok kak, cuma aku sedikit dingin." jawab Sabil sembari tersenyum.


"Maaf Sa" Arga beranjak ke mobil dan mengambil jaket miliknya, "ini pakai Sa, biar ngga kedinginan."


"makasih."


Setelah puas menikmati udara di pantai Arga mengajak Sabil menikmati makan malam di restoran dekat pantai itu.


"Sa.. nanti lembur ngga?" tanya Arga.


"hump.. ngga kayanya kenapa?"


"nanti nonton yuk Sa.. abis tu kita dinner, sebelum kita berpisah"


"okelah"


sepulang kerja Arga menyempatkan membersihkan diri, berkaca pada diri sendiri apakah ia mampu mengutarakannya sekarang..


setelah sampai dikos Sabil, ia melihat Sabil telah menunggu diteras. Sabil mengenakan dress selutut yang membuat Arga kagum, karna biasanya Sabil selalu memakai celana jeans.


Keesokan paginya, Sabil dan orangtua Arga mengantarkan Arga ke bandara kota X, Sabil merasa berat melepas, namun ia tepiskan karna mereka tak ada hubungan spesial sama sekali.


"Daddy, aku berangkat ya, tolong jaga Mamiku dan Sasaku. jangan sampai mereka terluka" pamit Arga sembari memeluk Chandra. dibalas anggukan dan senyuman tipisnya


"Mami, aku berangkat, jaga kesehatan, jangan lupa makan ya" ucapnya pada Riska


"iya sayang, kamu juga jaga kesehatan, jangan telat makan, dan tepati janjimu pada kami"


Arga beralih menatap Sabil / Sasa, wanita yang ia anggap spesial namun tak mampu mengutarakan. "Sasa, tolong aku, tolong tunggu aku kembali" Ucapan Arga membuat Sabil bingung, apalagi setelah ia mengecup kening Sabil.


Arga telah kembali ke kota dimana ia menimba ilmu, Chandra dan Riskapun kembali ke kediamannya. Sabil melangkah ke kamar kostnya.


Beberapa bulan telah berlalu, kini Sabil sedang berada ditaman kota dengan seorang anak kecil. Anak kecil yang hilang dari pandangan orangtuanya, saat di taman itu juga beberapa waktu lalu, karena bertemu kembali maka mereka berbincang bincang.


"Sabil, apakah kamu sudah mempunyai kekasih" tanya Ayu, mama dari Vino anak kecil itu.


"Memangnya kenapa kak?"tanya Sabil curiga.


"Ump, ibu saya ingin bertemu denganmu, berencana menjodohkan kamu dengan Andre adikku. apakah kamu bersedia?"


"Tante, mau antar Vino ke tempat Nenek?" tanya Vino sembari menarik ujung baju Sabil. Karena Sabil terdiam, membuat Vino merengek, "ayolah tante, anterin Vino"


Sabil menghela nafasnya, "baiklah, mari tante antar"sambil menggandeng Vino. "Kak Ayu, untuk tawaran itu nanti Sabil pikir dulu ya, Sabil tanyakan ke orangtuaku dulu" ucapnya sambil mengulur waktu.


Sesampainya dirumah sakit, Sabil menemui Neneknya Vino, dan disana sudah ada semua keluarganya, bahkan telah ada Andre.


Nenek mengutarakan niatnya menjodohkan Sabil dengan anaknya, dengan tameng sakitnya yang semakin parah. Lebih parahnya lagi ia mengucap bahwa itu permintaan terakhirnya.


Sabil melangkah gontai ke dalam kamar kosnya, merebahkan badannya ke kasur kecil miliknya.


"Aku harus bagaimana, Kak Arga memintaku untuk menunggu, tapi untuk apa, dan hubungan apa yang aku jalani selama ini.. sekarang datang masalah seperti ini. aku harus bertanya siapa?" ucapnya pada diri sendiri. "ah iya tanya ibu dan bapak, pasti mereka tau"


Sabil bergegas menelfon orangtuanya sekaligus melepas rindu.


tut..tut..tut..


"assalamualaikum bapak."


"waalaikumsalam nak."


"bapak bagaimana kabar disana? semua sehat kan? Sabil kangen pak."


"alhamdulillah, semua sehat nak, kamu disana sehat juga kan? jaga pola makan dan kesehatan. kami juga merindukanmu, kapan kamu pulang nak,"


"alhamdulillah kalau begitu, baik pak Sabil juga sehat sekali, akhir minggu besuk Sabil pulang, Sabil sudah cuti 3hari."


Setelah lama melepas rindu dengan Bapak, Ibu dan Bilqis adiknya ia mulai bertanya pada bapaknya.


"Bapak, boleh Sabil menanyakan sesuatu?"


"Apa nak, tanyakanlah sebisa mungkin bapak jawab, apakah kamu sedang ada masalah?"tanya sang Bapak.


"Pak, Sabil dipinang oleh lelaki, tepatnya ibu dari lelaki itu meminang Sabil, dan menyakinkan jika itu pilihan yang tepat untuk anaknya sebelum ia meninggal, ia ucap ia sakit parah dan itu keinginan terakhirnya, Sabil harus bagaimana pak? Sementara Sabil belum pernah mengenal lelaki itu, apakah dia baik atau tidak."


"Nak, itu amanah, jika kamu mampu menjaganya akan menjadi pahalamu. dan bagaimana jika benar itu keinginan terakhirnya, apa kau tidak menyesal? masalah kenal dan mencintai, suatu saat dengan saling bertemu akan saling mengenal, tapi semua bapak terserah Sabil, jika kamu yakin maka terimalah, jika tidak maka tolaklah dengan halus, bapak dan ibu hanya mendoakan yang terbaik."


"baik pak, terimakasih sarannya. Ini sudah magrib, Sabil sholat dulu ya pak.. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam nak.


Panggilan itu terputus. Sabil melangkah menuju kamar mandi, membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya seusai mandi.