
Hari ini adalah hari dimana Sabil akan menikah, dengan Andre tentunya. Desakan penuh desakan hingga kesehatan orangtua Andre membuat Sabil memutuskan untuk menerima lamaran itu.
Meski menyayangkan keputusan Sabil, Chandra dan Riska menerima alasan Sabil tapi entah dengan Arga,putranya.
Ijab Qobul terjadi dengan khusyuk dan khidmat. Setelah para saksi mengucap Sah, kehidupan Sabil mulai berubah, menyandang status istri Andre, laki laki yang baru saja ia kenal beberapa waktu lalu.
2 bulan kemudian Mama Andre drop dan masuk rumah sakit karna memang ternyata pembengkakan pembuluh darah diotak sudah sangat parah.
Sabil merasa tertekan karna Mertuanya itu meminta seorang cucu padahal Allah belum memberikan pada mereka.
"Sabil, kapan kamu akan mengandung anak Andre?" ucap mertuanya sambil memegang tangan Sabil.
Sabil tak begitu semangat mendengar kata itu, pasalnya setiap hari selalu menanyakan hal itu.. Ia pun tersenyum, "segera Ma, Mama tidak usah khawatir."
"Waktu Mama sudah tidak banyak, hanya ingin melihat Andre mempunyai anak cukup buat Mama."
"Mama jangan bicara seperti itu, Sabil sudah telat kok, nanti kita priksa ya kan sayang," ucap Andre sambil meremas tangan Sabil.
Sabil tersenyum, namun sebenarnya ia meringis kesakitan karena Andre meremas tangan sabil sangat kuat.
Seminggu kemudian Andre mengabarkan pada keluarganya kalau Sabil sudah mengandung 6minggu. Semuanya bahagia begitupun dengan Mamanya.
"Ma, akukan sudah bilang Sabil akan mengandung anakku, dan sekarang sudah masuk 6minggu, Mama cepatlah sembuh, apa Mama tidak ingin menggendong bayiku nanti?" ucap Andre.
"Andre, mama sudah tak punya banyak waktu, pesan Mama jaga istri dan anakmu, tinggalkan sifat burukmu, jika kamu sayang mama, jika kamu hargai mama maka kamu harus hargai istrimu, karna dia ibu dari anak anakmu." ucap mamanya
"Kenapa Mama ngomong begitu, mama harus bertahan ma," ucap Ayu.
"Mama, anak dan cucu mama masih membutuhkan mama, apalagi sabil ma, jangan ngomong yang ngga ngga ya" timpal Sonya. Sonya adalah istri dari Toni, kakak dari Andre.
"Iya ma, jangan ngomong gitu, sekarang istirahat ya." ucap Toni.
Setelah itu Mama Andre tidur. Dan terjadi pertengkaran diluar ruangan.
"Kak, aku mau mama dipindah ke rumahsakit yang paling bagus aja, biar aku dan Mas Damar yang carikan, yang penting Mama selalu ada didunia ini."ucap Ayu.
"Tapi dek, tunggu dokter dulu ya. aku tau kamu banyak uang karna suamimu berkerja dipenambangan, tapi bukan berarti kita harus memaksakan kehendak." ucao Toni.
"ngomong sama kaka tu sama aja. aku tu masih butuh mama kak" ucap Ayu.
"mohon tenang ya bapak ibu, banyak pasien sedang istirahat." ucap salah satu suster. Perdebatan pun selesai, namun saat itu Mama andre mengalamu drop dan meninggal karena memang sudah tidak mampu lagi menahan sakit, terlebih lagi itu sudah takdir.
Semua orang terpukul atas kematian Mama Andre, dan yang paling mendalam adalah Andre. Setelah pemakaman selesai semua pergi kerumah Ayu, karna selama ini Mamanya memang tinggal bersama Ayu.
Hari, berganti minggu, dan perubahan sifat Andre ke Sabil semakin terasa. Andre tidak mau berkerja lagi, dia hanya duduk diam dirumah, sekali keluar pulang tengah malam dan bau alkohol. Belum lagi beberapa waktu lalu Sabil melihat ada pesan dari seorang wanita yang memangggil Andre dengan sebutan sayang.
"Mas, ini hpnya bunyi." ucap Sabil sembari memberikan hp ke Andre. Menunggu Andre yang hanya mengambil hpnya tanpa menjelaskan, maka Sabil berinisiatif untuk bertanya.
"Mas, maaf aku lihat itu pesan dari seorang perempuan dan mengucap sayang ya?" ucap sabil.
"Oh, kamu sudah berani liat hp aku?" kata Andre ambil menjambak rambut Sabil, "jangan pernah kamu coba buat ngintip lagi ya" ucap Andre sambil mendorong Sabil ke ranjang tanpa memeperdulikan anak dikandungannya yg berusia 2bln.
"Dan satu lagi, kamu hanya orang yang diinginkan Mama untuk jadi istriku,bukan aku yang menginginkanmu, jadi jangan pernah mengurusi aku mau dengan wanita manapun karna Mama sudah tidak ada disini." tambah Andre.
Sabil menangis menatap kepergian Andre. Ia bersusah payah kerja, tapi balasan Andre malah menyakitkan.
drt..drt.. terdapat pesan di hp Sabil.. foto perempuan cantik dan Andre sedang makan bersama. Disebelah lagi ada Ayu dan Damar, tertera dalam pesan itu "secepatnya kamu pergi dari keluarga Andre, karna Andre hanya mencintaiku, dan aku sudah dekat dengan Kak Ayu dan Kak Damar".
"Ya Allah, apa lagi ini" ucap Sabil dalam hati. Karna penasaran maka Sabil mendatangi rumah Ayu, kakak iparnya.
Sesampainya dirumah Ayu.
tok.. tok.. tok.. "Assalamualaikum kak" ucap Sabil.
"Waalaikumsalam. Eh Sabil, sama siapa dek? Sini masuk." ucap Ayu manis.
"Sendirian aja kak. Kak boleh aku tanya sesuatu?" tanya Sabil agak takut.
"Tanya apa dek, kok mukanya takut gitu. Ayo sini ngomong" kata Damar yang keluar menuju ruang tamu.
"Foto ini?" ucap Sabil sembari melihatkan foto yang ia dapat tadi, "apa kakak mengenalnya" tanya Sabil.
"Oh itu teman Andre dek. Kenapa kamu tanya? apa Andre belum mengenalkan padamu?"tanya Damar pada Sabil.
"Kok mukamu kaget gitu dek. Ada apa sayang cerita sama kakak?" jawab Ayu.
Sabil menceritakan semuanya, mulai dari pesan dan foto, kelakuan Andre yang main perempuan termasuk sikap Andre yang berubah. Respon Ayu dan Damar berbeda, Damar terlihat emosi namun berbeda dengan Ayu yang malah membela Andre.
Setelah itu Sabil pulang ke kontrakannya.. ya Sabil masih mengontrak rumah. Meski ia masih bekerja di Hotel dan jabatannya Manager Administrasi, ia belum mampu membeli rumah sendiri.
Satu minggu setelah itu, dan tepat usia kandungan Sabil 4bulan. Sabil mendapat pil pahit, bukan karna anak di kandungannya bermasalah, namun entah bagaimana Andre dan Selingkuhannya mencuci otak Ayu dan Damar sehingga mereka membenci Sabil dan menyuruh Sabil untuk meninggalkan Andre, karna Andre sudah memiliki Sonya. Wanita yang lebih dari Sabil.
Sabil hanya menangis, meratapi nasib buruknya. Saat mengandung ingin berada disampinh suami, tapi malah suaminya berbuat seperti itu. 3hari setelah kejadian itu Sabil memutuskan untuk resign dan kembali ke kota tempat ia di besarkan.
#Flashback Off
"sudah siap Sa?" tanya Arga, membuyarkan lamunan Sasa.
"Udah kok bang" jawab Sasa. Sasa harus kembali meninggalkan rumah ini. Rumah kedua orangtuanya. Rumah yang 3th lalu menerima dan menjadi penopanh hidupnya. Ia teringat pesan bapaknya untuk kembali ke kota X. "Sabil, bukannya Bapak ingin membuat kamu mengenang semua luka dulu, tapi perlihatkanlah pada mereka bahwa kamu mampu, lihatlah putrimu Chacha, dia memerlukan ayah, dia memerlukan identitas nak. dengan bantuan Arga, bapak yakin semua pasti bisa, kamu tau negara kita bagaimana. kuasa dan uang mampu mengalahkan hukum nak. pikirkanlah yang matang, demi Chacha."
"Chacha sayang, pamit sama nenek dan kakek." ucap Sasa.
Chacha menyalami nenek dan kakeknya, sementara tante Bilqis sedang ada kelas kuliahnya. Sasa pun berpamitan dengan orangtuanya.
"Pak, Bu, Sabil pamit ya.. bapak ibu jaga kesehatan, kalau ada apa apa segera kabari sabil"
"iya nak, kamu jaga kesehatan, jaga Chacha juga ya " jawab Ibu.
"Nak hati hati disana. ingat pesan bapak. kesampingkan egomu sakitmu, demi Chacha." ucap bapak.
"bapak ibu, saya pamit," ucap Arga.
"hati hati dijalan ya nak. Kami titip Sabil dan Chacha. terimakasih untuk bantuannya" ucap Bapak..
setelah menyalami Orantua Sasa, mereka menaiki mobil dan beranjak meninggalkan rumah Sasa dikota kelahirannya.
"semoga ini jalan yang terbaik dan semua akan baik baik saja" ucap Bapak Bambang dan diamini oleh istrinya.