
Ditrian merasa bingung karena mendapat laporan jika Fiona akan pergi tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
Lelaki itu bergegas menemui istrinya yang pada saat itu sudah siap untuk pergi.
Di kamar mereka sudah tidak ada, Fiona berada di halaman bersama pelayan yang membantu membawakan barang yang dibawa oleh perempuan itu.
"Fiona..." panggil Ditrian.
Fiona membalik badan dan berusaha bersikap biasa saja.
"Aku merindukan orang tuaku jadi aku mau menginap di mansion daddy Erik," ucap Fiona.
"Kenapa tidak bilang, aku akan mengantarmu," sahut Ditrian.
"Daddy sudah mengirim supir untuk menjemputku jadi tidak perlu, aku pergi dulu." Fiona pun langsung masuk ke dalam mobil.
Ditrian tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres jadi dia akan menyelidikinya.
Karena dia tengah menghemat Mananya, Ditrian melakukan penyelidikan manual.
...***...
"Fiona..." panggil Maudy ketika melihat putrinya datang.
Namun, ada yang aneh, Fiona terlihat lesu.
"Apa kehamilanmu mengalami mabuk?" tanya Maudy jadi cemas.
Fiona menggeleng. "Aku ingin istirahat!"
"Cepat masuk kamarmu!" Maudy membantu putrinya untuk masuk ke kamar.
Di depan Maudy memang Fiona seolah baik-baik saja tapi saat ibunya itu pergi, Fiona tumbang. Dia kembali lemah.
Saat mengingat suaminya dia jadi menangis, mungkin karena hamil jadi Fiona sangat sensitif.
Fiona kemudian mencoba melakukan pemusatan energinya seperti buku yang dia baca. Tapi, selalu saja gagal.
"Ini percuma," gumam Fiona.
Dia tidak mungkin bisa mempelajari sihir dalam waktu singkat apalagi dengan kondisinya yang lemah.
Karena kelelahan Fiona tertidur dan dia terbangun karena mencium aroma masakan.
"Kau sudah bangun, Fiona?"
Fiona sangat mengenal suara itu. "Ditrian?"
Ditrian meletakkan nampan makanan ke pangkuannya kemudian dia mencoba menyuapi istrinya. "Memang aku tidak boleh menyusul istriku?" tanyanya balik.
"Makanlah dulu!"
Tentu saja Fiona menolak, dia jadi was-was dengan apa yang Ditrian berikan padanya.
"Aku tidak mau dan tinggalkan aku sendiri," ucap Fiona seraya masuk ke dalam selimut.
Ditrian menghela nafasnya. "Apa kau takut makanan ini ada racunnya?"
"Aku sudah tahu semuanya, Fiona. Kenapa kau pergi tanpa bertanya?"
Tidak ada tanggapan dari Fiona, dia yang keras kepala tentu tidak mau mengalah begitu saja.
"Mustahil belajar sihir dalam waktu singkat jadi aku berpikir bagaimana caranya supaya kau mendapatkan Mana, jadi aku memutuskan untuk memberikan Manaku padamu," jelas Ditrian seraya mengeluarkan botol obat dari dokter sebelumnya.
"Aku ingin mentransfernya melalui obat kalau aku langsung memberikan Manaku tanpa perantara itu akan berbahaya," sambungnya.
Mendengar itu semua, Fiona keluar dari selimut ternyata dia salah paham.
"Apa itu benar? Lalu bagaimana denganmu?"
"Untuk sementara aku tidak bisa menggunakan sihirku,"
"Ditrian,"
Fiona langsung memeluk suaminya, dia tidak menyangka Ditrian akan bertindak sejauh itu karena akan membahayakan nyawanya sendiri.
"Kenapa kau selalu begini?"
"Aku tidak mau kehilanganmu, Fiona,"
Mereka pun berciuman sejenak sampai akhirnya Ditrian mengeluarkan obat yang sudah bercampur Mana miliknya.
"Minumlah,"
Walaupun ragu, Fiona tetap meminumnya karena percaya pada Ditrian.
Awalnya memang tidak terjadi perubahan dalam tubuhnya, Fiona merasa seperti biasa saja.
Namun, keesokan paginya perut Fiona mulai membuncit dan itu membuatnya panik.
"Ditrian, kenapa perutku membuncit?" tanyanya.
"Itulah efek sampingnya, bayinya akan berkembang dengan cepat," jawab Ditrian yang sekarang merasa lemah. Dia akan melakukan apapun untuk Fiona dan calon bayinya.