
Berita kehamilan Fiona menjadi kabar membahagiakan di kastil Esperland. Ditrian bahkan meliburkan akademi sihirnya karena ingin menjaga istrinya, dia harus memastikan Fiona baik-baik saja.
Ditrian begitu posesif karena masih takut tiba-tiba Fiona menghilang.
Saat ini Ditrian memandangi Fiona yang tertidur, kehamilan Fiona membuat perempuan itu cepat lelah.
"Karena bukan dari keturunan penyihir, Nyonya tidak mempunyai Mana, maka dari itu janinnya menyerap energi ibunya. Jadi, selama masa kehamilan Nyonya akan mengalami kelelahan walaupun masih di trimester pertama," jelas dokter yang baru memeriksa Fiona.
Ditrian membuang nafasnya kasar, dia tidak berpikir sejauh ini sebelumnya.
"Apa kehamilan ini akan membahayakan nyawa Fiona?" tanya Ditrian. Dia lebih mementingkan keselamatan istrinya.
Walaupun garis kematian Fiona sudah putus tapi masih banyak kemungkinan jiwanya terancam.
"Saya tidak bisa memastikan, semua tergantung kondisi Nyonya," jawab dokter itu.
"Kita lihat perkembangan kehamilan ke depannya," sambungnya.
Ditrian harus membicarakan masalah ini pada Fiona nantinya.
Ketika dokter sudah pamit undur diri, Ditrian masih menunggu sampai istrinya bangun.
"Ditrian...." panggil Anne yang mengunjungi menantunya dengan semangkuk sup daging. "Fiona belum bangun?"
Anne meletakkan sup dagingnya di atas nakas pelan-pelan karena supnya masih panas.
"Aku takut Fiona tidak bisa bertahan, Bu," ungkap Ditrian.
"Fiona adalah wanita kuat, Ibu yakin dia pasti bisa melewati masa kehamilannya," balas Anne. Walaupun dia juga cemas tapi Anne tidak mau menunjukkannya pada Ditrian.
Tidak mau mengganggu, Anne pun pergi dan tak lama Fiona pun terbangun.
Kepalanya sangat pusing, dia melenguh yang membuat Ditrian membantu istrinya duduk.
"Sayang..." Fiona memanggil suaminya.
"Aku di sini!" Ditrian mengambil air putih dan meminta Fiona untuk meminumnya. "Minumlah dulu, Fiona!"
Fiona menurut dan tersenyum karena Ditrian yang perhatian. "Aku seperti orang sakit, apa semua wanita hamil mengalami ini?" tanyanya.
"Kenapa kau berbicara seperti itu? Kau tidak menginginkan bayi kita?" tanya Fiona.
"Aku hanya tidak mau terjadi sesuatu padamu," sahut Ditrian.
Fiona mengusap pipi suaminya. "Aku tidak apa-apa dan aku akan berjuang sampai akhir jadi jangan khawatir!"
Gadis itu melihat sup daging di atas nakas dan langsung memakannya. "Lihatlah aku bisa makan banyak, apa ini buatan ibu mertua?"
"Sini!" Ditrian merebut mangkuk sup itu dan menyuapi istrinya.
Sejenak mereka melupakan masalah yang ada, Fiona terus memaksa supaya sup daging habis sampai tidak bersisa. Dia harus kuat apapun yang terjadi.
"Aku mau jalan-jalan di luar," pinta Fiona.
Ditrian menuruti permintaan istrinya, mereka berjalan keluar untuk mencari udara segar. Walaupun tampak lemah, Fiona tidak mau digendong suaminya.
"Bagaimana kalau kita melakukan taruhan?" usul Fiona tiba-tiba.
"Taruhan apa?" tanya Ditrian.
"Bukan taruhan tapi semacam tebak-tebakan, kira-kira bayi kita laki-laki atau perempuan? Nanti wajahnya mirip siapa?" Fiona mencoba mencairkan suasana.
"Yang jelas kalau laki-laki pasti mirip denganmu, Sayang,"
"Kalau perempuan pasti mirip denganku, asal mereka tidak mewarisi sifatku,"
Ditrian tidak suka mendengarnya. "Memangnya sifatmu kenapa?"
"Aku menyukainya,"
Ditrian menangkap tangan Fiona yang membuat langkah mereka terhenti. "Aku merindukan kelasmu!"
"Maksudmu kelas bercinta?" goda Fiona.
"Tunggu tenagaku kembali, aku punya gaya yang membuatmu tidak bisa berkedip," sambungnya.