
Fiona dan Ditrian masih menikmati waktu mereka berdua. Ditrian menggandeng tangan istrinya dan mereka seperti sepasang kekasih yang baru berkencan.
Hubungan keduanya berbeda jauh daripada dulu saat mereka baru bertemu.
"Kira-kira apa aku bisa belajar sihir juga?" tanya Fiona tiba-tiba.
"Bisa tapi untuk sekarang aku tidak akan mengijinkan karena itu akan menguras banyak energimu," balas Ditrian.
Lelaki itu mengajak Fiona untuk duduk di bangku taman karena takut istrinya kelelahan. Dia juga akan membicarakan perihal kehamilan Fiona supaya Ditrian tahu langkah apa yang akan dia ambil nanti.
"Fiona...." panggil Ditrian seraya menggenggam tangan istrinya. "Apa kau menyayangi bayi kita?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanggap Fiona.
"Aku akan menyayangi bayi kita dengan sepenuh hatiku."
"Walaupun bayi itu membahayakan nyawamu?" tanya Ditrian lagi.
"Aku bahkan akan memberikan nyawaku untuknya," jawab Fiona tanpa ragu.
Perempuan itu mengusap perutnya yang masih rata. Dia merasa bersyukur dengan kehamilannya itu.
Sepertinya Ditrian harus segera memberitahu Fiona mengenai keadaan jika istrinya tetap mempertahankan bayinya.
"Fiona, kau harus menggugurkan bayi itu!" pinta Ditrian.
Demi apa, Fiona sangat syok mendengar permintaan suaminya.
"Kau bicara apa!" protes Fiona.
"Dengarkan aku dulu." Ditrian semakin menguatkan genggaman tangannya supaya Fiona tidak kabur. "Bayi itu sangat berbahaya!"
"Kau tidak mempunyai Mana jadi bayi itu perlahan-lahan akan menyerap energimu. Itulah kenapa kau jadi lemah seperti sekarang, untuk ke depannya mungkin akan lebih parah jadi..."
"Sebelum terlambat lebih baik kita gugurkan saja!"
Fiona mengangakan mulutnya, dia tidak percaya Ditrian akan memilih menggugurkan bayi mereka disaat dia belum mencoba berjuang.
Ditrian hanya bisa menatap istrinya itu, dia sangat tahu jika Fiona adalah perempuan keras kepala. Tapi, dia tidak mau kehilangan istrinya.
"Jika kau mati lagi, aku tidak bisa membuatmu kembali lagi, Fiona," ucap Ditrian tertunduk lesu.
Tentu Fiona paham akan kecemasan suaminya itu, pasti ada cara lain selain menggugurkan kandungan.
"Bagaimana cara supaya bisa mendapatkan Mana? Aku ingin mempelajarinya." Fiona mencoba memikirkan solusinya.
"Itu bukan perkara mudah, kau harus belajar sihir untuk itu dan lagi-lagi energimu akan terkuras," jelas Ditrian.
Fiona melepas genggaman tangan suaminya untuk meraup wajah tampan yang mencemaskannya itu. "Kita belum mencobanya, ajari aku sihir! Aku pasti bisa!"
"Kau selalu membuatku tidak bisa menolak permintaanmu," balas Ditrian.
Baiklah, Ditrian akan mengikuti permintaan Fiona itu. Dia memeluk Fiona seraya menggunakan sihir teleportasinya untuk pergi ke menara sihir.
Di sana Ditrian memberikan Fiona banyak buku yang harus dipelajari istrinya.
"Apa tidak bisa langsung teori saja?" tanya Fiona yang selama ini tidak suka membaca.
"Setidaknya baca dasar-dasar ilmu sihir dan kita harus membuka titik-titik Mana dalam tubuhmu supaya bisa menyalurkan sihir yang akan kau pakai nanti," jelas Ditrian.
Tidak ada pilihan lain, Fiona harus melawan rasa malasnya.
"Semua demi bayi kita!" serunya bersemangat.
Fiona mulai membuka buku dan membaca tapi baru beberapa menit kepalanya sudah pusing.
"Huaaa.... Kepalaku mau pecah!" keluhnya.
Ditrian tertawa melihat Fiona yang seperti itu. "Bayi atau belajar?"
Seketika Fiona langsung kembali duduk tegap. "Bayi... bayi... bayi..."