
Ditrian tersenyum melihat Fiona yang tertidur di atas tumpukan buku. Dia tidak yakin Fiona akan memperoleh Mana yang cukup dalam waktu singkat tapi perempuan itu seakan tidak mau menyerah.
"Fiona..." Ditrian akhirnya mencoba membangunkan istrinya.
Namun, Fiona tidak bangun. Jadi lelaki menggendong istrinya untuk kembali ke kamar mereka.
Kali ini Ditrian tidak memakai sihirnya, dia berjalan manual untuk menikmati momennya seperti ini.
Sepertinya, dia harus membawa Fiona sesekali menginap di mansion mertuanya. Mungkin dengan begitu banyak yang akan menghibur istrinya.
Di saat seperti ini, Fiona butuh banyak dukungan.
"Sayang..." Fiona terbangun ketika Ditrian merebahkannya ke kasur.
"Padahal aku sudah sehati-hati mungkin," ucap Ditrian. Walaupun begitu, Ditrian tetap menarik selimut sampai menutupi tubuh Fiona dan menyisakan kepalanya saja. "Lanjutkan tidurnya, udara semakin dingin!"
"Peluk..." pinta Fiona dengan manja.
Ditrian tidak kuasa menolak, dia ikut membaringkan diri dan memeluk istrinya.
"Ini nyaman," ucap Fiona yang menikmati pelukan suaminya.
Mendengar itu, Ditrian memperbaiki posisi tubuhnya supaya enak dipeluk.
"Bagaimana kalau sekarang?" tanya Ditrian.
"Kalau kau bergerak terus, aku jadi ingin memakanmu," sahut Fiona mesum.
Walau Ditrian ingin memakan istrinya juga, dia akan menahan diri. Jadi, Ditrian tidak akan menanggapi Fiona supaya dia tidak terpancing.
"Apa sekarang suamiku jadi batu?" tanya Fiona karena tidak ada respon.
Ditrian justru meninggalkan Fiona tidur.
...***...
Hari berikutnya, Fiona masih terus belajar sihir dan lebih serius membaca bukunya. Tapi, sekuat-kuatnya Fiona, janinnya terus menggerogoti energinya.
"Lapar?"
Tiba-tiba Lily dan Lila mendatangi kakak iparnya, mereka membawa beberapa menu makanan dan segelas susu.
Saat tangan Fiona meraih gelas susu, Lily dan Lila saling pandang satu sama lain karena tangan kakak iparnya itu semakin kurus.
"Kenapa?" tanya Fiona.
"Tidak apa-apa hanya saja, kami mencemaskanmu, kakak ipar," jawab Lily. Dia jadi menyesal waktu itu jahat pada Fiona, sekarang dia sadar jika Fiona mempunyai hati yang tulus.
Lila mengangguk karena merasakan hal yang sama.
Kemudian mereka berjalan-jalan mencari udara segar.
Mereka berhenti di pohon oak dan Fiona penasaran apa dia masih bisa melihat bangsa peri. Kalau dia bisa melihatnya, akankah garis kematian mengikutinya lagi?
Tak lama peri-peri kecil terbang mengelilingi Fiona, mereka terlihat gembira dan berputar-putar di perut perempuan itu.
"Bayinya laki-laki," ucap mereka.
Lily dan Lila tampak mengembangkan senyum mereka. " Seorang pangeran!"
Hati Fiona semakin tidak karuan, dia harus mempertahankan bayinya. Ditrian pasti akan bahagia kalau dia melahirkan seorang pangeran.
"Aku akan pergi menemui suamiku," pamit Fiona.
Perempuan itu pergi ke kastil sihir di mana Ditrian berada.
Nafas Fiona sedikit terengah-engah, dia tidak sabar memberitahu suaminya.
Namun, saat sampai Fiona justru dikejutkan oleh sesuatu. Dia melihat Ditrian tengah berbincang dengan dokter yang menanganinya dan dokter itu memberikan botol obat pada Ditrian.
"Ini pesanan anda," ucapnya.
Ditrian menerima itu dengan wajah sulit diartikan. "Tidak ada efeknya, 'kan?"
"Tidak ada, Nyonya tidak akan menyadarinya jika itu berasal dari obat ini," jelas dokter itu.
Fiona menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dia berpikir jika Ditrian akan tetap menggugurkan kandungannya dan suaminya akan melakukannya diam-diam.
"Aku tidak mau," ucap Fiona yang akhirnya berlari kembali ke kamarnya.
Hari itu juga Fiona menghubungi Erik supaya ayahnya itu menjemputnya dan membawa Fiona pergi dari Esperland.