
"Ya, Clarita menyetujui pernikahan ini." Mama mengawali perbincangan di rumah mewah ini. Terlihat wajah mereka yang menyiratkan kebahagiaan. Aku hanya terdiam duduk di sebelah mama.
Lain dengan pria yang akan dijodohkan denganku itu. Ia menatapku tajam dan dingin. Wajahnya memerah seperti menahan emosi, namun langsung menunduk mungkin takut diketahui orangtua kami.
"Wah, akhirnya." Terdengar suara om Santoso dengan senyumnya yang sumringah. Sungguh sebuah senyum yang tulus.
"Yoseph juga pasti sangat bahagia sekarang." Ia menyambungnya sambil memukul-mukul pundak anak semata wayangnya itu.
Pria itu menegakkan wajahnya memberikan senyumannya seakan membenarkan perkataan papanya.
Akh percayalah, itu hanya senyum keterpaksaan, terlihat matanya masih menatapku mengintimidasi. Aku membuang muka tak peduli apa yang dia pikirkan. Biarkan saja, siapa suruh dia tidak menolaknya kalau benar-benar tidak suka.
Benar, aku akhirnya menyetujui perjodohan ini. Memangnya apa lagi yang akan kulakukan? Toh, Roy pria pemilik hatiku saat ini telah berpisah denganku. Entah bagaimana nanti keadaan hatiku, aku tidak tahu. Yang jelas ini pilihanku satu-satunya.
"Baiklah, sepertinya kami harus izin sekarang." Mama meminta izin pulang setelah gelak tawa itu. Senyum bahagia tak berhenti terukir di wajah ketiga insan ini.
Apa mereka sebahagia itu?
Aku jadi berpikir bagaimana jika kami benar-benar tidak menyetujui perjodohan ini? Apa keadaan ini berubah seratus delapan puluh derajat? Akh, bodo amat. Aku tak mau lagi memusingkannya. Itu tak penting lagi sekarang.
"Oh, ya ya. Kami juga mau keluar sebentar. Ada urusan." Tante Indri menyahut. Kami keluar dari rumah ini, menuju mobil.
"Em, Tante bisa saya bicara dengan Ita?" Pria dingin ini akhirnya bicara ketika kami baru saja hendak memasuki mobil. Mama menatapku, seolah bertanya apa aku mau bicara dengannya. Aku mengangguk.
"Baiklah, Yosh, tapi Tante harus kembali ke toko."
"Nggak apa-apa, Ma. Nanti Ita bisa pesan ojol." Aku meyakinkannya. Aku juga ingin tahu apa yang akan pria ini katakan padaku. Mama akhirnya pamit pada kami.
Ya, tinggal aku dan Yosh sekarang setelah om Santoso dan tante Indri memasuki mobil mereka dan melaju meninggalkan kami. Sesaat setelah mobil mereka tak terlihat, pria ini, iya, Yosh menarik paksa tanganku. Membawaku kembali ke dalam rumahnya. Aww aku meringis kesakitan. Aku mencoba melepaskan genggamannya.
"Apa-apaan ini, Yosh? Lepaskan! Sakit." Aku menarik tanganku yang belum terlepas. Tapi tak berhasil, tangannya terlalu kuat.
"Aku yang harus tanya, apa maksudmu? Kenapa kamu menyetujuinya?" Ia kini menghempaskan aku sedikit kuat.
Apa? Dia berlaku kasar padaku dan tak lama lagi dia akan menjadi suamiku. Roy tidak pernah melakukan hal seperti ini. Akh, sudahlah tidak ada gunanya aku membandingkannya dengan Roy sekarang.
"Memangnya kenapa?"
"Kenapa?" Tatapannya sangat tajam. Aku merinding tak berani membalas tatapannya.
"Ayolah Yosh. Kalau kau benar tidak suka seharusnya kau mendukungku. Aku bilang tidak setuju dan kau juga, maka semuanya akan lebih mudah. Nyatanya kau tidak mengungkapkan pendapatmu. Kau pikir aku punya hak apa mengecewakan orangtuaku?"
"Munafik kamu!" Kini aku yang menatapnya tajam penuh kekesalan.
"Munafik katamu?"
"Apa lagi kalau bukan munafik? Baru saja kau asik berkencan dengan pacarmu itu, dan sekarang kau menyetujuinya?" Ia menyeringai kemudian membalikkan badan membelakangiku.
Aku membenci ekspresi itu. Aku mengepalkan kedua tanganku di sisi tubuhku.
Berkencan bacotmu. Kau tidak tau itu hari yang menyakitkan untukku.
Aku menarik lengannya untuk kembali menghadapku. Tapi itu sia-sia, lengannya terlalu kekar dan kuat. Aku akhirnya berpindah ke hadapannya.
"Jangan coment jika kau tak tahu kebenarannya." Aku menunjuknya penuh amarah dan berlalu meninggalkannya.
***
Entah apa yang membuat papa menjatuhkan pilihannya terhadap pria ini. Perlu aku beritahu, hubunganku dengan Yosh dulu tak sedingin ini. Dia dekat dengan papaku, tentunya juga baik terhadapku, tapi menurutku ini bukanlah alasan untuk langsung mempercayainya untuk menjadi kekasih putrinya.
Yang jelas sekarang berbeda, aku tidak tahu apa yang membuat dia berubah.
Pemberkatan pernikahan kami berlangsung khidmat. Meski aku tidak bahagia, aku tidak ingin menunjukkan rasa sedih juga kesalku sekarang.
Kulihat Roy berada di sana memandangiku dengan tatapan sendu. Aku mendongakkan kepalaku ke atas untuk menghalangi cairan bening yang akan jatuh di wajahku. Acara berlanjut ke resepsi. Roy mendekat dan menjabat tanganku. Ia tersenyum kecut. Aku meraih tangannya dan membalas senyumannya setulus mungkin.
"Selamat, Ta. Aku harap kau benar-benar bahagia." Ia mendekatkan wajahnya ke telingaku.
"Kau harus berjuang mencintai dan mendapatkan cintanya," bisiknya. Kemudian ia berlalu dan menjabat tangan pria yang sudah sah menjadi suamiku saat ini.
Pernikahan ini terbilang mewah bagiku, tapi sangat sederhana untuk seorang keluarga Santoso. Ya, keluarga mereka tepatnya mertuaku merupakan salah satu orang terkaya di kota ini. Perusahaan yang dimilikinya cukup sukses dan sudah memiliki beberapa cabang.
Kalian pasti berpikir bahwa aku bak Cinderella yang dinikahi pangerannya. Aku awalnya juga berpikir demikian. Sampai aku menyadari bahwa Cinderella adalah orang yang sangat dicintai pangerannya. Mereka bersatu untuk bahagia.
Ini lain halnya dengan kisahku. Pangeran ini sama sekali tidak memiliki perasaan untukku. Aku menyadari perasaannya hanya untuk sahabatku.
Jangka waktu hari aku menyetujui perjodohan ini sangat singkat dengan hari pernikahan ini. Ini salah satu alasan mengapa resepsi ini sederhana saja.
Akibat pernikahan yang tiba-tiba ini banyak yang beranggapan bahwa ada kesalahan diantara kami. Terbukti saat aku menerima sebuah pesan singkat dari temanku saat resepsi ini sudah selesai.
"Hei, Ta? Kenapa pernikahanmu buru-buru? Pasti ada yang salah kan? Atau sudah jebol duluan?" Isi pesan itu membuatku muak. Tapi aku memilih tidak membalasnya.
Begini, kenapa itu menjadi sebuah pembahasan untuknya? Apalagi dia bukan orang yang termasuk dekat denganku. Kalaupun aku melakukan kesalahan itu, mengapa dia harus penasaran dan menyibukkan diri?
Ayolah ini masalahku bukan masalahnya. Kesalahanku bukan kesalahannya, tapi apapun itu, beberapa bulan ke depan akan menjadi jawaban untuknya. Apa aku menikah tiba-tiba, karena kesalahan itu atau bukan.
Aku tidak mau menghabiskan waktu untuk berdebat karena masalah yang tak penting. Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur setelah membersihkan diri. Ini kamar baruku. Bunga dan lilin ada di dalam kamar ini, membuatku sedikit mual.
Kamar ini seperti kuburan saja.
Aku menatap langit-langit ruangan yang terasa asing ini. Aku memejamkan mataku sekarang sampai aku mendengar suara pintu kamar ini berderik.
Aku terperanjat dari rebahanku dan langsung duduk di tepi tempat tidur. Aku melihat pria kekar itu memasuki kamar. Ia masuk ke kamar mandi tanpa berkata sepatah katapun.
Aku bergeming di tempatku sekarang, sampai ia keluar dari kamar mandi. Kulihat ia mengeringkan rambutnya dengan handuk di tangannya.
Jantungku berdebar kencang sekarang. Ayolah aku tak memikirkan apa yang kalian pikirkan sekarang. Aku tahu apa yang ada di benak kalian. Kalian berpikir jantungku tak menentu akibat ini malam pertama?
Hahah, aku belum memikirkan hal semacam itu. Aku hanya berpikir apa yang akan terjadi. Hubunganku dengannya tidak cukup baik untuk memikirkan itu.
"Kau boleh tidur di situ dan aku akan di sofa." Dia memecah hening. Aku menarik nafas lega sekarang. Kudengar seseorang mengetuk pintu, dan memanggil kami berdua. Aku bangkit dari tempatku sekarang.
"Kita makan malam dulu, Ta! Ajak suamimu," kata tante Indri, oh sekarang aku memanggilnya 'Mama'.
"Iya, Ma," jawabku. Mama sekarang berjalan menuruni anak tangga tepat di depan kamar Yosh. Iya kamar Yosh yang juga kamarku sekarang. Aku berbalik hendak memanggilnya.
"Aku sudah dengar," katanya dan sudah berada di dekatku, berjalan melaluiku. Aku kemudian mengekor dari belakang menuju meja makan.
Papa dan mama menyambutku dengan senyuman mereka. Walau aku tak mendapat hati suamiku hatiku cukup tenang karena pasangan mertuaku ini menunjukkan kasih sayangnya padaku.
"Papa harap kamu betah di sini, Ta. Bahagia bersama Yosh," kata papa di sela makan malam ini. Aku tersenyum mengangguk. Aku melirik Yosh yang sama sekali bungkam di sampingku.
Ayolah, bukan hanya dia yang terpaksa dalam pernikahan ini. Tapi kenapa seakan aku yang harus mencoba mengambil hati di sini?