My Household

My Household
Melepas rindu


Aku tidak mengerti dengan jalan fikiran Yoseph. Andai saja Papa masih ada, tentu saja aku bisa memohon untuk membatalkan ini. Tapi sebaliknya Papa sudah tidak ada, bahkan untuk memastikan saja tidak bisa. Tapi Mama juga tidak mungkin membohongiku.


Aku sudah kembali ke rumah. Pertemuan singkat dengan Yoseph tidak membuahkan hasil apapun. Mama belum kembali dari butiknya.


Aku memilih duduk di sofa untuk menunggunya setelah selesai mandi. Kira-kira pukul enam, kudengar suara mobil Mama yang sudah memasuki garasi. Pintu sengaja tidak kukunci.


"Mama pulang." Suara Mama dari balik pintu. Aku tidak menjawabnya. Mulutku bungkam. Mama akhirnya duduk di sampingku meraih tanganku.


"Ta, gimana? Apa sudah kamu pikirkan?" Mama mulai bertanya.


"Apa yang kupikirkan, Ma?" Aku bertanya balik. Mama terdiam menghela nafas tak menjawab.


"Ma, Mama tau kan? Ita nggak suka sama Yoseph. Mama tau kita cuman temenan," kataku akhirnya melihat Mama yang sedikit terlihat putus asa.


"Iya, Mama tau. Tapi ini keinginan mendiang papa. Apa kamu tidak ingin mengabulkannya?"


"Aku tidak bisa bertanya sama papa, apa benar ini permintaannya atau bukan," kataku seakan tak percaya.


"Jadi, menurutmu Mama bohong?" tanya mama dengan nada kecewa. Aku terdiam sejenak.


"Mah, apa nggak boleh ini dibatalkan saja?" pintaku sambil memegang tangan mama seraya memohon.


"Ta, andai ini bukan permintaan papamu, Mama akan biarkan kamu memilih semaumu. Tapi ini ..."


"Mah, Yosh juga tidak mencintai Ita. Apa Mama rela Ita harus hidup dengan orang yang tidak mencintai anak Mama?"


"Cinta bisa tumbuh setelah kalian hidup bersama." Mama mencoba meyakinkanku. Aku mendesah gusar. Mana ada kisah seperti itu. Itu hanya ada dalam kisah novel atau hanya khayalan. Itu yang ada dibenakku.


"Mama juga tau Yosh pacarnya Laras," kataku dengan nada lemah.


"Itu urusan mereka menyelesaikannya. Bukan kita. Bagian kita hanya kamu, Ta. Kalo kamu setuju sisanya bagian mereka." Mama kini menatap mataku. Tak kuasa aku melihat mata sayunya seakan memohon.


"Lalu bagaimana dengan ...."


"Sudah Ta, sebaiknya kamu jangan terlalu lama lagi memikirkannya." Mama mulai beranjak dari sofa sedang aku masih menunduk menutupi air mataku yang mulai membasahi wajahku.


***


Dua minggu berlalu. Aku belum juga memutuskan jawabanku atas perjodohan itu. Hatiku gusar, aku sama sekali tidak mencintai pria itu, dan aku tahu pria itu juga tidak.


Hanya saja aku tidak mengerti mengapa dia tidak menolaknya. Setidaknya membantuku. Kalau kami sama-sama menolaknya, pasti akan lebih mudah meyakinkan orang tua kami. Belakangan ini pikiranku pun kurang fokus. Kuraih ponselku yang bergetar di sakuku.


"Sibuk?" Isi sebuah chat terpampang di ponselku. Hatiku sedikit tenang mendapati pesan itu. Melupakan sejenak tentang perjodohan memuakkan itu.


"Tidak, lagi istirahat." Aku membalasnya. Aku menunggu beberapa saat hingga kudapati dia menelfonku.  Segera kugesek tombol hijau itu.


"Kenapa?" tanyaku antusias.


"Tak boleh aku menelfon?" Aku tersenyum lebar.


"Tentu saja boleh," ungkapku.


"Apa kau tak merindukanku?" Ia bertanya lagi.


"Tidak." Tentu saja aku berbohong. Aku sangat merindukannya. Aku membutuhkannya sekarang.


"Aku tau kamu berbohong," katanya sambil tertawa kecil.


"Trus?"


"Mau aku temui?"


"Jangan bercanda. Aku tak suka diberi harapan palsu," jawabku. Aku yakin dia hanya menggodaku. Roy bekerja di luar kota semenjak aku masih kuliah. Makanya tepat di hari wisudaku dia tidak hadir. Tapi dia mengambil cuti ketika pemakaman papa.


"Aku serius, aku di Medan sekarang. Atau kau benar-benar tidak rindu?" Ia kembali bertanya. Nadanya sekarang cukup meyakinkan.


"Benarkah? Kalau begitu hari ini," kataku dengan nada semangat.


"Haha, kau benar-benar merindukanku ternyata. Baiklah aku jemput di rumah. Jam berapa?"


"Tidak! Jangan ke rumah. Jemput di tempat kerjaku saja. Jam empat," kataku memprotes.


"Tidak bisa sayang aku harus izin sama mamamu."


"Tidak usah, mama juga pasti belum pulang dari toko. Kau jemput ke sini aja."


"Oh, baiklah. Aku siap-siap." Sampai akhirnya telfon terputus. Akh aku akhirnya bertemu dengannya. Sudah lama aku tak bertemu Roy.


Pria itu kekasihku. Kami resmi pacaran sewaktu aku masih di Akademi. Hubungan kami berjalan tiga tahun sekarang. Aku sangat mencintainya. Dia berbeda dari pria lain, dia lembut. Tak pernah berkata apalagi berlaku kasar padaku.


Masih teringat saat dia menyatakan perasaannya padaku di hadapan teman-temannya. Aku merasa seperti seorang putri kala itu. Dia satu-satunya pria yang menjalin hubungan denganku lebih dari satu tahun. Dia sungguh berbeda dari mantanku yang lainnya.


Pernah terbersit di benakku kala aku menikah dan hidup bersamanya, sebelum aku mendengar tentang perjodohan ini. Perjodohan ini kembali melintas di pikiranku.


Akh, aku tidak bisa hanya memikirkan ini. Aku bisa merusak pertemuanku dengan Roy yang lama kunantikan jika ini terus menggangguku.


Aku menepis pikiranku sedikit tentang masalah itu.


Sift-ku sudah selesai hari ini. Aku segera bersiap-siap meninggalkan rumah sakit.


"Roy!" Aku memanggilnya tatkala melihatnya sudah duduk di depan mobilnya menungguku. Ia menoleh.


Ia membentangkan tangannya isyarat menerima pelukan. Langsung saja aku memeluknya. Akh pelukan yang begitu nyaman.


"Sudah lama?" tanyaku yang masih asyik bermanja.


"Sangat lama." Aku bangun dan menatapnya kemudian menoleh jam ditanganku. Masih pukul 16.10.


"Tapi bukan karena waktu, ini karena aku terlalu merindukanmu," katanya sambil tersenyum dan kembali menarik tubuhku kepelukannya.


"Apa kita hanya akan seperti ini?" Aku bertanya.


"Haha, oke oke. Kita berangkat sekarang." Aku melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah pintu mobil miliknya.


Dapp


Pintu mobil sudah tertutup rapat. Roy mendekat ke arahku. Wajahnya cukup dekat dengan wajahku.


"Apa yang kau lakukan?" Sikapnya cukup membuat jantungku berdegup kencang. Dia mengacak-acak rambutku sambil terkekeh.


"Tidak ada," jawabku singkat. Aku merasa wajahku panas sekarang. Aku mengibas-ngibaskan tanganku agar sedikit merasakan sejuk di wajahku. Roy hanya terkekeh melihat tingkahku.


"Apa?" Aku bertanya. Dia hanya mengeleng masih dengan tawanya yang sumringah. Dia mulai menyalakan mobilnya, menatapku dan mengangkat sebelah alisnya.


"Meluncur!" kataku akhirnya. Aku memang selalu mengatakan itu kala dia dan orangtuaku hendak melajukan mobil. Dia tertawa dan mulai melajukan mobilnya perlahan.


Tak memakan waktu lama untuk tiba di restoran langganan kami. Iya, ini restoran yang sering kami datangi ketika zamannya kuliah.


Roy langsung memesan makanan kesukaan kami. Jangan tanya, kami punya makanan kesukaan yang sama. Banyak hal yang   sama antara kami. Mungkin ini salah satu penyebab kami sangat mencintai satu sama lain dan hubungan kami bertahan meski kami dijauhkan jarak.


Tak lama pramusaji datang mengantarkan makanan yang sudah dipesan.


"Selamat menikmati!" katanya sedikit menunduk dengan senyum ramahnya.


"Trimakasih," kataku. Kami tersenyum dan ia pun pergi.


"Udah lama ya, kita nggak ke sini, Ta," Kata Roy sambil melahap makanan yang didepannya.


"U ... u ..." kataku mengangguk sambil tersenyum dengan makanan yang sudah memenuhi mulutku.


"Gimana khabar tante?"


"Sehat," jawabku singkat.


"Rasanya nggak sopan membawa putri kesayangannya ini tanpa pamit." Aku terdiam sejenak.


"Nggak apa-apa, Roy. Lagian tadi mama pasti belum pulang dari toko." Kataku pelan. Perjodohan itu kembali melintas dibenakku.


"Emm, iya deh. Pas pulang aja nanti aku sapa. Ya, kan?" Aku tersenyum getir. Lagi-lagi ia mengusap rambutku. Perlakuannya padaku sangat special. Tak kan mudah bagiku untuk berpaling darinya.


Setelah kami menghabiskan makanan dan membayar kami memutuskan untuk keluar dan duduk di taman yang ada di sekitar resto ini. Kami duduk di sebuah kursi panjang yang terletak di tengahnya.


Bintang malam ini sangat indah menemani kami. Aku menyenderkan kepalaku di bahunya. Lengan kirinyanya yang kekar, memelukku sambil mengusap-usap lenganku. Tangan kanannya menggenggam erat tanganku.


"Ta?!" Ia memanggilku.


"Em?" Aku masih memilih bersandar di bahunya.


"Kamu bangun bentar," katanya sambil mendorong sedikit tubuhku menjauh dari pelukannya.


"Apa sih, Roy?" Aku mulai bangun. Ia menatapku penuh arti. Akh, matanya sangat indah.


"Aku punya sesuatu untukmu."


"Apa?" Ia memasukkan tangannya ke  sakunya. Aku mulai menampakkan wajah penasaran. Sedikit lama dan...


"Sarangheo." Katanya tertawa sambil membuat mini love dengan tangan kanannya.


"Aku punya hatiku untukmu," sambungnya.


"Akh, Roy. Aku udah serius tahu." Aku mendengus kesal.


"Jadi, kau tak menginginkan hatiku?" tanyanya masih dengan tawanya.


"Bukan gitu, aku udah tau hatimu untukku. Akh, nggak tau deh," kataku sedikit merajuk.


"Haha, oke oke fine. Ini serius. Sekarang tutup matamu."


"Nggak mau akh. Nanti dibecandain lagi."


"Ini, serius Ta. Tutup mata dong." Aku melihat wajah seriusnya kali ini.


"Oke, baiklah," kataku sambil bermalas-malasan dan mulai menutup mata.


"Jangan macam-macam." Aku kembali membuka mataku dan menunjuknya dengan nada mengancam.


"Ya ampun Ta. Pikiranmu itu loh dari tadi," katanya terkekeh sambil mengacak-acak rambutku.


"Ya kan siapa tau." Aku mengerucutkan bibirku sambil merapikan rambutku yang berantakan dan kembali menutup mata.


"Lama ya!" kataku yang cukup penasaran.


"Sabar.. jangan ngintip. Aku hitung sampe 3, baru kamu buka mata ya!"


"Drama deh, Roy. Kelamaan tahu." Aku memprotes.


"Ya udah, nggak jadi."


"Oke oke, fine. Cepetan hitung," kataku setelah mendengar ancamannya.


"Satu ... Dua ... Tiga ... Tara.." Aku sontak membuka mata dan... sebuah liontin hati tergantung tepat di depan wajahku. Tiba-tiba air mataku menetes. Jangan tanya kenapa. Sewaktu Roy memintaku menutup mata, perjodohan itu terlintas  berulang-ulang dibenakku.


"Kamu nangis, Ta? Kenapa? Apa kamu nggak suka?" Roy bertanya dengan nada khawatir sambil memegangi wajahku dan mengusap air mataku.


"Tentu saja suka, Roy," jawabku.


"Trus? Kenapa nangis? Kalo suka ya bahagia dong, Ta. Kau membuatku khawatir."


"Iya, ini bahagia Roy. Terhura," kataku sambil sesegukan menahan air mataku.


"Terharu, Ta. Terharu. Akh, kamu ini. Ini udah momen romantis malah kamu rusak." Ia mendengus kesal.


"Hehehe, iya sayang. Aku terharu."


"Aku pakein ya!" katanya lagi. Aku mengangguk.


"Gimana? Cantik?" Aku bertanya setelah ia selesai mengalungkannya di leherku.


"Sempurna." Satu kata darinya yang mampu membuatku tersanjung. Aku memeluknya. Ia mengusap rambutku dan mengecup keningku.


"Aku sangat mencintaimu, Ta," bisiknya.


"Aku juga."


"Aku lebih mencintaimu." Ia memelukku erat. Ya Tuhan bagaimana aku bisa berpisah dari pria ini. Kalau kami tak dijodohkan, seharusnya cinta yang dalam ini tak tumbuh diantara kami.