My Household

My Household
Perjodohan


Mentari sudah menampakkan sinarnya, menerobos jendela kamarku yang tirainya sengaja dibuka Mama pagi ini. Silau cahayanya cukup tepat menyinari wajahku. Aku menggeliat mengusap-usap kelopak mataku.


"Ma, kok dibuka sih? Masih ngantuk." Aku memprotes mama yang asyik membuka semua tirai jendela kamarku. Aku masih setengah sadar dari alam mimpi.


"Ini udah jam berapa, Ita?! Udah waktunya bangun," kata mama yang sudah memilih duduk di sampingku sambil mengusap lembut rambutku. Aku sungguh menyukainya. Aku mendekat dan memeluknya bermanja.


"Akh, Mama. Ita kan shift malam, Mah." Aku belum membuka mataku. Masih terlalu nyaman tidurku semalam, membuatku susah beranjak.


"Iya, Mama tahu, tapi apa kamu lupa? Om Santoso kan nelfon kamu semalam?" Mama mulai mengingatkanku.


"Sudah akh, cepetan mandi! Langsung sarapan dan kita berangkat," sambung mama sambil melepaskan pelukanku dan berlalu keluar.


Semalam Om Santoso memang menelfonku. Ia memintaku untuk datang ke rumahnya bersama mama. Memang aku tak pernah bertemu lagi dengannya setelah kepergian papa, padahal sebelum papa pergi hampir setiap hari om Santoso berkunjung.


Hari ini aku dapat shift malam, jadi aku bisa ke rumahnya pagi ini.


Aku mencoba mengumpulkan niatku untuk beranjak dari kasur yang seperti magnet ini menarik tubuhku.


Selesai mandi aku menuju meja makan. Sarapan sudah tersaji rapi di sana. Aku menatap mama yang sudah duduk menungguku, terlihat wajah antusiasnya untuk berkunjung ke rumah om Santoso.


"Mama, kok aneh? Semangatnya berlebihan," kataku mulai menginterogasi mama dengan mimik curiga.


"Nggak akh, biasa aja. Udah cepat duduk biar sarapan," kata mama sambil menyodorkan sarapan untukku. Aku akhirnya menyerah dan duduk menikmati sarapan pagi ini.


***


"Cepetan, Ta!" Mama mulai berteriak setelah memanaskan mobilnya, sedang aku masih bersiap-siap. Mama jangan ditanya! Ia sudah bersiap melajukan mobilnya.


"Bentar, Ma!" balasku sambil berteriak tergesa mengambil kunci rumah dan menguncinya.


Dapp


Pintu mobil sudah tertutup.


"Mama nggak sabaran ih," kataku sambil memasang safety-belt dengan mantap.


"Bukan nggak sabaran, Ta, tapi nanti nggak enak sama keluarga mereka," jawab Mama.


"Ya..ya..ya.. siap berangkat. Meluncur!" kataku sambil berteriak ala-ala anak kecil. Mamaku hanya terkekeh melihat tingkahku.


"Mah, kita nggak---"


"Iya, ini Mama mau parkir. Kita beli buah tangan dulu," kata mama memotong ucapanku. Aku mengerucutkan bibirku. Yap, memang itu yang ingin aku katakan tadi. 


"Kamu tunggu di mobil aja. Biar Mama yang belikan," sambung mama.


Aku hanya mengangguk dan mama melenggang pergi. Aku memainkan ponselku. Pesan dari Roy terpampang di ponselku.


***


"Kenapa kamu?" tanya mama yang sudah kembali dengan beberapa buah tangan.


"Jangan keseringan senyum-senyum sendiri. Entar dikira orang---"


"Emm, iya Ma, iya," kataku tak ingin mendengar sambungan ucapannya. Mama hanya tersenyum dan kembali melajukan mobilnya.


Tak berapa lama kami akhirnya tiba di rumah om Santoso. Pembantu di rumahnya cukup ramah mempersilahkan kami masuk setelah membuka pagar rumah yang cukup mewah ini.


"Silahkan!" katanya sambil sedikit menunduk. Mama yang membuka kaca mobilnya tersenyum ramah.


"Trimakasih!" jawab mama kemudian melajukan mobilnya ke arah halaman rumah mereka.


Tante Indri isteri om Santoso sudah menunggu kami di depan pintu mereka. Senyum ramahnya menyambut kami.


"Selamat datang Feby, Ita!" katanya dengan senyuman yang masih merekah di bibirnya.


"Udah lama ya, kita nggak ketemu," sambungnya lagi.


"Iya, mbak," jawab mama singkat dan memeluknya. Biasalah ala tante-tante. Tante Indri menuntun kami ke ruang tamu setelah aku mencium punggung tangannya yang lembut dan memberikan buah tangan yang kami bawa. Om Santoso yang masih di kursi rodanya sudah duduk di sana. Ia tersenyum lebar saat melihatku dan mama. Segera aku menghampirinya dan mencium punggung tangannya.


"Apa khabar, Om?" tanyaku.


"Baik, Sayang. Kamu sama mama gimana?" balas om yang menggenggam tanganku. Aku tersenyum.


"Om lihat sendiri," jawabku membuatnya sedikit tertawa.


"Silahkan duduk!" katanya kemudian mempersilahkan kami untuk duduk.


"Yosh!!" Om Santoso memanggil putra tunggalnya itu.


"Iya bentar, Pah!" jawabnya. Sepertinya dia masih berada di kamarnya yang berada di lantai atas. Tak lama pria bertubuh kekar itu pun muncul setelah menuruni anak tangga. 


Ia memilih duduk  di samping om Santoso setelah menyalami mama dan menyapaku. Mama, Tante dan Om berbincang sedikit. Sedang Aku dan Yoseph hanya terdiam, sesekali tertawa mendengar perbincangan orang tua kami.


Aku sedikit canggung dan mulai bosan. Aku ingin meraih tasku dan mengambil ponsel dari sana.


Tapi ini sedikit tak sopan.


Aku mengurungkan niatku.


"Gimana kerjaannya, Ta?" tanya om yang membuatku sedikit kaget karena habis melamun.


"Oh, bagus, Om. Ita senang kerja di sana," jawabku. Om Santoso mengangguk.


Sudah hampir setengah jam kami disini. Aku belum juga menemukan inti dari pertemuan ini.


Akh, mungkin hanya rindu.


"Jadi gini, Ta. Maksud Om minta kamu sama Mama kamu datang, Om mau jodohin kamu sama Yoseph." Kata om Santoso kembali memulai. Sontak aku kaget mendengarnya. Bagaimana mungkin.


"Haha, Om ada-ada aja," kataku tak percaya. Mereka bertatapan sewaktu aku mencoba mencari raut tak serius di wajahnya, tapi tak kutemukan. Kulihat Yoseph hanya menunduk di sana. Aku mendesah gusar.


"Om serius, Ta," sambungnya lagi.


"Om, mana mungkin aku sama Yoseph nikah. Kita kan sahabat. Lagian Yosh juga sudah punya pa ...." Ucapanku terpotong kala melihat Yoseph yang memandangku tajam.


"Hahah, pacar kan hanya pacar, Ta. Belum tentu juga jadi isteri. Kalau kamu beda. Sudah jadi calon isteri," sambungnya lagi.


"Lagian ini juga permintaan papa kamu, Ta. Kamu tau kan papa sama Om sahabatan dari kecil."


"Iya, Om, tapi ..." Aku mulai membisu. Tidak tahu harus berkata apa. Kutatap wajah Yoseph yang masih diam disana. Aku berharap mendapat dukungan di sini. Tapi dia hanya menatapku dingin.


"Oke, oke. Om nggak akan maksa kamu buat jawab sekarang. Kamu bisa mengambil waktu untuk berfikir," kata om yang sudah melihatku sedikit gugup.


Aku mengangguk. Aku masih belum percaya, di zaman modern seperti sekarang ini masih ada yang namanya perjodohan. Dan itu terjadi padaku. Belum lagi Yoseph sudah punya pacar dan pacarnya itu adalah sahabatku, Laras.


***


Aku dan mama memutuskan untuk pulang. Mama melajukan mobilnya setelah kami berpamitan pada keluarga Yoseph. Hampir tidak ada perbincangan.


"Maksud om tadi apa, Ma?" tanyaku mengawali perbincangan.


"Kok tanya maksud lagi, Ta? Bukannya kamu udah ngerti?" Mama malah balik bertanya.


"Iya ngerti, tapi Ita nggak ngerti kalo papa juga mau jodohin Ita."  Mama terdiam. Sampai kami tiba di rumah, Mama memarkirkan mobilnya di garasi sedang aku langsung masuk dan duduk di sofa. Tentu saja percakapan tadi belum usai. Mama akhirnya duduk dan mulai berbicara.


"Om Santoso nggak bohong, Ta. Papa memang bilang itu waktu Ia di rumah sakit di hari kamu wisuda sebelum Ia akhirnya pergi." Mama menjelaskan.


"Tapi selama ini Mama nggak pernah cerita ke Ita."


"Karena menurut Mama akan lebih tepat jika Om sendiri yang ngomong."


"Tepat apaan? Arghhh ..." Aku beranjak dari sofa menuju kamar. Pintu terbanting sedikit kuat. Tak pernah terbayang olehku hal seperti ini. Perjodohan hanya ada di zaman dulu.


Papa apaan sih.


Air mataku akhirnya membasahi wajahku. Kubenamkan wajahku di bantal setelah aku memilih berbaring di kasur.


***


"Kita harus ketemu." Aku mengirim pesan singkat ke Yoseph di sela-sela siftku malam ini. Kejadian hari ini benar-benar mengganggu fikiranku.


Ini masalah cukup serius untukku. Tidak tau bagi Yoseph, sehingga dia seakan tidak peduli. Aku memegangi ponselku berharap mendapat balasan dari pria itu. Tapi tak kunjung kuterima. Aku tak sabar, kuklik tombol panggil dan mendekatkannya ke telingaku. Lama tak mendapat respon. Kucoba sekali lagi. Masih sama.


'Yoseph!' Aku memanggilnya dengan nada geram sambil mengepalkan tanganku. Aku mencobanya berulang-ulang.


"Ada apa?" Suara dari seberang.


Akhirnya...


"Apa kau tak baca pesanku?" tanyaku.


"Pesan yang mana?" Akh sialan dia belum baca.


"Woy, ini malam. Kau mengganggu tidurku." Suaranya keras. Membuat aku sedikit menjauhkan ponselku dari telingaku.


"Kita harus ketemu."


"Ngapain?"


"Bahas tentang apa yang om bilang tadi."


"Apa yang perlu dibahas?" Wah anak ini. Apa baginya ini lelucon? Kenapa tidak ada yang harus dibahas? Aku tau dia tak suka tapi kenapa dia acuh tak acuh?


"Maksud kamu apa sih? Emang kamu setuju dengan perjodohan ini?" Suaraku sedikit lebih keras.


"Oke, kapan? Dimana?"


"Besok jam empat. Di kafe dekat kantormu aja."


"Emm." Aku menutup telfon. Tak kuat lama-lama bicara dengan pria seperti dia.


***


Setelah selesai sift hari ini aku langsung meluncur ke kafe yang sudah kujanjikan dengan pria itu. Sebelum jam empat aku sudah tiba.


Hampir satu jam aku disini. Sudah dua kali aku memesan minuman. Aku memang orang yang cukup mudah bosan apabila menunggu. Aku benar-benar jengkel sekarang. Kuambil ponselku dan kucoba menghubungi dia. Tak ada jawaban. Kuletakkan ponsel sedikit kuat ke meja.


Pria sialan. Kau fikir hanya kau disini yang penting? Aku mengumpat dalam hati. Aku tak sabar lagi, kuambil ponsel dan memasukkannya ke dalam tasku. Baru saja aku bersiap beranjak, pria itu sudah di depanku. Aku menatapnya penuh amarah.


"Maaf, aku sedikit terlambat?" katanya ketus.


'Maaf, sedikit?' Aku bicara dalam hati. Aku menarik nafas panjang mencoba menetralisir amarahku.


"Langsung intinya saja, kamu kenapa diam aja semalam? Aku tau kamu gak suka tapi kamu harus kasih pendapat dong," kataku memulai setelah dia duduk di hadapanku.


"Pendapatku tidak penting," jawabnya singkat. Aku cukup heran dengan pria ini. Cukup membuatku geram.


"Jadi, apa kamu setuju?" Dia tersenyum sinis.


"Jangan mimpi."


"Jadi maumu apa sekarang? Apa kamu cuman diam aja? Dasar pengecut."


"Tutup mulutmu itu." Suaranya keras. Orang-orang di sekitar menatap kami.


"Kamu fikir aku senang dengan perjodohan ini? Kamu tidak suka? Aku jauh lebih tidak suka. Aku punya Laras yang sangat-sangat kucintai. Jadi kamu nggak usah GR!" katanya ketus namun dengan nada yang lebih pelan. Aku tersenyum jengkel.


"Harusnya kau katakan itu pada Papamu. Bukan padaku," jawabku.


"Sudah kubilang pendapatku tidak penting. Mau tidak mau aku tetap harus menerimanya. Hanya kamu yang bisa menolaknya."


"Apa?"


"Kau tolak saja. Aku tidak berhak menolaknya," katanya dan berlalu meninggalkanku.


"Yosh!" Aku memanggilnya namun tak digubris olehnya. Puluhan mata kembali tertuju padaku. Aku akhirnya meninggalkan tempat itu.


Hanya aku? Maksudnya apa? Bagaimana aku bisa menolaknya sendiri sedang ini permintaan Papaku. Aku butuh dukungannya menolak perjodohan ini. Aku benar-benar tidak memgerti dengan jalan fikiran Yoseph.