
Aku lebih mencintaimu." Roy memelukku erat. Ya Tuhan, bagaimana aku bisa berpisah dari pria ini. Kalau kami tak dijodohkan, seharusnya cinta yang dalam ini tak tumbuh diantara kami.
"Bagaimana kalau kita menikah, Ta?" Roy bertanya padaku kala kepalaku masih menyender dibahunya. Aku terhenyak mendengar ucapannya. Aku menatapnya penuh arti.
"Hmm, baiklah. Mungkin kekasihku ini belum siap," sambungnya lagi dan kembali menatap langit yang dipenuhi bintang malam ini.
Bukannya aku tidak siap, tapi mungkin aku tidak akan pernah menikah dengan pria ini. Pria yang mendapatkan hatiku dengan segala keunikannya.
Malam ini perasaanku tidak menentu. Ada bahagia yang kurasa. Bagaimana tidak, setelah lama tidak bertemu dengan Roy, hari ini dia datang dengan kejutan yang membuatku tersanjung, tapi dadaku juga sesak kala perjodohan itu kembali menyelimuti pikiranku.
Bagaimana mungkin aku harus berpisah dengan orang yang begitu mencintaiku?
"Aku ke toilet bentar ya, sayang?" Roy perlahan melepaskan pelukannya. Aku tersenyum mengangguk. Aku mengambil ponselku kala aku mendengar nada deringnya berbunyi.
"Iya, Ma?" ucapku mendapati panggilan dari mama di layar ponselku.
"Kamu dimana, Ta? Kok belum pulang? Ini udah larut." Kulirik arloji di tanganku. Sudah pukul 22.15 memang.
"Iya, Ma. Ini udah mau pulang," jawabku tak berbasa-basi kemudian menutupnya.
"Siapa, Ta?" Roy sudah berada di belakangku dan kembali duduk di sampingku.
"Mama, Roy. Udah nyariin," jawabku seadanya. Ia melirik arloji di tangannya.
"Ya ampun, udah jam segini. Bisa-bisa tante marah ini," katanya seraya menepuk dahinya.
"Kita pulang yuk, dari pada nanti kamu nggak tante kasih samaku," sambungnya lagi sambil terkekeh.
"Emang barang?" Aku kini beranjak. Ia tertawa geli.
***
Kini kami sudah dalam perjalanan pulang. Aku terus memegangi liontin pemberian Roy. Ia hanya tersenyum. Aku tahu dia senang ketika aku menyukai hadiah darinya. Sesekali ia kembali mengusap lembut rambutku.
"Aku harus bilang apa ya nanti sama mama kamu?" Ia mulai memecah hening.
"Kamu sih, saking rindunya sampe nggak mau ke rumah dulu," sambungnya.
"Roy, aku kan udah bilang. Jam segitu Mama belum pulang." Aku mulai kesal. Bukan karenanya, tapi karena mengingat bahwa mama mungkin takkan biarkan aku bertemu Roy lagi. Bagaimana tidak, mama sudah punya calon menantu sendiri.
"Apa kamu marah?" Roy melirik ke arahku sambil tangannya masih di depan kemudi. Ia mungkin kaget mendengar jawabanku yang sedikit ketus.
"Tidak."
"Ayolah, Ta? Apa aku salah?"
"Tidak Roy, tidak." Aku mencoba meyakinkannya.
"Baiklah. Aku percaya," katanya menyerah dan kembali fokus mengemudikan mobilnya. Suasana kembali hening, sampai kami tiba di depan rumahku. Ia mematikan mesin mobilnya, membuka seat-belt dan bersiap keluar. Dengan sigap aku menahan tangannya.
"Kenapa, Ta?" Iya menoleh ke arahku.
"Mama kayaknya udah tidur. Lain kali aja kamu temuinnya," usulku membuat wajah antusiasnya seketika berubah.
"Yahh," Nadanya melemah. Aku menggenggam tangannya. Tersenyum manis untuk meyakinkannya. Ia akhirnya menyerah.
"Aku membuka pintu mobil, sebelum Roy yang meraih tanganku kali ini."
Cupp
Roy kembali mengecup keningku dan tersenyum manis. Senyumannya selalu berhasil membuat jantungku berdebar kencang. Aku membalas senyumannya dan kini aku mencium pipi kanannya.
"Aku keluar sekarang," kataku seakan berat meninggalkannya. Ia mengangguk. Aku akhirnya keluar. Ia memutar balik mobilnya setelah melambaikan tangannya dan melaju meninggalkanku yang masih memandanginya di tempatku berdiri sekarang.
Aku masih memegangi liontin ini. Hatiku terenyuh mengingat kala ia memberiku kejutan. Cairan bening dari sudut mataku mulai mengalir di wajahku. Aku menggigit bibir bawahku menahan tangisku. Tidak aku tidak bisa lagi menahannya. Tangisku pecah. Dadaku sesak. Aku menepuk-nepuk dadaku sekarang.
Sesak sekali Tuhan. Bagaimana aku bisa aku berpisah dengannya? Kakiku goyah, aku rebah terduduk dan memeluk kedua kakiku. Menyembunyikan wajahku di kedua lututku. Aku terlalu mencintai Roy, aku belum pernah mencintai seseorang sedalam ini. Air mata kini membanjiri wajahku.
***
Aku memasuki rumah setelah sedikit tenang. Mataku sudah memerah dan sedikit sembab. Kudapati mama yang menungguku di ruang tengah.
"Kenapa lama sekali, Ta?" Mama bertanya. Aku tak menjawab.
Wajahku menunduk dan langsung menuju kamar. Aku merebahkan tubuhku di kasur setelah menjatuhkan tasku begitu saja di atas lantai. kuambil ponsel yang sudah keletakkan di atas nakas tadi.
"Night, Dear. Have a nice dream." Isi chat dari Roy. Kuletakkan kembali dan memejamkan mataku dan mengingat kejadian hari ini. Kembali cairan bening yang hangat keluar dari kedua mataku. Aku menutup wajahku.
Terserah menganggapku pribadi yang cengeng. Tapi memikirkan berpisah dengan Roy membuka hatiku remuk, dadaku sesak.
"Hiks, hiks." Aku masih saja menangis entah sudah pukul berapa sekarang. Bedanya aku sekarang bersender di dinding sambil terduduk lemas. Aku sudah mencoba untuk tidur tadi, tapi aku tak berhasil. Hatiku benar-benar gusar.
Mataku sudah membengkak sekarang. Sampai kudengar bunyi pintu kamarku berderik. Kudapati sosok mama yang sedikit menampakkan wajahnya.
"Ma? Aku nggak bisa pisah dari Roy. Batalkan saja perjodohan itu. Kami juga nggak akan bahagia nanti." Aku terisak memohon pada mama. Mama tak menjawabku, ia memilih memeluk dan menepuk-nepuk punggungku untuk menenangkan aku.
***
Hari sudah pagi, aku tak bisa menyembunyikan sembabnya mataku. Kudapati Mama sudah duduk di ruang tamu.
"Aku tidak bisa mengatakannya pada Roy, Ma. Mama harus membantuku," kataku sambil berlalu. Aku membersihkan diri, pikiranku tak lepas dari Roy dan perjodohan itu. Aku kembali ke kamar sesaat sebelum mama memamggilku.
"Mama udah nelfon, Roy. Katanya dia lagi di Medan ya? Hari ini mama akan ketemu sama dia. Apa kamu mau ikut?" Aku terhenyak menatap mama dengan perasaan kecewa.
Tak kusangka mama benar mengabaikan permohonanku semalam. Aku bungkam, masuk ke kamar dan membanting pintu kamarku.
***
Setelah kejadian itu, Roy tidak pernah lagi mengabariku. Aku pun tidak berani setidaknya mengirimkan pesan padanya.
Aku tidak tau apa mama benar-benar menemuinya hari itu. Aku hanya berharap tidak, tapi dengan menyadari Roy tidak pernah mengabaikanku walau satu hari saja, sepertinya mama sudah menemuinya.
Argh, hatiku gusar, aku merindukannya. Belum pernah seperti ini. Bahkan sudah 1 Minggu berlalu satu pesanpun tidak ku terima darinya.
"Boleh kita bertemu?" Akhirnya kudapati pesan Roy di ponselku. Jantungku berdegup tak menentu. Aku tidak tahu mengapa dia mengajakku bertemu.
"Tentu. Dimana?" Segera kubalas.
"Di taman dekat resto crispy yummy. Kalau bisa jam delapan malam. Maaf tak bisa kujemput." Balasan yang cukup singkat padat dan jelas.
"Okey." Kukirimkan balasan terakhir. Sekarang sudah pukul tujuh, aku siap-siap untuk berangkat. Mama belum pulang dari tokonya.
Kukirimkan pesan singkat izin aku keluar sebentar. Aku akhirnya berangkat setelah mendapat balasan dari Mama yang mengizinkanku. Ojol andalan sudah kupesan sedari tadi.
Akhirnya sampai juga di tempat ini. Tempat di mana Roy memberiku kejutan itu. Tak lama aku menemukan sosok Roy yang sudah duduk di bangku kemarin. Aku menghela nafas.
"Maaf. Aku terlambat," kataku sembari mendekatinya dan duduk di sampingnya.
"Nggak apa-apa," jawabnya sambil tersenyum kecil. Aku tidak dapat mengartikan senyumnya saat ini. Kami diam sejenak. Seperti tidak ada yang berani mengawali. Bukankah ini aneh? Padahal terakhir kami bertemu semua baik-baik saja. Kecuali Mama memang menemuinya.
"Roy." "Ta." Kami memanggil bersamaan. Lalu kembali diam.
"Ada apa, Roy?" tanyaku lirih.
"Kita putus aja, Ta."
Jleb
Seperti ada sebilah pisau yang menghantam tubuhku. Tak terasa air mataku membanjiri wajahku. Aku terisak sambil menunduk. Aku tahu ini akan terjadi, tapi kenapa rasanya sakit sekali? Roy menarikku dan menaruh dalam dekapannya.
"Maaf," katanya. Kurasakan suaranya bergetar. Iya menepuk-nepuk punggungku.
"Aku tau kamu mencintaiku, dan kamu juga tau aku jauh lebih mencintaimu, tapi itu nggak berarti kalau kita tidak mendapat restu," sambung Roy membuatku semakin terisak.
Apa yang sudah mama katakan pada Roy? Mengapa mama tega? Padahal aku melihat mama juga menyukainya kala Roy pernah datang ke rumah.
Mama juga pernah bilang padaku bahwa Roy anak yang baik. Tapi kenapa mama memilih pria itu yang jelas-jelas tidak mencintaiku?
"Mamamu tidak menyuruh kita putus, Ta," kata Roy seakan mengetahui isi fikiranku.
"Ia hanya mengatakan bahwa papa kamu sangat menginginkan perjodohan kalian. Aku sendiri yang membuat keputusan ini."
Apa? Aku tak percaya ini. Harusnya Roy tidak mengakhiri hubungan kami. Apa Roy tidak mencintaiku?
"Aku sangat mencintaimu, Ta. Percayalah." Lagi-lagi ia mengetahui apa yang ada dibenakku.
"Tapi, cinta diantara kita nggak cukup. Aku tahu papamu sangat menyayangimu. Dia hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Dan mungkin itu bukan aku. Jangan terlalu membenci mereka. Aku perhatikan Yoseph juga baik. Dia pasti jauh lebih baik dariku." Roy melanjutkan membuatku semakin hancur.
"Roy!" Aku memanggilnya lirih.
"Kamu pasti bahagia, Ta, bersama Yoseph."
"Bagaimana? Aku tak mencintainya. Aku hanya mencintaimu, Roy. Hiks." Dia kini memegangi wajahku. Menghapus air mataku.
"Aku yakin perasaanmu akan berubah, seiring berjalannya waktu. Asal kamu mau mencobanya. Kumohon jangan menangis lagi." Ia mengecup hangat keningku.
Pertemuan ini berakhir, seiring berakhirnya kisah kami. Roy menggenggam kedua tanganku.
"Aku yakin, dia bisa membahagiakanmu," kata Roy meyakinkanku. Kami berjalan meninggalkan taman ini.
Aku memegangi tangan Roy, seakan tak rela berpisah dengannya, sampai aku melihat sesosok pria seperti memandangi kami sedang berdiri tak jauh dari tempat kami.
Itu Yoseph. Apa yang dia lakukan di sini? Kami semakin dekat dengannya. Roy menyapanya dengan menyodorkan tangannya. Tapi apa? Pria itu tak membalasnya. Ia malah berlalu meninggalkan kami. Ya Tuhan, pria macam apa yang akan aku nikahi ini?