My Household

My Household
Hidup Tanpa Papa


"Ayo pulang, Sayang!" kata mama dengan suara berat sambil mengulurkan tangannya ke arahku. Aku masih saja duduk di dekat tanah pusaran papa.


Kakiku sepertinya tak kuat untuk melangkah menjauh darinya. Aku cukup dekat dengan papa, aku merasa kurang adil ketika aku tak bisa melihat papa menghembuskan nafas terakhirnya semalam.


Harusnya aku berada di sampingnya waktu itu. Kusentuh nisan papa dan berbisik dalam hati aku akan sangat merindukanmu. Aku akhirnya meraih tangan mama dan mencoba untuk berdiri.


Mama tersenyum melihatku dengan matanya yang sedikit sembab. Aku tahu dia pura-pura kuat untukku, walau sebenarnya dia sangat rapuh. Kakiku tergopoh untuk melangkah menjauh dari pusaran papa.


Om Santoso dan tante Indri yang mendorong kursi roda suaminya mengikuti kami dari belakang. Mereka sangat membantu kami dalam mengurus pemakaman papa. Om Santoso memang sangat baik, ditambah dia adalah sahabat papaku sejak kecil. Mereka sudah seperti saudara.


Tak berapa lama kami akhirnya sampai di rumah. Aku melihat Laras, Yosep, Roy, dan Widya sudah menungguku di halaman rumahku. Laras dan Widya berlari ke arahku sambil memelukku. Tak sepatah katapun keluar dari bibir mereka. Aku tahu mereka memahami perasaanku saat ini. Aku mencoba tersenyum. Yosep juga menjabat tanganku. Dan terakhir Roy, dia memelukku dan mengusap lembut rambutku.


"Terima kasih kalian sudah datang," kataku singkat. Aku meninggalkan mereka dan masuk rumah. Aku membuka pintu dan mengedarkan pandangan ke sekeliling rumahku.


Biasanya ketika aku pulang, orang yang pertama menyambutku adalah papa. Sekarang berbeda, papa sudah kembali kepada Tuhan. Air mataku kembali jatuh membasahi pipiku. Mama dan teman-temanku akhirnya mengikutiku masuk ke rumah.


Aku mengusap air mataku agar mereka tidak menyadarinya. Aku memasuki kamarku dan meraba-raba fotoku bersama papa dan mama. Aku kembali sesegukan menahan tangis.


Aku keluar setelah mendengar teman-temanku berpamitan pada mama.


Kupandangi mereka yang berjalan ke halaman rumah, sampai tak terlihat lagi. Aku memeluk mama yang menggenggam tanganku. Tinggal aku dan mama sekarang di rumah ini.


***


Satu bulan sudah kami kehilangan papa. Aku dan mama harus melanjutkan hidup. Menerima kenyataan bahwa papa tidak ada lagi bersama kami. Mamaku memiliki sebuah butik. Percayalah ini tak semewah yang kalian pikirkan. Hanya sebuah toko kecil, yang menjual pakaian wanita dan anak-anak.


"Gimana, Ta? udah ada yang nerima belum?" tanya mama saat kami sedang menonton setelah menyantap makan malam. Saat ini aku memang sedang mencoba mencari pekerjaan.


Puluhan lamaran kerja sudah aku layangkan ke beberapa rumah sakit, namun sampai sekarang aku belum juga diterima.


"Belum, Mah," jawabku singkat.


"Ya udah, nggak apa-apa, Sayang, yang penting kamu harus terus berusaha jangan putus asa ya!"


"Iya, Ma, tenang aja. Lagian Ita masih 1 bulan kan nganggurnya. Eh, nggak nganggur deh, kan Ita bantuin di butik mama." Kami pun tertawa kecil.


"Ya udah, kita tidur aja yuk, Sayang, udah larut. Takutnya besok kesiangan, kan harus ke butik," kata mama seraya beranjak dari sofa.


***


Pagi ini aku bangun lebih awal untuk mempersiapkan sarapan dan bekal untuk dibawa ke butik mama. Aku sengaja tidak membangunkan mama karena aku tahu mama cukup lelah belakangan ini.


Setelah selesai berberes, aku masuk ke kamarku. Duduk di atas kasur dan meraih boneka beruang milikku. Boneka itu Laras bawa ke rumah di hari pemakaman papa.


Aku memeluknya dan menaruhnya di pangkuanku. Aku membuka ranselku dan meraih laptop dari sana. Segera membuka e-mail setelah kunyalakan hotspot dari ponsel pintarku.


Dan, apa? Ada e-mail masuk. Aku penasaran surat dari siapa. Yashh, ternyata balasan surat lamaran kerja yang kukirim ke salah satu rumah sakit. Aku cukup teliti dalam membacanya.


Hahhh?? Betapa kagetnya aku, ini panggilan untuk wawancara dan wawancaranya hari ini. Sial, apa-apaan ini? Ini pertama kali aku mendapat surat panggilan wawancara dan semuanya harus tiba-tiba seperti ini.


"Gila, bagaimana ini?" batinku. Surat email itu memang sudah masuk dua hari lalu. Bodohnya aku tak menyalakan pemberitahuan e-mail di ponselku. Aku menggerutu.


"Ita?!" Terdengar suara mama memanggilku dari luar. Segera aku menutup laptopku dan meraih ponselku.


"Iya, Ma?" jawabku sambil memainkan ponsel.


"Kamu udah siap mandi?" tanya mama sambil duduk di sampingku.


"Udah dong, Ma."


"Kok, nggak bangunin Mama, sih?"


"Nggak apa-apa, Ma. Mama kan udah capek. Nggak ada salahnya istirahat bentar lagi." Mama tersenyum sambil mengusap rambutku.


"Ya udah, Mama mandi dulu ya?" kata Mama. Aku mengangguk. Mama melangkah pergi untuk keluar.


"Ehm, Ma?" Aku memanggilnya. Membuat mama menghentikan langkahnya dan segera berbalik. Ia mengangkat sedikit alisnya sebagai isyarat bertanya.


"Hari ini, Ita libur ya? Boleh kan, Ma?" lanjutku. Mama mendekat sedikit bingung. Aku memang tidak pernah minta libur sebelumnya.


"Kamu tadi yang bilang Mama yang capek, kok kamu yang minta libur sih?" Aku tersenyum sambil memperlihatkan gigiku.


"Heheh, nggak apa-apa kok, Ma. Cuman pengen libur aja." Mama pun tersenyum kecil.


"Ya udah, nggak apa-apa, Sayang. Kamu libur aja. Lagian Mama paham kok kamu juga cape. Sekarang Mama mandi dulu biar siap-siap ke toko," kata Mama. Aku mengangguk.


Aku beranjak ke arah lemari pakaianku. Memilih-milih kemeja dan rok terbaik milikku. Ini wawancara pertamaku, walaupun tanpa persiapan setidaknya penampilanku harus yang terbaik.


Aku keluar kamar setelah mama memanggilku untuk sarapan. Aku memutuskan untuk tidak memberitahunya tentang wawancara ini. Aku tidak ingin memberinya harapan palsu, karena semua tampak terburu-buru.


Mama akhirnya pamit setelah sarapan. Aku langsung menuju kamar setelah membereskan piring pagi ini. Mengganti pakaianku dengan kemeja yang sudah kusisihkan tadi. Kupilih sepatu kesukaanku dan beranjak keluar. Supir ojol yang kupesan dari tadi sudah menungguku di depan rumah. Aku mengunci pintu dan menarik nafas dalam-dalam.


"Semoga beruntung Ita." Kataku dalam hati sambil mengepalkan tanganku menyemangati diri sendiri. Aku segera menaiki sepeda motor ojol itu.


"Mau kerja ya, Dek?" tanya supir setelah melajukan motornya perlahan.


"Heheh, belum, Pak. Masih wawancara. Mudah-mudahan diterima nanti," jawabku. Supir itu mengangguk.


Tak berapa lama aku akhirnya tiba di rumah sakit. Rumah sakit ini sebenarnya tidak jauh dari rumahku. 15 menit akan sampai jika kutempuh berjalan kaki.


"Trimakasih ya, Pak!" kataku sambil memberi selembar uang sepuluh ribuan.


"Iya, Dek, sama-sama. Semoga diterima ya? Semangat!!!" katanya sambil mengepalkan tangannya.


Aku tersenyum. Lumayan ada yang menyemangatiku.


Detak jantungku sedikit tidak beraturan. Aku mencoba menenangkan diri dengan berulang kali menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Aku pun duduk sambil menunggu giliran setelah melalui beberapa prosedur.


"Clarita?!" Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Segera aku menoleh. Apa? Ini Bunga, salah satu mahasiswi seangkatanku di Akademi. Dia sangat berprestasi.


Jadi dia sainganku juga di sini.


Nyaliku semakin ciut mengingat aku bukan apa-apa dibandingkan dia.


"Ehh, Bunga. Kamu ngelamar di sini juga?" balasku. Ia tersenyum sambil mengangguk setelah akhirnya dia memilih duduk di sampingku.


Aku memperhatikan dia sejenak, kulihat dia menggerak-gerakkan kakinya. Sepertinya dia juga grogi. Tapi dia terlihat lebih percaya diri daripada aku.


"Saudari Bunga?!" Terdengar petugas personalia memanggil. Bunga akhirnya mengangkat tangannya.


"Silahkan masuk!" sambung petugas itu.


"Aku duluan, ya?" Bunga pamit padaku. Aku tersenyum sambil mengepalkan tanganku.


Selang beberapa waktu ia pun keluar dari ruangan itu, terlihat binar wajahnya.


Hmmm, sepertinya dia melaluinya dengan sangat baik.


Aku berdiri menyambutnya yang juga datang ke arahku. "Gimana?" tanyaku setengah berbisik.


Tak sempat ia menjawab, namaku pun dipanggil. Aku mengangkat tanganku. Petugas personalia mempersilahkan aku masuk. Bunga tersenyum sambil menyemangatiku. Aku melangkah kecil ke arah ruangan itu sambil menarik nafas dalam-dalam sebelum masuk.


***


Akhirnya wawancara selesai juga. Tak terlalu sulit tadi. Mereka yang mewawancaraiku cukup ramah sehingga aku bisa cukup tenang. Aku tidak mau terlalu berharap, mengingat Bunga salah satu pesaingku.


Meskipun begitu aku tetap memberi yang terbaik tadi. Aku melangkah keluar ruangan wawancara. Mataku mencari-cari sosok Bunga di tempat antrian, namun aku tidak bisa menemukannya.


Kemana dia?


Aku kembali duduk di kursi antrian dan mengambil ponselku dari ranselku. Kudapati sebuah pesan singkat. Iya, itu dari Bunga.


"Ta, aku duluan, ya? Tiba-tiba aku ada urusan." Isi pesan Bunga. Jariku mulai menari-nari di atas layar ponselku.


"Loh, udah tes kesehatan?" Isi balasanku untuk Bunga. Kali ini Bunga tak membalas lagi. Kusimpan kembali ponselku ke dalam ranselku setelah namaku kembali dipanggil untuk tes kesehatan.


***


Aku membaringkan diri di kasurku. Aku menatap kosong ke langit-langit kamarku. Teringat Bunga belum membalas pesanku tadi. Segera kuambil ponselku dan kucek apa Bunga sudah membalasnya, namun belum juga dia membalas.


Akh, mungkin dia sudah tes kesehatan tadi.


Aku segera beranjak dari tempat tidurku untuk mandi. Sudah jam empat sore, biasanya mama akan pulang jam lima lewat. Aku segera menyiapkan makan malam, biar mama bisa langsung makan nanti.


"Ita?!" Kudengar suara mama memanggil dari balik pintu. Aku yang sedang menonton televisi segera beranjak untuk membuka pintu.


"Gimana liburannya hari ini, Sayang?"  tanya mama sambil tertawa kecil.


Aku hanya nyengir tak menjawab. Mama langsung menuju kamar mandi. Aku mempersiapkan makan malam di atas meja dan duduk sambil menunggu mama.


"Ngapain aja tadi, Ta?" tanya mama yang sudah selesai mandi sambil menarik kursi dan duduk untuk makan malam.


"Gak ngapa-ngapain kok, Ma," jawabku sambil tersenyum. Mama mengangguk dan tak bertanya lagi.


"Rame tadi, Ma?" Aku balik bertanya.


"Lumayan, Ta. Mama sedikit kewalahan tadi. Apalagi Bu Sri juga datangnya telat."


"Lah, kenapa Ma?"


"Katanya anaknya lagi demam, Ta." Aku pun mengangguk. Kulihat wajah mama yang menunjukkan lelahnya.


Seandainya aku udah kerja beban Mama pasti sedikit berkurang.


***


Hari ini pengumuman kelulusan test kemarin. Biarpun tak terlalu berharap, tapi aku tetap menunggu hasilnya. Setidaknya aku akan tahu sampai dimana kemampuanku. Lagi pula ini pertama kali untukku setelah melayangkan beberapa lamaran.


Tentu saja aku sudah menyalakan pemberitahuan e-mail di ponselku. Sesekali kulirik ponsel pintarku sambil melayani pelanggan yang lumayan ramai hari ini. Mama sesekali memperhatikanku. Ponselku seakan tak bisa lepas dari pandanganku hari ini.


"Kenapa sih, Ta? Dari tadi lirik-lirik ponsel. Nungguin chat siapa? Pacar?" tanya mama setelah duduk di sampingku sambil merapikan beberapa pakaian yang sudah sedikit berantakan dipilih pelanggan.


"Apaan? Nggak kok, Ma," jawabku. Mama tertawa kecil.


"Kalaupun iya, nggak apa-apa kali, Ta." Aku tak menjawab lagi setelah kulihat ada pesan masuk di ponselku. Tentu saja aku berharap itu pengumuman test kemarin, tapi ternyata tidak. Itu pesan singkat dari Bunga.


"Ta, gimana? Pengumumannya hari ini kan?" Isi chat dari Bunga. Aku sedikit kaget.


Apa hasilnya udah keluar, ya? Tapi aku belum dapat pemberitahuan. Apa aku nggak lulus ya, makanya aku gak dapat pesan. Apa Bunga lulus ya?


Pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan di kepalaku.


"Iya, Nga. Tapi aku belum dapat pemberitahuan dari RS-nya. Kamu gimana? Lulus? " Kubalas pesan Bunga.


"Aku gak bakalan lulus kali, Ta?" Bunga membalas setelah beberapa menit. Mataku terbelalak membaca pesan Bunga.


Why?


Aku bertanya-tanya.


Teringat wajahnya cukup binar setelah keluar dari ruang wawancara waktu itu. Menurutku dia melaluinya dengan cukup baik. Aku malas membalas pesannya, segera kugeser tombol panggil di ponselku. Aku menghubunginya.


"Iya, Ta?" Suara dari seberang setelah beberapa saat nada tanda tersambung terdengar. Aku menjauh sedikit agar Mama tidak mendengar apa yang akan kubahas dengan Bunga.


"Maksudnya gimana nih, Nga? Kok gitu? Kamu kan bisa? Apalagi kemarin kayaknya kamu bagus deh hasil wawancaranya. Kok pesimis sih?" Kubanjiri telinganya dengan sederet pertanyaan.


"Sabar, sabar. Satu-satu dong pertanyaannya."


"Heheh, iya maaf. Lagian bukan Bunga kalo pesimis gini."


"Hahaha, nggak pesimis, Ta. Aku kan gak ikut tes kesehatan kemarin. Jadi nggak mungkin lulus."


"Loh, kenapa? Pantesan kemarin aku nyariin gak ada. Aku chat juga gak kamu balas."


"Heheh, iya sorry, Ta. Jadi gini, pas kemarin aku habis wawancara aku dapat e-mail tuh. Isinya aku udah diterima kerja di luar kota. Jadi, aku mutusin buat siap-siap  berangkat aja."


"Wahh, selamat ya. Ih enak banget ta, tapi syukur deh saingan terberat aku udah gak ada. Heheh"


"Ya ampun, jadi kamu nganggap aku saingan terberat nih? Jadi gak senang kemarin kita ketemu?"


"Ehh, bukan gitu Nga, emm"


"Hahah, iya, Ta. Nggak apa-apa kali. Oh ya, udah dulu ya! Aku harus balek kerja. Btw semoga lulus ya, Ta."


"Ehh, iya deh, Nga. Thanks ya? Bye!"


Telfon dari bunga pun terputus. Aku kembali duduk di sebelah Mama yang masih merapikan beberapa baju yang tertinggal.


"Siapa, Ta? Serius amat tadi ngobrolnya?" Tanya mama.


"Oh, itu Bunga Ma. Teman kampus aku. Nanya khabar dia, Ma." Kataku berbohong. Mama hanya mengangguk.


Aku kembali meletakkan ponselku setelah beberapa pelanggan kembali berdatangan. Aku, Mama dan Bu Sri sibuk melayani mereka hingga sore.


"Trimakasih, Bu! Jangan lupa kembali ya!" kataku sambil tersenyum. Pelanggan itu menganggkat alisnya sambil tersenyum. Itu pelanggan terakhir yang pulang dengan beberapa baju yang dibelinya.


Mama tersenyum puas hari ini, bu Sri juga. Baju di toko mama cukup banyak yang terjual hari ini. Bu Sri izin pulang duluan. Dia harus mengurus buah hatinya yang masih kecil.


Aku dan mama memutuskan untuk pulang setelah membereskan toko.  Kuambil ponselku yang masih terletak di meja kasir tadi dan segera kumasukkan ke dalam tas kecilku.


Aku mengunci toko sedang Mama membeli makanan di seberang jalan untuk makan malam kami nanti di rumah. Mama mulai melajukan mobilnya perlahan setelah kembali. Tak ada obrolan kali ini.


Mama hanya memasang musik dan kami ikut bernyanyi. Aku tiba-tiba teringat pengumuman hari ini.


Segera kucek ponselku. Tentu saja pemberitahuan e-mail sudah tampak di layar ponselku. Segera kubuka isi e-mail itu. Dan taraaa ...


"Hah?? Lulus??" kataku sedikit berteriak.


"Kenapa, Ta? Kok sampe teriak gitu. Bikin Mama kaget aja," kata mama yang sedikit kaget karena suaraku.


"Ma, aku diterima kerja di Rumah Sakit Cinta Kasih,"  kataku masih membaca berulang-ulang e-mail tadi. Aku berharap aku tidak salah. Dan memang tidak salah. Aku benar-benar diterima di rumah sakit itu.


"Wahh, selamat ya, Sayang! Akhirnya kamu dapat kerja juga."


"Iya, Ma." Aku memeluk lengan Mama."


Tapi ada apa dengan ekspresi itu. Mama kok biasa aja sih? Kok Mama gak nanya kapan aku test?


Aku sedikit bangun dari lengan Mama dan menatapnya heran.


"Hahah, iya Ita. Mama udah tau kalo kamu kemarin ke Rumah sakit itu kan? Sok-sokan bilang mau libur. Padahal mau wawancara," kata Mama sambil tertawa. Wajahku masih menunjukkan raut heran.


"Tapi, kok Mama bisa tahu? Ita kan nggak ngasih tahu sama Mama?" tanyaku masih penasaran. Mama masih tertawa kecil.


"Ya iyalah, mau nutupin tapi nggak rapi. Ya ketahuan. Hari itu pas Mama mandi pulang dari toko, Mama lihat kemeja kamu yang masih belum dicuci," jawab mama. Spontan aku menepuk dahiku.


'Bodohnya!' sesalku dalam hati.


"Ditambah lagi tadi pas telfonan. Ita fikir, Mama nggak dengar? Bu Sri aja tau kok," sambung mama yang masih tertawa melihat reaksiku menyesali diri.


"Yahh, jadi gak surprise dong, Ma." Aku mengeluh pada diri sendiri.


"Maaf ya, Ma. Ita nggak maksud buat bohongin Mama. Ita cuman gak mau ngasih harapan palsu ke Mama. Ita gak yakin bakalan lulus. Apalagi hari itu pertama kali Ita wawancara. Jadi cuman mau nyoba aja sih. Eh tau-taunya malah lulus." Aku menjelaskan ke Mama.


"Ya syukur dong, Sayang. Lagian nggak apa-apa Ita. Mama ngerti. Sekarang Ita udah dapat kerja. Berarti Ita harus lebih semangat lagi, Sayang," kata mama sambil mengusap lembut rambutku dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih stay di kemudi mobil.


Aku benar-benar bersyukur untuk pekerjaan ini. Boleh dibilang aku termasuk beruntung tidak lama dalam masa pengangguran.