
Lian memperhatikan Jocelyn dengan seksama. Jocelyn dan Joyalin memang kembar, namun yang membedakan mereka adalah sorot matanya. Jocelyn mempunyai sorot mata tajam sedangkan Joyalin mempunyai sorot mata lembut.
Entah kenapa Lian lebih tertarik kepada Jocelyn daripada Joyalin
ππππ
Setelah menjamu Lian, Dimas mengajak mereka ke ruang tamu.
Dimas dan yang lainnya langsung menuju ruang tamu berbeda dengan Adrina yang sengaja menunggu Jocelyn
Saat Jocelyn ingin beranjak dari bangkunya, terlihat Adrina menahannya.
"Kenapa kau masih berada disini?"
"kenapa? Kau terlalu bahagia melihat kehadiranku? Dengar Adrina, apapun rencanamu yang ada dikepala busukmu itu. Aku tidak takut menghadapinya.
Dulu kau pernah berencana membunuhku, bukan? Tapi kau lihat sekarang, kau takkan bisa apa apa lagi. Jangan pernah berpikir aku akan melepaskanmu dan juga Wina"
"Kau mengancamku?"
"jika kau menganggap itu adalah ancaman, silahkan saja. Aku tak pernah main main dengan ucapanku"
Setelah mengatakan itu, Jocelyn langsung meninggalkan Adrina dengan segala kemarahan yang dia tahan sedari tadi.
ππππ
Jocelyn melihat wajah kakak laki lakinya itu memerah seperti menahan amarah.
Jocelyn dengan anggun berjalan menuju sofa yang diduduki oleh Arkan dan Joyalin.
Terlihat dengan jelas wajah canggung Dimas.
"ehheemm"
Jocelyn berdehem
"apakah kalian sedang berlomba untuk diam? Ahhkk, aku sungguh benci situasi dimana aku harus diam tetapi mulutku selalu ingin bicara"
lanjut Jocelyn
wanita ini sungguh sangat bar bar.
batin Lian
"katakan padaku, ada apa? Aku sudah lama tidak melihat kalian jadi aku tidak tau apa yang membuat kalian sakit gigi bersamaan"
"hiks.. hiks.." terdengar isak tangis dari arah Joyalin
"hey, ada apa? Apa ayah memarahimu?"
tanya Jocelyn
"Jo!!"
"why?"
"aku akan membawa pulang saudaramu itu kerumahku" Lian berkata dengan nada sangat dingin
"kau? Kau pacar adikku?"
"bukan tapi aku pemilik adikmu"
"apa? hahahahah....
Don't joke, man."
"aku tidak bercanda"
"memangnya kau siapa? Untuk apa kau mem awanya pulang kerumahmu?" ketus Jocelyn
"maaf nona, saya harap anda bisa menurunkan intonasi anda pada tuan muda Lian" bukan Lian yang menjawab namun Jodi
"aku tidak bicara padamu! Dan kau, untuk apa kau membawa pulang kembaranku, hah?"bentak Jocelyn
wanita ini, berani sekali dia membentakku.
batin Lian
"tentu saja jadi mainanku, menurutmu apalagi selain itu?"
"wow. Aku rasa kau harus menghadapi ku dulu tuan muda yang terhormat."
Jocelyn menekan kata tuan muda yang terhormat
"Jocelyn, hentikan kau hanya akan mempermalukan keluarga kita" ucap Dimas yang sedari tadi hanya diam melihat Jocelyn berdebat dengan Lian
"keluarga? apa ayah masih mengganggap aku adalah keluarga?"
"apa maksudmu? Jangan permalukan nama keluarga kita"
"cihh. Sekarang saja keluarga. Dengarkan aku, keluargaku hanyalah kak Arkan dan juga Joya."
"apa ayah takut? Ayah takut kehilangan uang ayah?" lanjut Jocelyn dengan nada getir
aku sungguh tak menyangka jika ayah setega ini. Dan kak Arkan juga pasti tak akan membiarkan itu semua terjadi.
batin Jocelyn
"aku tidak akan menyerahkan Joya padamu. Dan hari ini aku bersama kak Arkan dan Joya akan pergi dari tempat terkutuk ini"
"jangan harap kau bisa lari dariku" ucap Lian dengan tatapan mematikan
Saat ini Lian sungguh sangat marah karena ada gadis bar bar dengan segala keras kepala yang berani membentaknya.
"dengarkan aku, aku tidak tau kau siapa dan aku juga tidak mau tau akan hal itu. Jika aku berkata tidak maka hasilnya akan tidak. Jika kau menginginkan adikku karena kau menyanyanginya mungkin aku akan dengan senang hati melepasnya. Tapi jika kau hanya ingin menjadikannha mainan, lebih baik buang saja pikiran busukmu itu jauh jauh." ujar Jocelyn dengan lantang
"baiklah, Joya ayo"
"tapi bagaimana dengan Jo?"
"Joya, kau dengar kata Jo kan?"
Joya pun mengangguk
"Jo! aku kekamar dulu"ujar Arkan sembari meninggalkan Jocelyn diruang tamu
"iya, pergilah. Dan jangan macam macam pada adikku." setengah berteriak Jocelyn sambil tersenyum
"tutup mulut mu Jo!" teriak Arkan kesal
πππππ
"kau!!! Berani sekali kau mempermainkanku" teriak Lian
"dengar, jika kau berniat baik pada adikku aku takkan mempermaikanmu" kata Jocelyn dengan nada dingin dan tatapan tajam
"nona Jocelyn, saya menyarankan anda untuk tidak melawan pada tuan muda Lian. Atau anda akan tau akibatnya nanti" ancam Jodi
"terserah padamu" jawab Jocelyn asal
"anak tidak tau diri kau"teriak Dimas
"me?"
"kenapa kau datang hanya untuk mengahancurkan rencanaku. MAU TIDAK MAU JOYA AKAN TETAP PERGI BERSAMA TUAN MUDA LIAN!!"
"aku tidak mengizinkannya"
"baiklah, jika kau tidak mengizinkan aku membawa adikmu. Maka kalian akan kehilangan perusahaan kalian dan mungkin kehidupan keluargamu akan terluntang luntang" kata Lian
"jangan kau pikir aku akan takut, LIAN"
"berikan aku alasan kenapa kau tidak mengizinkan aku membawa pulang adikmu!"
"apa kau bodoh? kakak mana yang membiarkan adiknya harus menderita? Lagian Joya juga sudah mempunyai kekasih, jadi jangan persulit kehidupannya. Kehidupannya sudah sulit selama ini."
"aku tidak peduli"
"aku tidak menanyakan kepedulianmu"
"kau..." Lian menahan marah
"kenapa? kau tidak suka jik..."
"terserah. Tapi aku pantang untuk menarik kembali kata kata ku, maka dari itu aku akan tetap membawa salah satu anak gadis Dimas. Berhubung kau tidak mengizinkan aku membawa adikmu itu pulang maka aku akan membawamu pulang sebagai MAINANKU"
"HAHAHAHAHA...
Kau ini lucu sekali, aku tidak membolehkan mu membawa adikku pergi dan sekarang kau malah mau membawa ku pergi sebagai mainanmu? Apa kau pikir aku mau?"
"jangan main main padaku"
"baiklah, baiklah. Karena aku sudah terlibat dalam masalh yang ditimbulkan ayahku maka aku akan ikut bermain dalam permainanmu tuan muda yang terhormat"
"kau...."
"Lian, apa kau punya adik?"
"....."
"aku rasa kau juga akan melakukan hal yang sama sepertiku untuk kebahagiannya"
"lalu?"
"aku akan mengikuti kemauanmu, tapi ada syaratnya"
"kau berani sekali padaku. Aku tidak sedang melakukan penawaran atau memang ini rencana Dimas?"
"Cihh, walau Dimas ayahku. Aku takkan pernah mau bersekutu dengan manusia hina seperti mereka."
"apa mau mu?"
"nahh, seperti ini dari tadikan enak. Kau sihhh terlalu banyak tanya. Tapi malam ini aku mengantuk, lebih baik kita lanjut besok. Kemarikan handphone mu"
"kau mau apa?"
"sudahlah, kemarikan saja" perintah Jocelyn
Lian memberikan handphonenya pada Jocelyn. Jocelyn langsung mengetik nomor ponselnya di handphone milik Lian
"nahh, kau pulanglah. Ini sudah malam nanti kau dimarahi oleh orang tuamu jika pulang terlalu larut. Itu nomor ponselku, nanti jika kau sudah sampai di rumahmu kau hubungi atau kau sms jika kau sudah sampai"
"kau mengusirku?"
"hoaammm, aduh Lian aku sudah mengantuk. Pulanglah besok aku akan menghungimu lagi. Aku tidur dulu, jangan lupa beritahu aku jika kau sudah sampai. Good night Lian, and robotnya Lian"
Jocelyn langsung meninggalkan Lian dan yang lainnya di ruang tamu
Sementara Lian tertawa terbahak bahak mendengar Jocelyn mengatakan Jodi adalah robotnya Lian.
"kau lihat, dia saja langsung mengataimu robot karena wajah mu terlalu kaku"
"iya tuan muda"
"baiklah kita pulang"
πππππ