JOCELYN

JOCELYN
Makan Malam


Tibalah malam hari, Adrina dengan lantangnya memanggil nama Joyalin.


"Joya! Joya!"


Jocelyn yang mendengar teriakan Adrina ingin sekali rasanya menyumbat mulutnya yang sangat berisik itu.


Dengan cepat Joya mendatangi ibu tirinya itu.


"iya, ada apa bu?"


"cepat gunakan gaun itu, karna sebentar lagi tuan Liam akan datang"


"tapi bu..."


"apa? Kau ingin membantah? Kalau kau tak menurut aku akan memasukkanmu ke rumah pelacuran. Kau mau?"


"Ti.. ti.. tidak bu, jangan, aku mohon."


"kalau begitu menurutlah"


Dengan langkah lunglai, Joya kembali kekamarnya dan mendapati dengan wajah yang sangat dingin.


"Jo!"


Isak tangis Joya pecah setelah melihat keberadaan Jocelyn


"aku tidak mau menikah, aku mencintai laki laki lain. Tapi jika aku membantah, maka ibu akan menjadikanku pela*cur.Hiks.. hiks... hiks.. Aku tidak mau"


"sstt.. Hey, kenapa menangis hanya karna hal itu?"


"...."


"bukankah sudah kukatakan aku akan melindungimu? Lalu apa yang kau takutkan?"


"tapi Jo.."


"sudah, kemarikan gaun itu!"


"Jo! Sungguh aku sangat takut"


"tidak usah takut, aku ada di sini"


"...."


"trust me. Oh ya, kakak dimana?"


"aku tidak tahu kakak ada dimana"


"tenanglah, aku dan kakak ada bersamamu"


"terima kasih Jo"


"no problem."


πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€


Semua orang sudah berkumpul di meja makan, kecuali Joya dan Jocelyn.


Liam dan asisten sekaligus sekretaris pribadinya itu juga telah sampai.


"silahkan masuk tuan, sebentar saya akan panggilkan putri saya dulu"


ck. Ayah macam apa dia? Bisa bisanya dia menukarkan kebahagiaan adikku dengan kesenangannya. Sungguh, jika aku tidak mengingat kau adalah ayahku. Mungkin saat ini kau hanya tinggal nama.


Batin Arkan ingin sekali berteriak namun dia urungkan


"tidak perlu, biarkan dia datang dengan sendirinya" Liam menjawab ucapan Dimas dengan nada dingin


"ohh, baiklah tuan. Kalau begitu mari kita ke meja makan."


Joya tak kunjung keluar dari kamarnya, hal itu membuat Adrina dan Dimas menjadi geram


"Arkan, dimana adikmu?"


tanya Dimas


Arkan mengangkat bahunya lalu berkata dengan santainya


"mungkin dia sudah kabur. Siapa juga yang mau dinikahkan secara paksa oleh ayah kandungnya sendiri?"


"jaga mulutmu Arkan!"


"kenapa ayah? Ayah takut uang ayah hilang? Joya itu adiknya Arkan yah, kenapa ayah tega sama Joya. Dan katakan pada istri tercintamu itu untuk berhenti bermimpi untuk membuang Joya dari rumah ini seperti yang dia lakukan pada adikku Jocelyn"


plakkk....


Terdengar tamparan keras dari Dimas kepada Arkan. Arkan mengepalkan tangannya


Liam memperhatiakan bagaimana Dimas menampar Arkan hingga Liam memecahkan keributan yang terjadi beberapa detik yang lalu


"apa kalian tidak bisa menghentikan drama keluarga kalian ini?"


"maafkan anak saya tuan" kata Dimas


"tidak apa apa, tapi aku tak pernah memaafkan orang yang mempermainkan ku" tukas Liam


πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€


"maaf aku terlambat"


Joya? kenapa dia malah datang? Apa rencana Jocelyn?


Batin Arkan


"darimana saja kau?" ketus Adrina


Joya tak menjawab pertanyaan Adrina, hal itu membuatnya menjadi kesal.


Makan malampun berlangsung hingga..


tak.... tak.... tak....


terdengar suara heels seseorang


"apa aku mengganggu?"kata seorang gadis dengan wajah datarnya


"kau.." ujar Adrina terkejut


"lama kita tidak berjumpa, Adrina"


Jocelyn tersebyum miring pada Adrina yang terlihat sangat terkejut


"apa aku tak bisa ikut makan malam dengan kalian?"lanjut Jocelyn


"tentu saja sayang. Aku sangat menrindukanmu, bagaimana bisa aku menolakmu" ujar Arkan yang merasa bahagia dengan kehadiran Jocelyn.


Jocelyn duduk dengan anggun disamping Arkan dan Joyalin.


"ehemm.. Maaf, kita bisa melanjutkan makan malamnya"


mengapa anak ini masih hidup? bukankah dia sudah mati?Batin Adrina


Jocelyn? Bagaimana bisa dia ada disini? Dia akan mengacaukan semuanya nanti. Batin Dimas


Siapa dia? Apa dia yang bernama Jocelyn? Dia cantik. Batin Liam


πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€