
"Ma Athi pergi kuliah dulu! Asalamualaikum." Athi mencium tangan Citra,
"Wa'alaikumsalam," Citra menjawab sambil tersenyum, Citra merasa sangat senang karena Athi masih sangat menjunjung tinggi kesopanan.
Athi berlalu keluar rumah, melewati pintu utama rumahnya yang besar dan mewah. Baru saja ia ingin berjalan menuju pintu bagasi rumahnya ia menatap mobil mewah bermerek BMW sedang menunggu tepat di depan rumahnya.
"Mobil siapa sih nih, kok di biarin masuk?" Athi mengerutkan keningnya, ia menatap ke arah mobil itu. Sepertinya bukan orang biasa di lihat dari tipe mobilnya yang keluaran terbaru dan juga mewah.
'TIN TIN!'
Suara klakson mengaggetkannya. Kaira mengeram kesal, ia kenghetakan kakinya kelantai. "Siapa sih ngeselin banget!" dumelnya.
Jendela mobil terbuka dengan sendirinya, Athi sudah membuka mulutnya ingin mencaci,"Masuk!" ucap pria itu, Kaira mengatup mulutnya. Ia menatap kaget karena pria ini bisa disini.
Athi segera memutar badanya, membalikan tubuhnya mengarah ke arah lain. "Emang lo siapa nyuruh-nyuruh gue?" batinya. "Bodo amat, lagian gue juga gak perduli sama perjodohan ini!"
Athi segera berjalan menuju arah bagasi, pria itu langsung membuka pintu mobilnya dan turun dari sana. "Masuk!" titahnya tegas,
"Gak!" tolak Athi tak kalah ketus.
"Saya bilang masuk ya masuk!" Devan menarik lengan Athi sedikit keras.
"Aws," Ringis Athi, ia segera menarik lengannya paksa. Pria itu yang mendengar ringisan Athi langsung menarik tanganya.
"Lo kasar banget sih sama cewek!" Marah Athi, ia menaikan oktaf suaranya. Menatap Devan mulai risih. Athi segera melangkahkan kakinya semakin jauh dari Devan. Ia sungguh kesal melihat pria itu, apalagi tingkah kasarnya yang baru kenal saja sudah membuatnya luka.
Athi memegang lengan miliknya, rasa perih di lengannya perlahan memudar, namun rona merah menghiasi pergelangan tanganya. Athi segera mengeluarkan mobil putih kesayanganya dan mengendarainya keluar rumah. Ketika melewati Devan ia sengata mengeber mobilnya agar pria itu tahu bahwa ia tak suka melihatnya. Ia harus meninggalkan kesan buruk agar pria itu membatalkan perjodohan ini.
Disatu sisi, Devan termenung. "Kasar dengan wanita?" bahkan selama ini ia tidak tahu bagaimana cara memperlakukan wanita. Karena sejak dulu ia terlalu sibuk belajar dan tidak sempat untuk mengerti bagaimana memperlakukan wanita.
Wanita itu, Athi. Ia terlalu cerewet dan berisik menurutnya. Bahkan jika tidak dipaksa Devan juga tidak akan pernah mau untuk bertemu denganya. Apalagi mengantarkannya untuk pergi ke kampusnya.
Devan segera melajukan mobilnya dan segera pergi dari rumah Athi. Ia melajukan kencang mobil miliknya melampiaskan amarahnya. Baru kali ini ia di permainkan oleh wanita.
Oh, atau mungkin wanita itu sengaja mempermainkannya agar ia membatalkan perjodohan ini? Devan menarik sudut bibirnya membentuk seringai. Lihat saja pembalasanya.
Namun sebelum itu, dia harus meminta maaf kepada Athi terlebih dahulu karena tadi ia tak sengaja menarik lenganya dengan kasar.
***
'Tak!'
Suara langkah kaki terdengar sangat mencengkam, seiring langkah kaki itu menyatu dengan lantai, menghasilkan suara yang bergema di ruangan yang seketika menjadi hening, Suara detak jantung mereka semakin berdebar takut. Mereka, Para Karyawan perusahan milik Devan, mata mereka terus menatap kebawah menunduk tak berani menatap Devan yang selalu menatap tajam dan kejam.
Tiada hari tanpa pria ini marah karena kelalaian para perkerjanya, atau memecat begitu saja hanya karena tanpa sengaja melakukan kesalahan. Harus tertib dan disiplin, Apalagi jika ia sedang mengecek perkerjaan para karyawanya. Seperti sekarang, bahkan banyak dari mereka yang merasakan kakinya gemetar takut.
Takut hari ini akan menjadi hari terakhir mereka di perusahan ini.
Devan menatap sebentar, "Kamu!" Tunjuk Devan pada seorang wanita, ia langsung tersentak kaget. Yang lainnya juga bahkan sampai mengangkat bahunya. Mendengar suara tegas dan lantang milik Devan, yang tidak membedakan antara wanita dan pria.
Sepertinya Raja iblis ini sedang marah sekarang, siapa yang berani-beraninya membuatnya marah. Para karyawan ini menyumpah serapah di dalam hati mereka, "Kamu bisa buat marah, tolong padamkan tempramental buruk Devan!" Mereka terus saja berdo'a agar mereka tidak menjadi korban selanjutnya untuk pelampiasan Raja iblis ini!
"Laporan yang kamu kirim ke saya, di lembar ketiga, pada paragraf ke 13, pada kata nomor 28 kamu salah ketik!" Bentaknya, wanita itu langsung kaget, ia benar-benar tidak menyadarai bahwa ia melakukan kesalahan. Padahal terakhir kali ia sudah mengeceknya dengan teliti. Bahkan mata Devan lebih jeli di banding komputer. Tidak tahu terbuat dari apa manusia ini! Hatinya sangat keras dan wajahnya sangat kaku dan dingin, sifatnya sangat cuek dan tempramentalnya sangat buruk.
Semoga yang menjadi istrinya baik-baik saja.
Wanita itu segera memeriksa laporan miliknya segera meperbaikinya, untung saja hari ini ia cuma di peringati tidak langsung di pecat.
"Kamu!" Tunjuknya lagi dengan tegas, kali ini dengan seorang pria. Pria itu langsung berdiri tegap, ia menatap takut ke arah Devan.
"Dipecat!" ujarnya, Ia langsung berlalu pergi. Pria itu, jangan tanya ia, ia bahkan tidak berani menatap mata milik Devan apalagi menanyakan alasan kenapa ia di pecat.
Devan segera melangkah pergi, ia menuju lift pribadi miliknya, di ikuti dua bodyguard miliknya di belakang. Semua karyawan serempak langsung menghela nafas mereka lega. Akhirnya tekanan yang di keluarkan oleh Devan selesai juga. Untuk hari ini.
"Lio!" Devan langsung berteriak memanggil asisten miliknya ketika sampai di depan ruanganya. Lio yang tengah mengerjakan perkerjaannya langsung saja berlari. Ia mengakat tanganya, meletakannya di atas kening. Memberi tanda hormat dan berdiri tegap.
"Ahay bos!" Ucapnya, Ia tersenyum lebar, menyengir ke arah Devan. Devan hanya menatapnya tajam sebentar, ia tak suka keributan namun entah kenapa ia mendapatkan asisten yang bahkan lebih ribut di banding suara kicauan burung.
"Ikut!" Titahnya, setiap hari mulutnya hanya mengeluarkan kalimat perintah, menyuruh ini dan itu kepada karyawannya. Jika tidak bisa menyelesaikanya, maka satu. DIPECAT!
Namun masih banyak orang yang mengantri ingin masuk ke dalam perusahan miliknya. karena perusahaan miliknya memiliki gaji yang besar dan siapapun yang keluar dari perusahanya langsung diterima di perusahan manapun.
Devan memasuki ruangan elegan miliknya, ia langsung saja mengambil langkah panjang dan duduk di kursi kebesaranya. Ia mengangkat satu kakinya menompanya pada kaki satunya lagi.
"Lio!" panggilnya lagi.
"Mello Mellio ada disini ahay bos!" ucapnya, ia berdiri di depan meja milik Devan. Menyiapkan tab miliknya siap menerima perintah dari bosnya.
Devan mengangguk, ia ingin bertanya sesuatu dengan Lio, namun melihat ke anehan pria ini ia menjadi sedikit ragu. Tak pernah dalam hidupnya ia merasa ragu, ini semua karena wanita. itulah mengapa ia malas mengenal wanita.
Devan menelan Salvianya, ia menyenderkan bahunya ke kursi, menyatukan kedua telapak tanganya dan memegang pelipisnya,
"Iya bos?" Lio menatap heran Devan, baru kali ini ia melihat bosnya seperti ini.
"Cieee bos lagi jatuh cinta ya?" tanyanya mengejek. Devan segera menatapnya tajam, Lio langsung mengatup mulutnya. Namun alisnya tetap saja naik turun dan senyum menggoda.
Devan hanya bisa diam, memperhatikan godaan Lio, Apa orang tua lio tidak menyesal melahirkan anak aneh seperti lio?
"Menurutmu?" Devan menjeda sejenak, ia berfikir sebentar.
"Menurut saya bapak ganteng, tinggi, baik, kaya, tajir, mapan, cocok untuk tante saya di kampung yang masih jomblo sampe sekarang karena belum bisa move on dari tunangannya yang dulu lari sama istrinya RT saya yang cantik, bening, bohay, putih kaya bihun." jelasnya panjang lebar. Devan langsung menatapnya tajam sambil mengenggam kuat tanganya. Dosa apa yang telah ia lakukan sehingga harus bertemu dengan asisten kaya Lio. Ngomongnya banyak banget.
"Saya tidak perduli!" sangkal Devan. Ia langsung menegapkan badanya sambil menatap serius ke arah Lio.
"Aduh bos! jangan lihat saya gitu deh, saya kan jadi mayuuu!" Lio salting, Devan langsung menatap tajam asistennya itu.
"Bercanda kali bos, lagian bos tegang amat kaya anu!" ia terkekeh. "Eh anu!" lio langsung menutup mulutnya menyadari apa yang ia katakan tadi.
"Bagaimana cara minta maaf kepada wanita?" tanya Devan, Lio langsung membulatkan matanya kaget. Wanita?
"Bos berantam lagi sama nyonyah ahay bos?" tanyanya, Nyonya Ahay Bos adalah sebutan untuk bunda Devan oleh Lio. Tidak tahu kenapa Asistenya ini terlalu kreatif atau terlalu berisik.
"Tidak," Devan menggeleng, Lio langsung menatap aneh Devan. Setahunya Ahay bosnya ini tidak mengenal wanita lain selain ibunya.
"Oh!" Ia membulatkan matanya kaget, Pekikannya membuat Devan sedikit tersentak. Namun wajahnya kembali datar.
"Atau jangan-jangan Nenek nyonyah Ahay bos marah sama bos?" tanya Lio lagi. Devan kembai menggeleng.
"Semuanya salah!" Jawabnya.
"Saya di jodohkan," ucapnya singkat, padat, rapi, indah, cantik, bohay. Eh, itu resepsionis di kantornya. Si siti.
Lio melocat kaget! "Cewek apa cowok bos?" tanyanya. Devan langsung menatapnya tajam. Lio langsung menghela nafasnya lega.
"Ah, Akhirnya bos menunjukan tanda-tanda kenormalan!" pekiknya senang,
"Ya allah, Mello senang banget, nanti Mello beliin sendal buat Emak bapak di kampung!" ucapnya heboh, ia menangkup kedua tanganya di depan wajah. dan setelah itu mengusapkannya ke wajahnya.
Kenapa jadi dia yang senang? Sudahlah, Lio memang aneh. mungkin waktu emaknya ngidam, ngidam makan terompet makanya suara anaknya kaya terompet.
"Lio!" panggil Devan.
"Iya Ahay bos!" Ia menjadi lebih semangat dari sebelumnya.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Kirimin aja bunga banyak-banyak bos, pasti dia maafin bos!" saran Lio. Devan meggeleng,
"Dia alergi,"
"Yaudah kirimin aja makanan banyak-banyak, pasti dia senang." saranya lagi,
"Dia diet," tolak Devan lagi,
"Hmm,"Lio berfikir, "Ajak jalan-jalan aja bos!" ujarnya lagi.
"Dia benci saya." Lio langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Aduhh, pusing deh, pulang aja deh lio!" rengeknya.
"Semua salah, kenapa gak bos culik aja abis tuh paksa buat maafin bos!" ucapnya ngasal. Ia pusing melihat Devan yang terlalu banyak maunya.
"Ide bagus!" Ucap Devan.
Lio menatap kaget bosnya, "Bos beneran mau culik wanita itu?" tanyanya, Devan mengangguk.
"Nanti kalau marah Nyonyah Ahay bos saya gak ikutan ya" tolaknya.
"Keluar," titah Devan. Lio segera merengut mendengar titah Devan, Dia mengerutu sambil menghentakan kakinya layaknya seorang cewek yang marah dengan pacarnya. Ia berjalan gontai keluar ruangan milik Devan.
Sedangkan Devan, ia memikirkan cara untuk menculik wanita itu.
***
**Jangan lupa likenya ya! tambahin ke favorit dan Follow akun saya(>y<)
Terimakasih kepada yang sudah membaca.
Lio? keren kan**?