
"Athi!" Baru saja tubuhnya ingin mendarat di kasur king size miliknya, Namun suara mamanya malah menghentikan aktivitasnya.
Sudah seminggu semenjak pertemuan tak terduga antara Athi dan bodyguard tampan itu. Dan hal yang lebih menyenangkan lagi adalah karena Papa nya tak pernah membahas lagi tetang perjodohan yang dia ucapkan kemarin.
Mungkin papanya suda lupa, atau memang itu hanya ancaman agar Athi tidak membolos kuliah lagi.
"Athi!" Panggil mamanya lagi, "Mama panggilin dari tadi gak nyaut!" Ucap mamanya yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
Athi menghela nafasnya, bukannya malah menghampiri mamanya. Dia malah memilih merebahkan dirinya di kasur.
"Ah, cape mah!" Keluhnya, Kakinya terasa pegal ketika menggunakan hight heels seharian.
"Sayang," suara lembut citra membuat Athi menoleh ke arah mamanya itu. Tumben sekali bicara lembut?
Citra mengelus rambut anaknya, "Makan malam dulu, mama udah masakin makanan kesukaan kamu" Ucap Citra.
"Papa sama mama juga mau ngomongin sesuatu ke kamu." lanjutnya lagi,
Athi mengerutkan alisnya, mau bicara apa? batinya bertanya-tanya.
"Iya bentar ma, Athi mandi dulu." Ucapnya, mama nya mengiyakan setelah itu keluar dari kamarnya.
Athi segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya karena berkeringat sudah beraktivitas seharian.
Setelah selesai, Athi segera turun dari tangga menuju ke meja makan yang sudah ditunggu oleh mama dan papanya.
Athi duduk di bangkunya, namun suasana terdengar begitu hening ketika makan sedang berlangsung. Larangan tidak boleh berbicara ketika makan membuat hanya terdengar suara detingan sendok di ruangan ini.
Papa dan mama nya lebih dulu selesai makan, Athi yang baru saja selesai dan ingin meminum tiba-tiba tersedak ketika mendengar suara papa nya berbicara.
"Athi, jadi bagaimana dengan perjodohan kamu?"
'uhuk-uhuk' Athi segera meletakan gelasnya dan mengambil tisu untuk mengelap mulutnya.
Setelah itu dia kembali meneguk airnya, rasanya seperti menyangkut di tenggorokanya.
"Sayang, pelan-pelan." suara lembut Citra sambil mengelus pundak anaknya itu.
"Pa-papa!" panggilnya sedikit tercekat karena tenggorokanya terasa pekat.
Athi menatap papa nya dengan pupy eyes andalanya. "Papa beneran mau jodohin Athi?" tanya Athi sambil menatap Papanya itu tak percaya. ia kira sudah lupa.
Dewa mengangguk, "Papa serius Athi!" tegas papanya "Papa tidak pernah bercanda soal keputusan!"
"Tapi pa--," ada jeda sejenak sebelum Athi melanjutkan ucapanya, "Athi kan udah gak boros lagi seminggu ini! Athi juga nurut sama peekataan Papa." ucapnya.
Minggu ini Athi sama sekali tidak ada belanja dan tidak ada membolos kuliah seharipun.
"Tapi kamu belanja online!!" sela mama nya, "pakai uang mama lagi." cibir citra.
Athi menatap mamanya, ketahuan deh. "Ih itukan mama yang mau belanjain Athi." Ujarnya, kalau mama nya masih berada di sini pasti tidak akan pernah menang berbicara dengan papa nya. Apa lagi dia bingung harus mencari alasan apa untuk membatalkan perjodohan ini sebelum terjadi.
"Athi," papa nya kembali mengangkat bicara, Athi menatap papanya. Dia berharap semoga papanya tidak jadi menjodohkanya.
"Papa sudah membuat keputusan ini 2 bulan yang lalu. Dan juga, papa sudah berjanji untuk menjodohkan kamu dengan anaknya teman papa itu sejak lama athii." ujar papa nya menjelaskan.
Athi diam sejenak, mencarna perkataan papa nya yang masih dia tidak mengerti. "Papa dan mama itu egois! Athi gak mau di jodohin, athi udah punya pacar! dan athi bakal lakukan apapun demi membatalkan perjodohan ini!" Ucap Athi, mendengar ucapan Athi darah Dewa terasa berdesir. Emosinya mendidih.
"ATHI! APAKAH KAMU TIDAK BISA MENGIKUTI PERINTAH PAPA SAJA? APA SUSAHNYA?" Bentak papanya, Athi menatap nanar kedua orang tuanya.
"Ini masalah pernikahan, bukan permainan yang bisa di hentikan seketika, jika merasa sudah bosan!" ucapnya dengan nada lirih yang terdengar serius. Tatapannya terlihat kosong, mengingat luka lama yang kembali teringat.
"ATHI!" Bentak papanya lagi,
"Apa papa? mau membentak Athi lagi karena berkata lantang?" tanya Athi, suasana yang tadinya baru saja menghangat berubah mencengkamkan. Tiba-tiba saja astmosfir di ruangan ini berubah panas. walau sudah ada pendingin ruangan.
"Sudah pa,"Citra memegang pundak Dewa, memberikan ketenangannya pada suaminya itu. Namun dia juga merasa sakit ketika mendengar ucapan Athi, luka lama itu berhubungan denganya.
"Athi capek, mau istirahat." Athi segera berjalan meninggalkan ruang makan dan segera menuju ke kamarnya. Punggungnya hilang dari balik tangga.
"Anak itu keras kepala sekali!" Tutur Dewa,
"Sayang, dia bukan keras kepala. Dia hanya perlu waktu untuk berfikir." suara lembut citra menenangkan Dewa. Meskipun tersakiti mendengar ucapan Athi, tapi dia harus selalu kuat.
***
'Kita ketemu di cafe biasa! gue kesana sekarang!'
Athi segera mengeklik tanda send di ponselnya, lalu setelah itu memasukan hanponenya kedalam tas miliknya.
Moodnya hari ini benar-benar hancur, mungkin dia butuh belanja untuk menenangkan pikiranya yang sedang mendidih.
30 menit di perjalanan, Akhirnya Athi sampai di salah satu mall besar dan mewah. Di dalamnya terdapat cafe langganan mereka dan toko-toko yang bisa mengurangi pikiran Athi.
Mina dan Zea melambaikan tanganya ketika melihat Athi berjalan menuju ke arah mereka.
"Kalian udah lama?" tanyanya.
"Enggak, baru aja." jawab mina, "Lo kenapa? udah lama gak kelihatan?" tanya Mina, pasalnya seminggu ini Athi haya berdiam diri di rumah dan sibuk dengan tugas kulihnya.
"Gue dengar-dengar, katanya lo mau di jodohin?" tanya Zea.
Seketika wajah Athi berubah masam, dia menekuk wajah cantiknya. "Lo dapat gosip dari mana?"
"Papa gue kan kerja di perusahaan papa lo!" Jawab Zea, Athi buffering. Kok bisa lupa papa nya Zea kerja di perusahan papa nya, tapi tunggu dulu!
Kalau papa Zea saja tahu bahwa Athi akan di jodohkan lalu? Apa jangan-jangan papanya sudah menyebarkan bahwa dia akan segera menikah karena di jodohkan?
"Lo lagi mikirin apa Thi? tumben mikir?" ujar mina. "Gue pikir punya otak juga kagak." sambungnya lagi, setelah itu menyeruput ice coffe miliknya.
"***** lo!" cibir Athi, "gue lagi pusing nih!" sambungnya lagi.
"Orkay bisa pusing juga," pungkas Mina,
"ihh mina! Lo mah!" gemas Athi,
"iya-iya gue bercanda." ucapnya, dia bercanda tapi wajahnya datar bahkan auaranya seperti tidak bernada.
"iya Zee! gue bahkan gak tahu cowok kayak apa yang mau di jodohin sama gue!" Terang Athi, dia menggeretakan giginya kesal.
"Kalau meurut gue sih, mending lo terima aja apa lagi dia pilihan orang tua lo!" ucap Mina,
"Iya thi, Apalagi orang tua lo konglomerat. Gak mungkin dia mau anaknya nikah sama om-om banyak duit. Orang tua lo kan kaya, masa iya jodohin lo sama kakek-kakek karena kelilit hutang?" pernyataan kedua sahabatnya itu membuat Athi terdiam. Ada benarnya juga.
Athi berdecak kesal, "Kalian bukannya ngasih masukan, malah nyuruh gue terima perjodohan ini!" ucapnya kesal.
"Nanti kalau gue nikah kita gak bisa bebas lagi dong? belanja kaya dulu." Ujar Athi,
"Aelah masalah belanja, Gak mungkin lakik lo gak ijinin." sambung mina,
"Tapi nanti kita jarang kumpul bareng lagi!" tandasnya, Athi masih berusaha mencoba meyakinkan kedua sahabatnya untuk mendukungnya membatalkan perjodohan ini.
"Athi, gue sama Mina nanti pasti bakal nikah juga. Orang tua gue aja masih cariin calon buat gue, meskipun gak zaman siti nurbayah. Tapi mereka pengen gue punya suami yang baik pilihan mereka!" ucap Zea,
"Gue juga sebenarnya gak mau di jodohin, tapi kata papa gue. tes aja dulu, nanti kalau gak cocok gue boleh mundur atau dia yang mundur" terang zea lagi,
"Ya athi, bener kata Zea. Lo tes aja dulu, gak baik nolak jodoh! nanti gak ada yang mau sama lo lagi gimana?" Ucap mina.
"Gue bakalan bilang sama Rhys, gue mau nikah sama Rhys, Biar orang tua gue tahu. gue gak perlu di jodoh-jodohin segala buat nikah, gue gak mau selalu nurut sama setiap perintah mereka!" jelas Athi panjang lebar.
Mina dan Zea saling bertatapan, lagi-lagi sifat keras kepala milik Athi kembali muncul.
"Udah ah, Kuy belanja!" ajak Mina, dia ingin mengalihka pembicaraan. Dan untungnya, Athi mengangguk dan mengiyakan ajakan sahabatnya itu.
Baru saja beberapa langkah mereka berjalan namun ada seorang pria yang menarik perhatian Zea.
"sst-" Kode Zea pada mina.
"Apa? bisik Mina, "Disitu ada Rhys!" bisik mereka berjalan di belakang Athi yang tengah sibuk memainkan ponselnya.
"Dimana?" tanya Mina heboh, Zea segera menutup mulutnya dengan satu jari menyuruh Mina diam.
"Dia lagi sama cewek lain, nanti Athi lihat bahaya!" bisik Zea. Mina mengangguk, mengiyakan ucapan Zea.
Athi menatap kedua sahabatnya bingung, "Kalian? lagi bisik-bisik apa?" tanyanya. Zea dan mina tersentak kaget.
"Ehh Athi, ka--kami," Jawab mina gugup, seketika dia bingung ingin berbicara apa.
"Kami kenapa na?"Athi menaikan alisnya bingung,
"Ah, gak papa!"Sela Zea, "Tadi kata lo mau belanja? kuy!" Ajak Zea menarik lengan Athi yang masih kebingunga.
Zea menyenggol lengan mina, mengkode agar mina tetap diam.
Athi menghentikan langkahnya, matanya menangkap sesuatu yang membuat darahnya berdesir, emosinya tertahan. Athi hanya diam saja sambil menatap nanar sepasang manusia yang berdiri di depanya.
Mereka tidak melihat Athi, tetapi athi tanda salah satu dari mereka hanya ketika melihat dari samping.
"Rhys," ujarnya pelan, matanya menatap nanar seorang pria yang merupakan sahabatnya sejak Smp itu, Bukan hanya pacar Rhys Feron juga merupakan pacarnya. Mereka sudah berpacaran 2 tahun lamanya.
Seolah merasa tak percaya, Dia terpaku di tempatnya berdiri sekarang. Air matanya mengalir dengan sendirinya.
"Athi," panggil Zea pelan, ia memegang pundak athi. Dia merasa menyesal karena tidak bisa menghalangi Athi melihat pria ******* itu!
"Athi, ayo kita pergi aja dari sini." Ajak Zea.
Athi hanya diam saja, dia tidak menggubris atau pun bergerak. Dia masih mencerna semua kejadian ini, di saat orang tuanya ingin menjodohkannya paksa, di saat dia membutuhkan pacarnya untuk mendukungnya. Namun apa?
Seakan waktu-waktu yang mereka habiskan selama ini tidak ada arti apa-apa bagi Rhys, Athi segera mengelap Air matanya.
Mina dan Zea sebenarnya sudah tahu tentang kelakuan bejat Rhys di belakang Athi, tapi mereka tidak berani mengatakannya karena mereka tahu sendiri sikap Athi yang Keras kepala serta tidak mudah percaya kecuali tidak melihatnya sendiri.
"Rhys!" Pekik Athi memanggil nama pria ******* itu, dia berjalan menghampiri pria itu. Emosinya benar-benar tersulut, apalagi melihat seorang gadis yang ada di sampingnya.
"Athi," Gumam Rhys kaget, Dia tidak tahu ada Athi di cafe ini. Dia juga bodoh, sudah tahu ini cafe langganan Athi, tapi malah mengajak wanita itu kemari.
Athi menatap dengan penuh kekasalan, jantungnya berdegup kencang, dadanya terasa sesak menyaksikan ini semua. Rhys, Athi tidak percaya dirimu bisa melakukan semua ini!
"Mulai hari ini--," Athi menarik nafasnya dalam sambil memejamkan kedua matanya ini keputusan yang berat, "besok, atau tahun-tahun sebelumnya. Di ke hidupan gue, gak ada yang namanya Rhys!"
'Plak'
Bersamaan dengan ucapan Athi, Tangan Athi segera mendarat ke pipi Rhys, sungguh pria ini akan menjadi nama paling teratas di daftar orang yang paling Athi benci.
Athi menatap wanita di samping Rhys, dia menatapnya tajam seolah menusuk wanita itu yang bingung denga ini semua.
"Sebelumnya gue pernah janji gak bakal mengkhianati lo! Tapi gue gak pernah janji untuk terus mencintai lo! Gue tarik semua janji yang pernah gue bilang sama lo, atau janji busuk lo sama gue. Semuanya gak ada!!" tegas Athi, mereka menjadi pusat perhatian sekarang.
"Athi gue bisa jelasin semuanya!" Rhys menarik lengan Athi, Athi segera menghempasnya.
"Apa ini sayang?" tanya wanita itu, mendengar perkataan wanita itu darah Athi semakin memanas.
"Lo gak ada hubunganya sama gue! Lo urusin aja pacar lo itu!" Ujar Athi, "Oh--,Haha," Athi tertawa.
"Ralat, bukan pacar deh. Selingkuhan!" Desis Athi, kedua sahabatnya yang tadi hanya menyaksikan kini menghampiri Athi.
"Gue mau pulang!" Ucap Athi, Meninggalkan kedua sahabatnya serta Rhys yang menggeram kesal.
Mina segera menghampiri Rhys, "Puas lo?" tanya mina tersulut emosi.
"Puas udah nyakitin Athi? puas lo akhirnya ketahuan selingkuh di belakang dia? puas kalau lo playboy itu benar-benar kebongkar?"
Zea menampar sisi sebelah lagi pipi Rhys, dia hanya diam saja pasrah dengan ke adaan dan apa yang mereka lakuin padanya.
"Lo apa yang lo lakuin sama Rhys!" Tanya wanita yang tadi bersama Rhys. Dia menolak Zea, namun langsung di halangi oleh mina.
"Jangan pernah dekatin Athi lagi!" Ancam Zea, setelah itu mereka pergi meninggalkan Rhys.
Namun tanpa mereka sadar, Rhys tertawa. Bersama wanita yang bersamanya. Wajah dan sikap mereka tadi hanyalah akting.
"Aku pikir wanita yang kamu pacarin selama ini lebih pintar dari aku." ujar wanita itu.
Athi berjanji akan membuat mereka menyesal sudah mempermainkannya!