
Langkah kecil berlari dengan lincah kearahku. Memeluk erat kakiku, sembari merengek ringan seolah mengadu karena rindu . Aku hanya tersenyum melihat tingkah manjanya. Secepat kilat ku rengkuh tubuh mungilnya dan kupeluk erat, kami melepas rindu karena sudah cukup lama tak bertemu.
"Ma, dah sehat?," celoteh anak kecil ini dengan suara khas batita pada umumnya.
"Mama sehat Jo. Maaf ya mama lama pulangnya Jo," jawabku sendu sembari mengusap air mata Jo malaikat kecil yang selama ini menjadi kekuatanku meneruskan hidup yang berat ini.
Bagiku kehadirannya adalah suatu yang keajaiban yang dikirimkan Tuhan dimasa terendahku. Aku telah tumbuh dalam kesendirian sehingga membuatku terpaksa tumbuh tanpa kasih sayang. Aku berjanji selama aku masih hidup aku tidak akan membuat Jo tumbuh tanpa kasih sayang sepertiku dulu, walaupun aku harus berdiri sendri seperti sekarang.
Mata Indah
"Aduhhh..... Hiks hiks...,"isak anak kecil yang baru saja bertabrakan dengan Amalia.
"Kamu gapapa kan sayang? Maaf ya Tante gak sengaja," suara Amalia terdengar panik. Anak laki-laki itu hanya diam menatap sosok pria tampan yang berdiri dibelakang Amalia. Dia berjalan perlahan mendekati Nathan, isak tangisnya terhenti dan berganti senyuman indah. Matanya yang indah seperti menghipnotis Nathan dari kesadarannya. Perlahan dia mengangkat anak itu kedalam pelukannya.
"Rubah kecilku," satu kata yang pertama kali terucap oleh Nathan diluar kendalinya.
"Papa," bisik Jo dengan sangat pelan, bahkan mungkin suara itu tidak terdengar ditelinga Nathan. Tangan mungil miliknya semakin erat memeluk Nathan. Suasana semakin canggung karena keheningan.
"Aku gak sengaja nabrak anak ini mas, tapi dia gak papa kok mas," jelas Amalia.
"Dimana mamamu?," tanya Nathan singkat.
"Maaf, maaf ..permisi... Jo," wanita muda datang memeluk anak itu dengan raut wajah khawatir. Semua mata tertuju kepada meraka, iya siapa lagi jika bukan Nisa. Nisa memang sedang menemani Jo ke Mall untuk bermain, karena Dinda masih dalam masa pemulihan.
Tanpa ada kata lain, Nisa membawa Jo pergi dari hadapan semua orang. Setengah berlari Nisa menggendong Jo dalam pelukannya meninggalkan Nathan yang sedang terpaku sepeninggalan mereka.
"Kamu kenapa Nis? Kok kayak ketemu hantu?," tegur Dinda , melihat Nisa yang berlarian membawa Jo dalam gendongannya.
"Maafin aku Din,, maafin aku," air mata Nisa mengalir deras dipenuhi penyesalan.
"Kamu minta maaf kenapa?,"alis Dinda terangkat tampak penasaran.
Perlahan Nisa menurunkan Jo yang sudah terlelap sejak perjalanan tadi. Wajah tampannya tampak tersenyum cerah dalam tidur. Setelah itu Nisa mulai menceritakan kejadian di Mall tadi. Tampak penyesalan Nisa karena tidak menjada Jo dengan baik hingga dia sempat terlepas dari pengawasan.
Dinda hanya terdiam, tatapannya kosong dan nyawanya serasa pergi dari tubuh mungilnya. Hal yang selama ini dia takutkan telah terjadi.
Sepanjang malam Dinda hanya terdiam memeluk boneka rubah disamping Jo. Hatinya sakit melihat malaikatnya tersenyum saat tidur tampak bahagia. Dinda benar-benar tidak tau apa yang harus dia lakukan untuk malaikat kecilnya sekarang. Air mata perlahan menetes membasahi pipinya , mengantarkan Dinda dalam alam mimpinya. Jo menggeliat ringan dan memeluk sang mama . "Aku bertemu pria rubah itu ma," suara khas bocahnya menutup malam indahnya.