
"Saya terima nikah dan kawinnya Amalia Nugraha binti Adi Nugraha dengan maskawin tersebut tunai". Tampak wajah lega dari sang mempelai pria.
"Bagaimana saksi? Sah? ," ...ucap bapak penghulu pagi ini. "Sah.......," jawaban yang aku dengar dari semua orang dalam Masjid ini, telah berhasil menyadarkan ku dari lamunan.
Gema tawa bahagia, rasa syukur serta doa-doa untuk kebahagiaan kedua mempelai memenuhi Masjid ini. Masjid yang tidak terlalu besar namun sudah dirubah menjadi luar biasa cantik untuk acara sakral pagi ini. Ditemani nuansa putih yang menggambarkan kesucian pernikahan. Perlahan kedua kakiku melangkah mundur, menjauhi keramaian disaat tepat giliran ku menemui sepasang suami-istri baru ini. Aku tau banyak mata memandangku saat ini, tapi tetap saja kaki ini tak bisa diajak kompromi untuk melangkah maju. Hingga akhirnya kedua kaki ini membawaku pergi menjauh keluar Masjid.
"Dinda...," bersama pelukan hangat Nisa sahabatku datang menemaniku. "Kamu gak apa-apa kan Din?," tanyanya.
"I'm Fine...," jawabku dengan memberinya pelukan untuk meyakinkan Nisa bahwa aku benar-benar baik-baik saja. Nisa Nuraini adalah sahabatku sejak SMA , dia salah satu orang terpenting dalam hidupku. Dia seorang wanita yang cantik, baik, kreatif dan pintar. Bahkan aku sangat beruntung telah dianggap menjadi bagian dari keluarganya. Nisa memiliki sifat yang berbanding terbalik denganku, jika dia feminim maka aku tomboy, jika dia ramah maka aku tipe orang yang cuek, jika dia introvert maka aku adalah ekstrovert. mungkin perbedaan ini yang membuat kita bisa bersahabat begitu lama.
1 Minggu kemudian
Waktu telah berjalan dengan cepat. Sudah 1 minggu aku terbaring disini. Dikamar bernuansa putih dengan bau obat-obatan yang menusuk hidung. Aku bisa melihat mereka, orang-orang yang begitu sayang padaku. Aku yakin Nisa dan keluarganya telah bergantian menjagaku. Sungguh aku merasa menjadi beban mereka.
Sudah beberapa jam sejak aku mulai sadar dari pingsan ku. Saat melihat keluarga Nisa aku tau mereka lelah. Sehingga aku meminta Nisa dan keluarganya pulang. Sejak kepergian mereka juga aku tetap disini, di tempat tidurku yang lumayan nyaman menatap keluar jendela.
Rasanya hatiku begitu sakit dan sesak sekarang, sejujurnya aku tidak tau apa yang menjadi alasan ini semua. Hanya saja kalimat "sah" menggema di telingaku. Tanpa terasa pula aku meneteskan air mataku dan larut dalam kesendirian malam ini.
Ini kisah ku Adinda Putri Husada. Seorang yatim piatu dan seorang wanita karir tamatan S1 Desainer yang sekarang sedang bekerja disalah satu perusahaan terbesar milik HW Group. Tinggal di salah satu perumahan berukuran sedang area perusahaan dan dia sosok wanita yang sangat kuat.
Kehidupannya tiba-tiba saja berubah mengerikan ketika orang tuanya mengalami kecelakaan sehingga tidak dapat terselamatkan dan meninggalkannya seorang diri di usianya yang menginjak dewasa. Tapi hal ini tidak membuat Dinda menjadi pribadi yang menyedihkan. Dia tumbuh menjadi sosok wanita yang luar biasa. Sosok wanita dengan paras ayunya melepas keceriaan di setiap harinya. Tanpa orang tau, inilah salah satu caranya untuk menutupi luka yang begitu terbuka disudut hatinya.
"Kreeekkkk... , Dinda," suara yang sangat aku kenal terdengar bersama dorongan pintu kamar inapku. Mata kami saling menatap, terpaku satu sama lain.