
Sudah 30menit ruangan ini terasa lebih dingin, tidak terdengar suara sama sekali. Mbak Lia dan mas Nathan sedang duduk berdua disudut ruangan untuk menikmati makan siangnya. Aku tau mereka berusaha tidak menimbulkan suara agar tidak mengganggu istirahatku.
"Apa tidak sebaiknya kita pulang dulu, agar Dinda bisa istirahat?,"tanya Nathan kepada istrinya.
Amalia memusatkan perhatiannya ke arah Dinda , melihat Dinda yang sedang menutup mata akhirnya dia menganggukkan kepalanya, tanda menyetujui keputusan Nathan. Perlahan sepasang suami istri itu telah melangkahkan kaki keluar dari ruang rawat Dinda.
Dinda yang sedari tadi hanya berpura-pura tidur pun membuka matanya. Dia kembali menangis setelah memastikan sudah tidak ada orang di ruang rawatnya. Air mata yang selama ini dia tahan tidak lagi bisa dibendung. Hatinya yang selama ini rapuh kini sudah mulai runtuh. Kepercayaan dirinya untuk kembali bahagia telah hilang. Dinda merasa tidak punya hak untuk menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi dalam hidupnya, karena dia tau Tuhan memiliki caranya sendiri untuk kebaikannya.
Dalam Mobil....
"Dinda tinggalnya dimana sekarang?," tanya Nathan acuh sembari menyetir mobil ke arah kantor Amalia.
"Aku kurang tau sih mas, karena dia tertutup banget orangnya," jawab Amalia. "Kenapa mas? Tumben penasaran sama orang?," godanya pada pria yang sedang serius menatap jalanan. Senyuman kecil di ujung bibir Nathan menjadi jawaban singkat yang diterima Amalia.
Sesampainya di kantor Amalia , Nathan langsung pergi menuju kantornya. Suasana hatinya sedang buruk, dia juga belum tau apa alasan yang membuat dirinya seperti ini. Suara panggilan handphone Nathan menyadarkan lamunannya.
"Siang pak, maaf mengganggu, saya sudah kirim file terkait Dinda pegawai ibu Amalia," lapor Zidan.
Nathan bergegas melangkahkan kaki keluar kantornya dan menuju alamat yang telah simpan tadi. Jarak yang cukup jauh untuk dia tempuh menuju salah satu Apartemen di kota sebelah. Apartemen yang tidak begitu besar, tapi cukup nyaman untuk dijadikan tempat tinggal. Alamat ini adalah tempat tinggal Nathan beberapa tahun lalu. Sebenarnya Nathan juga tidak mengingat apapun tentang tinggal di Apartemen ini, tapi dia cukup penasaran dengan info dari Zidan yang mengatakan dia pernah tinggal disini.
Apartemen lantai 3 dengan nomor 348 , ditatapnya pintu itu dengan tajam. Banyak bayangan dan kilatan ingatan yang kini ada di kepalanya , tak berapa lama Nathan sudah tidak sadarkan diri.
Rumah Sakit
"Mas bangun," suara Amalia tampak bergetar menahan tangis sembari menggenggam tangan Nathan yang kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Zidan tampak berdiri disudut ruangan dengan menundukkan kepalanya. Dia yang telah mengikuti dan menemukan Nathan tadi, serta membawanya kerumah sakit. Tampak orang tua Amalia dan Nathan sedang menyudutkannya.
Nathan sebenarnya sudah sadar dari tadi, tapi entah mengapa dia hanya ingin memejamkan mata dan mendengarkan kegaduhan itu dengan seksama. Hatinya juga tak gelisah melihat Amalia tampak khawatir dengan keadaannya, tapi kali ini dia merasa terpejam adalah cara terbaik memperbaiki hatinya yang sedang kacau.
Ketika semua orang sudah tampak tenang dan pulang meninggalkan ruangan rawat dan merasakan dengkuran halus sang istri di tangannya, dia membuka matanya. Nathan tampak termenung menatap langit-langit rumah sakit.
"Rubah kecil??," ucapnya datar. Kalimat itu terucap begitu saja diluar kesadarannya.