
Pria dengan mata indah itu berdiri tepat dibelakang pintu kamarku. Beberapa menit waktu telah berhenti sehingga membuatku bisa menatap mata indah itu dengan kerinduan.
"Pak Nathan? Kak Lia?," sapaku sembari mendudukkan tubuhku bersandar d bed rumah sakit. Dalam sekejap Kak Lia berlari berhamburan memelukku. Dia memeriksa seluruh jengkal tubuhku, aku melihat kekhawatiran dalam matanya.
"Aku baik-baik saja kak," jawabku dengan senyum simpul disudut bibir.
"Kakak khawatir banget Din, kamu sudah hampir seminggu tidak sadarkan diri setelah tiba-tiba kamu jatuh pingsan di halaman masjid," jelas kak Lia. Aku hanya bisa membalas pelukannya untuk membantu mengurangi kekhawatirannya.
Mataku tak lepas dari tatapan pria yang berdiri tegap di balik punggung kak Lia, ia dia Nathan. Pria arogan dengan segala keangkuhan dan sikap dinginnya. Tidak tampak kekhawatiran di mata itu, membuat hatiku terluka. Aku mengganggukkan kepalaku untuk menyapanya, dia hanya membalas dengan menaikkan sedikit sudut bibirnya.
Dia Nathan Nugroho, seorang pengusaha muda yang sukses. Keluarganya termasuk dalam jajaran pengusaha ternama di dunia. Nathan adalah sosok pria yang sangat kaku, dia pria yang pekerja keras dan dingin. Pernikahan bukanlah sesuatu yang harus dia banggakan, semua ini dia lakukan karena memang Amalia adalah seseorang yang dijodohkan dengannya.
Walaupun hati kecilnya menolak, tapi dia tak kuasa melihat mamanya terluka jika dia tidak bersedia melakukan pernikahan ini. Bagi Nathan Ibunya adalah satu-satunya wanita berharga dalam hidupnya.
Sudah 1 minggu sejak pernikahannya dengan Amalia, tapi Nathan sama sekali tidak meminta bahkan berkeinginan untuk meminta haknya pada Amalia. Hatinya gusar sesaat setelah mendengar berita bahwa Dinda salah satu karyawan di kantor Amalia jatuh pingsan di depan masjid. Saat itu juga dia berlari mencari keberadaan Dinda, tepat di depan masjid seorang pria sedang menggendong Dinda ala bridal style untuk masuk ke mobilnya.
Kedua tangan Natha mengepal keras, hingga tampak kemerahan, hatinya panas, keringat membasahi tubuhnya yang terasa mendidih, tapi kakinya tak sanggup melangkah mendekat ke arah pusat amarahnya. Banyak pertanyaan dalam hatinya yang ingin dia abaikan. Namun semakin dia berusaha melupakannya wajah Dinda, maka wajahnya terus muncul di depan matanya. Selama seminggu Nathan berturut-turut menghampiri Dinda di rumah sakit secara diam-diam. Hatinya akan terasa lega saat sudah melihat Dinda, disaat yang bersamaan hatinya terluka melihat Dinda terbujur lemas dan belum membuka matanya berhari-hari.
" Siapa kamu Dinda?," ucapnya dengan kepalan keras tangannya dan memukul meja kantor tampak frustasi. Drrt drrrt... suara hp menyadarkannya dari lamunan.
"Assalamualaikum, mas Dinda sudah sadar, aku mau ijin ke rumah sakit untuk menjenguknya," suara Amalia diseberang telepon.
"Biar mas antar, kamu siap-siap ya," jawabku dengan menutup telepon tanpa menunggu jawabannya.
Siang ini, Nathan ingin memastikan hatinya. Dia ingin melihat seperti apa hatinya saat rubah kecil itu sadar. Nathan juga sudah mulai meminta Zidan orang kepercayaannya untuk mencari informasi tentang Adinda. Tangannya membuka laci disebelah kanannya, tampak sebuah foto lama dirinya dan Adinda sedang duduk berdua di taman dengan permen cotton candy yang sedang Adinda bawa. Wajah mereka tampak bahagia, tersenyum lepas dan tampak saling mencintai. Nathan menyugarkan rambutnya kebelakang karena merasa frustasi . Dia merasa tidak mengingat apapun tentang Adinda, tapi hatinya berkata lain.