
Mata indah itu sudah terbuka, wajahnya tampak pucat, senyumnya hilang, bagiku gadis itu tampak redup. Adinda yang Nathan lihat ini sangat jauh berbeda dengan Adinda di foto yang dia lihat tadi. Wajah bahagia, senyum indah dan mata berbinar tak lagi bisa dia lihat. Hatinya sakit melihat keadaan gadis itu seperti ini, tapi Nathan berusaha sebisa mungkin untuk menutupi kekhawatirannya.
Amalia tampak berlari memeluk karyawannya itu, dia sudah tampak khawatir sejak pertama kali Dinda ditemukan pingsan. Istrinya itu selalu sibuk menceritakan Dinda saat mereka akan beristirahat. Hal ini membuat Nathan semakin penasaran dengan Dinda . Nathan merasa ada yang salah dengan pilihannya menikahi Amalia. Tapi dia akan perlahan mencari tau, dia tidak mau salah langkah dan akan berimbas padanya di masa depan. Sekarang hatinya sudah cukup lega melihat Dinda membuak matanya kembali.
Tiba-tiba Nathan melihat mata indah milik Dinda menatapnya, dia faham betul tatapan apa itu. Tatapan kerinduan, disudut matanya tampak air mata yang akan jatuh sekali saja Dinda mengedipkan matanya. Sungguh dia merasa sesak melihat air mata Dinda, dadanya seperti terhantam bongkahan batu besar.
"Aku keluar dulu, kalian mau minuman?," ujarku mengkahiri tatapanku dengan Dinda.
"Belikan kita makan siang saja mas, sekalian kita makan bersama disini," jawab Amalia. Aku mengangguk meninggalkan mereka di kamar inap itu. Segera ku ambil handphoneku untuk menghubungi Zidan.
"Ada petunjuk baru?,"tanyaku dengan nada membentak.
"Anda mengalami kecelakaan 3th lalu bos, dan itu cukup parah . Kemudian anda dibawa pengobatan ke Australia," jawab tegas Zidan.
"Cari tau lebih tentang Dinda dan. Dan kasus kecelakaan yang menimpaku lebih dalam. Segera infokan jika kamu menemukan info apapun," tegasku pada Zidan dan langsung aku tutup teleponnya.
Nathan Pov
1 minggu yang lalu
"Mas kita susul Dinda ya," ajak Amalia.
"Oke, nanti setelah acara selesai kita akan kesana. Sekarang kita masuk, jangan membuat para tamu bingung," tegasku yang langsung meninggalkan Amalia memungut barang2 Dinda.
Setelah acara selesai, Amalia bergegas berganti pakaian dan membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri aku duduk di sofa dalam kamar. Tas Dinda yang tadi dibawa Amalia tampak jatuh berserakan di bawah sofa dan meja. Sungguh aku kesal melihat tingkah Amalia yang kadang ceroboh dan panikan. Aku berusaha memungut lembaran kertas dari bawah kolong, hingga aku menemukan selembar pas foto lama. Aku memicingkan kedua alisku, ku tatap selembar foto itu dengan seksama. Mataku serasa melebar seketika saat aku mengenali ada aku yang sedang tertawa bahagia disana. Aku tidak pernah merasa mengenalnya, apalagi menghabiskan waktu berdua dengan gadis itu. Jika aku pandangi lagi, benar-benar aku yang ada dalam foto itu. Sungguh senyumnya membuatku bahagia, hatiku berdebar kencang hanya dengan melihat senyumnya di selembar kertas. Sejak aku mengenal Dinda seagai karyawan Amalia, aku tidak pernah melihatnya tersenyum seindah ini. Dia lebih tampak sering murung dan diam. Tanpa sadar sudut bibirku melengkung keatas, dan tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, bergegas aku menyimpan foto itu ke saku jas hitamku.
"Ayo mas," ajak Amalia dengan menarik tanganku. Tanpa sadar perlahan aku melepaskan tangan Amalia, dia sadar akan hal itu, tapi dia hanya tersenyum.
Setelah hari itu, aku benar-benar tidak bisa fokus melakukan apapun. Hariku hanya terbayang beragam ekspresi Dinda. Hatiku seperti terluka membayangkan Dinda menangis. Hingga akhirnya aku memutuskan Zidan untuk mencari tau informasi apapun baik terhadapku, Dinda maupun Amalia.
tbc....