
Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (Qs. Al-Ahzab ayat 59)
"Perintah Allah udah cukup jelas bukan di Al-Qur'an Surat Al - Ahzab ayat 59 ?. Jadi apalagi yang kita cari sebagai Muslimah ?. Tugas kita di dunia ini cuman disuruh Taat sama Allah, udah itu aja, Allah cuman minta itu" kata Lea pada ketiga sahabatnya.
Kamar yang cukup luas untuk mereka berempat berkumpul. Ya, kamar Lea selalu jadi tempat favorit mereka untuk berkumpul meski hanya sekedar nonton film atau belajar.
"Tapi sayang banget kan baju - baju gue, mana branded semua" keluh Ica.
Vera melirik sinis, "Yakin branded ?, bukan KW ?" sahutnya.
"Iiisshh kamu mah ih .. kata mamah ya branded, mana gue tau KW atau bukan" balas Ica sambil memajukan bibirnya.
Mereka tertawa mendengar ucapan Ica. Vera kemudian mengambil hijab milik Lea yang digantung di balik pintu, kemudian mencobanya.
"Gini kan cara make nya ?" tanya Vera sambil bercermin.
Kemudian disusul oleh Ica yang ikut mencoba hijab juga, "Aw .. jadi geulis giniii, nampak auranya keluar ya .. hahaha" Ica sumeringah melihat penampilannya yang berbeda dari sebelumnya.
Lalu Lea mengeluarkan ponsel nya, "Foto dulu atuuh"
"Sumpah ih kalian cantik pisan" ungkap Dara.
"gimana kalau besok ke sekolah kita pake kerudung ?" ide itu tiba - tiba muncul dari otak Vera.
"Hhmm .. ide bagus" balas Ica sambil bergaya ala Muslimah anggun didepan cermin.
Masyaallah, mungkin ini kenapa saya kembali bertemu lagi dengan masa remaja. Masa dimana saya mengenal dunia yang penuh dengan maksiat. Astaghfirullohaladzim.
Lea tersenyum haru melihat ketiga sahabatnya yang begitu bahagia dengan keadaan saat ini. Gadis 32 tahun yang terjebak di tahun 2007 itu membayangkan ketiga sahabatnya di tahun 2022.
...❤️🌺❤️🌺❤️🌺...
Sudah 1 minggu Ica dan Vera menutup auratnya. Semuanya senang itu sudah pasti, tapi tetap ada aja yang belum suka. Yaitu Angga pacarnya Vera dan Mami nya Ica.
Di Sekolah. Mami datang menemui Kepala Sekolah. Saat ini Ica nampak risau, ia tak seceria biasanya. Mami duduk disofa ruang tunggu dengan wajah yang nampak kesal karena menunggu Kepala Sekolah yang belum juga datang.
"Euh, kemana sih Kepala Sekolah kamu teh ? .. ngaret pisan" keluh Mami
Ica duduk dengan membelakangi Mami, dirinya tidak mau melihat kearah Mami. "Ya gak tau atuh Mi, mungkin lagi kerja di luar Sekolah" jawabnya ketus.
Tak lama datanglah Kepala Sekolah, Pak Johan. Pak Johan amat sangat ramah dan baik. Ia lalu mempersilahkan Mami dan Ica untuk masuk keruangannya.
"Mangga, silahkan duduk bu. Maaf terlambat, kebetulan sedang ada rapat dengan ketua Yayasan di luar Sekolah" kata Pak Johan sambil duduk di kursi kerjanya.
Tanpa basa - basi Mami langsung mengutarakan keluh kesahnya. "Saya khawatir ya pak kalo di Sekolah ini ada siswanya yang sok pintar tentang agama. Anak saya ini calon artis, gak usahlah atur - atur pakaian segala macem harus pake kerudung segala. Gara-gara siswa itu anak saya gagal ikutan casting !" ujarnya.
Pak Johan bingung dengan yang dimaksud Mami. "Maaf bu, saya kurang faham. Kami pihak Sekolah memang punya aturan dalam berpakaian, tapi tidak memaksakan untuk menggunakan pakaian yang seperti ibu bilang"
"Udah atuh Mi, malu .." kata Ica yang mencoba menenangkan Maminya.
"Diem kamu !. Ini kan Sekolah umum ya, tolong siswa nya agak di seleksi. Kalo pengen temen - temennya berkerudung semua, Sekolahnya di pesantren aja !"
"Astaghfirulloh Mamiii" Ica semakin cemas dan malu.
Pak Johan tersenyum. "Sabar bu. Saya makin ga faham, siapa yang ibu maksud ?"
"Azzalea .. si Lea tah .. emangnya dia pikir dia teh Ustadzah ?, anak baru kemarin sore udah sok paling pinter" diam sejenak untuk mengatur nafas. "Gini ya pak, emang bagus sih ya nutup aurat. Tapi ini masalahnya anak saya teh mau mendapatkan peran penting di film, gara - gara dia gak mau lepas kerudungnya jadi gagal semuanya" sambungnya.
"Kita selesaikan semuanya dengan baik - baik ya bu. Apa perlu kita panggil juga Lea, agar ibu bisa bicara sama Lea. Kalau seperti ini yang ada malah kesalah fahaman" ujar Pak Johan.
"Sok lah gimana bapak aja. Yang pasti saya mah pengen anak saya kayak apa yang dia cita - cita kan dulu, jadi artis" balas Mami.
Ica hanya bisa menepuk jidat.
Azzaleapun datang didampingi oleh Bu Dwi selaku Wali Kelasnya. Mami mendelikan matanya.
"Gimana Pak ?, ada yang bisa saya bantu ?" tanya Lea.
Pak Johan lalu menjelaskan semuanya. Mata ica berkaca - kaca tak sanggup melihat ke arah sahabatnya. Lea mencoba untuk tenang, Ya ia akui caranya mungkin belum benar. Ia akui pula bahwa dirinya tidak bisa memaksakan hidayah seseorang.
"Saya minta maaf, tante" ucap Lea. "Saya cuman terlalu menyayangi sahabat - sahabat saya. Saya hanya gak mau ke Syurga sendirian. Saya ingin kita sama - sama masuk ke pintu Syurga, itu aja. Maaf kalau cara saya salah" suara Lea bergetar menahan air mata yang hampir tak terbendung.
"Syurga ?, mau meninggal gitu kamu teh ?, jangan kemana aja kamu tuh kalo ngomong. Kamu tuh masih muda, nikmati masa muda kamu. Gak usah ngomongin soal kematian" balas Mami sambil kedua tangannya bergerak acak.
Ica lalu menahan Maminya untuk bicara, ia memegang tangan Mami mengisyaratkan untuk tidak menyakiti sahabatnya. Namun Mami melepaskan tangan anaknya itu.
"Lea, emang bagus ajakan kamu teh. Tapi liat kondisi atuh, kan kamu tau Ica teh mau jadi artis. Harusnya kamu dukung dulu cita - citanya Ica. Tuh banyak artis yang dulunya seksi sekarang udh pake kerudung pas udah sukses, nah Ica juga gitu .. kalo udah sukses sok bisa pake kerudung" Mami panjang lebar.
Lea tidak bisa berkata apapun. Ia hanya bisa Istighfar dalam hati. Air matanya pun tak terbendung. Ica meminta maaf pada Lea. Namun Lea tidak membalas menatapnya, ia hanya mengangguk perlahan.
"Udah Mi, kasian Lea. Lea gak salah, Ica bakalan turutin apa yang Mami mau" mohon Ica.
Bu Dwi dan Pak Johan menenangkan Mami. Akhirnya Mami pun memaafkan Lea dan tidak mempermasalahkan lagi soal kerudung. Dan Ica membuka kembali kerudungnya.
Lea tak kuasa menahan tangis. Mami duluan pamit, dan pergi menggunakan mobil pribadinya. Ica berjalan duluan meninggalkan Lea yang masih berdiri di ruang Kepala Sekolah dengan perasaan penuh bersalah.
Kedua tangan gadis itu mengepal keras. Sakit rasanya menghadapi seseorang yang tertutup dengan Islam padahal itu adalah Agamanya sendiri.
Bu Dwi lalu memeluk Lea. "Ibu faham sekali. Tapi perlu kamu ketahui, hanya Allah maha penentu. Kita sebagai manusia hanya bisa mengingatkan, kita serahkan semuanya sama Allah, ya Nak"
Lea mengangguk perlahan dan membalas pelukan Sang Guru.
**Betul, amat sangat belum mudah memang bagi kita untuk mengajak seseorang ke jalan Allah meskipun ia saudara kita sendiri.
Insya Allah, dengan berjalannya waktu jika Allah mengatakan terjadi .. maka terjadilah .. Percayakan semuanya hanya pada Allah sang maha penentu**.