Assallamu'Alaikum 2007

Assallamu'Alaikum 2007
Kamu kenapa Lea ?


"Astaghfirullohaladzim !!" Lea mengusap wajahnya kemudian ia mendorong Radit dan segera beranjak dari kolong meja.


"lo kenapa lele ?" tanya Radit yang biasa memanggilnya Lele. Yup, hanya Radit yang bisa memanggilnya seperti itu. Entah kenapa Lea tidak marah bahkan ia merasa senang 😅.


Guru wali kelas pun datang. Dia adalah ibu Dwi, Guru Matematika yang terkenal tegas dan agamis. Selain itu beliau juga pembina ekstrakulikuler Rohis.


"mana Lea ?" tanya Bu Dwi dari ambang pintu.


"sa.. saya disini bu" jawab Lea kaku.


Bu Dwi kaget melihat penampilan Lea yang basah dan tidak mau melepaskan jaket dari kepalanya.


"Bu, tolong saya malu. Aurat saya keliatan semua" sambung Lea dengan mata yang berkaca - kaca.


Bu Dwi merespon Lea dengan baik. Ia merangkul anak muridnya tersebut. Sebetulnya Bu Dwi juga kebingungan dengan sikap Lea yang sangat aneh, sempat percaya kalau Lea kesurupan, tapi masa iya ?.


"Ikut ibu ke ruang guru ya. Dara, sini"


"iya bu" Dara menghampirinya


"di ruang sekretariat rohis ada baju seragam muslim untuk perempuan, tolong kamu ambilkan, kamu pilih yang kira - kira cukup untuk Lea. Nanti kamu antarkan ke ruang guru ya" perintah Bu Dwi.


"Baik bu" Dara segera ke ruang Sekretariat Rohis ditemani oleh Ica dan Vera.


Beberapa saat kemudian. Pakaian Lea sudah berubah, ia memakai seragam Rohis. Dirinya nampak nyaman dan aman. Namun ia tetap menyangka bahwa semua ini adalah mimpi.



"Gimana caranya supaya saya bangun dari mimpi ya ?. Udah mukul malah kerasa sakit. Malah sempet disembur juga tapi mimpinya tetep nyambung" ucapnya dalan hati.


"Tapi ini emang suasana Sekolah jaman 2007. Ya, gini banget semuanya. Kursi, meja, bahkan pohon - pohon di deket lapangan aja nampak nyata"


Dari kejauhan tepat depan jendela ruang guru. Radit, Ica, Vera, Dara sedang memperhatikan Lea. Mereka nampak khawatir, tapi Dara malah senang melihat penampilan Lea.


"eh kayaknya sih ya, si Lea teh ga kesurupan. Lo coba liat deh, raut mukanya aja bener - bener mukanya dia banget kalo lagi cemas" ungkap Ica.


Radit masih memperhatikan Lea, "Iya juga sih, cara dia remes - remes tangannya juga sama"


"yaaa yang namanya Jin kan pinter menyerupai" ucap Vera yang tetap yakin kalau Lea kesurupan. "Kayaknya gara - gara gue lagi ngapalin Ayat Kursi deh, Jinnya ke ganggu gitu" sambungnya.


"hush !. Ambil hikmahnya aja, sekarang Lea udah dapet hidayah. Kalo emang bener kesurupan, berarti Nyi Marinah teh Jin Islam" tambah Dara.


Semuanya melihat ke arah Dara dengan tatapan aneh.


"Ck .. gue samperin aja deh, khawatir juga lama - lama liatnya". Saat Radit mau menghampiri Lea, langkahnya terhenti karena Ayah dan Ibunya Lea sudah tiba.


"mana teteh ?" Ibu nampak sangat cemas. Yaa siapa yang ga cemas dapet kabar kalau anaknya kesurupan.


"teteeeeh" panggil Ibu yang sudah hampir menangis.


Lea hanya terpaku melihat kedua orangtuanya datang. "Ayah dan ibu ? .. mereka bener - bener nyata. Ini mimpi apaan sih ? kok nyata gini"


"teh, inget sama ayah ?" tanya ayah sambil memeluknya.


"ini ibu, teh. Neng geulis, atuh pake kesurupan segala" sahut ibu yang akhirnya menangis.


"ayah ? ibu ?" panggil Lea. "ini bukan mimpi ?" sambungnya.


"bukan atuh sayang. Maafin ayah yah yang marah - marah sama kamu. Ayah yang salah" kata Ayah yang betul - betul nampak bersalah.


Semalam ayah memarahi Lea habis - habisan karena pulang larut malam akibat nonton konser di Lapangan Gasibu pusat kota Bandung.


Ibu baru sadar kalau anaknya menggunakan pakaian syar'i. "teh, ga salah pake baju begini ?" ibu memperhatikan anak sulungnya itu dari atas ke bawah.


"udah bu, ga usah di pikirin. Kita bawa pulang aja dulu, nanti udah sampe di rumah mah boleh sok di buka. Kamu mau pake tengtop yang semalem ge sok weh" ujar ayah.


Ayah semalam kesal karena Lea memakai pakaian terbuka, sambil berkata "Cik atuh teh, pake baju yang bener. Mau jadi perempuan apa kamu teh ?. Liat tuh si Yanti anaknya Ceu Engkoy, buni pake baju teh, lulusan pesantren. Kamu apa ? maen weh hayoh !"


"Gak !. Teteh ga akan pernah buka aurat, dosa !. Udah jelas ini perintah Allah, kalian kenapa sih ?" Lea sedikit meninggi.


"Ya, saya inget sekarang. Kejadian waktu dimarahin ayah gara - gara nonton konser. Cap tiket masuk area konser masih ada ditangan kiri. Ya Allah, apa semua ini ?" Ucap Lea dalam hati yang mulai sadar kalo ini bukanlah mimpi.


Lea langsung memeluk ayah dilanjut memeluk ibu. "Ayah, Ibu, teteh ga mau bikin kalian terjerat di api neraka. Ini pasti kesempatan untuk teteh berubah" diam sejenak. "Bu, ayah .. teteh bakalan nikah sama Ustadz" sambung Lea yang membuat ayah dan ibu terperangah.


Plak ! ibu memukul bahu anaknya itu dengan cukup keras. "Gusti nu aguuuuung !!. Sekolah belum beres udah mikirin nikah kamu teh ?!"


Di ruang guru pun terjadi keributan. Lea berlari menghindar amukan ibu. Ayah menghela nafas cukup panjang kemudian menjatuhkan dirinya di kursi, saking bingungnya dengan sikap Lea. Guru - guru disana kebingungan, serta sahabat - sahabat Lea pun sama.


"Nikah ?" tanya mereka bersamaan.


💓💓💓


Dirumah. Oo iya, Lea punya dua adik laki - laki yang duduk di bangku SMP. Jarak mereka beda 2 tahun. Azka kelas 3 dan Dafa kelas 1.


Kedua remaja lelaki itu memperhatikan kakak perempuannya dengan aneh. Yup, tentu saja aneh. Mereka biasa melihatnya dengan celana pendek dan kaos polos ketat, tapi sekarang kakak perempuannya itu menggunakan pakaian syar'i dan sikapnya pun sangat anggun.


"teh" panggil Azka, namun Lea belum mendengarnya. "Teteh" panggilnya lagi dengan nada cukup keras.


Lea menoleh ke arah Azka. "Iya, de ?" jawab Lea sambil tersenyum.


Azka dan Dafa langsung tertawa cukup keras


"hahahaha demi Allah ga pantes teeeeeh, hahahahha"


Lea memutar kedua matanya, menandakan bahwa ia kesal. Lea langsung masuk ke kamarnya.


Kamar pada masa remaja. Tembok yang masih berwarna Pink dan hiasan foto - foto yang di cetak dari handphone N*ki* menghiasi lemari polosnya.


Lemari. Ya, lemari besar ini yang menimpanya saat gempa terjadi di tahun 2022 saat malam sebelum hari pernikahan.


"Bisa jadi kalo masuk ke lemari saya bisa balik lagi ke taun 2022" Lea masuk ke dalam lemari, lalu keluar lagi, tapi sayangnya ia masih di dunia 2007.


"Iiiiiiih !!. ya Allah, gimana sama pernikahan saya ?" Lea lalu membuka jilbabnya dan bercermin.


Ia kesal memperhatikan dirinya yang sekarang. Badan gemuk, pipi tembem, kulit gelap tak terawat, dan wajah kusam serta berkomedo.


Sementara dirinya di tahun 2022 sudah sangat terawat. Karena sejak masa kuliah ia rajin ke klinik kecantikan juga olah raga.


Ya itu semua terjadi karena cowok - cowok ga pernah mau kalau kenalan dengannya. Hingga akhirnya ia mengubah dirinya dan datang ke majelis ilmu. Setiap kajian di manapun berada pasti ia kejar, sampai akhirnya ia bertemu dengan Ustadz Ali. Pemuda tampan dan Sholeh yang jatuh cinta padanya karena lantunan suara merdu saat mengaji.


Lea menghampiri ayah yang sedang membaca koran. "Ayah, maaf ganggu sebentar" ucapnya dengan amat sopan.


Ayah begitu sangat kagum dengan sikap Lea yang sekarang. "Iya neng cantik" balas ayah yang langsung menutup korannya dan menyimpannya di meja.


"teteh minta uang boleh ?" tanyanya dengan hati - hati.


"buat apa teh ?" bingung ayah


"teteh mau beli Skin Care" jawabnya ragu


"apa itu teh ? bingung ayah"


"perawatan wajah yah, biar kulit teteh glowing" jawabnya sambil memegang kedua pipinya yang chubby itu.


"atuh bu, bener sih bikin putih. Tapi kalo kena air malah kayak ada bercak - bercak putih di muka teteh, udah gitu ga permanen"


"terima apa adanya. Kulit kita emang sawo matang teh" sambung ayah.


"ihh sawo matang juga kudu bersih, teteh tuh ya di taun 2022 tuh kulitnya glowing kayak artis - artis Korea" ungkap Lea sambil memajukan bibirnya.


"ga usah ah, masih muda. Belum waktunya" ayah pun memberi penolakan tegas.


Lalu Dafa datang. "taun 2022 ? .. teh, 2012 itu kiamat" ungkapnya dengan percaya diri.


Lea tertawa cukup keras. "Hahahahaha .. kalo 2012 kiamat, teteh ga akan ada disini !" balasnya.


"apa sih teh, stress ih" Dafa malah ketakutan dengan tingkah tetehnya.


"kamu lagi nonton bola ?" tanya Lea


Dafa mengangguk pelan.


"Skornya 3-1 .. Bandung menang, mau taruhan ?" sambung Lea.


Dafa dan Azka saling pandang, "dosa siah teh" kata mereka berbarengan.


"dosa mah kalau pake duit. Kalo kalian kalah, kalian Sholat tiap hari di Masjid" tantang Lea.


"okeh, tapi kalo teteh yang kalah, teteh yang cuci mobil ayah tiap minggu dalam 1 bulan" balas Dafa.


"Siap !. Gak takut" balas Lea dengan percaya diri.


Pertandingan sepak bola di televisipun selesai dengan skor akhir 3-1. Yess, jelas Lea tau lah. Lea kan udah pernah nonton 🤣🤣.


"euhh aing mah. Sholat ke Masjid, Daf" Azka nampak kesal karena malas dan belum terbiasa, karena biasanya sholat di Masjid hanya hari Jumat atau saat Tarawih saja.


"cuman maghrib doang atuh, Ka.. gampang" balas Dafa.


Lalu Lea mengetuk kepala kedua adiknya itu. "Enak aja !, setiap adzan kalian ke Masjid. Sholat 5 waktu di Masjid, termasuk Sholat Subuh !"


"dingin atuh teh .. ahh !!" sontak kedua adiknya itu terkejut. Ingin menolak tapi terpaksa harus di lakukan karena kalah taruhan.


💓💓💓


Di sekolah. Semua mata tertuju pada Lea yang baru masuk gerbang. Lea memakai seragam SMA yang berbeda dari biasanya. Ya, semuanya serba tertutup, gaya seragamnya kini seperti Dara.


Semua orang bengong melihatnya, kecuali Bu Dwi dan Dara. Mereka berdua sumeringah melihat gaya baru Azzalea Shaffiya yang aman sangat anggun.



"Assalamu'alaikum" sapanya pada teman-temannya di kelas.


"Wa'alaikumusallam ukhti" jawab Dion cengengesan.


"Siap - siap mau ulangan mendadak Akuntansi" kata Lea sambil menyimpan tasnya di meja.


Vera yang tidak percaya hanya mendelikan matanya saja dan lanjut selfie menggunakan handphone N**ia.


"jangan selfie wae, Ver. Belajar" perintah Lea


"selfie ? siapa selfie ?" istilah Selfie saat itu belum ada.


"ya itu, foto - foto sendiri. Namanya selfie" jawab Lea.


"oo lo bikin kata-kata gaul gitu, keren juga" balas Vera melanjutkan foto - fotonya.


"yeee .." kesal Lea.


Tak lama guru Akuntansi datang.


"Ayok hei masuk kelas semuanya !" perintahnya tegas, disusul para siswa masuk ke kelas. "Hari ini kita ulangan ya. Jangan ada yang nyontek, siapa yang lulus boleh ke kantin duluan sebelum bel istirahat"


Sontak semuanya melihat ke arah Lea. Gadis dari tahun 2022 itu hanya tersenyum santai sambil mengeluarkan alat tulis dari tasnya yang berwarna coklat tua.


Pada jam Istirahat. Dara sedang sibuk berjualan keliling Sekolah. Kemudian Lea menghampirinya dengan niat membantu.


"eh, ga usah Lea ih. Saya mah ga mau ngerepotin" kata Dara dengan nada cemas.


"Kayak ke siapa aja kamu mah. Gak apa - apa, sini aku bantuin" balas Lea.


"maaf ya Lea, saya mau nanya. Kamu ga gerah gitu sehariab pake kerudung ?" tanya Dara hati-hati.


Lea itu sebenernya paling gak tahan gerah apalagi kalau harua palau baju serba tertutup. Pakai motor aja gak pernah pakai jaket.


"Astaghfirulloh, Dar. Ini sih panasnya ga seberapa dibanding sama Api neraka. Saya rela kepanasan di dunia, biar di akhirat dijauhi dari siksa api neraka" jawabnya santai.


Dara tertegun dibuatnya. Matanya berkaca - kaca. "Masyaallah, Lea" katanya dalam hati.


Selesai sudah dagangan kue basah Dara habis terjual. Dara kaget melihat uang yang cukup banyak sedang di hitung oleh Dara dibantu oleh Ica.


"Uangnya mau kamu apain, Dar?" tanya Lea.


"Dikumpulin buat beli handphone. Biar kalian teh bisa ngehubungin saya,gitu" jawab Dara malu - malu.


"Saya punya ide!" semangat Lea membuat sahabat - sahabatnya kaget. Mereka khawatir Lea kesurupan lagi. "Saya mau ikutan dagang. Mau perawatan kulit supaya glowing" sambungnnya.


"Glowing ?" tanya Ica, Vera dan Dara bersamaan.


"iya, glowing itu nampak mengkilap gitu tapi putih bersi bercahaya" jawab Lea sambil membayangkan wajah dirinya di masa 2022.


"kayak si Dion gitu ?" tanya Vera.


"Ck, itu mah muka berminyak .. ini mah Glowing kayak artis Korea" balas Lea. "Kayak Jang Geum gitu lhoo" sambung Lea yang akhirnya ketiga sahabatnya itu mengerti.


"Oooh..kinclooong" sahut mereka berbarengan.


Radit kemudian datang dengan wajahnya yang berseri - seri. Deg ! .. tiba - tiba Lea merasa seperti ada rasa sakit di hatinya. Lea baru ingat, kalau hari ini Radit sedang PDKT dengan Siska anak kelas sebelah 3C.


"Udah pdkt sama Siska ya ?" tanya Lea.


Radit cukup kaget dibuatnya, karena belum ada yang tahu kalo dia dan Siska sedang dekat.


"Heh, Lele .. tau dari mana lo ?" tanya Radit.


"Ee .. ee .. tuhkan bener, dari gosip aja" balasnya kaku.


"gosip ?. Gak ada yang tau lho Le soal gue sama Siska ?" Radit menatap Lea dengan tajam.


"Aduh Dit, jangan natap kayak gitu dong. Saya bentar lagi nikah niiih" gumam Lea dalam hati. "Ada yang bilang ko, beneran saya gak bohong"


"Suya saya, biasa ngomong Gue dan Lo juga. Jangan - jangan lo .." diam sejenak, "lo bisa ngeramal ya ?" pertanyaan Radit membuat semua terkejut.


**Okeh Guys .. kelanjutannya di next episode yaa .. gimana seru ga niih ??


😄😄😄** ..