
Kini Rein sudah menjadi siswi disalah satu SMA favorit di kota Bandung. Ia sudah menginjak tahun kedua disana. Karena memang ia gadis yang pintar, ia bisa masuk dan diterima di SMA tersebut yang juga letaknya tak jauh dari Markas TNI tempat Ayahnya bekerja. Sehingga setiap harinya ia pergi sekolah bersama Ayahnya, dan pulang sekolah ia langsung menuju ke kantor Ayahnya, menunggu disana sampai pekerjaan Ayahnya selesai dan pulang bersama.
Hampir semua anggota TNI di tempat ayahnya Bekerja menjadi akrab dengan Rein, bahkan tak jarang beberapa tentara muda menggodanya. Disinilah ia kembali merasakan debaran yang sama yang pernah ia rasakan saat bertemu Gean. Dia bahkan sudah melupakan Gean karena Kakaknya pun kini telah dipindah tugaskan. Rein memang sempat patah hati sendirian saat mendengar kabar itu, Karena berarti benar-benar tak ada lagi kesempatan untuknya bertemu dengan Gean.
Kali ini dia jatuh cinta untuk kedua kalinya pada seorang Tentara muda bernama Raka. Itu berawal dari Raka yang selalu menggodanya. Tak jarang jika melihat Rein duduk di kantin, Raka langsung duduk dan makan disebelahnya. Rein merasa mungkin Raka punya perasaan yang sama padanya juga. Tetapi memang sudah sifat Rein, ketika ia menyukai seseorang pribadinya langsung berubah 180 derajat. Ia menjadi pendiam dan sangat pemalu. Ia hanya tersenyum jika Raka menggodanya. Rein sebenarnya sudah menunggu cukup lama bagi Raka untuk menyatakan cintanya. Ia mengenal Raka sejak pertama memakai seragam putih abu-abu. Bahkan masih mengingat pertama kali bertemu perawakan Raka kurus dengan kulit sawo matang. Setelah setahun berlalu tubuh Raka menjadi lebih berisi dan tegap, kulitnya yang sawo matang menjadi lebih bersih. Semakin hari Raka terlihat semakin tampan dimata Rein.
Tapi setahun berlalu Raka hanya sebatas menggodanya tanpa menyatakan apapun.
Akhirnya Rein pun menjadi akrab dengan salah satu teman Raka bernama Gilang. Gilang Berbeda dengan yang lain ia cenderung pendiam dan tak pernah ikut-ikutan menggoda wanita seperti yang lainnya. Karena itu Rein nyaman berbicara dengan Gilang, ia selalu berbicara sopan kepada Rein. Hingga suatu hari percakapan itu dimulai..
"Ade jangan-jangan ada naksir ya dengan salah satu teman Abang??" Tanya Gilang penasaran.
"Aah ngga... " tepis Rein
" Yaaaah jujur aja de. Nanti Abang comblangin deh.. " bujuk Gilang.
" Tapi janji ya jangan bilang siapa-siapa..pokoknya awas aja. " ancam Rein, Gilang mengangguk setuju.
" sekarang coba Abang tebak, siapa orangnya? " lanjut Rein memberi teka teki.
Gilang seketika mengernyitkan keningnya untuk berfikir.
" biasanya sih cewek pasti suka sama yang paling ganteng. Dan yang banyak fansnya Bang Rizwan. Iyakah? " tanya Gilang penasaran.
" tapi de Bang Rizwan pacarnya banyak.. Lebih baik janganlah.. " lanjutnya tiba-tiba
Sebelum Gilang kembali melanjutkan kata-katanya Rein segera menampik perkataannya.
" ihh bukan.. Bukan dia.. Lagian Rein juga tau.. Bang Rizwan pasti playboy." jawab Rein.
" Jangan bilang yang kamu suka itu Bang Raka... " Kata Gilang menyadari bahwa satu-satunya yang ia belum sebut adalah Raka.
" kenapa gitu?? " Rein malah penasaran mendengar nama Raka disebut.
" Bang Raka udah punya tunangan. Jadi Bang Raka ya??"
Hati Rein seketika merasa sakit, dadanya terasa sesak. Ia mencoba menahan itu dan tak mau menunjukannya didepan Gilang.
"Apaaaaaa??!?! Jadi selama ini dia cuma main main sama aku?!?!?! Jadi sebenernya Dia udah tunangan ?!?! " banyak pertanyaan dalam benak Rein. Ia menyadari bahwa kali inipun ia sedang merasa patah hati. Tapi ia berpura-pura pada Gilang bahwa bukan Raka orang yang ia suka.
" ih bukan ko.. Aku tanya aja. Lagian bukan Bang Raka" tegas Rein.
" Kalau gitu... Aku?!?" tanya Gilang tiba-tiba.
Rein menatap Gilang kaget dengan pertanyaannya. Tapi karena ia sudah akrab dan memang suka bercanda dengan Gilang maka ia menjawab seenaknya.
" Ya kalau iya memang kenapa?? Tapi aku tau ko.. Abang gak mungkin mau sama anak kecil kaya aku, lagian pasti Abang carinya cewek cantik dan sexy."
Belum sempat Gilang menjawab teman-temannya datang mengajaknya untuk segera Apel Sore. Gilangpun pergi tapi sesekali ia menatap pada Rein yang justru malah asyik memainkan kuku-kuku jarinya. Rein sebenarnya sedang meratapi rasa dari patah hatinya yang kedua.
Rein tampak menunggu ayahnya diparkiran, dengan wajah cemberut Rein memainkan helm yang ada ditangannya. Tiba-tiba Gilang muncul dan berdiri dihadapannya.
"Dek. Ayo kita pacaran. " kata Gilang sambil tersenyum. Gilang langsung berlari menuju kumpulan teman-temannya sambil tetap menatap Rein dan melambaikan tangannya.
Rein yang terkejut hanya bisa terpaku menatap Gilang tak percaya apa yang baru saja dikatakan pria itu. Ia bahkan tak menunggu jawaban apa yang akan dikatakan Rein. Atau mungkin Gilang justru yang memberikan jawaban atas pernyataan yang justru hanya candaan Rein belaka.