What Love Is..

What Love Is..
Cinta pertama yang tak terwujud


Sepulang dari Pangandaran, Rein kembali beristirahat di Masjid di Markas ayahnya.


Kebetulan bus mereka tiba pukul 02.00 dini hari. Jadi Ayah Rein memutuskan untuk pulang kerumah setelah subuh. Apalagi mereka harus naik motor dan beresiko pada jam-jam itu.


Sebetulnya ada sosok yang memang Rein cari, ia masih belum menyadari bahwa memang itulah cinta pertamanya. Ia masih celingak-celinguk berharap menemukan Gean. Tapi ia langsung cemberut ketika melihat Riris kakak Gean langsung pulang dengan suaminya menaiki mobil mereka.


"hmmm.. Berarti dia udah pulang ya.. Udah ngga ada disini.. " Bisiknya dalam hati sambil terlihat murung.


Selepas shalat subuh Rein bersiap-siap memakai sepatu untuk pulang kerumahnya. Tiba-tiba pundaknya ditepuk dari belakang. Saat ia menoleh jantungnya langsung berdebaran seperti tabuhan genderang perang. Bahkan Rein pun tak bisa sekedar menyunggingkan senyum diwajahnya untuk sosok pria yang sedari tadi dia cari. Ia hanya melotot kaget menatap Gean.


"haduh.. Aku ngagetin ya de.. Hahahaha " kata Gean sambil tertawa.


" ya ampuuuun... Kak Gean punya lesung pipit. Ko ganteng banget sih... " Bisik Rein dalam hati. Tapi ekspresinya pada Gean tetap lurus tanpa menunjukan rasa apapun.


" Hey.. Rein masih SMP. Jangan digodain ya! " kata Ayah Rein yang tiba-tiba sudah ada disamping mereka.


" wah om main nyambung-nyambung aja.. Ngga boleh nih kalau Gean mau kenalan sama anak om.. " jawab Gean.


" bongsor juga yah kamu.. Aku kira kamu juga udah SMA." lanjutnya sambil menatap Rein.


Rein sebenarnya agak kesal mendengar hal itu.


"memang kenapa kalau aku masih SMP. Jadi selama ini dia kira aku anak SMA makannya sok ngegodain aku.. Sebel banget. "ketus Rein dalam hati.


" Lah emang ia badannya bongsor.. Tapi umurnya masih kecil Ge.. Hahahaha. " lanjut Ayah Rein.


" Mba Riris juga kan deket sama Om dan Tante yah kaya udah saudara sendiri. Ya kan?? " sambungnya.


Ayah Rein langsung tertawa cekikikan mendengarnya. Tetapi justru hati Rein semakin kesal mendengar apa yang diucapkan Gean.


" huh.. Aku pikir ini Cinta pertama, nyatanya aku langsung aja patah hati " pikirnya.


" memangnya Kak Gean kelas berapa sekarang?? " Rein tiba-tiba berani untuk bertanya. Hatinya sudah agak mending dan tak berdebaran lagi.


" Abang sudah mau kelas 3 de.. " jawabnya seperti memberi isyarat untuk dipanggil abang saja.


Setelah ayah dan bundanya lama bercakap-cakap dengan Gean, mereka pun pamit. Gean pun menghampiri Rein sambil tersenyum penuh pesona.


" shiiiiitttt... Satu hari bisa bikin patah hati berkali-kali nih" Gumam Rein pelan.


" Hati-hati ya dek... " Kata Gean sambil tiba-tiba menaruh tangannya di atas kepala Rein dan mengacak rambut Rein lembut. Hati Rein langsung berdebaran tak karuan lagi. Ia kali ini tersenyum simpul pada Gean.


Rein pun pamit dan langsung mengenakan helmnya.


Ia berjalan lalu menaiki motor ibunya. Sepanjang perjalanan ia selalu terbayang senyuman Gean padanya. Tapi seketika ia buru-buru menepisnya.


" jangan berharap dan bermimpi terlalu tinggi Rein, kapan juga bakal ketemu lagi. Lagipula kamu cuman anak kecil dimatanya.. Pastinya juga dia gak akan mau sama kamu "


Berkali-kali Rein menepis bayangan Gean yang selalu hingga dibenaknya. Yang jelas ia seakan tahu bahwa kemungkinannya kecil bagi mereka untuk bertemu kembali. Apalagi Gean bersekolah diluar kota.