What Love Is..

What Love Is..
Untuk pertama kali..


Pukul 3.00 pagi keluarga Rein sudah siap-siap. Mereka sudah harus berkumpul di Markas Ayahnya pukul 5.00 setelah Subuh. Rein pergi dibonceng Bundanya, sedang kedua adik laki-lakinya dibonceng Ayahnya. Ayah Rein memang belum memiliki mobil, gajinya selama ini ia tabung sebagian untuk pendidikan putra putrinya dimasa depan. Menurutnya itu lebih penting daripada sekedar gaya hidup. Ayahnya selalu menasihati Rein untuk hidup seadanya saja,


"Tidak perlu lah kita mengada-ada.. Lihat saja sudah banyak contohnya, gaya hidup Mereka memang wah, tapi dikejar-kejar tukang kredit, hutang disana-sini, giliran ditagih ngumpet. Kalau masalah gaya hidup ya beginilah Ayah. Tak mungkin juga minta bantuan Bunda, Bunda kan fisiknya lemah, punya anak-anak yang masih kecil juga, lebih baik Bunda rawat anak dan rawat rumah. Yang penting jangan lupa bersyukur.. Dan, insyaallah kalau kalian pintar dan sekolah tinggi, mau apapun, mau kemanapun pasti bisa, kalau pakai uang hasil jeripayah sendiri pasti lebih bermakna. " nasihat Ayahnya yang selalu Rein ingat.


Sebab itu pula Rein tidak pernah berani meminta apapun bahkan ponsel pun Rein tidak punya. Terkadang teman-temannya yang lain mendesak Rein untuk minta dibelikan ponsel pada Ayahnya, tapi Rein tak mau. Bukan karena ayahnya tak mampu untuk sekedar membelikan ponsel, tapi ia segan meminta. Dan mengingat nasihat ayahnya kalau untuk sekedar gaya hidup lebih baik ia menunggu saja sampai Ayah membelikannya.


Pukul 04.00 mereka sudah tiba dimarkas tempat berkumpul. Rein duduk menunggu di depan Masjid bersama kedua adiknya karena Ayahnya harus melakukan Apel bersama yang lain dan ibunya berkumpul untuk mendengarkan arahan dan pengumuman diruangan Persit (Persatuan Isteri Prajurit, Red.) . Tiba-tiba Rein merasa ada yang sedang memperhatikannya, seketika ia menoleh dan melihat sosok pria yang sama sekali tidak canggung atau kaget saat Rein membalas menatapnya. Pria itu terlihat tampan, kulitnya putih dengan badan yang tinggi tegap. Justru Rein yang merasa kaget saat pria itu melambaikan tangan dan berjalan mendekati Rein. Tetapi lima langkah sebelum mendekat, bahu pria itu justru dicekal ayah Rein.


"Gean, hey... Apa kabar??" sapa Ayah Rein


" ahh.. Assalamualaikum Om Banyu. Saya baik Alhamdulillah . Om gimana kabarnya? " balas pria itu


" Alhamdulillah Ge, kamu ikut ke Pangandaran juga sama mba Riris? " tanya Ayah Rein.


" Ohh ngga Om.. Gean nginep disini di barak sama Om Duma dan Om Faisal. Mereka kan piket kantor saat semuanya ke Pangandaran." jawabnya.


"Loh ko ga ikut sih, gimana di SMA Taruna betah ge? " tanya Ayah lagi.


" Betah om Alhamdulillah.. " jawabnya lagi.


Pria itu langsung menatap ke arah Rein yang hanya bengong melihat dia dan Ayahnya asik mengobrol.


" Ade nunggu siapa? Namanya siapa? " tanyanya langsung pada Rein.


" Lah.. Mau kenalan sama anak Om ya?! Hahaha"


Dia langsung melirik ayah Rein dan menundukkan kepalanya malu, lalu berbalik kembali ke arah Rein.


" Jadi kamu anaknya om Banyu yaa?? " tanyanya pada Rein.


Rein hanya mengangguk mengiyakan dan menatap Ayahnya.


Gean langsung asyik mengobrol kembali dengan ayahnya hingga ibunya datang. Merekapun berhenti Karena sudah masuk adzan subuh dan mengantri untuk wudhu dan shalat berjamaah di Masjid Markas Ayahnya.


Ada sesuatu yg terjadi dengan hati Rein saat melihat Gean, ia sedikit merasa gelisah karena jantungnya berdebar cepat. Ia juga merasa canggung jika diajak bicara Gean, padahal ia termasuk anak yang cerewet. Rein sebenarnya ingin mengatakan sesuatu atau sekedar bertanya tapi kata-katanya hanya menggantung di ujung mulutnya.


"aduh.. Kenapa ini?? Kok deg-deg an.. " Bisiknya dalam hati.


Sesekali Rein malah memalingkan muka ketika Gean menatapnya.


Mereka bahkan tidak sempat benar-benar berkenalan karena ayah Rein selalu mengajak Gean mengobrol. Sampai akhirnya Rein dan keluarganya menaiki bus bersama rombongan lainnya untuk pergi ke Pangandaran. Rein sempat melihat Gean yang berdiri dipinggir bus yang mereka tumpangi, tapi kali ini Gean melambaikan tangan pada kakaknya yang juga seorang Kowad dan kebetulan duduk di bus yang sama. Saat Rein asyik memandangi Gean tanpa ia sadari, sampai akhirnya bus yang mereka tumpangi pun akhirnya berjalan Gean langsung menatap dan mengerlingkan matanya tepat kearah Rein. Sontak Rein pun kaget apalagi kali ini Gean melambaikan tangan padanya.


"haduuuhh.. Jangan-jangan dia tau aku liatin dia dari tadi " Gumamnya dalam hati sambil mencubit-cubit ujung ibu jarinya karena gugur.