
Setelah kembali dari membeli bahan-bahan yang diminta oleh Jac, Hana membawanya ke dapur untuk diserahkan kepada chef.
"Hana tolong antarkan pesanan ini ke meja 302 ya" Ucap Sisil, saat Hana mengambil pesanan yang mau diantarkan ke pelanggan.
"Baiklah" Kata Hana sambil mengambil nampan pesanannya. Hana berjalan menuju meja 302 yang berada di sebelah pintu ruangan VIP.
"pltaak"... Bunyi nampan dan tubuh Hana terduduk sambil menunduk di lantai . Ketika Hana tak sengaja menabrak salah seorang pria dari lima orang pria berjas yang baru saja keluar dari ruangan VIP. Dilihat dari sepatunya aja mereka merupakan orang-orang yang penting. Membuat Hana takut, Dia takut dipecat karena kesalahannya. Walaupun bukan sepenuhnya kesalahan dia sih. Tadi dia hanya mencoba menghindar dari pelanggan yang mau lewat di depannya. Ternyata dia salah, di depannya bahkan lebih banyak yang lewat.
" Aduhhh... gimana ni.... dia pasti orang penting " Batin Hana.
"Bagaimana kau..." Ucapan pria itu terpotong karena Hana tersadar setelah mendengar nada tinggi membentak dari pria itu dan Hana langsung minta maaf terhadap orang itu.
"Aduh.. Maa-maaa-maaf tuan maaf, saa-yaa tii-dak sen-gaa-jaa." Ucap Hana gugup masih dalam keadaan menunduk dia berdiri meminta maaf.
Alvaro Pov
Tok tok tok... bunyi ketukan di sebuah ruangan yang bertuliskan CEO di depan pintunya, di gedung perusahaan terbesar di New York. Yaitu Graham Company.
"Masuk" Titah orang yang didalamnya, orang itu adalah sang CEO dan pemilik perusahaan tersebut. Setelah membuka pintu perlahan orang yang mengetuk pintu itu masuk ke dalam ruangan. Orang itu adalah sang sekretaris yaitu Rachel.
"Maaf mengganggu waktunya Pak, Saya mau mengingatkan bahwa 30 menit lagi Bapak ada meeting dengan Rufodh Corporation di Restaurant JA Graham"
Restoran JA Graham merupakan salah satu restaurant milik orang tua Alvaro, itulah kenapa restaurant itu dinamakan JA Graham. Yang merupakan gabungan inisial dari nama Anthony dan Jesslyn, orang tua Alvaro.
"Ok.. Siapkan saya mobil di loby, hari ini saya akan menyetir sendiri dan jangan lupa untuk menyuruh para bodyguard untuk tidak mengawal saya hari ini". Kata sang CEO yang masih asik berkutat dengan komputernya, tanpa melihat orang yang sedang berbicara dengannya.
"Baik Pak. Kalau begitu saya permisi. " Pamit sang sekretaris sambil menundukkan kepalanya.
Hari ini Alvaro akan pulang cepat untuk istirahat setelah meeting. Itulah kenapa dirinya tidak mau dikawal oleh bodyguardnya dan tidak mau ada supir. Karena Dia ingin cepat-cepat sampai di mansion.
:
Skip Siap Meeting
:
Alvaro berjalan keluar dengan para kliennya dari ruangan VIP di restaurant tempat mereka meeting. Dengan dia yang berjalan terlebih dahulu, namun saat dia berjalan di depan pintu dia ditabrak seorang pelayan.
"pltaak"... Bunyi nampan dan tubuh pelayan itu terduduk dilantai.
Rahang mengeras, wajah datar dan tatapan tajam langsung ditujukan oleh Alvaro kepada pelayan itu. Alvaro mengetatkan tangannya sampai buku-buku jari tangannya memutih, hal itu menandakan bahwa Alvaro benar-benar marah saat ini.
"Aduh.. Maa-maaa-maaf tuan maaf, saa-yaa tii-dak sen-gaa-jaa." Ucap pelayan itu gugup, masih dalam keadaan menunduk dia berdiri meminta maaf. Baru Alvaro ingin memarahinya, dia langsung terdiam mendengarkan suara itu.
Merasa aura yang menyeramkan semakin mencekam atas kejadian yang memicu kemarahan seorang Alvaro Bert Graham membuat orang-orang disekitarnya diam tanpa berniat membantu pelayan itu. Karena mereka tau bagaimana kejadiannya jika ada yang berbuat salah dengan seorang Alvaro, maka berakhirlah hidup mereka.
Bahkan saat ini mereka semua takut bahwa pelayan itu akan menjadi sasaran dari kekejaman seorang Alvaro.
"Ada apa ini, kenapa suaranya terdengar merdu dan indah walaupun dalam keadaan gugup" Alvaro membatin. Kenapa Dia seakan terhipnotis dengan suara itu.
"Deg" Saat mata mereka bertemu seperti ada tarikan magnet diantara mereka untuk saling diam dan jatuh dalam pesona masing-masing.
"Duh... kok detak jantung aku bunyinya kencang banget ya, setelah lihat mata Dia. Gimana kalau Dia dengar." Kata Hana dalam hatinya. Ya, orang yang telah menabrak Alvaro adalah Hana.
"Indah" Satu kata yang tercetak dalam kalimat batin Alvaro saat melihat mata Hana yang lentik.
Tanpa sadar reaksi tubuh Alvaro mulai melunak setelah mendengar suara dan melihat mata Hana. Seakan-akan semua kemarahan Alvaro menguap entah kemana.
Merasa tak ada respon dari Alvaro, Hana mengulang minta maafnya.
"Tuan saya mohon maaf atas kesalahan yang telah saya perbuat, saya akan membersihkan jas Tuan yang kotor karena saya." Ujar Hana lancar, setelah menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa gugupnya. Sambil mencoba melap noda di jas Alvaro.
Entah sadar atau tidak Alvaro memegang tangan Hana yang mulai membersihkan jasnya yang kotor terkena tumpahan minuman. "Lembut", satu kata yang ada difikiran Alvaro saat menyentuh tangan Hana.
" Hm... Tidak usah, nanti bisa di laundry. Lain kali kamu hati-hati kalau sedang jalan. " Ucap Alvaro lembut, tanpa adanya nada kemarahan. Hooo... semua orang melongo mendengarnya, baru kali ini seorang Alvaro bersikap lembut, terutama pada orang yang baru berbuat kesalahan dengannya. Biasanya Alvaro akan selalu menghukum dan berakhir dengan membunuh orang yang sudah berbuat salah dengannya.
"Sekali lagi saya minta maaf tuan, lain kali saya akan lebih berhati-hati dalam bekerja." Ucap Hana lega, ternyata orang berparas menyeramkan yang telah dilihatnya tadi memiliki hati yang mudah memaafkan.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Alvaro langsung berlalu keluar restaurant. Setelah punggung Alvaro tak terlihat, semua orang masih dengan sikap melongo mereka menyaksikan keajaiban dunia barusan.
Merasa bingung dengan keadaan orang-orang disekitarnya, Hana mencoba memanggil Kayla yang tak jauh berdiri di sampingnya.
"Kay..Kay....Yaaa ampun Kayla" Teriak Hana keras dekat Kayla, karena yang di panggil-panggil tak menyahut. Setelah Hana berteriak memanggil Kayla barulah semua orang tersadar dan bernafas lega.
Hana fikir semua orang terkena virus zombi yang menyebabkan mereka semua diam, dan tak bergerak dengan wajah jelek mereka. Terus mereka berakhir dengan menggigit manusia lainnya.
" Iiihhh sereemm. " Hana mulai ngerasa takut dengan pikirannya sendiri.
Sedangkan di sudut restaurant Jac berdiri sambil bergumam.. " sungguh pertemuan yang memukau". Jac yakin setelah ini, bakalan ada kejadian luar biasa yang akan terjadi. Karena Dia tau betul bagaimana sifat sahabatnya itu. Ya Alvaro adalah sahabat dekat Jac dari semasa SMA, karena orang tua mereka juga bersahabat.
Makanya keluarga Alvaro mempercayakan Jac mengelola restaurant ini.