BEHIND THE SMILE

BEHIND THE SMILE
Bius.


"Tenanglah sayang. Kita akan bersenang-senang mulai hari ini."


Dengan suara sensual yang menggoda dibarengi dengan kedipan mata seolah-olah siap memangsa perempuan cantik dihadapannya ini.


Mendengar ucapan tuan badrol yang penuh dengan makna tersirat itu,


Dewi refleks menyilangkan tangannya didadanya.


Seperti halnya tameng yang dipasang untuk melindungi diri.


Pria dengan rambut halus yang menghiasi wajahnya itu memunculkan seringai tipis di bibirnya.


Seolah menertawai tindakan defensif Dewi.


Wajahnya semakin mendekat


hingga dapat dirasakan hembusan nafas Dewi yang terengah-engah ketakutan.


Dan hal paling tak diinginkan oleh Dewi


akhirnya terjadi.


Pria itu dengan sangat menggebu-gebu memaksakan kehendaknya,


memuaskan hasrat yang sudah ia tahan sejak melihat rupa yang menawan dari gadis belia ini.


Segala usaha untuk melepaskan diri dari pria gila ini sudah dicoba oleh Dewi.


Memukul, menendang dan menggigit ia lakukan dengan sekuat tenaga agar bisa terlepas dari singa kelaparan ini.


Teriakan minta tolong pada siapapun diluar sana terus menerus berkoar dari mulutnya hingga tenggorokannya kering kehabisan suara.


Menangis.


Satu-satunya hal yang dapat dilakukannya setelah semua usahanya untuk melepaskan diri, sia-sia.


Apakah tak ada seorangpun diluar sana yang mendengar jeritannya?


Atau mungkinkah orang-orang itu sengaja menutup telinga atas segala jenis suara yang berasal dari kamar ini?


Benar.


Mungkin saja seperti itu.


Dari pertama kali ia datang ke rumah ini, Dewi sudah merasakan kejanggalan.


Dia yang datang untuk bekerja sebagai pembantu malah mendapatkan perlakuan bak putri raja.


Disambut dengan baik.


Di beri fasilitas kamar tamu beserta pakaian bagus.


Bahkan Dewi tidak melakukan pekerjaan apapun seperti halnya seorang pembantu pada umumnya.


Mereka telah mempersiapkan ini sejak awal.


Dewi terus saja menangis terisak.


Tak bisa melakukan apapun.


Hingga secara tiba-tiba tuan Badrol menghentikan kegiatannya.


Matanya yang kecoklatan itu menatap mata Dewi yang memerah dengan tajam.


Bisa dilihat oleh Dewi bahwa tatapan itu menampakkan kilatan penuh kemarahan.


Dengan kasar ia melemparkan tubuh Dewi dari atas ranjang ke lantai.


Terdengar suara seperti tulang yang patah saking kerasnya tubuh Dewi menghantam lantai marmer.


Kepala Dewi terhantam dinding dengan hingga mengucurkan darah segar.


Pakaiannya compang-camping,


robek sana-sini.


Demi mencoba untuk bangkit sambil sedikit menutupi bagian tubuhnya yang terekspose.


Tubuhnya bergetar hebat saat laki-laki buas itu berjalan menghampirinya tanpa sehelai benangpun.


Meskipun tertutup dengan bulu halus, masih dapat dilihat wajah tuan Badrol yang memerah penuh dengan amarah.


Pria itu berjongkok, lalu tanpa diduga oleh Dewi,


pria itu mencekik lehernya dengan kuat meski hanya dengan satu tangannya saja.


"Beraninya mereka..."


Sementara wajah Dewi sudah terlihat membiru.


Mulutnya menganga lebar, tubuhnya sudah sangat lemas hingga tak dapat melawan Tuan Badrol yang begitu dikuasai oleh amarah.


Ia pikir gadis belia ini masih suci tak terjamah oleh pria manapun sebelumnya.


Hingga keinginannya untuk menjadi yang pertama bagi Dewi membuat hasratnya menggebu-gebu.


Ternyata gadis yang ia pikir masih suci ini ternyata bukan lagi seorang perawan


membuat kemarahannya membuncah.


Ia telah sia-sia menghabiskan uangnya demi gadis yang sudah tak suci seutuhnya.


Dewi mulai merasa malaikat maut akan datang menjemputnya saat kegelapan menghampiri.


Hingga tubuhnya lunglai lemas tak teraliri oleh oksigen barulah pria itu melepaskan cengkramannya dari leher Dewi.


"Astaghfirullahhaladzim." Air mata kembali membasahi Saffa mendengar cerita memilukan dari mulut Dewi.


Apakah nasibnya juga akan sama seperti Dewi.


Tidak.


Itu tidak boleh terjadi.


Bagaimanapun caranya nanti ia harus bisa menemukan jalan untuk melarikan diri.


"A..apa yang terjadi setelahnya?" suaranya terdengar parau. "Bagaimana bisa kau kembali ke tempat ini?"


*


Saat Dewi membuka matanya yang pertama dirasakannya adalah pusing tak terperi yang melanda kepalanya.


Pandangannya berkunang-kunang.


Seakan sedang terjadi gempa bumi dahsyat yang mengguncang.


Butuh beberapa saat bagi dirinya untuk sepenuhnya sadar.


Dimanakah ia sekarang ini.


Gelap, bau, kotor dan lembab.


Semua itu langsung terasa saat Dewi memindai tempat ini keseluruhan.


Dewi meraba lehernya seperti ada sesuatu yang membekas disana,


saat kemudian seseorang datang dengan membanting pintu secara kasar.


Tak salah lagi orang itu adalah Tuan Badrol.


Ia datang dengan membawa sebilah rotan ditangannya.


Menghampiri Dewi dengan langkah besar dan cepat.


"Dasar tidak berguna."


mengayunkan rotan tersebut ke tubuh Dewi.


Wanita malang itu refleks menjerit kesakitan.


Bekas merah langsung muncul ditempat Tuan Badrol memukul tubuhnya.


"Rugi aku membelimu dengan harga mahal. Dasar ja**** sialan."


Kembali mengibaskan rotan itu ke tubuh Dewi secara bertubi-tubi.


Tak ada ampun.


Hingga wanita itu kembali jatuh kedalam kegelapan.


Ambruk tak sadarkan diri.


____


Meminta uang ganti rugi karena tak mendapatkan gadis yang masih suci sesuai permintaannya."


Saffa memperhatikan dengan seksama raut wajah Dewi.


Senyum getir muncul dibibir pucatnya.


"Entah apa yang akan terjadi padaku nanti.


Mereka tidak mungkin mengirimku ke kelab malam pinggir kota sekalipun.


Lebih tidak mungkin lagi mereka mengirimku kembali ke indonesia."


Hening.


Saffa akhirnya melebarkan matanya, melotot tak percaya saat dipikirannya muncul kemungkinan ketiga.


"Jangan bilang..."


"Ya.


Mungkin akan terjadi seperti yang kau pikirkan."


Saffa menggelengkan kepalanya.


"Tidak mungkin." tak percaya dengan kemungkinan yang akan terjadi.


"Itu mungkin saja.


Mereka telah kehilangan banyak uang, karena tuan Badrol meminta kembali uangnya beserta tambahan sebagai ganti rugi.


Tak mungkin mereka membuangku begitu saja tanpa mengambil keuntungan dari bagian tubuhku."


Ekspresi wajahnya datar tak menunjukkan emosi apapun.


Sepertinya ia sudah pasrah akan keadaan jika memang dia harus berakhir dengan meregang nyawa untuk diambil keuntungan dari organ tubuhnya.


"Tidak. Kau tidak boleh berakhir seperti itu.


Aku... aku akan membantumu mencari jalan keluarnya.


Ayo kita keluar dari sini.


Pasti ada caranya.


Jangan lupa Allah masih bersama kita. Pasti ada petunjuk."


Saffa melihat sekeliling ruangan itu.


Siapa tahu ada sebuah lubang ventilasi atau alat apapun yang bisa digunakannya untuk melarikan diri dari tempat mengerikan ini.


"Tidak.


Tidak ada yang menginginkanku diluar sana.


Keluargaku, bahkan suamiku pasti sudah melupakanku dan tak lagi mengingatku. Bahkan mungkin suamiku sudah menikah lagi dengan wanita lain."


Setitik bulir air kesedihan keluar dari sudut matanya.


Kenyataan hidua yang sungguh memilukan bagi Dewi.


Saffa kembali termenung.


Keadaannya bisa dibilang hampir sama dengan Dewi.


Paman telah menjualnya, itu berarti paman sudah tak lagi menginginkan keberadaannya.


Mungkin mereka sudah menganggapnya tiada.


Tapi, Tidak.


Ia tak akan menyerah begitu saja.


Ia tak ingin berakhir disini.


Tak ingin pula menjadi budak yang tidak memiliki kebebasan, dan diperlakukan seperti boneka yang hanya digunakan untuk bermain-main.


Tidak. Saffa tidak mengingin itu terjadi.


Ia masih berkeinginan untuk melanjutkan pendidikannya.


Menggapai cita-cita. Memperdalam ilmu agama demi mendekatkan diri pada Tuhannya.


Bukannya ingin melawan takdir jika memang ini sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.


Tapi bukannya jika ia berusaha ia pasti bisa merubah takdir muallaq.


Bukan hanya pasrah dengan keadaan tanpa pilihan.


Setitik ingatan tentang ibunya yang menasehati dirinya sebelum meninggal kembali muncul.


Tersenyum.


Hal yang hampir dilupakan oleh Saffa sejak menginjakkan kaki ditempat ini.


Yakin kalau ia bisa mencari jalan keluar terbaik, Saffa mencoba memunculkan senyum dibibirnya.


"Jika nanti mereka benar-benar menjual organ tubuhku,


Setidaknya aku mungkin akan merasa tidak mati dengan sia-sia.


Meskipun mereka melakukannya dengan tindakan ilegal. Organ tubuhku yang masih berfungsi nanti akan bermanfaat bagi orang lain."


Hanya itu yang terlintas dalam pikiran Dewi. Merelakan apa yang akan terjadi.


Meskipun ia merasakan kengerian saat membayangkan kematian datang menjemput dengan bengis dan menyakitkan.


Terdengar diluar sana suara klik dari kunci terpasang di pintu.


seseorang dengan kasar membuka pintu.


Hingga mengejutkan dua orang didalamnya.


Seketika kepanikan melanda Saffa.


Dua orang bertubuh besar dengan berpakaian formal melekat dan memperlihatkan otot-otot besar yang menonjol menyesakkan jas yang mereka pakai.


Kedua pria itu menangkup lengan Saffa dan dengan paksa membawa gadis itu


pergi.


"Lepaskan.


Lepaskan aku." berteriak dan meronta-ronta sekuat tenaga.


Tiba-tiba terlintas dalam pikiran Saffa film Kungfu Hustle.


Salah satu adegan dalam film itu menampilkan jurus menginjak kaki lawannya hingga remuk.


Dan jurus itulah yang mendorong Saffa


untuk melakukan hal yang sama.


Kreek


Kedua kakinya menginjak salah satu kaki dari kedua orang yang sedang mencengkramnya ini.


Tak seperti dalam film dimana kaki yang diinjak akan langsung remuk.


Kedua pria ini hanya menoleh dengan raut wajah garang pada Saffa.


Menahan sakit yang tak seberapa, juga amarah yang membuncah mendapat injakan dari gadis cebol ini.


"Beraninya kau.."


Namun itu tak mengurung keinginan Saffa untuk terus menginjak kaki kedua orang itu.


Terus menerus.


"Lepaskan aku."


Kembali meronta sambil kakinya masih berdiri diatas kaki kedua orang itu.


Jleb.


Saffa merasakan sesuatu menancap di punggungnya.


Sebuah jarum suntik berukuran kecil menancap dengan sempurna menjadi jalan masuk bagi cairan bening yang berisikan obat bius.


Selama beberapa saat Saffa terdiam sebelum akhirnya dunianya berubah menjadi gelap seutuhnya.