
Suara deru mesin pesawat yang sedang berpacu di landasan terdengar begitu memekakan telinga.
Pesawat Indoxx dengan nomor penerbangan xxx telah Take Off dari landasan di bandara internasional Soekarno-Hatta.
Terdengar salah satu awak pesawat menginformasikan kepada penumpang ketika pesawat dengan tujuan Kuala Lumpur Malaysia itu telah berada di ketinggian kurang lebih 3000 meter diatas permukaan laut.
Perjalanan yang akan memakan waktu sekitar 1 jam itu terasa begitu menyenangkan dan mendebarkan bagi Saffa Khadijah.
Bagaimana tidak, dirinya senang karena mendapat hadiah kelulusan istimewa dari sang paman.
Sekaligus berdebar karena pertama kali keluar negeri seorang diri.
Satu minggu yang lalu Saffa telah berhasil menyelesaikan pendidikan S1 nya disalah satu Universitas di Bandung.
Paman serta bibinya yang datang menghadiri acara wisudanya kala itu, memberikannya hadiah kelulusan istimewa berupa paket liburan keliling Kuala Lumpur dan sekitarnya selama 2 minggu.
Hal itu membuat Saffa yang begitu menyayangi pamannya itu begitu senang bukan kepalang.
"Tapi paman, bukannya satu minggu itu terlalu mendadak? Kita kan harus mengurus paspor dan visa dulu." Tanya Saffa heran dengan keberangkatan yang menurutnya begitu mendadak.
Paman tersenyum. Ia menjelaskan kalau semua itu sudah diurus.
Saffa hanya tinggal mempersiapkan diri saja karena kali ini Ia hanya pergi liburan sendiri.
"Sendiri?" matanya membelalak terkejut. Ini akan jadi pengalaman pertama bagi Saffa pergi ke negeri orang sendirian tanpa ditemani kerabat maupun teman.
Sebagai seorang yang introvert seperti Saffa, pasti akan menjadi tantangan tersendiri baginya pergi tanpa ada orang yang dikenalnya.
Tapi apa yang pamannya katakan selanjutnya membuat pikiran Saffa sedikit lebih tenang.
Disana Saffa akan dipandu oleh agen travel bersama dengan para pelancong lain dalam sebuah grup tersendiri.
Pagi tadi pamannya ikut serta mengantarkan Saffa pergi ke bandara.
Bahkan ikut menunggu beberapa saat sebelum keberangkatannya.
"Jaga diri kamu baik-baik Saffa. Jangan membuat masalah.
Kalau ada apa-apa kamu nggak usah khawatir. Tetap tenang dan seperti biasa jangan lupa tersenyum."
Ujar paman memberi nasehat saat mereka berpelukan.
Segurat senyum muncul di sudut bibir Saffa. Paman adalah keluarga satu-satunya yang ia miliki saat ini.
Ayah dan Ibunya telah meninggal ketika Saffa masih SMA dalam sebuah kecelakaan mobil saat hendak menghadiri acara kelulusan Saffa di sekolah.
Ia tinggal bersama dengan neneknya hingga sebelum akhirnya sang nenek juga pergi ke pangkuan Yang Maha Kuasa setahun kemudian.
Satu-satunya keluarga yang tersisa adalah Sobari, Pamannya.
Paman adalah adik kandung dari ayahnya.
Selain adik dari ayahnya Saffa tak memiliki kerabat lain dari pihak ibunya, karena ibunya merupakan anak tunggal dan Kakek Neneknya juga sudah meninggal.
Bersama istrinya, Paman Sobari dikaruniai dua orang putri kembar yang saat ini keduanya masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama.
Saffa bergantian memeluk bibinya.
"Jaga diri baik-baik ya." menepuk pundak Saffa. Ditanggapi dengan anggukan oleh Saffa sebelum kemudian melepaskan pelukan itu.
Saffa lalu menarik koper yang dibawanya.
Mengucap salam kepada paman dan bibinya sebelum akhirnya melangkah pergi menuju pintu keberangkatan.
*
Saat ini didalam pesawat para pramugari dan pramugara tengah memperagakan tata cara penggunaan alat keselamatan jika nanti terjadi situasi darurat.
Ada sebagian penumpang yang mengabaikan instruksi tersebut dan memilih fokus dengan urusan masing masing,
sebagian lagi tampak memperhatikan dengan serius karena mungkin mereka akan memerlukannya nanti.
Saffa sendiri termasuk kedalam orang yang memperhatikan dengan seksama.
Meskipun doa keselamatan telah ia panjatkan sebelumnya.
Namun ia harus tetap mengantisipasi kejadian buruk yang mungkin terjadi.
Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi dimasa depan bahkan tak ada yang tahu peristiwa apa yang akan terjadi satu menit dari sekarang.
Karena kita bukan Tuhan yang mengetahui segalanya.
Kita hanya manusia biasa yang hanya bisa berdoa dan mengusahakan agar masa yang akan datang nanti dapat terjadi sesuai dengan harapan.
Tempat yang saat ini diduduki oleh Saffa merupakan kursi penumpang kelas ekonomi.
Disampingnya duduk seorang wanita paruh baya dengan rambut yang sudah didominasi warna putih.
Sebelah tangannya menutupi mulutnya sedangkan tangan yang lain mencari-cari kantung sebagai wadah untuk barang yang nanti akan keluar dari mulutnya.
Saffa yang melihat itu mencoba membantu.
Tangannya mengulurkan sebuah kantong kemudian diberikannya pada wanita lansia itu.
Sayangnya benda yang keluar dari mulut nenek itu bukannya menuju lubang masuk dalam kantung,
melainkan meleset menegnai pakaian yang dipakai saffa dan mengotorinya.
"Maaf nak. Nenek tidak sengaja." Nenek itu mengarahkan tangannya berusaha meraup muntahannya, namun ia urungkan karena perutnya kembali bereaksi sehingga mengharuskan tangannya untuk memegang kantong lagi.
Kali ini tepat masuk kedalam kantong.
Saffa yang merasa iba dengan Nenek ini, mengulurkan tangannya meraih tengkuk leher belakang sang Nenek dan memberikan sedikit pijatan disana.
"Terimakasih." Ucap Nenek yang saat ini telah berhasil mengeluarkan semua makanan yang pagi tadi memenuhi lambungnya.
"Sini Nek kantungnya. Apa nenek mau ke toilet sebentar? Kalau mau, saya bisa antar nenek ke toilet." Tersenyum tulus saat menawarkan bantuan.
Niatnya selain membuang kantong 'bubur' ini, juga ingin membersihkan pakaiannya yang terkena muntahan sang Nenek.
"Tidak." Tangan Nenek menyerahkan kantung yang terisi sebagian itu ke tangan Saffa.
"Maaf karena telah mengotori bajumu. juga terimakasih telah menolong nenek."
Senyum tulus muncul di wajah nenek yang sudah dibaluti keriput itu.
"Tidak apa-apa nek. Saya permisi dulu." Saffa beranjak dari duduknya, melangkahkan kaki menuju toilet.
Sepertinya toilet sedang penuh. Dilihat dari adanya seseorang yang sepertinya sedang mengantri untuk menggunakannya, atau mungkin orang itu disuruh menjaga pintu toilet oleh orang didalamnya. Entahlah.
Wanita berpakaian formal itu berdiri dengan tegap disamping pintu.
Melihat seseorang datang mendekat perhatiannya menjadi teralihkan.
Saffa yang menyadari pandangan wanita itu yang mengarah padanya langsung memasang senyum tipis dibibinya sambil menganggukkan kepala.
Etika yang diajarkan oleh sang Ibu ketika bertatap muka dengan orang lain.
Pintu toilet terbuka dan keluarlah seorang wanita yang kira-kira berumur 30-an. Ia langsung pergi begitu saja meninggalkan dua orang yang sedang mengantri itu.
Ternyata Wanita tinggi semampai yang berdiri didepan pintu toilet ini bukanlah sedang menunggui seseorang didalamnya,
melainkan mengantri untuk menggunakan toilet.
"Kau duluan." ucap wanita itu dalam bahasa inggris. Ia mengangkat tangannya dengan isyarat mempersilahkan Saffa untuk menggunakan toilet terlebih dahulu.
Dilihat-lihat sepertinya gadis berhijab didepannya ini lebih membutuhkan toilet saat ini.
Saffa mengangkat kepalanya. Lebih tepatnya mendongak untuk menatap sebentar wanita tinggi dihadapannya.
Dirinya yang pendek hanya setinggi bahu wanita yang tingginya bak model ini.
"Tidak. Terimakasih. Silahkan anda dulu karena anda yang lebih dahulu mengantri." dijawabnya dengan bahasa inggris pula.
Wanita itu sejenak mengamati Saffa yang kepalanya kembali tertunduk. Kemudian ia mengangguk. "Ok." lalu masuk kedalam toilet. Menutup pintu rapat.
Sekitar lima belas menit menunggu, akhirnya wanita itu keluar dari toilet.
Sedikit tersenyum pada Saffa sebelum pergi kembali ke tempat semula ia duduk.
Segera Saffa masuk kedalam toilet. Menuntaskan niatnya.
*
Sudah kembali ke tempat duduknya.
Pandangan Saffa mengarah keluar jendela.
Gedung pencakar langit yang menjulang tinggi tampak begitu jelas bukan lagi hanya seperti miniatur.
Sebentar lagi pesawat akan segera mendarat di landasan bandara internasional Kuala Lumpur.
Jantung Saffa berdebar dengan kencang.
Di perjalanan pertamanya liburan ke luar negeri sendiri ini apakah akan menjadi kenangan tak terlupakan yang penuh dengan bunga kebahagiaan.
Ataukah akan terjadi sebaliknya.
Hanya Allah sang pencipta yang mengetahuinya.
Saffa menarik nafasnya dalam-dalam sebelum kemudian memghembuskannya secara perlahan. Senyum itu kembali muncul dibibirnya. Menguatkan diri. Dengan Bismillah Saffa kembali berdoa dalam hati agar liburannya ini hanya akan membawa kenangan baik.