BEHIND THE SMILE

BEHIND THE SMILE
Hello KL.


Tulisan 'Selamat datang Saffa Khadijah' langsung menyambutnya saat ia keluar dari pintu kedatangan.


Banyak orang berkerumun dengan membawa papan ataupun kertas agar orang yang mereka tunggu dapat mengenali.


Pria yang dari kelihatannya berusia empat puluh tahunan,


dengan kepala botak sebagian serta kumis tipis di wajahnya itu memegang sebuah kertas supaya Saffa dapat melihatnya.


Mungkinkah bapak itu dari agen travel seperti yang paman katakan waktu itu?. Gumam Saffa dalam hati.


Saffa berjalan menghampiri si bapak.


"Selamat siang pak. Apa bapak dari agen travel xxx? Saya Saffa Khadijah." dengan senyum tipis di bibirnya, Saffa berucap dengan menggunakan bahasa indonesia.


Bapak itu menurunkan kertas putih yang ia pegang.


Dibalasnya senyum dari Saffa sekilas


sambil menganggukkan kepalanya.


Cantik juga. Tapi postur tubuhnya agak kurang ideal.


"Benar mbak. Saya dari agen travel xxx. Nama saya Ahmad.


Mari ikuti saya. Sini biar saya bawakan kopernya mbak."


Tangannya terulur untuk mengambil alih koper dari tangan Saffa.


"Tidak usah pak. Saya bisa membawanya sendiri.


Mari." mempersilahkan pria paruh baya itu mendahului jalannya untuk segera memandunya ke tempat parkir, yang kemudian akan membawanya keluar dari area bandara.


Pak Ahmad mengangguk,


kemudian berbalik dan berjalan mendahului Saffa.


Sesekali ia melirik Saffa secara diam-diam.


Salah satu sudut bibirnya terangkat.


Tangannya menaikkan risleting jaket kulit berwarna hitam yang dikenakannya.


Bakal untung banyak nih.


Sampai di area parkiran bandara, langkah kaki Pak Ahmad terjuju pada mobil sedan berwarna boru tua yang menjadi kendaraannya.


"Mari saya bantu mbak." saat pak Ahmad membuka bagasi mobil.


Koper ukuran besar berwarna abu-abu milik Saffa ia masukkan kedalamnya.


"Terimakasih pak."


Saffa yang sedari tadi hanya diam, sebenarnya memendam rasa ingin tahu yang begitu besar.


Pikirannya dipenuhi berbagai macam pertanyaan.


Dimana rombongan yang paman bilang waktu itu?


Apa mereka tidak dikumpulkan disini, dan diangkut bersamaan menuju hotel?


Atau sebenarnya rombongan itu sudah tiba lebih dahulu dengan penerbangan malam dan telah berda di hotel?


Saffa masuk kedalam mobil dan duduk di kursi bagian belakang.


Pak Ahmad yang juga telah berada di dalam mobil, segera menyalakan mesin mobil. Melajukannya perlahan keluar dari area parkir bandara yang begitu luas.


Bangunan-bangunan pencakar langit dengan tinggi menjulang


yang dilihatnya dari jendela mobil tampak begitu megah dengan arsitektur modern


dan mengundang banyak orang untuk mengambil potret mereka.


Bangunan itu seolah menyambut kedatangan Saffa di ibu kota negeri jiran tersebut. Menanti untuk segera masuk kedalam galeri foto dan menyimpannya menjadi kenangan manis.


Hello KL. Please be nice.


Tangannya meraih benda pipih canggih yang sejak tadi disimpan dalam tas.


Ponsel itu sengaja ia matikan saat dirinya dalam pesawat.


Dihidupkan ponselnya yang merupakan keluaran terbaru itu.


Beberapa saat kemudian telah muncul gambar layar depan yang merupakan wallpaper default.


Saffa memang tidak suka mengabadikan potret dirinya jika bukan karena kepentingan tertentu.


Dalam galeri fotonya hanya berisikan beberapa foto mengenai hal-hal disekitar yang sekiranya bagus untuk diabadikan.


Dibukannya aplikasi Chat. Bermaksud untuk mengabari Sobari, sang paman,


bahwa ia telah sampai dengan selamat.


Jarinya dengan lincah mengetik huruf demi huruf alphabet yang tertera dilayar ponselnya.


Menekan ikon kirim setelah selesai mengetikkan pesan.


Tanda centang satu muncul setelahnya.


Menandakan jika pesan telah terkirim namun belum diterima oleh nomor tujuan. Itu berarti si penerima pesan sedang dalam keadaan *Offline.


Tidak biasanya paman Offline*.


Saffa menaikan sebelah alis matanya kemudian menghembuskan nafas pelan.


Ponselnya kini diarahkan keluar jendela mobil. Bersiap memotret bangunan diluar sana.


Kemudian dimasukkan kembali kedalam tasnya setelah selesai dengan urusannya.


Tiba-tiba ingatannya kembali terngiang dengan pertanyaan yang sempat muncul dipikirannya beberapa saat lalu.


Apa sebaiknya aku tanyakan saja pada pak Ahmad?


"Maaf pak Ahmad." dengan ragu memulai bicara.


"Apa saya boleh bertanya sesuatu?"


"Mau bertanya apa mbak? Silahkan tanya saja." terdengar seperti pelayan toko yang sedang melayani customernya.


"Emmmm. Itu. Dimana... rombongan lain... yang ikut tour ini pak? Apa mereka sudah berkumpul dihotel?" ragu-ragu bertanya.


Ingin sekali ia menganjukan pertanyaan tambahan lainnya. "Kenapa keberangkatan saya dipisah dengan yang lain? Apa tidak akan membuat rombongan lain merasa tidak nyaman karena harus menunggu dirinya?" namun ia urungkan.


Dua pertanyaan cukup baginya.


"Mbak jangan khawatir. Rombongan lain dalam tour ini sudah berada di hotel.


Perjalanan wisata mengelilingi KL baru akan dimulai pukul tiga nanti."


Menunggu di hotel bintang nol diluar kota ini.


"Oh.. begitu." Saffa menganggukkan kepalanya.


Keheningan tercipta di sisa perjalanan mereka dalam mobil.


Saffa lebih fokus kearah luar dengan pemandangannya.


Sedangkan pak Ahmad fokus dengan kemudinya.


Pikirannya terbang selama beberapa saat.


Kenapa lama sekali. Sebenarnya dimana letak hotelnya? Aku belum Sholat dzuhur. Sudah hampir jam dua siang.


Kepalanya berasandar pada kursi mobil.


Tak menyadari kalau gedung-gedung tinggi diluar sana sudah mulai berkurang jumlahnya berganti dengan ruko-ruko yang berjejer di pinggir jalan, karena kantuk mulai melanda.


Lama kelamaan kepalanya semakin miring kesamping,


hingga kemudian terantuk kaca mobil.


Astaghfirullah.


Telapak tangannya memegangi kepalanya yang menatap kaca mobil dengan cukup keras. Sakit.


Kantuknya seketika sirna setelahnya,


membuatnya kesadarannya kembali seutuhnya.


Eh Dimana ini. Sepertinya ini sudah terlalu jauh dari pusat kota.


Heran saat ia memandang keluar jendela dimana sudah tak nampak lagi bangunan-bangunan tinggi menjulang mencakar langit.


Hanya terlihat ruko-ruko yang berjejer di tepi jalan.


"Pak Ahmad, kita mau kemana?" tak bisa menyembunyikan raut wajah khawatir.


"Kita sedang menuju hotel mbak Saffa." tenang menjawab.


"Tapi sepertinya kita sudah terlalu jauh dari pusat kota. Dan juga sepertinya kita malah menuju keluar kota. Apa bapak yakin kita tidak salah jalan?"


"Tenang saja mbak. Hotel tempat mbak nanti menginap memang lokasinya agak jauh dari pusat kota.


Rombongan yang lain juga menginap disana.


Jadi mbak jangan khawatir."


tersenyum tipis menatap spion dimana Saffa juga sedang menatapnya.


Saffa mencoba menenangkan pikirannya.


Ya Allah tolong hilangkanlah prasangka buruk ini dari hamba.


Sekitar lima belas menit kemudian mobil berhenti di halaman sebuah bangunan yang sedikit usang dengan rumput yang tumbuh liar.


Membuat bangunan itu mengeluarkan aura sedikit menyeramkan.


Kenapa berhenti disini. Inikan bukan hotel.


Ya Allah apa yang sebenarnya terjadi.


Saffa melihat kearah pak Ahmad. Mulutnya tergerak ingin bertanya.


Namun pak Ahmad telah lebih dulu berbicara. "Mbak Saffa bisa turun." perintahnya.


"Tunggu.." namun pak Ahmad sudah keluar dari mobil.


Berjalan kebelakang kemudian membuka bagasi mobil. Koper besar milik Saffa dikeluarkannya lalu ditariknya dan dibawa masuk kedalam bangunan.


"Pak Ahmad, tunggu.." Saffa yang telah keluar dari mobil berteriak supaya didengar oleh pria yang membawa kopernya masuk kedalam bangunan.


"Silahkan ikuti saya, Saffa Khadijah." perintahnya tegas. Membuang panggilan embel-embel "mbak" yang sebelumnya ia gunakan.


Tak ayal ucapan pak Ahmad itu kembali memunculkan kekhawatiran dalam diri Saffa.


Ya Allah apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Kenapa perasaanku terasa tidak enak.


Apakah akan terjadi hal buruk padaku?


Lindungi lah hambamu ini Ya Allah.


Dengan ragu-ragu kaki Saffa melangkah perlahan menuju pintu besar dari kayu yang menjadi jalan masuk kedalam bangunan tersebut.


Pikirannya kacau. Apa yang akan terjadi padanya setelah memasuki pintu usang itu.


Akankah suatu hal yang buruk datang menimpanya.


Tentu bukan itu yang ia harapkan.


Semoga ini hanya perasaannya saja.


Bismillahirrahmaanirrahim.