BEHIND THE SMILE

BEHIND THE SMILE
Kenyataan.


Tangan kanan Saffa terangkat.


Ragu-ragu untuk meraih gagang pintu.


Hingga tangannya kembali turun ketempat semula.


Lagi-lagi ia menghembuskan nafasnya.


Bismillahirrahmaanirrahim.


Ya Allah, Ya Tuhanku,


Lindungi lah hamba dari segala macam bahaya.


Saffa memejamkan mata saat mengucapkan do'a nya dalam hati.


Jangan takut Saffa.


Ingat! Allah selalu ada disisimu.


Buang segala pikiran burukmu itu.


Pasti ada alasan tersendiri kenapa pak Ahmad membawamu ke tempat ini.


Atau mungkin inilah hotel yang dimaksud.


Mungkin tampak luarnya saja yang bernuansa horor.


Ayolah.


Jangan suudzon.


Mencoba memenuhi pikirannya dengan hal positif.


Bahwa mungkin hotel tempatnya menginap ini memiliki konsep unik, dengan tampilan luar yang sedikit menyeramkan.


Bisa jadi seperti itu.


Namun saat kepalanya menoleh kebelakang,


tak ada satupun penanda yang menunjukkan identitas bangunan ini.


Seperti nama hotel, atau bahkan tak ada pos pengaman di dekat gerbang masuk.


Membuat nyalinya kembali menciut.


Pandangannya kembali beralih ke pintu besar di hadapannya.


Tangannya terangkat dan meraih gagang pintu, namun tak langsung dibukanya pintu itu.


Setelah beberapa saat berpikir dan meyakinkan dirinya lagi,


ia mendorong sebelah pintu itu.


Bismillah.


"Assalamualaikum..." suara yang dikeluarkannya perlahan mengecil, saat dilihatnya dua orang bertubuh besar dengan dengan kacamata hitam menghiasi wajah mereka.


Serta dengan Jas yang melekat sempurna ditubuh, menonjolkan otot lengan yang besar.


Mereka berdiri tepat dihadapan Saffa.


Sementara Saffa harus sedikit mendongakkan kepalanya untuk melihat dua sosok mengerikan itu.


Tanpa menunggu lama lagi mereka segera mencengkeram lengan Saffa di kedua sisinya dengan kuat.


Membawa paksa tubuh Saffa kecil itu dengan mudahnya.


"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan saya.


Saya bukan orang jahat.


Tolong lepaskan saya."


Meronta-ronta dengan sekuat tenaga.


Meski tak membuahkan hasil, karena tangan kedua orang ini terlalu kuat mencengkeram lengannya.


"Diam atau kau akan mendapati peluru bersarang dalam kepalamu, bocah." salah satu dari mereka akhirnya berucap dengan nada ancaman saat Saffa terus menerus meronta, mencoba melepaskan diri.


Mendengar ancaman yang terdengar tidak main-main itu, Saffa menghentikan perlawanannya. Tubuhnya seketika membeku. Pasrah saat dua orang ini menyeretnya menuju lantai dua.


Ya Tuhanku.


Hanya kepadamu lah hamba memohon dan hanya kepadamu lah hamba meminta pertolongan.


Mereka sampai di sebuah pintu kayu dengan cat warna cokelat dan berhiaskan nomor 023 didepannya.


Salah satu dari mereka memegangi gagang pintu untuk kemudian dibuka dengan lebar.


Keterkejutan tak luput dari wajah Saffa tatkala matanya melihat sesuatu yang tidak mengenakkan.


Dalam ruangan kecil berukuran dua kali dua meter persegi itu terdapat seorang wanita yang tengah terduduk di pojok ruangan.


Kedua kaki wanita itu ditekuk memangku tangannya yang dipasangi dengan borgol.


Terlihat jelas ekspresi wajahnya yang tampak ketakutan.


Bibirnya pucat dan bergetar.


Rambutnya acak-acakan sedangkan pakaiannya nampak lusuh.


Astaghfirullah.


Siapa wanita ini?


Kenapa kondisinya seperti ini?


Rasa iba menyelimuti Saffa melihat kondisi wanita yang sepertinya masih muda ini tampak begitu memprihatinkan.


Namun dirinya lebih terkejut lagi mendapati bahwa kedua orang pria ini telah memasangkan borgol di pergelangan tangannya.


Tubuhnya didorong dengan kasar kedalam ruangan itu.


Terdengar suara pintu yang ditutup dengan keras setelahnya.


Kepalanya membentur lantai kotor yang penuh dengan debu itu.


"Astaghfirullah."


Dengan susah payah Saffa mencoba untuk bangkit karena tangannya itu diborgol dengan kondisi berada di belakang punggungnya.


Tangannya kemudian meraih gagang pintu berusaha untuk membukanya.


Berulang kali Saffa memutar gagang pintu.


Namun sayangnya usahanya itu sia-sia.


Pintu ini telah dikunci rapat dari luar.


Kepanikan seketika menguasai dirinya.


"Buka pintunya. Tolong siapapun diluar sana buka pintunya." Saffa berteriak dengan kencang.


"Percuma saja kau berteriak." suara itu keluar dari mulut wanita yang juga terkurung disana.


Terdengar bergetar seperti sudah lama tak dikeluarkan.


Hingga membuat Saffa menghentikan apa yang dilakukannya.


Ditatapnya wanita itu dengan penuh tanda tanya.


"Mereka tidak akan pernah mendengarkanmu."


lanjut wanita itu saat pandangan Saffa yang penuh akan tanya itu menatap dirinya.


"Kenapa?" Saffa berjalan mendekat.


Menghampiri wanita itu.


"Mereka memang sengaja melakukannya." suaranya masih terdengar bergetar.


Sengaja? Jadi dirikan buruk yang sedari tadi menghantuiku itu ternyata benar.


"Segaja? Apa maksudmu?


Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa mereka membawaku kesini?" rasa penasaran akan hal yang menimpanya saat ini benar-benar ia keluarkan dengan memberondongi beberapa partanyaam sekaligus.


"Apa kamu tahu tempat macam apa ini?"


balik bertanya.


Saffa menggelengkan kepalanya. "Tidak."


Di awal tadi ia sempat mengira bahwa tempat ini adalah hotel dengan konsep unik yang menampilkan sisi horor dari luar bangunannya.


"Tempat jual beli manusia."


Seketika mata Saffa melebar. membelalak lebih terkejut dari sebelumnya. "A..apa? Te...tempat jual beli manusia?" Ya Allah bagaimana mungkin di dunia yang sudah modern ini masih tersisa tempat seperti ini.


"Ya.


Mereka membeli manusia yang diselundupkan dari berbagai negara asia tenggara dengan berbagai cara."


"Lalu?"


"Mereka akan menjual kembali orang yang telah mereka beli dengan harga dua kali lipat lebih tinggi."


Saffa terdiam mencoba menelaah setiap perkataan dari wanita dihadapannya ini yang sama sekali tidak masuk di akal sehatnya.


"Bagi mereka yang berparas menarik akan dijual pada orang-orang kaya diluar sana untuk dijadikan budak tanpa bayaran. Atau bahkan dijadikan sebagai pemuas nafsu mereka."


"Astaghfirullahal'adzim."


"Bukan hanya itu.


Ada lagi tindakan yang lebih kejam dan tak berperikemanusiaan yang bisa mereka lakukan."


"Apa yang mereka lakukan?"


"Aku yakin kau tidak ingin mendengarnya." memberi tahu kalau hal yang akan diceritakan nanti bisa jadi akan membuat wanita berhijab dihadapannya ini tak mampu menguasai diri.


"Aku ingin mendengarnya." sudah terlanjur pula.


"Tapi kau tidak boleh pingsan mendengarnya."


"Tidak akan." menggelengkan kepala.


"Mereka akan membunuh orang-orang dengan kejam dan menjual organ tubuh mereka yang masih berfungsi dengan baik."


Ternyata Saffa tak bisa mengendalikan dirinya.


Tubuhnya terasa melemas hingga tak kuat menahan dirinya agar tidak ambruk.


Dirinya oleng kesamping bersandar di dinding.


Bagaimana bisa ada orang sekejam itu.


Membunuh orang hanya demi kesenangan pribadi dengan benda bernama 'Uang'.


"Astaghfirullahal'adzim. Tega sekali mereka."


Dalam pandangan Saffa, orang seperti itu tak pantas disebut manusia.


Kelakuan mereka lebih mirip dengan hewan.


Bahkan mungkin hewan lebih memiliki harga diri dan lebih baik dari pada mereka.


Sungguh Allah akan membalas perbuatan mereka dengan setimpal suatu saat nanti. Di dunia maupun akhirat.


"Mereka memang orang-orang kejam yang tak memiliki hati." ekspresi wanita itu berubah menjadi penuh dengan amarah. "Bagaimana kau bisa berakhir disini?"


"Itu...Tadinya pamanku memberikanku tiket wisata keliling KL dan sekitarnya selama dua minggu sebagai hadiah kelulusanku dari pendidikan S1. Sendiri. Dia bilang aku akan bergabung dengan rombongan tour saat aku tiba disini. Tapi..." tanpa permisi dan tak bisa ditahan lagi butiran air bening itu keluar dari kedua sudut mata Saffa.


"Aku malah dibawa kesini.."


"Aku turut prihatin denganmu. Kemungkinan pamanmu itu telah membohongimu."


kedua tangannya yang diborgol itu terulur untuk menyantuh bahu Saffa.


Mencoba menenangkan meskipun nasibnya sendiri tidak lebih baik dari pada gadis ini.


Sementara air mata Saffa terus saja mengalir membasahi pipi tembamnya, menyadari kenyataan pahit yang begitu menyakitkan.


Dibohongi oleh pamannya sendiri. Paman yang amat ia sayangi yang selalu menyemangatinya dengan senyumnya yang meneduhkan dan pelukannya yang menghangatkan.


Tak disangka-sangka bahwa itu semua hanyalah kepalsuan belaka.


Kenapa?.