
Happy Reading...
"Lea, ayo makan sayang" Teriak Kafka dari luar kamar adiknya.
Tak ada jawaban...
Hening...
"Apa yang sebenarnya terjadi" Teriak Kafka, ia sangat frustasi memikirkan Lea.
"Kamu bisa jelaskan padaku El ?" Tanya Kafka yang masih frustasi karena adiknya tak mau makan.
"Aku tidak tau persis, tapi saat Lea membeli ice cream untuk Mauren belum kembali. Aku khawatir padanya, akhirnya aku mencarinya bersama Mauren dan yang aku lihat Lea beradu mulut dengan seorang pria sambil menangis. Saat aku memanggil Lea dari kejauhan, ia langsung berlari ke arahku dan mengajakku pulang" Jawab Elsyira dengan raut muka yang khawatir kepada Lea.
"Ciri ciri pria itu seperti apa ?" Tanyanya Kafka yang sekarang sudah mulai waspada.
"Aku tidak terlalu tau, tapi yang jelas dia memakai hoodie berwarna hitam. Yang jelas dia tidak terlalu tinggi."
Kafka yang mulai curiga dengan pria yang menyakiti adiknya itu langsung menelfon Aldrich untuk mencari tau.
"Lea, ayo makan. Kamu belum makan dari tadi siang. " bujuk Elsyira yang di depan pintu Azalea.
"Lea, ayo makan" Teriak Elsyira untuk tidak berhenti membujuk Lea.
Di sisi lain, Lea sedang meringkuk di tempat tidur seperti bayi. Ia sangat ketakutan, keringat dingin bercucuran. Bayangan kelam itu muncul di pikirannya.
*Flashback...
Jenewa, Swiss.
Saat itu Lea mendapatkan izin dari kakaknya untuk liburan ke Swiss. Sebenarnya Lea ingin kakaknya ikut, akan tetapi kakaknya sedang meeting di Toronto, Canada. Akhirnya ia liburan sendiri di Swiss tanpa bodyguard tanpa mata mata kakaknya,karena ini permintaan nya.
"Woah, Swiss...Indah sekali" gumam Lea saat menginjakkan kaki di kota Jenewa.
Lea pun segera check in ke hotel termewah di Jenewa dan setelah itu segera masuk kamar untuk istirahat sebentar sebelum jalan jalan. Waktunya hanya 2 minggu liburan di Swiss, jadi ia harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Saat itu Lea liburan ke Swiss karena ia dapat hadiah dari kakaknya untuk jalan jalan keluar negeri, karena ia di terima di Universitas yang ada di Inggris. Ia sebenarnya ingin ke Australia, tapi kakaknya tak mengizinkan. Kakaknya hanya mengizinkan ia liburan di sekitar eropa saja, akhirnya ia memilih ke Swiss.
Pukul 4 sore, Lea jalan jalan ke Jardin Anglais. Tempat ini adalah taman kota di Jenewa yang terletak di lokasi pelabuhan kuno dan kayu*.
*Setelah lama mengitari Taman cantik di Jardin Anglais , Lea datang ke Ariston Geneve , sebuah Restaurant di Jenewa. Setelah memesan dan menunggu makanan ,tiba-tiba ada seorang pria duduk di hadapannya.
"Hi" Ucap pria itu sambil tersenyum ke arah Lea.
Lea masih terdiam dan tak menatap pria itu ataupun membalasnya.
"Sendirian aja, boleh aku temani ?" Tanya pria itu mencoba basa basi pada Lea.
Lea akhirnya menatap pria itu. Dilihatnya pria itu tampan, cukup gagah dan kulitnya tidak terlalu putih.
"Yeah, i'm alone. What happen" Jawab Lea pada pria itu.
Pria itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya untuk berkenalan pada Lea.
Lea terdiam sebentar lalu mengulurkan tangannya juga.
"Azalea"
"Nama yang cantik sweety" Puji Xavier pada Lea.
Lea hanya tersenyum tipis. Dan mengucapkan terimakasih.
Saat makanan datang, Lea memakan makanannya. Tadi ia sudah menawari Xavier, tapi dia menolak. Akhirnya ia makan sendiri.
"Terimakasih telah menemaniku makan" ucap Lea dengan senyuman hangatnya.
"Sama sama sweety. Sweety mau kemana sekarang ?" Tanya Xavier saat berjalan keluar dengan Lea.
Lea menoleh ke arah Xavier dan mengatakan bahwa ia akan kembali ke Hotel.
"Boleh ku antar pulang ?" Tanyanya Xavier lagi.
Lea hanya mengangguk pelan. Sesampainya di Hotel, Lea mengucapkan terimakasih pada Xavier. Dan Xavier juga mengatakan bahwa dirinya ingin meminta nomer Lea, akhirnya Lea pun memberikannya.
Satu minggu di Jenewa, Lea senang ada yang menemaninya jalan jalan. Lea juga diajak Xavier keliling Jenewa, saat itu Lea sedang di Apartemen Xavier. Xavier mengajaknya karena beralasan ingin dimasakkan olehnya. Akhirnya setelah Lea masak, Xavier makan dengan lahap.
"Delicious" puji Xavier dan itu berhasil membuat pipi Lea merona merah.
"Ada apa dengan pipimu Sweety" goda Xavier yang melihat Lea malu.
"Nothing" Jawab Lea yang menetralkan mimik wajahnya.
2 jam kemudian, Xavier membawa minuman Cocktail dan Orange Juice. Xavier memberikan orange Juice pada Lea dan Lea meminumnya. Xavier menyeringai tanpa Lea ketahui. Minuman itu sudah dicampur obat perangsang dosis tinggi, dan itu berhasil diminum Lea.
Setelah obat itu bereaksi, Xavier langsung mencumbui Lea dan membawa Lea ke dalam kamarnya. Hingga mereka melakukan percintaan panas sampai jam 4 pagi.
Pukul satu siang, Lea terbangun dari tidurnya dalam keadaan ***** bersama Xavier pria yang seminggu ini menemaninya. Dan itu berhasil membuat Lea menegang dan air mata nya jatuh, ia tidak bisa menjaga kesuciannya. Lea bangun pelan pelan untuk ke kamar mandi dan membersihkan badannya. Setelah selesai Lea pergi dari Apartemen Xavier diam diam.
Sesampainya di Hotel penginapan nya, Lea menangis sejadi-jadinya. Apa yang harus ia katakan pada suaminya nanti dan kakaknya nanti. Oh God ! Cobaan apa lagi ini.
Setelah itu Lea langsung pergi dari Hotel untuk kembali ke Inggris bukan ke Rusia*.
Flashback off...
Elsyira dan Kafka yang sudah khawatir dengan keadaan Lea yang tidak makan langsung di dobrak oleh Kafka.
BRAK...
Pintu kamar Lea terbuka dan di lihatlah Lea dengan wajah sembab, muka pucat, keringat dingin bercucuran, dan rambut yang berantakan.
Kafka langsung memeluk adiknya.
"Ssst baby girl, tenanglah. Ada kakak disini, kakak akan menjagamu" Bisik Kafka pada Lea yang masih menangis dan pandangan masih kosong.
"Bertahanlah sayang demi kakak dan Viara" Bisik Kafka lagi dan sambil mencium Puncak kepala adiknya.
Elsyira yang melihat itu menangis dalam diam, sungguh perhatian nya Kafka pada adiknya. Ia juga ingin diperhatikan dan diberi kasih sayang, tapi Davino tak akan memberikan itu semua pada dirinya maupun putrinya. Sungguh tragis hidupnya.
Give Me Vote and Comment, Please.....