
Pergi saja engkau pergi dariku
Biar kubunuh perasaanmu untukku
Meski berat melangkah hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu
Semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah
*Prokk
Prokk
Prokk*
Riuh tepuk tangan menggema diseluruh ruangan aula saat itu juga. Kebanyakan para siswi yang membuat ramai suasana aula karena jeritan bangga serta memuja lelaki yang berada diatas panggung tersebut.
"Haechan! Aku padamu!"
"Haechan! Calon imamku!"
"Haechan! suamiku!"
Lelaki yang bernama Haechan tersebut hanya tersenyum memamerkan senyum indahnya.
"Dara, gue boleh nyanyi juga gak? Suara gue gak jelek-jelek amat sih" kata Renjun setengah berbisik pada Dara.
"Terserah lo asal jangan sampek telinga gue berdarah karena suara lo" ketus Dara sambil meminum thai tea nya.
Mereka sekarang sedang berada di aula sekolah mengunjungi pentas seni yang dilakukan setiap setahun sekali dan diadakan oleh sekolah.
"Beneran Ra?" kata Renjun meyakinkan.
"Iya" jawab Dara.
Renjun pun melangkahkan kakinya menuju keatas panggung. Riuh tepuk tangan kembali meramaikan suasana dalam aula itu.
"Aa' Renjun!" teriak salah seorang siswa yang sedikit keperempuanan.
"Baiklah, gue disini akan menyanyikan sebuah lagu yang spesial untuk cewek spesial juga" kata Renjun mulai membuka suaranya.
"Pasti gue" ujar siswi dengan percaya dirinya.
"Cie Renjun" kata semua siswa dan siswi bebarengan.
Dara yang melihat itu pun hanya tersenyum tipis sampai-sampai tak terlihat. Namun, tanpa ia sadari disebelahnya ada Jaemin yang sedang memandanginya dengan lekat.
"Gue rindu senyum lo" kata Jaemin masih memandangi Dara.
Dara yang mengetahui pun langsung menjaga jarak dan menjauhi Jaemin. Demikian pun Jaemin malah tambah mendekati Dara.
"Dara, kenapa lo begini? Kemana lo yang dulu?" kata Jaemin dengan nada yang memelas.
Dara tak menanggapinya, sekedar melirik pun tidak.
"Sesuai yang lo bilang nanti gue akan temui lo ditempat biasa. Dan sekarang lo pergi jangan dekat-dekat gue" sinis Dara pada Jaemin.
"Okay, gue tunggu" jawab Jaemin seraya meninggalkan Dara.
Sepeninggalnya Jaemin, Dara kembali melihat Renjun yang sedang bernyanyi diatas panggung sana.
**Kini cintapun hadir
Melihatmu, memandangmu bagai bidadari
Lentik indah matamu
Manis senyum bibirmu
Hitam panjang rambutmu anggung terikat
Hati ini slalu untukmu
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia tulus padamuu. Ooooooo
Terimalah lagu ini. Hmm...
Dara terdiam sesaat mendengar nyanyian yang keluar dari mulut Renjun. Ia merasa jika Renjun sedang menyanyikan lagu tersebut untuk orang yang sangat spesial baginya.
Dara masih termenung hingga tanpa sadar ia ikut bernyanyi juga. Alunan gitar yang dimainkan oleh Renjun membuat suasana menjadi menenangkan.
"Terima kasih" ucap Renjun mengakhiri penampilannya.
Renjun pun berjalan kearah Dara yang tak jauh darinya.
"Suara gue gimana bagus kan?" kata Renjun memuji dirinya sendiri.
"Gak sama sekali" jawab Dara dengan berdiri dari kursi dan berlalu meninggalkan Renjun sendirian.
"Dara mau kemana? Gue belum selesai" kata Renjun sedikit berteriak dan berlari kecil menyusul Dara.
"Kita akan bertemu dengan Jaemin" ucap Dara pada Renjun tanpa menoleh.
Saat ini, mereka berdua yaitu Dara dan Renjun berjalan beriringan melewati koridor-koridor kelas yang sepi dan sedikit gelap karena sebagian penerangan dimatikan.
"Kalo malem serem juga sekolah ini" ucap Renjun dengan lirih.
Dara kemudian berhenti diikuti Renjun. Dara mulai menggenggam tangan Renjun dan membuat Renjun kaget akibat ulah Dara yang tiba-tiba itu.
Tapi ada perasaan senang juga digenggam oleh Dara. Samar-samar sosok siluet mendekati mereka.
"Akhirnya lo datang juga" ujar sosok siluet itu yang tak lain adalah Jaemin.
"To the point" Kata Dara dengan kesan yang dingin.
"Dara gue mau pamit" Jaemin membuka suaranya dengan lirih.
"Terserah lo" ketus Dara dengan membuang mukanya.
"Gue akan pindah sekolah ke Jerman untuk menjadi perusahaan bokap gue disana mungkin 5 tahun gue akan disana" jelas Jaemin pada Dara.
Dara merasa oksigen saat ini habis, dada dia terasa sesak, napasnya menjadi memburu tak beraturan. Mendengar penjelasan Jaemin membuatnya tercekat dan menggenggam lebih erat tangan Renjun.
Air mata keluar begitu saja dari mata Dara.
"Jadi ini alasan lo mutusin gue? Lo tega banget! Seharusnya lo bilang apa adanya, jujur dari awal agar gue gak ngerasa sesakit ini!" bentak Dara didepan Jaemin.
Jaemin hanya terdiam menundukkan kepalanya menerima segala perkataan dan Dara. Walau hubungan Jaemin dan Dara sudah renggang dari sebulan yang lalu, Jaemin masih perhatian pada Dara dan jujur Jaemin masih menyimpan rasa pada Dara.
"Maafin gue Ra" kata Jaemin sambil menatap Dara.
"Maaf itu mudah tapi memaafkan itu yang gak mudah! Dengan seenaknya lo mutusin gue dengan alasan yang gak jelas dan tiba-tiba saat kita putus lo malah terus terang kayak gini! Otak dan perasaan lo kemanain Jaem? Gue kecewa sama lo! Anggap aja kita gak pernah kenal!" bentak Dara sekali lagi pada Jaemin.
Jaemin merasa tertusuk pedang berkali-kali.
"Yang penting gue udah bilang ke lo dan gue udah minta maaf" kata Jaemin seraya meninggalkan Dara dan Renjun disana.
Renjun yang melihat Dara menangis pun merasa iba.
"Keluarin semuanya jangan lo tahan" ucap Renjun menenangkan Dara yang masih menangis.
Dengan terpaksa akhirnya Renjun pun memeluk Dara dan membawa kepelukkannya. Masa bodoh jika bajunya basah karena air mata maupun ingus Dara yang terpenting Dara bisa mengeluarkan seluruh emosi yang dideritanya.