
Sambil berjalan arah pulang ponsel Ranti berdering, dilihatnya ponsel itu nama Via tertera di panggilan masuk. Cepat-cepat ia angkat karena Via pasti sudah kepo.
"Ada apa Via kepoy?" Sahut Ranti cekikikan.
"Tau aja kalo aku lagi kepoy." Jawab Via juga cekikikan. "Gimana tadi sama Kak Ardi? Kamu masih sama dia?"
"Pas banget aku baru berpisah lagi, hiks." Ucap Ranti pura-pura menangis. "Lagian ini udah jam 9, Vi. Sampe lupa waktu aku saking betah nya ngobrol sama dia."
"Yampuuunnn gak di gigit nyamuk tuh kalian berdua ngobrol di taman sampe malem gini? Bagus gak di gondol hansip kamu, Ti." Via tertawa.
"Gak gitu jugalah, Vi. Parah banget sampe di gondol hansip." Rantipun tertawa.
Dengan perasaan yang bahagia, Ranti pulang sambil mengobrol dengan Via di telfon. Hari ini benar-benar hari yang bahagia untuknya, hari terakhirnya di sekolah benar-benar berkesan. Seragam yang tercorat-coretpun sudah ia masukan dalam box untuk kenang-kenangan, bertemu Ardi bahkan Ardi memintanya untuk menunggunya. Rasa khawatir yang ia ceritakan pada Via sebelumnya menghilang karena ucapan-ucapan Ardi tadi. Semua ia ceritakan pada Via dengan semangat membara.
Ketika dia sudah sampai di ujung gang rumahnya, terlihat halaman kecil rumahnya terdapat 2 mobil sedan terparkir di halaman rumahnya.
Mobil siapa ini? Banyak amat, tamu dari mana? Tanyanya dalam hati.
"Eh Vi, udah dulu ya. Kayaknya rumahku lagi ada tamu, nanti kita chat-chat an aja ya."
"Oke deh, Ti. Dadahhh.. Mimpi indah ya, eh kamu mah pasti bakal mimpi indah, Ti. Hihihiii.." Via terkekeh.
"Au ah gelap." Ranti juga terkekeh dan mematikan ponselnya.
Ia menarik nafas dalam karena perasaan bahagia yang sedang ia rasakan saat ini. Dilihatnya lagi cincin di jari manisnya, "indah." gumamnya. Lagi-lagi ia mengernyit senang dan melangkahkan kakinya lebih cepat agar cepat sampai rumah dan menyantap makanan kesukaannya, ayam kecap masakan Ibu.
Ranti memasuki rumahnya yang pintunya tidak tertutup dan betapa ia kaget melihat Ayahnya sedang tergeletak di lantai ruang tamu sambil menggigil seperti kedinginan. Lalu di sebelah Ayahnya ada dua orang laki-laki dengan tubuh kekar berpenampilan seperti preman berdiri diantara Ayahnya.
"Ada apa ini? Ayah kenapa?" Tanya Ranti langsung menghampiri Ayahnya namun dihalangi oleh salah satu laki-laki tersebut.
"Hei, jangan ikut campur!" Ucap salah satu laki-laki itu. Ranti langsung menghampiri Ibu dan Hito yang sedari tadi duduk di pojok ruang tamu. Hito menangis ketakutan dan Ibu memeluk menenangkan nya. Disebelah mereka terdapat dua laki-laki bertubuh kekar juga.
"Kalian siapa?" Tanya Ranti panik tapi tidak ada yang menjawab.
Ada sekiranya 8 orang laki-laki bertubuh kekar berpenampilan seperti preman yang ada di dalam rumahnya. 2 diantara Ayahnya yang meringkuk kesakitan, 2 diantara Ibu dan Hito, 2 diantara Anto yang hanya duduk lemas tanpa ekspresi, wajahnya babak belur seperti ia habis berkelahi, dan sisanya seperti sedang mencari-cari sesuatu di kamar depan, kamar orangtuanya.
"Ibu ini ada apa? Mereka semua siapa, bu?" Tanya Ranti khawatir, takut melihat preman-preman yang ada di dalam rumahnya itu.
Sambil terisak Ibu menjawab "Ibu gak tau, tadi Ayah dan Anto pulang dianter preman-preman ini. Sekarang mereka lagi nunggu Bos mereka sedang di jalan menuju kesini. Kamu jangan jauh-jauh dari Ibu, Ti. Mendekat sini." Ranti memeluk Hito yang masih menangis terseduh-seduh.
"Ibu, Ayah kenapa?" Ranti melihat Ayahnya yang sedang meringkuk seperti orang kedinginan, menggigil, tapi cuaca saat ini bukanlah cuaca dingin melainkan sangat panas. Apalgi rumah sempit ini di isi dengan banyak orang seperti ini menjadi semakin panas, keringat mulai keluar dari dalam tubuh Ranti, jadi tidak mungkin jika Ayahnya kedinginan.
Ibu Ranti menangis. "Ayah kamu ternyata pecandu narkoba, Ti. Dia lagi sakau."
"Astaghfirullah, Bu." Ucap Ranti menatap Ayahnya. "Ayah sakau? Ayah sejak kapan make barang haram kayak gitu?" Ranti tidak percaya jika ternyata Ayahnya mengkonsumsi narkoba.
"Diam! Jangan berisik!" Bentak preman yang berada disebelah Ranti.
"Anto ternyata kerja menjadi kurir narkoba, Ti. Bukan kurir biasa seperti kurir lainnya." Bisik Ibu terisak tangis membanjiri wajahnya.
"Apa?!" Ranti benar-benar kaget tidak percaya jadi selama ini Masnya adalah kurir narkoba, pantas saja jika dia lebih sering dirumah dari pada pergi bekerja tidak seperti orang bekerja pada umumnya. Wajah Anto sudah babak belur dan ia hanya duduk lemas di atas bangku kotak dekat pintu kamar Ranti.
Ranti benar-benar terkejut, menggeleng kepalanya tidak percaya dengan apa yang Ayahnya dan Mas Anto lakukan. Jika hanya sekedar galak terhadap Ranti atau sekedar judi dan berhutang itu masih bisa di toleransi walaupun sikap itu juga sudah teramat buruk tapi ini lebih lagi dari sekedar teramat-amat buruk.
Tiba-tiba Hito sesak nafas, Ibu dan Ranti panik.
"Ibu apa Hito belum minum obat?" Ibunya menggelengkan kepalanya. Ranti bergegas mengambil obat namun di halangi lagi oleh preman yang ada disebelahnya.
"Duduk!"
"Saya mau ambil obat, adik saya sakit, asmanya kambuh." Ucap Ranti getir.
"Sampai Bos datang jangan kemana-kemana! Diem di tempat!"
Tangan Ranti ditarik Ibunya sambil memberi isyarat untuk tetap diam. Tidak lama terdengar suara mesin mobil berhenti di halaman rumah mereka dan preman-preman itu bersiap-siap menyambutnya, wajah Anto yang tadi lemas tak berdaya seketika sedikit ada kelegaan, Anto menarik nafas panjang melirik Ranti dan sedikit ada senyum tipis di bibirnya.
Bos yang di maksud mereka itu akhirnya memasuki rumah bersama 2 orang dibelakangnya. Yang satu tidak seperti preman lainnya, penampilannya lebih rapih namun raut wajahnya tetap tidak kalah sinis. Ranti dan seluruh keluarganya menatapnya. Pria itu tampan, tubuhnya tinggi tegap, kulit wajahnya putih, ia mengenakan celana jeans panjang dengan sepatu kulit yang terlihat mahal, kemeja putih yang dua kancing atasnya dibiarkan terbuka serta jaket kulit coklat yang lagi-lagi terlihat mahal. Pria itu benar-benar tampan. Sedikitnya Ranti terpesona namun cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya mengingat Pria itu adalah Bos dari preman-preman ini. Dan apa sekiranya yang sudah Ayah dan Mas nya lakukan sampai berurusan dengan orang-orang berbahaya ini?
"Sudah ketemu?" Tanya Pria itu. Tidak lama 2 orang preman lainnya yang tadi sedang mencari entah apapun itu di kamar orangtua Ranti keluar.
"Belum, Bos! Kami sudah cari kemana-mana tidak ada barang dan uangnya." Jawab salah satu preman itu. Bos itu bergidik kecil menatap sinis Anto dan menatap Ayahnya dengan jijik.
"Kalian berani juga ya bohongin gue!" Pria itu membungkukan wajahnya melihat Ayah Ranti dari dekat dan mendengus jijik mengibaskan tangan ke hidung mancung nya seolah-olah mencium bau tidak sedap.
Tiba-tiba lengan Ranti ditarik oleh preman disebelahnya menghampiri pria itu. Ibu Ranti dan Hito mulai panik, Ranti mencoba untuk mengelak tapi sia-sia karena tubuh preman itu jauh lebih besar.
"Kalian mau apa?! Lepasin!" Isak Ranti.
Pria itu menyentuh dagu Ranti agar dapat melihat Ranti dengan jelas. Ranti mendongak menatap lekat wajah pria itu.
"Kamu Ranti?" Tanyanya. Ranti diam dan hanya menangis. "Hmm.. Lumayan juga. Apa benar kamu masih virgin?"
Tubuh Ranti gemetar saat pria itu bertanya seperti itu, perasaannya sudah tidak enak. Dia takut, dia hanya bisa menangis sambil menggelengkan kepalanya. Pria itu langsung menghempaskan wajah Ranti dan beralih ke Ayah Ranti.
"Dia bilang sudah tidak virgin! Kalian benar-benar mau mati ya!" Ucap pria itu menendang tubuh Ayah Ranti yang memang sudah tersungkur. Lalu Anto dengan cepat memeluk kaki pria itu, mencoba untuk mengemis.
"Bohong dia, Bos. Saya berani jamin hidup dan mati saya kalo adik saya ini benar masi perawan. Tolong Bos ampuni kami!" Ucap Anto.
"Lepaskan! Apa untungnya hidup lo itu buat gue?! Bahkan hidup kalian pun tinggal menghitung menit saja!" Ucap pria itu menghempaskan Anto dari kakinya. Anto duduk di lantai
"Anto! Apa kamu sudah gila?! Ranti itu adikmu, teganya kamu kalian Ranti!" Sahut Ibu menghampiri Anto dan memukul-mukul tubuh Anto.
Ayah Ranti berusaha merangkak untuk menghampiri Ibu Ranti dan menarik tangannya agar berhenti memukuli Anto.
"Hentikan Lasmi! Biar---biarkan Bos itu.. Membawa Ranti." Ucap Budiman pada istrinya. Ibu Ranti menoleh pada Budiman dan memukuli tubu Budiman.
"Gila! Dasar kalian sudah gila! Ranti anak gadismu, Yah! Kenapa tega kamu menjual anak gadismu itu!" Ibu Ranti menangis histeris. Hito yang sedang sesak nafas menghampiri Ibunya dengan lemas.
"Ok! Gue terima adik lo ini. Tapi kalau sampai lo bohongin gue lagi, jangan harap kalian bisa nafas lagi besok!" Ancam pria itu menatap bengis Anto.
Tubuh Ranti gemetar saking ketakutannya. Apa ini maksudnya? 2 orang hina dalam hidupnya itu benar-benar menjualnya. Ranti hanya bisa berharap dalam hati agar ada suatu keajaiban yang bisa menolong hidupnya sekarang. Sejahat dan sebenci itu Ayah dan Masnya padanya? Sampai-sampai rela menjualnya kepada Bos jahat itu.