
Ranti sibuk merapihkan perlengkapan sekolahnya yang ada di dalam loker. Hari ini hari terakhirnya berada disekolah itu. Koridor sekolah ramai dengan pelajar kelas tiga yang sedang beres-beres mengosongkan lokernya masing-masing. Dia menengok jam tangan lusuhnya, waktu sudah siang tapi sahabatnya yang di tunggu-tunggu belum juga datang.
"Udah jam segini belum sampe juga nih si Via. Ckckckck.." Gumam Ranti.
Tidak lama seorang siswi datang menghampiri Ranti sambil berlari kecil. Dia Via Yunita sahabat Ranti di sekolah ini. Mereka sudah bersahabat sejak menjadi siswi baru dan langsung merasa akrab. Ranti dan Via sangat nyaman bersahabat tidak ada satu rahasia pun yang mereka sembunyikan, mereka selalu sangat terbuka satu sama lain. Via pun tau kehidupan Ranti dan keluarganya, Via merasa sangat prihatin. Walaupun Via juga bukan berasal dari keluarga berada sama seperti Ranti, tapi setidaknya ia mempunyai keluarga yang cukup harmonis. Orangtuanya sama-sama bekerja serabutan dan Via juga mempunyai 2 adik kandung yang masih kecil-kecil.
Ranti tersenyum lega melihat sahabat satu-satunya di sekolah ini akhirnya sampai juga.
"Ranti. huft.. huft.." Sapa Via sambil ngos-ngosan.
"Hei.. Katanya mau dateng pagi tapi liat jam segini baru sampe. Hampir aja aku mau tinggal pulang. Liat tuh loker aku udah hampir beres." Ucap Ranti sambil masih mengemasi barang-barang peralatan sekolahnya dulu ke dalam sebuah kardus berukuran lumayan besar yang ia bawa dari rumah.
"Sory, Tiii.. Tadi aku anter ade ku dulu daftar sekolah SD sama Ibu terus abis nganter mereka aku baru deh buru-buru kesini." Masih sambil terengah ia mengatur pelan nafasnya lalu membuka pintu lokernya disebelah Ranti.
Saat Via sudah mulai membereskan barang-barangnya ia baru tersadar kalau dia lupa membawa kardus.
"OMG.. Aku lupa bawa kardus, Ti. Ampun deh pikun benerrr.." Via memukul keningnya pelan dengan rasa penyesalan.
"Haaa.. Dasar pikun. Ini pake kardus ku, masih muat banyak kok. Barangku dikit." Ranti memberikan kardus nya yang sudah terisi barang-barang nya. Dari seragam olahraga, buku-buku, alat tulis dan lain-lainnya.
"Ehhh tapi muat g? Barangku mah sedikit tapi aku yakin barang kamu pasti banyak." Lanjut Ranti. Via nyengir.
Dan ketika pintu loker Via terbuka, benar saja barang-barang Via memang banyak. Lokernya itu sudah sesak saking penuhnya. Ranti menggeleng aneh apa saja yang ada di loker Via sampai lokernya penuh begitu. Ranti sampai curiga apa kardus nya itu akan muat dengan barang-barang yang Via punya.
Via langsung memasukan barang-barangnya ke dalam kardus Ranti. Dari mulai baju seragam putih abu-abunya, seragam olahraga, dasi, topi, sepatu yang Ranti itung ada sekitar 3 pasang, dompet-dompet accesori, tas yang entah apa isinya, handuk, raket dan lain-lain. Ranti benar-benar tidak percaya dengan barang yang Via keluarkan dari dalam lokernya itu.
"Aku bingung sama kamu, Vi. Kenapa kamu nggak sekalian aja bawa lemari kamu? Kulkas, tempat tidur juga sekalian. Hahahaaa.." Ranti tertawa melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Sssttt... Ahh.. Kamu diem aja jangan ketawain aku." Sahut Via sambil terkekeh-kekeh.
"Itu kardus muat nggak?" Tanya Ranti.
"Muat kok ini aku paksa-paksain."
"Bawanya gimana nanti? Itu kardus lumayan gede isinya juga penuh banget sama barang kamu."
"Tenang kek, Ti. Aku bawa motor kok tadi. Kan aku abis anter Ibu sama Riska daftar sekolah. Ntar kamu pangku yah ini kardus nya, aku anter kamu kerumah kamu dulu keluarin barang kamu, abis itu aku baru pulang kerumahku, Ok!" Kata Via semangat dan dengan sekuat tenaga dia memaksakan semua barang-barang nya masuk ke dalam kardus. Ranti hanya mengangguk saja melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Wah.. Wah.. 2 cewek udik lagi sibuk kemas-kemas nih." Sahut Erin teman seangkatannya. Dia berjalan bersama genk Chilliders nya menghampiri Ranti dan Via.
Via sudah mengosongkan lokernya dan menempelkan lakban disela-sela kardus agar kardus tertutup rapat. Dia langsung berdiri bertolak pinggang menghadang gerombolan cewek-cewek usil sok cantik itu.
Sialnya Erin si ketua tim Chilliders ganjen itu adalah adiknya Ardi yang statusnya pacarnya Ranti. Ardi siswa kelas 3 saat mereka berkenalan pertama kalinya dan juga ketua Osis di SMA itu. Ardi dan Ranti berkenalan saat ospek dan mulai berpacaran tidak lama setelah itu.
"Kalo kita udik emang kenapa yah, Ders?!" Tanya Via dengan gagah berani menantang Erin. "Udik-udik gini Kakak lo cinta mati banget sama Ranti."
Erin tertawa di ikuti tawaan dari 3 anggota genknya. "Apa? Cinta mati? Cinta monyet kali ah." Erin makin tergelak dengan ja'im, tangannya sambil menutupi mulutnya sok manja.
"Duh gila, lo pergi deh mendingan dari hadapan kita. Mual gue liat lo pada." Ucap ketus Via. Ranti hanya diam sambil sesekali mencolek pinggang Via memberi kode untuk tidak menghiraukan ucapan Erin.
"Ayolah, Rin, kita pergi aja. Mata gue sakit liat 2 kuman ini." Sahut Eriska anggota genk ganjen itu.
"Udah tau sakit mata tapi lo pada seneng banget ngebully kita! Jangan-jangan lo semua sebenernya ngefans kali ah!" Ucap Via lagi.
"Udah.. Udah.. Erin mending kamu pergi deh. kamu kenapa sih benci banget sama aku? Emang aku ada salah apa sama kamu?" Ucap Ranti akhirnya.
"Pokoknya gue mau bilangin ke elo yah, Ti. Jauhin Kakak gue! Lo tuh gak pantes sama Kakak gue, lo tuh cuma cewek kampung dimata gue!"
"Tapi di mata Kak Ardi Ranti itu cewek yang dia sayang kok! Mending lo suruh aja Kak Ardinya untuk putusin Ranti, bukan malah ngoceh-ngoceh gak jelas begini ke Ranti!"
Via sudah benar-kesal dengan Erin yang sombong itu. Ingin sekali dia jambak rambut panjang lurus nya yang rapih itu!
"Ehh elo berani banget yah sama gue!" Ucap marah Erin.
Erin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Via menantang untuk ribut. Eriska dan Ranti berusaha melerai agar tidak terjadi keributan di hari sekolah terakhir mereka.
"Sabar Rin, sabar. Udah kita pergi aja dari sini. Ngelayanin cewek udik ini kita jadi ikutan udik ntar!" Seru Eriska.
"Kakak gue bilang dia mau ikutan daftar sekolah kepolisian juga, Ris. Mau jadi polwan dia. Hahahaha..." Sahut Erin tergelak bersama teman-temannya.
Ranti dan Via saling bertatapan aneh. Mereka berdua bertanya-tanya dalam hati apa yang lucu sampai Erin dan genk ganjennya itu tertawa? Memang apa salahnya kalau Ranti ingin masuk sekolah kepolisian? Bukannya semua warga Indonesia bebas untuk menentukan pilihannya? Memang Erin dan teman-temannya itu mau apa coba?
"Aku semakin gak ngerti sama kamu, Erin. Emang lucu ya kalo aku mau masuk polwan?" Tanya Ranti bingung.
"Yaaa lucu lah. Emang lo pikir jadi polwan gak pake duit? Emang lo punya duit, Ti? Gak pake duit sih bisa aja, tapi harus ikut serangkaian banyak tes and itu gak akan mudah. Lo cewek letoy kelemer-kelemer mau gaya-gayaan jadi polwan. Paling lo cuma mau ikut-ikutan sama Kak Ardi aja kan karena dia masuk pendidikan kepolisian?"
"Aduhhh.. Erin, lo ngurusin banget Ranti sih? Dia mau jadi polwan kek, tentara kek suka-suka Ranti lah. Jangan-jangan lo beneran ngefans ya sama Ranti sampe lo sibuk banget sama hidupnya Ranti?!" Sahut Via, kali ini dia mulai tertawa kecil. Ranti senyum-senyum.
"Gue heran, sih kenapa Kak Ardi bisa suka sama lo, Ti. Pinter ngga, cantik juga ngga." Ucap Erin angkuh memandang Ranti sinis.
"Iya bener, Rin. Gue juga heran, jelas-jelas cantikan gue, kan?" Sahut Eriska. Erin dan Eriska bersahabat baik, jelas saja mereka cocok karena hobi mereka itu sama banget.
"Yesss.. Gue lebih setuju Kak Ardi sama lo dari pada sama cewek kampung ini."
"Eh lama-lama gue robek juga mulut lo, Rin. Sialan banget lo punya mulut!" Via sudah ingin menjabak rambut Erin namun Ranti cepat-cepat menahannya.
"Emang dasar cewek udik kebanyakan mimpi. Udah ah cape gue ngomong sama lo cewek udik!" Ucap Eriska menarik tangan Erin paksa untuk pergi dari hadapan Ranti dan Via.
"Huuuuuu... Pergi lo sana, dasar Chilliders lampir!!!" Balas Via sambil menendangkan kakinya asal ke arah perginya Erin dan gerombolan genknya.
"Gila gak abis pikir aku, Ti. Liat itu mereka berempat, yang dari tadi ngoceh cuma Erin sama Eriska doang. Yang 2 nya siapa itu namanya?"
"Anita sama Helen maksudnya?"
"Iya dia Anita sama Helen itu diem aja kaya sapi ompong. Najis aku mah jadi dia berdua mau aja jadi sapi ompong nya si Erin!"
"Hushh.. Jangan gitu ah. Udah jangan kesel lagi kita gotongan yu ini berat banget lho kardus nya." Sela Ranti yang sudah bersiap menggotong kardus nya.
Saat mereka berjalan sambil menggotong kardus mereka, dari arah tengah lapangan teriaklah teman-teman sekelas mereka memanggil mereka untuk gabung bersama.
"Rantiii! Viaaa! Sini gabung kita mau coret-coret baju kalian buat kenang-kenangan!" Panggil temannya dari tengah lapangan sekolah. Mengajak mereka untuk bergabung dengan acara coret-coret seragam.
Lalu mereka menghampiri gerembolonan teman-temannya untuk ikutan mencorat-coret seragam sekolahnya. Mereka menyemprotkan Pilok warna-warni secara berganti ke seragam sekolah mereka, tertawa gembira, menandatangani seragam mereka dengan nama-nama mereka. Senang sekali rasanya saat ini di sekolah, hari-harinya sebagai siswi akan segera berakhir memasuki jenjang yang lebih tinggi lagi dari pada ini.
Terkadang Ranti iri ketika melihat teman-temannya akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang perkuliahan, ia pun ingin namun ia harus sadar karena keterbatasan biaya ia harus merelakan keinginannya itu. Salah satu jalan untuk meraih masa depan yang lebih bagus selain berkuliah mungkin dengan menjadi polisi wanita, karena ada Ardi sebagai penyemangatnya yang sudah dua tahun lebih dulu mengikuti pendidikan polisi.