
Cinta datang dan pergi sesuka hati
Bagai bunga di musim semi
Menerangi setiap jiwa yang kesepian
Karena terlalu lama menyendiri
Tetapi
Terkadang ia seperti musim gugur
Wangi dan semerbak bagai bunga yang daunnya berguguran
Mengisi hati setiap insan yang sedang kasmaran
Tapi kuharap
Jangan seperti musim dingin
Yang meruntuhkan hati dengan angin yang kencang
Yang angker konon seperti pohon beringin
Dan jadilah musim yang cerah
Yang membuat wajah setiap insan merah merona
Menahan perasaan tanpa lelah
Demi menjaga yang satu kata yang disebut cinta
Namun
Tak jarang juga ia menjadi musim kemarau
Membuat kekeringan
Menguras isi danau hingga tak bersisa
Danau keindahan yang bernama cinta
Karena ia datang dengan cepat
Membuat insan sekarat karena menahan rindu
Seperti luasnya angkasa
Seluas itulah hati dan maaf yang kupunya hanya untukmu
Seperti dalamnya samudera
Sedalam itulah rasa cintaku padamu
Setiap waktu kupersembahkan hanya untukmu
Setiap nafasku tercipta untukmu
Segala salah dan sakit yang ada
Kujadikan obat pelipur laraku
Ketika kau pergi saat kuyakin akan cintamu
Seperti angka satu, kucoba menaungi rasa
Agar cinta senantiasa terbina
Tetap bertahan terhadap segala goda
Seluas angka satu, kusisakan maaf untukmu
Tatkala emosi menguasai diri
Hati takkan pernah berpaling darimu
Karena rasa di hatiku tersisa hanya untukmu
Dan selamanya hanya untukmu
Saat pagi menjelang
Sebongkah hati terbangun dari mimpi
Embun pagi yang basah menyejukkan hati
Memberikan rasa damai
Tak terasa waktu terus berputar
Ternyata telah lama aku sendiri dalam kekosongan hati
Berkhayal tentang cinta yang identik dengan pink
Mencari di mana kini tambatan hatiku
Kini di sampingku terlihat ada pundak yang terpaku
Tak kusadari aku telah bersandar pada pundak itu
Kekasih yang aku tunggu hadir bawakan aku rindu
Bersama secercah asa
Tentang cinta bernuansa pink
Aku berusaha tuk menghitung waktu
Berharap detik ini tak meninggalkan aku
Agar pundak itu tetap jadi sandaranku
Agar cinta itu tetap jadi milikku
Meski dalam kesibukan
Kucoba melukis bayang wajahmu di benakku
Agar saat gelap datang bisa kulihat senyum manismu
Kucoba melukis melalui pancaran hati
Betapa rasa ini takkan terganti
Sejuk embun di pagi hari
Tak sebanding dengan sejuknya hati
Tatkala kurengkuh dirimu di pelukku
Manisnya secawan anggur rindu
Tak sebanding dengan senyum manismu
Entah dengan apa harus kulukiskan hati yang merindu ini
Keindahan dan kehangatan cinta ini
Telah membuatku terpana
Dan tak mampu lagi
Untuk melukiskan suasana hati
Suasana rindu yang tak bertepi
Di balik foto jari ini menari
Yah
Tak hentinya jemariku menari
Di balik foto yang penuh dengan kenangan kita
Serpihan kisah syahdu
Teruntukmu sang idola hati, aku merindu
Jauh sudah aku berjalan di lorong hatimu
Terlanjur jauh
Hingga kini tak kutemukan jalan kembali
Akankah aku selamanya mendiami sudut ini?
Sudut tersunyi di hatimu ini?
Aku menepis segala burukmu
Aku menghapus segala salahmu
Aku melengkapi segala kekuranganmu
Aku menyusun retakan hatimu
Aku
Ibarat mozaik yang kini terluka
Karena merindu oleh waktu
Aku begitu membutuhkanmu
Aku begitu merindukanmu
Malaikat hatiku
Sesungguhnya diriku memiliki hatimu
Walau bimbang mewarnai hidup
Walau kau di sana dan aku di sini
Apalah arti cinta
Jika tanpa pengorbanan
Dilemma muncul dalam jiwa
Ternyata
Meski kita saling cinta
Namun tak dapat bersama
Karena suatu alasan yang tak kita harapkan
Redupkah cintaku?
Tidak ... aku tetap mendambakanmu
Walau kita telah terpisah oleh jarak dan waktu
Ku tetap mencintaimu sepanjang jalan hidupku
Apakah aku sakit?
Jujur iya ... tatkala kita terpisahkan
Namun ... aku kan bahagia jika kau bahagia
Aku kan lega bila melihat senyummu
Dan ku kan tetap mencintai kau yang sangat kuinginkan.