
Cinta ....
Sebuah kata dengan berjuta makna. Dia datang tanpa mengenal waktu, status sosial, batasan umur, jarak dan juga bentuk fisik serta kepribadian.
Cinta hadir dan mengisi setiap hati serta ikut mewarnai hidup sang empunya cinta. Akan tetapi ada kalanya cinta begitu menyakitkan hingga dapat membuat sang pemiliknya jatuh ke dasar jurang kekecewaan dan kesedihan.
Pada dasarnya cinta bertujuan untuk memberi makna pada hidup, keceriaan pada wajah, semangat dalam menjalani kerasnya hidup dan mengikat dua insan yang saling mencintai.
Namun, dalam kenyataannya, perbuatan manusia itu sendiri yang menodai arti cinta yang sesungguhnya, hingga menyakiti hati pasangannya sehingga terkadang manusia menjadi tidak percaya lagi terhadap cinta.
Mereka berasumsi jika cinta hanya membawa penderitaan. Mereka salah, tanpa cinta hati begitu kosong, hidup menjadi begitu sepi, dan tujuan hidup menjadi tidak terarah.
Saat ini dimana teknologi semakin maju dan canggih, cinta terbagi menjadi dua dunia. Cinta di dunia nyata dan dunia maya atau virtual.
Semua orang berkata tidak mungkin cinta dapat tumbuh dalam dunia virtual. Semua yang ada dalam dunai virtual hanyalah kesemuan belaka, tanpa ketulusan.
Mungkin apa yang mereka katakan benar, tetapi dari sekian banyak cinta yang terjalin di dunia maya, mungkin saja satu di antaranya tulus dan setia.
Jika cinta telah mengetuk hati yang paling dalam, menyentuh setiap titik sensitifnya, maka yang tidak mungkin bisa saja menjadi mungkin.
Seperti halnya diriku yang menemukanmu. Di antara hari dan bulan awalnya kita saling tidak tahu satu sama lain, hingga suatu hari kita dipertemukan dalam sebuah percakapan.
Semua tampak biasa dan rasa itu belumlah ada. Aku yang hanya seorang pujangga picisan merasa tak sebanding jika disandingkan dengan dirimu yang begitu popular di antara para wanita.
Hingga suatu hari, kulihat inilah kesempatanku untuk ikut dalam perbincangan. Aku pun mulai berbincang, ternyata kau adalah pribadi yang sangat ramah.
Seiring berjalannya waktu dari yang awalnya aku menganggapmu sebagai seorang teman, mulai kusadari jika ternyata aku menyukaimu.
Kutahu kita hanyalah dua orang yang dipertemukan dalam dunia maya, tapi bolehkah aku berharap jika ini semua nyata? Bolehkah aku berharap jika rasa ini nyata? Bolehkah aku berharap jika hubungan ini nyata?
Yang kutahu rasa rinduku nyata, rasa sukaku nyata, perhatianku padamu nyata dan cemburuku pun nyata. Tidakkah kau sadari itu?
Seiring berjalannya waktu, rasa ini tumbuh semakin besar. Meski kutahu semua ini mustahil, tetapi biarkan aku menyimpan rasa ini. Biarkan aku menganggap ini semua nyata meski sulit untuk diwujudkan.
Rasanya ingin ku menembus jarak dan waktu hanya untuk menggapaimu dan mengatakan bahwa “Aku menyukaimu”, tidakkah kau ingin menjadikan semua ini nyata? Tidakkah kau ingin menggenggam tanganku?
Cinta ... biarkan aku memanggilmu “kekasih virtualku”. Biarkan rasa ini tetap ada dalam hatiku, dan biarkan aku hidup dengan membawa rasa ini. Rasa yang kusadari setelah melewati perenungan sekian lama.
Mungkin ini adalah karma ketika aku berkata tidak percaya akan cinta online. Kini, aku mengalaminya.
Maafkan aku, aku menyukaimu. Tolong jangan salahkan rasa ini, karena hati tak dapat memilah.
Aku menyukaimu selamanya meski kita tak pernah bertemu dan terdengar tak masuk akal, tapi logikaku menerima semua ini.
Anggaplah semua ini bagian dari takdir.